
"Rafa, Aku tahu benar bahwa itu adalah suara Aarav." Rafa pun segera membawa Sofia masuk ke mobil. Sofia terdiam sejenak, Rafa menjadi tidak tega dengan Sofia. Rafa kemudian membawa Sofia untuk balik pulang.
"Sofia, sepertinya kamu harus periksa ke psikiater deh." Kata Rafa tidak berniat untuk membuat Sofia tersinggung. Sofia langsung melotot ke arah Rafa. Dan Sofia pun marah terhadap Rafa.
"Kamu pikir, Aku gila Raf? Hah? Aku masih normal. Aku ga gila. Tadi, apa yang Aku dengar itu kenyataan. Aku benar-benar mendengar suara Aarav. Aku tahu betul kalau Aarav ada di situ." Kata Sofia meyakinkan Rafa. Sambil nyetir mobil, Rafa berusaha menenangkan Sofia. Namun, Sofia terlanjur tersinggung dengan ucapan Rafa.
"Turunin Aku sekarang." Rafa seperti orang gelagapan.
"Tapi ini masih jauh dari rumahmu. Biar Aku antar sampai depan rumah ya.." Kata Rafa.
"Turunin sekarang! Atau Aku akan lompat dari mobil kamu." Dengan segera Rafa memberhentikan mobilnya. Sofia langsung turun dari mobil dan membanting pintu. Rafa juga turun mengejar Sofia. Dan berhasil meraih tangan Sofia dan membuat Sofia berbalik arah.
"Sofia, tolong dengerin Aku dulu. Aku ga bermaksud untuk mengatakan kamu gila, Aku hanya ingin kamu sadar. Kalau kamu sedang berhalusinasi." Kata Rafa sedang menjelaskan maksudnya. Sofia tetap bersikeras bahwa apa yang dia dengar adalah kenyataan.
Sofia dan Rafa mulai berdebat. Rafa pun mengalah dan memahami Sofia. Rafa sangat paham tentang kondisi batin Sofia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Rafa memeluk Sofia dengan pelukan erat.
Rafa juga ikut menangis, dengan keadaan Sofia. Entah apa yang dirasakan oleh Sofia saat ini. Dia sudah kehilangan anaknya, dan sekarang suaminya berubah 180 drajat terhadap dirinya.
Rafa pun membawa Sofia untuk kembali ke mobilnya. Rafa mengantar Sofia pulang. Rafa tidak membiarkan Sofia nyetir sendiri dalam keadaan seperti ini. Sesampainya di rumah, Sofia melihat ada sosok mirna di rumahnya.
Mirna sedang berbicara dengan Arsya sambil tertawa. Sofia berdiri di samping mereka. Mirna melihat ke arah Sofia. Lalu berdiri dan langsung memeluk Sofia.
__ADS_1
"Sofia, ya ampun sayang.. Tante juga ikut sedih atas menghilangnya baby A. Tante ga tahu sayang.." Sofia hanya diam saja dengan perkataan Mirna. Sofia menatap Mirna dengan tatapan tajam. Sofia memperhatikan lengan Mirna. Dan memang benar, Mirna tidak menggunakan gelang tersebut.
"Tante, gelang tante kemana?" Langsung saja mirna melihat lengannya dan langsung memegang pergelangan tangannya. Dengan nada tenang, Mirna pun menjawab pertanyaan Sofia.
"Gelang tante ada di rumah sayang, Tante lagi malas saja memakai gelang." Kata Mirna mencari alasan. Sofia hanya mengangguk, dan sedikit curiga terhadap tantenya Arsya itu. Sofia tidak menampakkan kecurigaannya. Sofia langsung pergi begitu saja. Mirna dan Arsya hanya memandangi Sofia begitu saja.
"Arsya, sepertinya istrimu tidak suka dengan kehadiran tante." Kata Mirna.
"Ah, mungkin itu cuma perasaan tante saja, Sofia bukan orang seperti itu tante." Kata Arsya meyakinkan tantenya. Mirna langsung pergi begitu saja. Arsya menghela nafas kasar. Arsya segera menyusul Sofia ke kamar.
"Bisa ga kamu bersikap baik terhadap tante mirna?" Protes Arsya kepada Sofia. Sofia jelas melotot ke Arsya, dan tersenyum sinis.
