
"Mas Rafa, mau enggak inem temani." Rafa menelan ludahnya karena geli melihat penampilan inem.
Rafa tersenyum tidak nyaman, kenapa harus inem yang menemani Dia. Inem mulai kedip-kedip kan mata dan tersenyum genit. Rafa yang melihat hal itu risih, takut.
"Mas Rafa, emmuachh." Kata inem melakukan flying kiss. Rafa melotot dan seperti ingin menangis. Karena tersiksa dengan sikap inem.
Rafa berniat ingin berpindah tempat. Namun inem mengejarnya. Rafa kemudian mengakali inem. Rafa meminta inem untuk mengambilkan air. Inem dengan senang hati mengambilnya untuk Rafa.
Rafa pun membawa Aarav untuk ngumpet. Inem sudah datang mengambil air. Ternyata Rafa tidak ada di tempat. Inem terus mencari Rafa.
"Mas ganteng, mas ganteng dimana sih?" Rafa mengumpat di balik kelambu. Inem mulai mencari Rafa, Inem mulai dekat. Rafa menutup matanya dan tahan nafas. Naasnya, Aarav malah bersin. Dan Inem pun suara itu.
"Ternyata Mas ganteng disini toh.. Mau main petak umpet sama inem ya?"
"Aduh, mati gua.. Tolong mak.." Gumam Rafa. Rafa merasa tersiksa banget harus dijahilin inem. Rafa berfikir mimpi apa dia semalam sampai-sampai harus ditemplokin sama si inem.
Rafa pun berlari dan menghindar dari inem. Inem dan Rafa main kejar-kejaran. Rafa bersembunyi di belakang Sofia dan masih dikejar inem. Rafa minta tolong agar inem di suruh ke dapur saja. Sofia tertawa geli dengan kelakuan mereka.
Karena kasihan, Sofia pun menyuruh inem untuk masak saja di dapur. Rafa menjadi sangat lega. Rafa menggelengkan kepala karena ga habis pikir dengan pembantu Sofia yang satu itu.
Tiba-tiba HP Sofia berbunyi, Sofia membuka HPnya dan melihat siapa yang menelfon. Ternyata yang telfon dirinya adalah Albert. Sofia pun mengangkat telfon dari Albert.
"Ada apa Al?" Tanya Sofia.
"Sof, coba kamu lihat berita sekarang." Sofia tidak mengerti mengapa Albert tiba-tiba menyuruhnya untuk melihat berita. Sofia pun mengikuti saran Albert.
Kemudian Sofia langsung membuka berita terkini yang ada di Hpnya. Mata Sofia terbelalak ketiak melihat berita tersebut. Tangan Sofia tiba-tiba menjadi gemetar ketika melihat berita itu.
__ADS_1
Sebuah kecelakaan pesawat menuju F. R. A ( Fankfrut) atau bandara Jerman. Sofia pun melihat daftar penumpang yang ada dalam pesawat itu. Sofia pun merasa lemas, dan bibir gemetar. Karena memang benar bahwa nama suaminya tertera dalam kecelakaan pesawat tersebut.
HP Sofia pun tiba-tiba terjatuh dan Sofia juga jatuh bersimpuh. Sofia tercengang dengan air mata yang mengalir di pipinya. Rafa yang melihat Sofia seperti itu tiba-tiba dawn.
"Sofia, hei. Kamu kenapa?" Rafa pun heran ada dengan Sofia. Sofia tetap tidak menjawab pertanyaan Rafa. Rafa pun melihat HP Sofia yang jatuh. Rafa juga dikagetkan dengan berita pesawat yang ditumpangi oleh Arsya mengalami kecelakaan. Pesawat tersebut hangus terbakar dan diperkirakan tidak ada satu penumpang pun yang selamat dari kecelakaan itu.
"Sofia, ini kan baru perkiraan. Sebaiknya kita ke bandara sekarang ya? Kita pastikan benar atau tidaknya berita ini." Rafa berusaha menenangkan Sofia. Rafa pun membantu Sofia untuk berdiri dan duduk di Sofa.
Rafa mengajak Sofia untuk ke bandara sekarang juga. Sofia sudah tidak bergeming lagi. Rafa pun menuntun Sofia berjalan ke mobil. Sementara baby A dititipkan kepada Inem. Rafa berusaha untuk menenangkan Sofia.
Rafa segera melajukan mobilnya menuju bandara. Rafa dengan mempercepat mobilnya agar bisa segera sampai di sana. Setibanya di bandara, ternyata sudah banyak orang yang berkumpul.
Rafa segera melihat daftar korban penumpang pesawat. Ternyata memang benar bahwa nama Arsya tertera disitu. Rafa tidak percaya dengan semua itu. Rasanya seperti mimpi.
Rafa teringat pesan Arsya. Rafa juga ikut bersedih atas duka ini. Rafa pun menghampiri Sofia di dalam mobil. Rafa menjadi tidak tega dengan Sofia. Rafa tidak menyangka kalau Arsya akan mengalami hal yang tragis.
