
"Kamu harus kuat ya sayang," Sofia tidak sadarkan diri. Arsya menjadi sangat panik. Setelah sampai di rumah sakit, Arsya segera memanggil suster untuk meminta bantuannya. Dengan cepat suster membawa Sofia ke ruang UGD.
Sementara Marsha, masih dalam kejaran polisi. Marsha kini tidak bisa lari lagi dari polisi, karena polisi itu sudah mengepung Marsha dari arah depan dan belakang. Dan sangat dekat dengan sebuah sungai besar yang arusnya mengalir deras.
Marsha tidak ada pilihan lain, Iya memilih loncat ke dalam sungai tersebut. Dan Polisi itu hendak menghentikan tingkah Marsha. Namun, Marsha tetap memilih loncat ke dalam sungai yang memiliki arus deras.
Marsha hanyut terbawa arus sungai.
"Arus sungai ini terlalu deras juga berbahaya. Dan tidak ada satu orang pun yang berhasil selamat." Kata polisi itu.
"Kalau begitu, mari kita ke kantor dan beri laporan ini." Kata polisi satunya lagi.
Sofia masih di ruang UGD dan tidak sadarkan diri. Arsya menunggu pemeriksaan selesai sambil mondar-mandir tidak tenang. Tidak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang UGD. Arsya pun segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan kondisi istrinya.
"Maaf Pak, kondisi Ibu Sofia sangat memburuk, kami harus segera mengambil tindakan. Kami minta, Pak Arsya secepatnya untuk mengambil keputusan. Ibunya atau anaknya yang diselamatkan terlebih dahulu." Arsya sangat kebingungan, Iya tidak bisa memilih salah satu diantara mereka. Arsya ingin keduanya selamat.
"Dokter, saya mau anak dan istri saya selamat Dok. Saya mohon, tolong selamatkan keduanya. Berapa pun biayanya, saya akan bayar Dok, tolong." Arsya memohon kepada Dokter tersebut. Ini adalah hal yang paling sulit untuk para dokter. Arsya pun rela bertekuk lutut di hadapan Dokter. Arsya ingin anak dan istrinya selamat.
Karena Arsya tetap mendesak Dokter, akhirnya Dokter tersebut memenuhi permintaan Arsya. Dokter tersebut akan mencoba berusaha sebaik mungkin. Dan Dokter itu menyuruh Arsya untuk pasrahkan semuanya kepada Allah SWT.
__ADS_1
Dokter itu mulai bertindak, dan segera membawa Sofia ke ruang operasi. Arsya memandangi istrinya yang dipindahkan ke ruang operasi. Arsya juga ikut mengantarkan istrinya sampai ke ruang operasi.
Marah, sedih, panik semua campur aduk yang dirasakan oleh arsya. Arsya tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Lalu terdengar suara azan. Dan Arsya pun ingat kepada tuhannya. Kali ini cuma Allah yang maha segalanya. Arsya pun pergi ke mushola rumah sakit untuk menunaikan solat.
Arsya memanjatkan Doa sambil menangis. Arsya meminta keselamatan untuk istri dan anaknya. Karena hanya kepadanya Arsya berharap. Selesai solat, Arsya langsung menuju ke depan tempat operasi. Arsya kembali duduk sambil menunggu dokter.
Setelah satu jam, Akhirnya Dokter tersebut sudah selesai mengoperasi Sofia. Arsya segera bergegas untuk menanyakan keadaan istrinya.
"Bagaimana istri dan anak saya dok? Mereka baik-baik saja kan?" Dokter terdiam sejenak dengan pertanyaan Arsya. Dan Dokter pun kemudian menyampaikan hal yang sebenarnya.
"Begini pak, ada kabar baik dan ada juga kabar buruk yang harus bapak Terima. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Anak Bapak, alhamdulillah sehat dan laki-laki." Mendengar hal ini, Arsya senang. Dan Mengucapkan syukur.
"Lalu bagaimana dengan istri saya Dok?" Ketika ditanya tentang istrinya, Dokter itu menunduk. Seperti berat ingin mengatakan hal sebenarnya.
