
Aku akui Rafa memang selalu bisa untuk menghibur Aku. Aku sangat bersyukur bisa kenal dengan Rafa. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Rafa.
Hari sudah mulai pagi lagi. Hari ini adalah hari libur. Rencananya Aku ingin membawa Aarav jalan-jalan. Aku ingin menikmati hari libur ini bersama anakku. Aku pun menjadi teringat kepada Tante Mirna. Sudah lama sekali Aku tidak menjenguknya karena kesibukan ku.
Aku pun berubah rencana, Aku ingin menjenguk Tante Mirna terlebih dahulu. Aku selalu membawakan Tante Mirna makanan. Kali ini Aku membawakan roti kesukaan Tante Mirna.
Tiba-tiba saja Rafa datang, membawa mobilnya. Seperti biasa di waktu hari libur, Rafa selalu datang ke rumahku untuk bermain dengan Aarav. Rafa pun bertanya-tanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rafa heran.
"Aku mau ke kantor polisi, menjenguk Tante Mirna." Jawabku.
"Kalau begitu Aku anterin kamu aja ya?" Rafa menawarkan.
"Iya boleh," Kataku sambil mengulas senyum dan Rafa juga membawakan makanan untuk Aku dan Aarav.
"Oh iya, ini Aku bawain kue kesukaan kamu." Rafa menyodorkan kuenya ke Aku, Aku pun menerima kue pemberian Rafa. Aku mengucapkan terimakasih kepadanya. Karena kue ini memang kesukaan Aku.
Aku dan Rafa serta Aarav pergi ke kantor polisi secara bersama-sama. Di perjalanan menuju kantor polisi, Rafa mulai membuka percakapan.
"Sofia, Tante Mirna itu sudah jahat ke kamu loh. Kenapa kamu selalu menjenguknya?" Tanya Rafa. Karena Rafa sendiri masih geram dengan Mirna. Aku hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Rafa.
__ADS_1
"Aku tahu, Tante Mirna itu pernah jahat. Tapi sekarang Dia sudah berubah. Lagian, Tante Mirna itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Keluarga Tante Mirna hanya Aku sekarang." Kataku. Rafa hanya terdiam mendengar ucapanku. Aku tidak ingin bercerita dulu siapa tante Mirna.
"Sofia, kamu terlalu baik untuk orang lain. Jelas-jelas Dia sudah jahat sama kamu, Dia sudah menculik Aarav, sampai-sampai kamu dibenci oleh suamimu sendiri." Aku tahu Rafa masih kesal dengan Tante Mirna.
"Semua orang itu punya masa lalu, dan masa lalu orang itu tidak semuanya baik. Semua orang itu punya hati kecil. Dan setiap orang itu bisa saja berubah. Termasuk Tante Mirna, Dia memang jahat, tapi Dia bisa saja berubah menjadi lebih baik. Aku lihat kok, perubahan itu." Kataku kepada Rafa.
Tidak terasa kami pun telah sampai di kantor polisi. Aku segera turun dari mobil sambil menggendong Aarav. Rafa pun ikut ke dalam dan ikut menjenguk Tante Mirna.
Tante Mirna pun sangat senang ketika melihat Aku dan Aarav datang menjenguknya. Tante Mirna langsung menggendong Aarav dan menciumnya.
"Maafin Aku ya Tante, Aku jarang kesini jenguk Tante. Soalnya akhir-akhir ini Aku sangat sibuk." Tante Mirna hanya tersenyum kepadaku. Dan mengangguk tanda mengerti.
"Tidak apa-apa sayang, Tante mengerti kamu sangat sibuk sekarang. Oh iya, ini Rafa kan?" Kata Tante Mirna langsung melihat ke arah Rafa yang sedang berdiri di sampingku.
"Boleh Tante memelukmu sebentar saja." Kata tante Mirna. Rafa pun mengangguk dan memberikan ijin kepada tante Mirna. Tante Mirna pun langsung memeluk Rafa erat-erat.
