PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 25


__ADS_3

Aku pun memegang pundak Marsha dan membalikkannya ke arahku. Kemudian Aku menghapus air matanya yang mengalir di kedua pipinya.


Aku pun memeluk Marsha dan minta maaf kepadanya. Aku jadi tidak tega melihat Marsha nangis seperti ini. Bagaimanapun juga Marsha yang telah merawat Aku selama ini.


"Maafkan Aku Sha, tidak seharusnya Aku curiga sama kamu." Aku sambil memeluknya, Aku berfikir mungkin apa yang dikatakan Marsha itu benar. Mungkin memang Marsha adalah perempuan yang ada dalam bayangan itu


Hari ini Aku akan mencoba untuk fokus terhadap Marsha dan mencoba belajar untuk mengingat Marsha.


"Marsha, Aku janji mulai hari ini Aku akan fokus sama kamu. Aku janji Akan mencoba mengingat tentang kamu." Kataku melanjutkan. Lalu Marsha memegang tanganku ketika Aku memegang kedua pipinya.

__ADS_1


"Febri sayang, kamu ga perlu untuk mengingat semuanya. Yang penting kamu baik-baik saja, dan kepalamu tidak sakit terus. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa." Marsha berkata lembut kepadaku, seolah-olah ingatanku tidak penting.


Karena Aku sudah merasa mendingan, Aku pun segera bergegas untuk pergi ke kantor. Aku pun juga tidak lupa untuk mengecup kening Marsha dan Marsha pun tersenyum.


Astaga! Aku hampir lupa bahwa hari ini ada pertemuan dengan Ibu Sofia. Aku pun segera tancap gas agar cepat sampai ke kantor. Sesampainya di kantor semua scurity memberikan hormat kepadaku.


Dan Aku segera menemui Ibu Sofia di ruang pertemuan. Ketika mulai memasuki ruang sekertaris pun membukakan pintu untukku.


Aku pun tertegun dan takjub dengan apa yang Aku lihat hari ini. Aku menelan saliva ku sendiri, Aku pun tidak bisa berkata apa-apa saat ini karena mulutku rasanya seperti terbungkam. Karena dihipnotis oleh suatu pemandangan yang menakjubkan. Aku melihat Sofia yang begitu anggun dan elegan seperti seorang ratu.

__ADS_1


Aku mengucek kedua mataku, seperti tidak percaya dengan apa yang Aku lihat. Sofia mengumumkan senyum kepadaku, Aku pun terus menatap Sofia tanpa kedip.


"Pak, bisa kita mulai sekarang?" Aku tidak mempedulikan ucapannya, Aku terus saja menatapnya. Kemudian Ibu Sofia pun melambaikan tangannya di hadapan wajahku.


"Halo! Pak," Aku baru tersadar dari lamunanku, ketika Ibu Sofia menyadarkannya. Aku pun merasa malu terhadap Ibu Sofia. Entah apa yang Aku pikirkan hari ini, kenapa semuanya tentang Sofia.


Kenapa setiap kali melihat Sofia, Aku merasa lebih dekat dan kenal baik dengannya. Pada Aku dan Sofia baru bertemu beberapa hari yang lalu. Setiap kali Aku melihat Sofia Aku merasa lebih tenang. Berbeda ketika Aku sedang bersama Marsha, ketika Aku bersama Marsha Aku tidak pernah merasakan apa-apa. Aku merasa biasa saja ketika ada di dekat Marsha.


Aku dan Sofia pun pergi ke lokasi proyek, Kami berencana untuk membangun sebuah Mall yang dilengkapi dengan hotel dan restoran sekaligus. Aku satu mobil dengan Sofia, sesekali Aku menatap wajahnya. namun Sofia terus saja memandang ke arah depan.

__ADS_1


"Argh.. mikir apa Aku ini, ingat Febri.. kamu sudah punya tunangan. Jangan sampai kamu melukai perasaan seseorang. Kamu sudah berjanji untuk fokus sama Marsha." Aku berbicara sendiri dalam hatiku. Dan tidak terasa ternyata sudah sampai di lokasi. Aku dan Sofia pun turun dari mobil.


__ADS_2