PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
121


__ADS_3

Acara telah selesai, Sofia pamit untuk kembali ke apartemen. Ketika Sofia hendak kembali, tiba-tiba Arsya memanggilnya. Dan Sofia pun menoleh ke arah Arsya.


"Iya?" Sofia menatap Arsya. Arsya langsung berjalan mendekatinya.


"Suara kamu bagus.. Aku suka.." Arsya tersenyum dan Sofia pun membalas senyuman itu.


Sofia dan Rafa pun langsung kembali ke apartemen. Rencana Sofia sepertinya membuahkan hasil. Rafa juga memuji Sofia tentang penampilannya tadi.


"Sumpah, tadi penampilan kamu bagus banget. Keren pokoknya." Ujar Rafa sambil menyetir.


"Masak sih? Perasaan biasa aja deh." Sofia senyum.


"Beneran ****loh****.." Sofia tersenyum.


Sesampainya di apartemen, Sofia langsung rebahan. Sofia merasa sangat senang sekali. Karena Arsya sudah mulai ada perkembangan. Sofia tidak pernah berhenti berharap agar Arsya cepat ingat siapa dirinya.


...****************...


Sofia mulai berangkat ke kantor Tifani bersama Rafa. Sudah menjadi hal yang umum jika Sofia menjadi sorotan orang-orang kantor. Penampilan Sofia yang sangat modis dan elegan membuat orang-orang kantor menjadi kagum dan terpesona.


Bahkan Rani pun yang melihatnya juga tidak berkedip. Dan Rani juga menyukai penampilan Sofia.


"Wow, amazing.." Sofia malu-malu ketika Rani memujinya.


Sofia berpenampilan sederhana namun elegan juga fashionable. Dan hal ini membuat orang banyak menyukainya. Apalagi Sofia yang murah senyum terhadap semua orang. Semakin banyak yang mengaguminya.


Sofia sengaja berpenampilan seperti itu, semata-mata demi Arsya. Supaya Arsya dapat mengingatnya kembali. Arsya dan Tifani juga melihat Sofia. Tifani sangat takjub melihat Sofia. Terlebih lagi dengan Arsya, Iya sangat mengagumi penampilan Sofia.


Tiba-tiba saja Arsya melihat bayangan perempuan di benaknya. Arsya melihat bayangan wanita yang mirip seperti Sofia. Secara perlahan-lahan ingatan Arsya kembali.


Sofia memasuki ruang meeting bersama Tifani dan diikuti oleh Rafa juga Arsya. Dan acara meeting pun dimulai. Sofia sengaja membahas tentang sesuatu yang diimpikan Arsya dulu untuk memajukan perusahaannya.

__ADS_1


Lagi-lagi Arsya teringat sesuatu. Dan Arsya pun tetap tenang. Tapi perlahan-lahan Arsya mulai ingat kembali. Arsya bertanya-tanya siapa sebenarnya Sofia ini.


Arsya mulai merasakan ada getaran di hatinya. Setiap kali Arsya melihat Sofia hatinya menjadi tergetar. Apalagi setelah acara tadi malam, entah mengapa Arsya seperti ada sesuatu.


Dan setiap kali Arsya mengikuti meeting dengan Sofia, Arsya seperti teringat sesuatu. Arsya pun mulai merasakan sakit di kepalanya. Dan Arsya tidak bisa menahan sakitnya lagi. Arsya pun tidak sadarkan diri. Semua yang ada di ruangan itu, merasa panik. Terlebih lagi dengan Sofia.


"Arsya, kamu kenapa sayang?" Sofia refleks memanggil Arsya dengan sebutan sayang. Dan hal ini membuat Tifani menjadi heran dan penuh pertanyaan.


Langsung saja Arsya dibawa ke rumah sakit. Sofia sudah tidak mempedulikan orang yang ada di sekitarnya. Semua orang sangat heran dengan tingkah Sofia. Kenapa Sofia sepanik itu. Arsya pun ditangani oleh dokter dan semuanya menunggu di luar.


"Sofia, boleh saya berbicara empat mata denganmu?" Sofia langsung menoleh ke arah Tifani ditengah kepanikannya. Sofia pun mengangguk. Dan mereka pun berbicara berdua.


"Sofia, tolong jawab jujur. Siapa kamu sebenarnya? Dan mengapa kamu begitu panik ketika melihat Arsya kesakitan?" Sofia pun menunduk dan berfikir mungkin sudah saatnya Sofia memberitahu semuanya.


Sofia mulai menjelaskan secara perlahan-lahan.


"Maafin saya om, sekarang saya akan mengatakan siapa saya.. Saya adalah istrinya mas Arsya. Satu tahun yang lalu mas Arsya pamit untuk pergi ke Jerman. Dan setelah itu, Saya mendengar kabar bahwa pesawat yang ditumpangi suami saya mengalami kecelakaan. Waktu saya sangat syok. Dan ternyata jasad yang ditemukan itu bukanlah jasad mas Arsya. Awalnya saya sempat berfikir bahwa jasad korban itu adalah mas Arsya. Tapi saya tidak yakin kalau mas Arsya sudah tidak ada. Acara show di Jepang kemarin membuat saya senang juga sedih ketika melihat mas Arsya lagi. Saya senang karena memang mas Arsya masih hidup. Tapi saya juga sedih karena mas Arsya tidak mengenali saya. Dan disitulah saya mencari tahu tentang kebenarannya."