Aku melihat tante Mirna begitu tulus memeluk Rafa. Aku melihat mereka seperti Ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu. Aku merasa terharu dengan mereka.
"Terimakasih kamu sudah mengijinkan saya memeluk mu. Seandainya saja anakku masih ada, pasti Dia sudah sebesar dan setampan kamu." Kata Tante Mirna kepada Rafa. Rafa hanya diam saja tidak bergeming sama sekali.
Dan Aku pun memberikan Roti kesukaan tante Mirna. Tante Mirna pun kelihatan sangat senang. Dan Tante Mirna mengucapkan banyak terimakasih kepadaku.
__ADS_1
Jam besuk pun sudah habis. Tante Mirna kembali ke dalam sel. Aku dan Rafa pun pamit kepada Tante Mirna. Rafa hanya diam saja tidak berbicara sedikit pun.
"Kamu kenapa Rafa? Kamu tidak suka ya, Tante Mirna memeluk kamu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Enggak kok, justru Aku merasa hangat ketika di peluk oleh Tante Mirna. Mungkin, karena Aku sudah lama tidak dipeluk oleh Ibu." Aku sangat terharu mendengar ucapan Rafa. Ternyata Rafa juga memiliki hati yang lembut.
Aku dan Rafa pun pergi ke sebuah restoran. Karena kita merasa lapar kita pun berhenti sebentar. Kita menikmati makan siang di sebuah restoran sederhana.
"Eh, ternyata disini ada janda genit toh.. Yang sok kecantikan.." Suara seseorang yang mengagetkanku. Aku dan Rafa pun melihat ke arah perempuan tersebut.
"Zoya, kamu ngapain disini." Kataku heran. Kenapa Dia bisa ada disini.
"Kenapa kalau Aku disini? Ini kan tempat umum. Jadi siapa saja boleh dong kesini." Aku pun merasa geram dengan Zoya. Aku langsung berdiri dan dengan santai membalas perkataan Zoya.
"Saya tahu ini tempat umum. Tapi, kalau niat kamu mau makan disini, langsung saja duduk di tempat lain. Kan banyak tuh tempat duduk yang masih kosong. Jangan sukanya mengusik ketenangan orang." Aku mulai kesal dengan perempuan yang satu ini. Perempuan itu malah tertawa.
"Hahaha.. Kenapa? Terganggu dengan Aku menyapa kalian? Ini tempat umum, bukan tempat maksiat." Sebenarnya Aku ingin sekali menampar mulut Zoya. Tapi Aku masih bisa menahan.
"Maksud kamu apa bilang seperti itu? Oh, kamu mengira Aku berbuat mesum disini? Kamu lihat sendiri kan, Aku disini itu makan dan minum. Atau kamu sendiri yang tidak melihat ya? Ya memang benar kata orang kalau orang selalu berfikiran buruk, yang didapat hanya yang buruk saja." Kataku dengan tersenyum sinis kepada Zoya. Zoya pun kesal mendengar ucapanku.
"Ini tuh, tempat makan ya.. Bukan tempat nyinyir. Kamu selalu menghujat saya, kamu sendiri benar? Saya memang janda tapi seenggaknya saya masih beretika daripada kamu. Sampai sekarang ga ada orang yang mau sama kamu kan? Itu artinya kamu ga laku." Kataku kepada Zoya. Zoya semakin kesal. Dan karena emosi, Zoya ingin menamparku. Dengan sigap Aku menangkap tangan Zoya. Dan Aku pun menampar balik Zoya dengan keras.
__ADS_1
Semua orang yang melihat itu langsung kaget. Apalagi Rafa, Dia ternganga melihatnya. Aku pun tersenyum sinis kepadanya.
"Dengar baik-baik, selama ini saya cukup sabar menghadapi kamu. Dan saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah mengusik hidup saya. Urus hidup kamu sendiri. Paham?" Kataku. Aku dan Rafa pun langsung pergi meninggalkan tempat itu. Karena memang kami sudah selesai makan.