Sofia tidak habis pikir, sebenarnya apa yang telah mempengaruhi pikiran suaminya itu. Timbul kecurigaan di benak Sofia. Bahwa Mirna ada hubungannya dengan ini semua. Sofia mencari suaminya, ternyata Arsya sedang berada di kamar Aarav. Arsya sedang memandangi mainan Aarav dan memandang foto Aarav.
Arsya menangis teringat anaknya. Arsya berharap bahwa Aarav segera ditemukan. Sofia juga ikut bersedih karena hilangnya Aarav. Apalagi Sofia adalah seorang Ibu, pasti dirinya lebih merasa terpukul. Sofia pun berjalan mendekati Arsya.
"Aku tahu kamu sedang terpukul dengan hilangnya Aarav, apalagi Aku sebagai seorang Ibu yang melahirkan Dia, lebih terpukul Mas," Arsya sama sekali tidak bergeming dengan ucapan Sofia yang serak. Malah Arsya menuduh Sofia.
"Ini semua karena memang niat kamu kan? Kamu sengaja meninggalkan Aarav. Setelah itu, kamu pura-pura sedih, pura-pura stres, supaya kamu dapat simpati orang lain. Terutama Rafa. Kamu sengaja kan, cari perhatian dia?" Sofia menggelengkan kepala, karena suaminya tiba-tiba saja menuduh dirinya seperti itu.
"Kamu ngomong apa si mas? Aku ga ngerti dengan tuduhan kamu itu. Mas, Aku sekarang lagi berusaha untuk mencari baby A. Aku sangat terpukul dengan menghilangnya baby A. Apalagi kamu yang menuduh Aku bukan-bukan." Arsya hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Sofia. Arsya tidak percaya dengan omongan Sofia. Arsya menganggap bahwa omongan tersebut hanyalah omong kosong belaka.
__ADS_1
"Halah, ga usah drama kamu. Aku tahu kamu cuma pura-pura nangis iya kan?" Sofia tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana. Sofia semakin tidak mengerti apa maksud suaminya.
Sofia tetap fokus pada rencananya. Kali ini Sofia membutuhkan bantuan Rafa dan Albert. Cuma mereka yang bisa membantunya dalam mengatasi masalah ini.
... *******...
Rafa memergoki Arsya sedang bersama dengan wanita lain. Bukan hanya sekali dua kali Arsya bersama wanita tersebut. Rafa mendekati mereka berdua.
"Arsya, keterlaluan kamu. Istrimu sedang berduka, sedih dan terpukul. Kamu disini malah enak-enakan dengan perempuan lain." Kata Rafa dengan geram. Arsya pun melotot ke arah Rafa.
"Ga usah sok suci kamu. Sementara kamu apa? Kamu pikir Aku tidak tahu? Kamu mendekati Istri saya. Dan kalian tega menghilangkan anak saya. Demi hubungan haram kalian berdua, sekarang Aarav yang menjadi korban." Arsya tiba-tiba menuduh Rafa dan Sofia bermain di belakang. Perempuan yang sedang bersama Arsya tersenyum licik.
Rafa tidak berkata-kata lagi dan langsung meninggalkan Arsya. Sepertinya percuma berdebat dengan Arsya. Rafa sempat melirik perempuan tersebut. Rafa pun meminta bantuan Albert untuk mengatasi masalah ini.
Rafa dan Albert meminta Sofia untuk berbicara penemuan polisi. Dan Sofia juga menceritakan tentang kecurigaannya terhadap Mirna. Ada satu lagi perempuan yang Rafa curigai. Yaitu perempuan yang sedang akrab dengan Arsya sekarang.
Rafa dan Albert mulai menyusun rencana. Albert berusaha untuk mendekati Mirna. Karena meskipun sudah tua, Mirna masih doyan dengan brondong.
Rafa dan Albert mulai melakukan aksinya. Mereka juga merayu Mirna. Ternyata Mirna mudah sekali untuk ditipu. Rafa juga menanyakan ukuran sepatu milik Mirna. Mirna pun langsung memberitahu ukuran sepatu tersebut. Yaitu 38.
Fix bukti ke dua sudah mengarah ke Mirna. Rafa jadi curiga jangan-jangan baby A disembunyikan oleh Mirna. Rafa, Sofia dan Albert mulai mengatur rencana baru.
__ADS_1