Tifani sangat syok mendengar pernyataan Sofia. Dan Tifani tidak menyangka bahwa wanita yang dihadapannya itu adalah istri seorang CEO yang ternama. Tifani pun mendekati Sofia.


"Kalau saya mengatakan yang sebenarnya waktu itu, pasti om tidak akan percaya. Disitulah saya mencari tahu. Dan saya tidak mungkin juga untuk jujur di depan Arsya. Karena saya tahu kondisi Arsya. Jika saya memaksakan kehendak saya. Yang ada Arsya tidak akan sembuh." Mendengar hal ini, Tifani sangat salut dengan Sofia. Ternyata Sofia adalah istri yang penuh pengertian.


Sekarang Tifani pun menjadi tahu siapa Sofia. Tifani pun memegang pundak Sofia dan memberinya semangat. Tifani akan membantu Sofia.


"Kamu sabar ya.. Saya yakin, Arsya pasti akan mengingat kamu lagi." Sofia pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


Mereka pun kembali ke depan ruang UGD. Tak lama kemudian, Dokter pun keluar dan memanggil keluarga Arsya. Langsung saja Sofia menanyakan keadaannya.


"Ini adalah hal yang luar biasa. Keadaan Arsya akan segera pulih. Asal pihak keluarga telaten merawatnya." Semuanya sangat senang mendengarnya terlebih lagi dengan Sofia. Tentunya Sofia sangat bersyukur.


Sofia pun melihat keadaan Arsya. Arsya perlahan-lahan membuka matanya. Arsya memandangnya secara samar-samar perlahan-lahan jelas.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar?" Sofia seperti ingin menangis melihat Arsya. Arsya pun tersenyum kepadanya.


"Kenapa kamu menangis? Aku tidak apa-apa.." Sofia pun mengusap air matanya dan mengelak.


"Siapa yang nangis.. Aku cuma kelilipan saja." Sofia sambil tersenyum.


Perlahan-lahan Arsya pun bangun dan segera ingin pulang. Sofia pun melarangnya untuk terlalu banyak bergerak.


"Eh, kamu mau kemana? Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kamu kan baru sadar?" Arsya yang melihat Sofia seperti orang panik pun tersenyum.


"Aku tidak apa-apa.." Sofia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Meskipun hilang ingatan, tetep saja keras kepalanya tidak hilang.


Sofia lalu mengajak Arsya untuk jalan-jalan menikmati pemandangan jerman. Arsya pun tidak tahu harus membawa Sofia jalan-jalan kemana.


"Memangnya kamu mau kemana?" Arsya bingung.


"Ke pantai." Pantai adalah tempat favorit Arsya dengan Sofia. Sofia mengajak ke tempat itu, semata-mata supaya Arsya cepat mengingatnya.


Mereka pun pergi ke pantai. Dan sesampainya di sana, Sofia meminta Arsya untuk menikmati keindahan pantai. Dan Sofia pun menyuruh Arsya untuk memejamkan matanya.


"Buat apa?" Arsya tidak mengerti.


"Udah, laksanakan saja. Cuma tutup mata doang.." Arsya pun mengikuti kemauan Sofia.


"Ok ikuti Aku ya, sekarang, kamu rasakan gemericik air pantai. Dan suara deru angin yang sangat indah. Kamu hilangkan semua beban yang ada di benak kamu. Lalu kosongkan semua pikiran kamu. Rasakan merdunya bunyi alam disekitar kamu. Dan pandanglah sejenak masa lalu yang indah bagi kamu. Pandang secara perlahan-lahan." Arsya mengikuti kata-kata Sofia. Dan Arsya pun benar-benar menikmatinya.


Tiba-tiba saja, secara perlahan-lahan Arsya mulai mengingat semuanya. Kali ini, Arsya tidak mengalami sakit di kepalanya. Arsya mulai mengingat Sofia dan kenangan bersamanya. Arsya juga mengingat Aarav putranya. Semuanya Arsya mengingatnya bersama istrinya.


Perlahan-lahan Arsya membuka matanya. Dan Arsya melihat Sofia di depannya. Sofia pun tersenyum kepadanya.


"Sekarang kamu tarik nafas ya.. Biar kamu lega." Arsya pun mengikutinya. Dan Arsya pun mengulas senyum kepadanya.

__ADS_1


Langsung saja Arsya memeluk Sofia dengan erat. Dan Sofia pun kaget ketika Arsya memeluknya. Lalu melepasnya. Arsya pun memegang kedua tangan Sofia.


"Sayang, ini Aku suami kamu. Aku ingat semuanya. Aku ingat tentang kamu, Aku ingat tentang Aarav." Tidak terasa air mata Sofia menetes. Dan tidak menyangka bahwa keajaiban benar-benar datang.


__ADS_2