
Zoya menjelek-jelekkan Sofia dan Arsya. Zoya mengatakan kalau Arsya dan Sofia telah menghina Zoya. Papanya Zoya percaya dengan omongan Zoya. Sambil mengepalkan tangannya karena emosi. Lalu Papanya Zoya menghubungi Arsya.
Papanya Zoya memarahi Arsya karena telah menghina putri kesayangannya. Papanya sebelumnya belum pernah melihat putrinya menangis seperti itu. Papanya Zoya juga memaksa ingin berbicara juga dengan istrinya.
Arsya yang mendengarkan ocehan papanya Zoya dengan seksama. Arsya tidak langsung marah terhadap papanya Zoya. Itu semua karena Sofia yang melarangnya untuk marah, Sofia mengingatkan untuk tetap menghormati orang yang lebih tua.
Setelah selesai papanya Zoya berbicara, kemudian Arsya membuka suara. Arsya menceritakan keadaan yang sebenarnya. Papanya Zoya juga mendengarkan penjelasan Arsya dengan seksama.
Kemudian Sofia juga ikut berbicara dengan papanya Zoya, mereka memindahkan telfonnya ke video call. Kemudian Sofia juga memberikan bukti tentang ulah Zoya yang sebenarnya.
Papanya Zoya terkejut dengan tingkah anaknya. Dan Papanya tertunduk malu, kemudian minta maaf kepada mereka. Papanya Zoya tidak tahu kalau anaknya berbuat memalukan seperti itu. Yang Dia tahu Zoya tiba-tiba pulang dengan keadaan menangis. Makanya papanya menjadi emosi.
Sofia memahami perasaan papanya Zoya. Sofia tidak marah kepadanya. Arsya sebenarnya ingin memutuskan kerjasama dengan perusahaan papanya Zoya. Namun, hal ini dilarang oleh Sofia. Karena Sofia tahu bahwa perusahaan papanya Zoya sekarang tidak sedang baik-baik saja.
Sofia juga mengingatkan suaminya untuk tidak mencampur adukkan antara kerjaan dengan urusan pribadi. Tapi, Sofia juga bukan wanita yang bodoh. Sofia tetap menyuruh suaminya untuk menjalani kerjasama perusahaan, asal Zoya tidak pernah diikut sertakan dalam urusan proyek ini.
Hal ini mengantisipasi agar Zoya tidak lagi mengganggu suaminya. Kalau Zoya masih diikut sertakan dalam masalah kerjasama ini, terpaksa Sofia akan mengambil tindakan yang tegas.
"Bagaimana Bapak? Apa Bapak bersedia?" Kata Sofia kepada papanya Zoya. Papanya Zoya heran, mengapa Arsya hanya diam saja dengan ini. Kenapa Arsya pasrah saja apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Asal Bapak tahu juga, yang berperan penting dalam perusahaan ini adalah istri saya. Istri saya adalah Bos sesungguhnya di perusahaan saya. Jadi semua keputusan apapun ada di tangan istri saya. Perusahaan saya tidak akan maju seperti sekarang tanpa campur tangan dari istri saya." Arsya menjelaskan agar tidak timbul pertanyaan yang aneh-aneh. Papanya Zoya mendengar ini jadi terkejut.
Papanya Zoya kemudian mengangguk dan mengerti. Papanya Zoya juga setuju dengan aturan yang diberikan oleh Sofia.
__ADS_1
"Baik Bu, Saya tidak akan mengikuti sertakan Zoya dalam kerjasama ini." Jawaban dari papanya Zoya. Sofia pun tersenyum seperti ada yang ingin dibicarakan.
"Oh iya, pak besok saya akan memberikan surat pernyataan dan surat perjanjian dalam kerjasama ini." Papanya Zoya hanya mengangguk saja.
Sofia sangatlah cerdas, iya juga menyebutkan nama Zoya dalam Perjanjian tersebut supaya Zoya tidak diikut sertakan dalam urusan kerjasama ini. Arsya tersenyum kepada istrinya. Serem juga jika istrinya jika dimakan oleh api cemburu.
"Ternyata istriku bisa cemburu juga ya?" Ledek Arsya. Sofia hanya menoleh ke arah suaminya.