"Mas Arsya, Raf.. Ini tidak mungkin, tidak mungkin Mas Arsya ninggalin Aku. Hiks.. hiks.." Sofia sesenggukan. Rafa hanya terdiam dan mengerti apa yang dirasakan oleh Sofia.
...****************...
Dua hari kemudian
Jasad Arsya kini sudah ditemukan. Dan sudah tiba di bandara. Pihak bandara memberikan kabar tentang jasad Arsya. Perasaan Sofia tidak karuan. Sofia merasa takut dengan semua ini.
Albert dan Rafa mendampingi Sofia. Mereka tidak membiarkan Sofia berjalan sendiri ke bandara. Setibanya di bandara, Sofia langsung melihat peti jenazah suaminya. Pihak bandara menyerahkan barang-barang milik Arsya.
Sofia semakin syok ketika melihat barang-barang tersebut. Ternyata memang benar bahwa jenazah itu adalah Arsya. Sofia meraba peti tersebut. Sofia meraba peti tersebut. Sofia ingin melihat secara langsung jenazah suaminya.
__ADS_1
Pihak bandara sangat keberatan karena wajah Arsya memang tidak bisa dikenali. Sofia tetap ingin melihat jenazah suaminya. Rafa dan Albert berada di samping Sofia. Dan akhirnya peti jenazah pun dibuka. Sofia pun syok dan langsung tidak sadarkan diri. Rafa dan Albert dengan sigap menangkap Sofia. Dan peti pun ditutup kembali.
Rafa dan Albert membantu mengurus semuanya. Jenazah Arsya telah tiba di rumah duka. Sofia merangkul peti jenazah tersebut. Perasaan Sofia sangat hancur. Tidak ada bisa membayangkan menjadi Sofia waktu itu.
"Mas, kenapa kamu ninggalin Aku mas? Bukannya kamu sudah janji kalau kita akan selalu sama-sama. Bukannya kamu sudah janji kalau kamu pulang dalam keadaan selamat? Mana janji kamu mas... hiks hiks hiks." Teriak Sofia. kepada peti jenazah tersebut. Rafa dan Albert berusaha menenangkan Sofia.
"Sofia, ini sudah takdir." Kata Albert. Sementara Rafa tidak bisa berkata apa-apa.
"Hiks..hiks hiks.." Sofia terus saja menangis sambil memeluk peti jenazah.
Pemakaman akan segera dimulai. Tetapi Sofia malah melarangnya. Sofia terus saja memeluk peti jenazah itu. Dan melarang orang-orang untuk mengebumikan Jenazah Arsya.
Albert dan Rafa berusaha memisahkan Sofia dari peti. Tetapi mereka kalah kuat dari Sofia. Sofia terus saja melarang mereka untuk menguburkan suaminya.
"Enggak, jangan lakukan ini.. hiks hiks hiks. Suamiku belum meninggal, Dia masih hidup. Dia masih hidup.. Dia belum meninggal..." Rafa dan Albert tetap berusaha untuk menenangkan Sofia. Tetapi Sofia memberontak. Terpaksa Rafa merangkul Sofia dengan erat. Meskipun Sofia tetap memberontak, Rafa dengan erat merangkulnya. Hingga tenaga Sofia habis. Dan Sofia pun akhirnya diam juga.
Sejak saat itu, Sofia hanya diam saja. Sepanjang proses pemakaman sampai proses pemakaman selesai. Rafa dan Albert sangat memahami Sofia. Kering sudah air mata Sofia untuk menangis.
"Sofia, Kamu jangan seperti ini terus.. kamu harus bangkit, kamu harus tetap semangat. Ingat masih ada baby A yang harus kamu perhatikan. Dia butuh kamu." Albert mengingatkan. Sofia pun langsung memeluk Baby A.
"Maafin mama ya sayang, sekarang cuma kamu satu-satunya kekuatan mama." Sofia memeluk erat Aarav. Rafa dan Albert terus saja memberi support kepada Sofia.
Sudah satu minggu kemudian kematian suaminya. Sofia mengemasi barang-barang milik Arsya. Sofia tidak sengaja melihat Foto Arsya bersama dirinya. Sofia memandangi Foto tersebut. Dada Sofia seperti merasa sesak melihat Foto itu.
Sofia seperti sulit menelan ludah. Perasaan sedih karena kehilangan orang yang dicintai. Sulit bagi Sofia untuk bisa melupakan semuanya. Susah senang sudah iya jalani bersama Arsya.
Dengan menghela nafas berat, Sofia pun memasukkan semua foto-foto Arsya. Hanya satu foto yang Sofia sisakan. Bagi Sofia seandainya saja ada obat yang bisa menghilangkan kegalauan ini, pasti Sofia akan membelinya.
__ADS_1