
Perlahan-lahan Rafa mencoba untuk mencerna perkataan Sofia. Rafa berfikir, jangan-jangan, ada orang yang sengaja menjebak Sofia.
Rafa pun menepuk pundak Sofia memberikan kesabaran dan semangat kepada Sofia. Wanita secantik dan secerdas Sofia bisa sakiti seperti ini, dasar laki-laki bodoh. Pikir Rafa.
Rafa pun membawa pulang Sofia. Dan setelah sampai di rumah Rafa, Sofia di suruh istirahat karena sedang hamil. Sementara di kamar, Rafa memandangi foto almarhumah kekasihnya. Rafa merindukan kekasihnya yang sudah meninggal itu.
minggu depan akan ada pertemuan penting antara perusahaan-perusahaan besar. Dimana perusahaan Arsya juga ikut di dalamnya. Perusahaan-perusahaan besar itu akan saling bersaing untuk memasarkan produk mereka. Siapa produknya yang paling laris, maka perusahaan itu yang akan jadi pemenangnya.
Rafa merasa kecil hati, Rafa berfikir sudah pasti perusahaan dia akan kalah saing dengan perusahaan milik Arsya. Di kantor Rafa mengadakan rapat penting perusahaan bersama para orang-orang penting di perusahaannya. Sofia termasuk juga dalam rapat itu.
Karena Sofia, adalah perempuan yang sangat cerdas, Sofia pun memberikan suatu ide, untuk cara memasarkan suatu produk. Sofia menjelaskan idenya secara detail. Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut merasa kagum dengan kegeniusan Sofia. Termasuk Rafa.
Akhirnya semuanya dan juga Rafa bertepuk tangan. Dan Rafa pun mengikuti saran dari Sofia. Sofia juga berharap akan ada hasil yang terbaik. Sofia memberikan motivasi juga semangat baru terhadap perusahaan Rafa.
Selama ini Perusahaan Arsya semakin menjadi tambah maju, karena berkat dari ide-ide Sofia. Sofia tidak tahu kalau perusahaan Suaminya akan ikut juga.
...... *************......
Sementara di kantor Arsya, ternyata Marsha telah berhasil memasuki kantor Arsya, bahkan dia juga bekerja di dalamnya. Marsha berusaha untuk mengambil hatinya Arsya. Marsha berusaha untuk mendekati Arsya.
Arsya mengadakan rapat untuk acara minggu depan, Arsya merapatkan tentang siapa yang akan menjadi modelnya nanti. Dengan pedenya Marsha menawarkan diri untuk jadi model. Arsya pun membelalakkan matanya.
"Marsha, memangnya kamu bisa?" Tanya Arsya tercengang.
__ADS_1
"Ya, bisa lah pak.. Aku kan dulu pernah ikut model juga." Jawab Marsha sok kecantikan.
"Oh iya? Bagus kalau begitu." Kata Arsya.
Kalau masalah produk, tidak diragukan lagi. Karena produknya sudah ada. Selama ini yang memberikan ide-ide launching produk-produk tersebut adalah Sofia. Hanya saja Arsya tidak melihat soal itu.
Marsha tersenyum bahagia, karena Arsya mengikuti sarannya sebagai model. Kini Marsha merasa menang dengan semua ini. Sementara Arsya kembali ke ruangannya. Iya tidak sengaja melihat foto Sofia.
Arsya terus saja mengelus Fotonya Sofia. Tidak terasa air matanya jatuh. Sebenarnya Arsya juga kangen kepada Sofia. Di balik pintu, Marsha melihat Arsya yang sedang memandangi foto Sofia. Marsha pun merasa kesal, kenapa bisa si Arsya merindukan Sofia.
Lalu Marsha masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Marsha pun tiba-tiba mengambil foto yang dipegang oleh Arsya. Arsya tiba-tiba berdiri dan melotot kepada Marsha.
"Bapak mau marah? Silahkan, saya ga keberatan. Tapi, satu hal yang harus bapak tahu. Pak Arsya tidak pantas untuk meratapi orang yang sudah berkhianat." Kata Marsha sok bijak. Arsya hanya diam saja, tidak jadi marah.
"Saya tidak yakin, kalau anak yang dikandung oleh Sofia itu adalah anak bapak." Kata Marsha melanjutkan memfitnah Sofia. Arsya memicingkan matanya, karena tidak paham apa yang dimaksud oleh Marsha.