"Ya iyalah, semua perempuan itu sama.. Perempuan itu adalah mahluk yang mudah cemburu. Bukan karena alay, tapi karena iya tidak ingin apa yang sudah menjadi miliknya itu di rebut oleh orang lain. Meskipun wanita itu tidak menampakkan sifat cemburunya, karena iya sedang berusaha susah payah menata hatinya." Sofia ceramah di depan suaminya. Arsya hanya senyum-senyum sendiri.
Sofia adalah perempuan yang juga tidak bisa ditebak. Ketika dia lagi baik-baik saja, ketika dia lagi marah atau kecewa, Dia tidak menampakkan ekspresi aslinya. Dia hanya bisa tersenyum dan dihadapi dengan kepala dingin.
Arsya semakin salut dengan istrinya. Bagi Arsya Sofia memang tiada duanya. Dia perempuan yang sangat sempurna di matanya. Jarang sekali ada perempuan yang seperti Sofia. Arsya merasa bersyukur bisa memiliki perempuan yang seperti dia.
Sofia yang melihat suaminya yang terus memandangi dirinya, Sofia melambaikan tangannya di depan wajah Arsya. Menyadarkan lamunan Arsya sambil ketawa.
"Kamu ngelamun? Emang mikirin apa sih?" Sofia bertanya heran dan Arsya pun tersenyum saja lalu menggendong istrinya untuk masuk ke kamar lagi.
"Eh mas lepasin, mau kemana sih?" Sofia ingin segera diturunkan karena malu.
"Biarin. Sudah diam saja." Arsya tidak ingin istrinya memberontak. Arsya meletakkan istrinya di kasur. Arsya menatap istrinya dalam-dalam. Sofia menjadi tidak mengerti sebenarnya suaminya mau ngapain. Arsya hanya menutup bibir istrinya dengan telunjuknya, memberikan kode agar istrinya tidak berisik.
"Mas, mau ngapain si?" Tanya Sofia. Sofia memikirkan yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Ini kan masih siang, tadi malam kan sudah. Masak kita mau olahraga lagi." Kata Sofia menolak. Arsya pun menutup bibir istrinya sekali lagi. Arsya menyuruhnya untuk diam.
"Sayang kalau kita sering olahraga, nanti persalinan kamu jadi lancar sayang.. Mending kamu diam saja ya," Kata Arsya, Sofia hanya pasrah saja. Karena Arsya memang suaminya Iya ga mungkin bisa menolak permintaan suaminya. Kemudian Arsya dan Sofia pun melepaskan hasrat mereka.
Hari sudah mulai sore menjelang malam, Sofia masih tertidur pulas, mungkin karena terlalu capek karena sebuah aktivitas. Arsya menjadi tidak tega membangunkan istrinya. Arsya hanya memandangi istrinya dengan tatapan yang lembut.
Arsya mengelus pipi istrinya yang imut dan menggemaskan. Kemudian Sofia pun terbangun, Sofia membuka matanya secara perlahan. Dan Sofia pun tersenyum kepada suaminya.
Sofia kemudian menggeliatkan badannya. Lalu pergi ke kamar mandi. Dan diikuti oleh suaminya.
... *********...
Di rumah Rafa
Lagi-lagi Rafa teringat dengan Sofia. Rafa merindukan kehadiran Sofia. Rafa terus saja memandangi foto Sofia. Rafa hanya senyum-senyum sendiri.
"Jika Aku terus begini, Lama-lama Aku bisa gila." Kata Rafa berbicara sendiri. Untuk menghilangkan kegalauannya, Rafa pun pergi ke BAR. Rafa memesan minum pelayan BAR tersebut. Setelah minuman itu habis, Rafa pun memesannya lagi. Hari sudah larut malam, Rafa tetap saja minum hingga iya benar-benar sudah mabok.
BAR sudah mau tutup tapi Rafa belum juga ingin pulang, terpaksa pelayan BAR harus membawa Rafa keluar. Rafa sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
Rafa hanya menyebut nama Sofia dalam mengigau. Pelayan BAR kemudian mengambil HP Rafa dan mencari kontak seseorang yang bisa dihubungi. Pelayan BAR tersebut menelfon Sofia.
Sofia meminta tolong Suaminya untuk membantu Rafa. Suaminya dengan berat hati menuruti kemauan istrinya. Mau bagaimana lagi, istrinya adalah orang yang sangat baik. Dan peduli terhadap sesama.
__ADS_1