
Malam sudah semakin larut, Arsya kembali mulai masuk kamar dan tersenyum kepada Istrinya. Arsya langsung saja mencium kening istrinya.
"Kok belum tidur sayang? Udah selesai telfon Rafa?" Sofia tersenyum sambil mengangguk.
"Kok kamu belum tidur?" Kata Arsya.
"Belum mas, Aku belum ngantuk." Jawab Sofia, namun Arsya cemberut lalu menghela nafas.
"Kamu itu belum sehat, gimana mau sembuh kalau kamu kurang istirahat sayang.." Arsya gemas sambil mencubit hidung istrinya, dan Sofia merasa kesakitan.
"Iya mas, lagian kamu ga cepat-cepat kesini.. Kan Aku jadi ga bisa tidur." Kata Sofia dengan manja. Lalu Arsya pun mencibir.
"Manja banget sih, istriku.." Arsya dan Sofia tertawa bareng. Sofia pun bersandar di dada Suaminya, dan Arsya melihat senyum kebahagiaan dari istrinya itu. Arsya berharap rumah tangganya akan seperti ini terus.
Harapan Arsya bisa bersama Istri yang dicintainya selamanya. Arsya ingin hidup bahagia bersama anak dan istrinya, karena bagi Arsya adalah kebahagiaan mereka.
"Sayang, Aku boleh minta sesuatu gak?" Sofia tiba-tiba mempunyai suatu permintaan yang membuat Arsya sangat takut. Takut kalau Sofia menyatakan permintaan terakhir.
"Apa sayang? Tapi jangan yang aneh-aneh ya.." Jawaban Arsya membuat Sofia tersenyum.
"Sayang, bisa gak kamu dengan Rafa itu tidak bermusuhan. Bisa gak kalian berdamai? Kalau kalian berdamai kan enak bisa saling menguntungkan. Apalagi perusahaan kalian itu sangatlah besar dan berpotensi." Permintaan Sofia kepada suaminya. Mendengar tentang suruh berdamai dengan Rafa, Arsya kembali ciut. Berdamai dengan Rafa adalah hal yang ga mungkin.
Sebenarnya membicarakan Rafa adalah hal yang paling tidak disukai oleh Arsya. Namun, karena Arsya tidak ingin melukai perasaan istrinya Arsya hanya menolak dengan menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
"Sayang, Boleh tahu gak? Sebenarnya apa sih yang membuat kalian itu bermusuhan? Sampai ga bisa akur begitu." Akhirnya Sofia bertanya alasan mereka bisa bermusuhan. Arsya pun menunduk dan menatap istrinya.
"Ceritanya panjang sayang.." Jawab Suaminya itu. Karena terus ngotot ingin mendengar alasannya. Akhirnya Arsya bercerita yang sebenarnya.
Dulunya Arsya dan Rafa adalah sahabat yang sangat akrab. Bahkan mereka seperti saudara sendiri. Tetapi karena suatu masalah yang ga bisa dimaafkan akhirnya mereka saling berseteru.
Flash back Perseteruan Arsya dan Rafa
Arsya sedang memegang layar HPnya, lalu memencet nomor seseorang yang disebut kekasihnya Arsya itu. Arsya mulai menelfon kekasihnya.
"Halo sayang? Kamu dimana?" Tanya Arsya kepada kekasihnya.
"Aku sedang berada di rumah Rafa sayang.. Ini soalnya Aku ada tugas dari kampus. Aku kan soalnya satu jurusan sama Rafa.." Jelas kekasihnya Arsya berbicara jujur.
"Oh.. Aku boleh nyusul kamu ke sana gak?" Pintar Arsya kepada kekasihnya itu.
Arsya pun cepat bergegas untuk menemui kekasihnya yang sedang berada di rumah Rafa untuk mengerjakan tugas kuliah. Segera Arsya menancap gas untuk menuju ke sana.
Setelah sampai di sana, Arsya dikejutkan dengan pemandangan yang tidak dia inginkan. Arsya berjalan mendekat ke arah mereka. Lalu tanpa basa-basi lagi Arsya melayangkan pukulan ke wajah Rafa.
"Apa-apaan kamu Arsya?" Tanya Rafa tidak mengerti karena Arsya tiba-tiba menonjok wajahnya.