"Aduh... Pak Arsya, pak Arsya. Kayak ga kenal Sofia aja. Bapak tahu kan, kalau Sofia itu orang yang cerdik? Jadi bukan ga mungkin kalau Sofia itu sudah selingkuh dari dulu. Hanya saja pak Arsya yang tidak tahu." Kata Marsha semakin menjadi memfitnah Sofia. Arsya pun termakan oleh omongan Marsha. Arsya menjadi mengepalkan kedua tangannya. Marsha melihat adegan tersebut, ingin ketawa terkekeh. Namun, Marsha menahan tawanya.
Marsha pun meninggalkan Arsya di ruangannya dengan langkah gontai, sambil tersenyum licik. Arsya yang tadinya merasa kangen terhadap istrinya, kini kembali menjadi rasa marah. Saat ini, Arsya mudah termakan oleh omongan Marsha.
***
Sementara di kantor Rafa, Rafa kedatangan tamu istimewa yang sekarang menjadi rekan kerjanya. Rafa pun menemui orang itu, begitu juga dengan Sofia. Yang diikut sertakan oleh Rafa dalam membahas acara minggu depan.
__ADS_1
Setelah Sofia memasuki ruangan, Sofia terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depannya. Dia adalah sahabatnya yang dulu yaitu Albert. Albert pun sama juga terkejut dan heran. Kenapa bisa Sofia bekerja di perusahaan milik Rafa. Sementara Rafa adalah musuh besar saingan bisnis suaminya.
Setelah rapat selesai, Albert ingin berbicara hal penting kepada Sofia. Albert ingin bertanya tentang dia yang bekerja di tempat ini. Kemudian Albert mengajak Sofia untuk berbicara.
"Sofia, kamu kok bisa kerja disini?" Tanya Albert penasaran.
"Panjang ceritanya Al.." Jawab Sofia.
"Sofia, apa yang sebenarnya telah terjadi?" Tanya Albert ingin tahu soal permasalahan sahabatnya itu.
Sofia pun tertunduk, Iya menelan ludahnya sendiri. Dan berusaha kuat untuk tidak menangis dengan cerita ini. Perlahan-lahan Sofia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Sebenarnya ini terlalu sakit bagi Sofia.
Albert perlahan-lahan memahami cerita dari Sofia. Kemudian Albert teringat sesuatu yang dirinya juga pernah ditipu oleh orang. Kenapa bisa sama. Albert juga merasa emosi mendengar cerita dari Sofia. Kenapa bisa seorang Arsya percaya dengan fitnah murahan tersebut.
"Sofia, apa kamu masih menyayangi suamimu?" Tanya Albert memastikan.
"Aku, sampai kapanpun akan tetap menyayangi suamiku. sekalipun dia sangat membenciku. Rasa sayang dan cinta ku tidak Aku jelaskan Al, Aku sangat mencintai suamiku, melebihi diriku sendiri." Kata Sofia dengan jelas.
"Lalu apa kamu tahu, siapa Rafa?" Sofia menggelengkan kepalanya, Karena Iya tidak tahu siapa Rafa. Yang iya tahu, Rafa adalah orang yang menolong Dia.
Kemudian Albert menjelaskan tentang Rafa, Sofia menjadi terkejut dan merasa bersalah terhadap suaminya. Tapi mau bagaimana lagi, situasinya sudah seperti ini. Tidak mungkin iya mengkhianati Rafa, sementara Rafa adalah orang yang sudah berbaik hati kepadanya.
Albert pun tidak menyalahkan Sofia, karena keadaan lah yang membuat Sofia melakukan seperti ini. Albert pun menepuk pundak Sofia, berusaha untuk memberikan kesabaran terhadap Sofia. Sofia pun tersenyum, karena ditangan kesulitan yang iya hadapi sekarang, ada seorang sahabat yang tetap memberikan semangat kepada Sofia.
__ADS_1
Albert pun pergi mendatangi kantor Arsya. Dan Albert langsung masuk menerobos kantor Arsya. Albert melihat ada Marsha yang sedang bekerja disitu. Albert merasa curiga kenapa bisa Marsha bisa bekerja ditempat Arsya.
Dengan segera Albert memasuki ruangan Arsya. Dan Arsya pun wajahnya berubah menjadi merah padam melihat Albert.