
"Maksud kamu tadi bertanya kapan nikah?" Tanya pak arsya yang kemudian senyumnya hilang menjadi heran.
"Maksud Aku itu, kapan Bapak nikah sama kekasih Bapak?" Aku pun menjelaskan yang sebenarnya kepada pak arsya.
"Oh, Aku belum punya kekasih." Jawab pak arsya sambil kembali tersenyum.
"Lah terus sepatu ini?" Tanyaku heran
"Ini sepatu Aku belikan buat kamu." Kata pak arsya dengan mengumumkan senyum ingin tertawa.
Aku pun ternganga, jadi sepatu ini buat Aku. Aku melihat harga di bandrol sepatu tersebut. Dan harganya membuat Aku jadi terbelalak, dan menelan ludah yang sangat keras. Harganya sangat mehong banget, setara dengan separuh gaji Aku selama satu bulan.
Aku pun meletakkan lagi sepatu itu di tempatnya. Dan Aku mencari sepatu yang harganya paling murah di mall itu.
__ADS_1
"Kenapa di letakkan lagi sepatunya?" Pak arsya mengernyitkan dahi karena Aku meletakkan sepatu itu lagi.
"Saya cari sepatu yang murah saja pak, yang murah lebih banyak. Ini terlalu mahal buat saya." Kataku merasa ga enak kepada pak arsya.
Kemudian pak arsya memanggil pelayan mall untuk memasangkan sepatu itu di kaki Aku. Aku pun gelagapan karena Pak arsya benar-benar membelikan sepatu itu buat Aku.
Bagi Aku sepatu itu sangat mahal, tapi bagi pak arsya harga segitu bukanlah apa-apa. Sebenarnya dalam hati Aku merasa sangat senang. Karena Aku memiliki sepatu yang bagus. Pak arsya memang benar-benar sangat baik.
"Oh, bertemu lagi rupanya dengan Ibu Sofia. Lagi sama siapa bu? Oh, rupanya Ibu Sofia bersama bos besar, Pakai pelet apa si bu.. Sampai-sampai bos besar saja mau nempel sama Ibu." Kata Sofia menghinaku.
Pak arsya segera membawa Aku keluar dari tempat itu. Aku hanya diam saja tidak berbicara sepatah katapun. Kemudian pak arsya segera melajukan mobilnya. Di perjalanan, Aku tidak hanya diam saja tidak berbicara sepatah katapun. Sesekali pak Arsya melirik Wajahku.
Aku sempat berpikir, kenapa Marsha seperti orang yang sangat membenciku. Dan dari senyumnya Dia tersenyum sinis. Aku bertanya-tanya sebenarnya Aku salah apa sama Marsha. Sehingga Dia begitu membenciku.
__ADS_1
Kemudian pak Arsya malah membawaku ke tempat bermain. Aku pun menjadi heran, kenapa pak arsya malah kesini bukan ke kantor.
"Kenapa Bapak membawaku kesini? Bukannya kita mau ke kantor ya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu lupa ya? Ini kan hari libur." Kata pak Arsya.
Aku pun menepuk jidat Aku lagi. Dan lupa kalau hari ini adalah hari libur. Pak arsya mengajakku menaiki wahana. Sebelumnya Aku tidak pernah menaiki wahana. Aku menjadi ketakutan.
Pak arsya malah mengajak Aku menaiki wahana yang sangat extrem. Karena ketakutan, Aku pun berteriak dan tidak sengaja memeluk Pak arsya. Pak arsya hanya diam saja.
Selesai dari naik wahana, Aku malah menjadi mual-mual karena tidak biasa. Pak Arsya menjadi Khawatir denganku. Melihat Aku sangat lemas, Pak arsya pun segera menggendong Aku.
Pak arsya malah membawaku ke mobil. Dan memberikan Aku minum. Pak Arsya malah membawaku ke rumah sakit lagi karena khawatir.
__ADS_1