"Kamu yang apa-apaan? Kamu sudah bermain di belakang ku. Kamu sudah nusuk Aku dari belakang. Kamu selingkuh dengan orang yang sekarang menjadi kekasihku." Tuduh Arsya kepada Rafa. Dan Rafa sangat bingung karena tidak tahu harus jawab apa.
__ADS_1
"Ini salah paham Arsya, ini tidak seperti yang kamu lihat." Kata Rafa ingin menjelaskan Namun Arsya tidak percaya terhadap Rafa.
"Salah paham, salah paham kamu bilang? Aku tidak percaya. Ok sekarang Aku sudah tahu bagaimana kamu. Mulai detik ini Aku bukan sahabat kamu lagi." Arsya pun pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Rafa lagi. Dengan segera Arsya menyalakan mobilnya dan langsung menginjak gas. Sementara Rafa mengejarnya.
***
"Oh.. Jadi begitu ceritanya.. Jadi ini hanya gara-gara wanita?" Sofia sedikit cemburu mendengar penjelasan suaminya. Arsya melihat wajah istrinya yang tiba-tiba berubah seperti ciut. Arsya pun tersenyum melihat wajah istrinya.
"Kamu cemburu ya?" Arsya meledek istrinya lalu menyentuh hidung istrinya itu. Sofia pun cemberut.
"Kamu kalau cemburu itu lucu loh." Arsya semakin gemas dengan istrinya.
"Siapa yang cemburu. Maksud Aku itu, kamu yakin Rafa itu sudah nusuk kamu dari belakang? Atau jangan-jangan kamu lagi yang salah paham." Kata Sofia. Dan Arsya pun menjadi mengernyit dahinya tidak paham apa maksud Sofia. Yang ada Arsya berpikiran yang tidak-tidak.
"Maksud kamu? Kamu kenapa jadi membela Rafa?" Tanya Arsya tidak mengerti.
"Ya, jangan salah paham dulu. Maksud Aku bisa jadi kamu salah paham. Ya ini menurut dari apa yang Aku pernah alami. Kamu pernah kan salah paham ke Aku, tapi kenyataannya Aku ga selingkuh kan, Coba deh kamu pikir sekarang. Kalau memang Iya mau selingkuh, ga mungkin Dia berkata jujur sama kamu. Dan ga mungkin juga Rafa itu mau menjelaskan hal yang sebenarnya. Lagian kan, sekarang kamu sudah jadi suami Aku. Kalau kamu tetap bermusuhan dengan Dia itu artinya kamu masih ada hati dengan wanita itu." Kata Sofia panjang lebar.
Arsya berusaha mencerna perkataan istrinya secara perlahan-lahan. Kemudian dalam hati Arsya sebenarnya benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Namun, Ego mengalahkan segalanya. Arsya tetap tidak mau berdamai dengan Arsya.
Sofia tidak tahu lagi harus berkata apa. Memang susah berbicara dengan orang yang mempunyai ego tinggi. Gak Rafa, gak Arsya, semuanya sama saja. Sama-sama egois. Tapi Sofia tetap minta ijin untuk tetap membantu menyalurkan ide-ide yang cemerlang untuk perusahaannya Rafa. Karena bagaimanapun Rafa lah yang sudah berjasa bagi dirinya.
Sofia masih tidak bisa berpikir apa jadinya jika waktu itu tidak ada Rafa yang menolongnya. Tetapi meskipun begitu Sofia tetap ingin membantu suaminya untuk menyalurkan ide-ide cemerlangnya juga. Tanpa membuat mereka bersaing.
__ADS_1
Suaminya mengijinkannya, asal Sofia tidak boleh terlalu capek dan tidak boleh banyak stres. Sofia senang bisa mendapat ijin dari suaminya. Sofia memeluk suaminya dengan manja. Dalam hati Arsya, sebenarnya Dia sangat kagum terhadap istrinya. Karena Istrinya sangat peduli terhadap orang lain.
Sofia merupakan wanita yang tahu terimakasih terhadap kebaikan orang lain. Dari sekian banyak wanita yang pernah Arsya kenal, cuma Sofia yang paling sempurna bagi Arsya. Arsya semakin menyayangi istrinya itu.