Arsya hanya bisa memandangi Istrinya dengan tatapan yang sangat sedih. Istrinya tidak sadarkan diri. Dan suster menyerahkan bayinya kepada Arsya. Arsya menggendong bayi tersebut.
Melihat anaknya yang sudah lahir, Arsya tersenyum, bahagia bercampur sedih. Lalu Arsya mengumandangkan azan di telinga anaknya. Arsya kemudian mengajak bayinya berbicara. Entah apa yang dirasakan oleh Arsya sekarang.
Arsya pun ke rungan istrinya sambil menggendong anaknya. Arsya mengajak istrinya berbicara yang masih belum sadar, dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sayang lihatlah, bayi kita sudah lahir. Lihat, dia sangat lucu. Apa kamu tidak ingin melihat Dia? Tolong sadar sayang.. Jangan tinggalin kita berdua." Kata Arsya sambil menangis. Kali ini Arsya benar-benar dawn mentalnya. Arsya tidak bisa hidup tanpa Sofia.
Sofia adalah perempuan yang sangat Arsya cintai. Arsya tidak ingin kehilangan istrinya. Karena Sofia adalah segalanya bagi Arsya. Iya sudah merasakan kehilangan kekasih, Sekarang iya tidak ingin kehilangan yang kedua kalinya.
Sudah dua hari Sofia tidak sadarkan diri. Arsya masih berharap ada keajaiban yang datang untuk Sofia. Arsya sangat berharap Sofia masih bisa disembuhkan walaupun itu kemungkinannya sangat kecil.
Arsya selalu setia duduk di samping istrinya dengan memegang tangannya. Arsya pun melihat jari Sofia bergerak perlahan. Arsya kaget dan segera memanggil dokter. Dokter segera datang, Arsya memberitahu bahwa jari istrinya bergerak. Dokter segera memeriksa Sofia.
"Pak, ini sebuah keajaiban. Mulai ada perkembangan untuk istri Bapak. Sungguh Ibu Sofia adalah orang yang kuat." Arsya pun tersenyum bahagia dan mengucapkan syukur karena mulai ada harapan untuk kesembuhan Istrinya. Arsya pun mencium kening istrinya.
Tak lama kemudian, Sofia membuka matanya secara perlahan. Dan Sofia sudah mulai sadar dari komanya selama dua hari. Masih terlihat remang-remang di mata Sofia. Kemudian berangsur jelas. Sofia melihat suaminya yang sedang menunggu dirinya sadar.
"Sayang, kamu sudah sadar? Mananya yang sakit? Bilang ke Aku." Sofia menatap suaminya lekat-lekat. Sofia menggelengkan kepalanya. Dan melihat mata Arsya yang sembab. Sofia menyeka air mata Arsya dengan lembut.
"Jangan nangis, Aku ingin kamu tersenyum." Kata Sofia. Arsya mengangguk dan tersenyum untuk istrinya. Sofia tidak ingin melihat suaminya bersedih. Dan Arsya sudah bisa tersenyum karena melihat istrinya sudah sadar.
"Sayang, bayi kita dimana?" Sofia menanyakan anaknya.
"Kamu mau lihat anak kita?" Sofia mengangguk. Dan Arsya pun segera mengambil bayinya yang ada di ruangan bayi. Lalu Arsya membawa bayinya ke istrinya. Arsya memperlihatkan anaknya ke Ibunya.
__ADS_1
"Lihat sayang, anak kita lucu. Dia laki-laki." Arsya memberitahu jenis kelamin anaknya. Sofia sangat bahagia ketika mendengar anaknya laki-laki. Dan Sofia pun ingin menggendong anaknya. Arsya membantu Sofia untuk duduk. Kemudian menaruh Bayinya itu ke pangkuan Ibunya.
"Hai ganteng, selamat datang ke dunia ya nak.. Ibu berharap kamu itu sehat selalu, Jadi anak yang pintar, buat papa bahagia." Arsya mencium kening istri dan anaknya. Arsya juga berkata buat papa dan mama bahagia. Arsya pun memeluk mereka dengan penuh kebahagiaan.