PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 79


__ADS_3

Kemudian Sofia menyuruh suaminya untuk mengambilkan sesuatu. Dan Suaminya pun langsung pura-pura kamar untuk mengambilkan sesuatu barang milik Sofia.


Arsya sengaja berlama-lama di belakang, agar Sofia bisa leluasa untuk mengetahui maksud Zoya. Dan dengan kesempatan ini, Sofia menyempatkan untuk mendekati Zoya. Sofia pun duduk di dekat Zoya.


"Hai, kalau boleh tahu namanya siap?" Tanya Sofia memulai pembicaraan. Zoya pun menoleh ke arah Sofia.


"Aku Zoya," Kata Zoya memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


"Oh.. Nama yang sangat bagus." Kata Sofia basa-basi. Zoya tersipu malu mendengar ucapan Sofia. Zoya menjadi besar kepala, dan berfikir bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya.


"Oh iya, orang tuanya mas Arsya kemana?" Tanya Zoya sedikit lancang, dan membuat Sofia sedikit ilfil.


"Papa, sama mama sudah tidak ada. Mereka sudah meninggal." Mendengar itu Zoya kaget Dan menjadi ga enak hati. Kemudian Zoya meminta maaf karena Iya benar-benar tidak tahu. Sofia memaklumi hal itu dan tetap tersenyum.


"Oh iya by the way, kamu ada perlu apa kesini?" Tanya Sofia langsung pada intinya.


"Aku mau bahas kerjaan, tentang proyek." Jawab Zoya, dan Sofia mengangguk heran sambil memperhatikan penampilan Zoya, ga masuk akal banget kalau cuma bahas kerjaan. Sekarang kan, hari minggu mana penampilannya kayak gini lagi.


"Sudah berapa lama kenal dengan Mas arsya?" Tanya Sofia semakin mendalam.


"Baru kemarin, tapi meskipun baru kenal kemarin sepertinya mas Arsya itu sangat perhatian sama Aku." Sofia membelalakkan matanya dan tersenyum jengkel. Namun, Sofia tetap menahan emosinya.

__ADS_1


"Oh iya, terus tujuan kamu kesini selain bahas kerjaan apa?" Tanya Sofia lagi.


"Sebenarnya mas Arsya mau ngajak Aku jalan hari ini, karena kan Aku calon pacarnya dia sekarang." Mendengar hal konyol dari Zoya Sofia ingin tertawa geli, dan rasanya ingin muntah. Sumpah pede banget ini anak. Sofia mengangguk dan menahan emosi. Sofia ingin lihat sampai mana ini anak dengan ke pedenya.


Sekarang Sofia menjadi tahu maksud dari Zoya. Zoya tidak hanya ingin membahas pekerjaan. Namun, mencari perhatian dari Arsya. Sofia tetap bersabar dan terus memuji Zoya. Supaya Zoya semakin tambah besar kepala.


"Oh iya, memangnya suamimu kemana? Kerja atau apa?" Tanya Zoya penasaran.


"Suamiku ada di dalam, entar Aku kenalin. Kan kamu calon pacarnya mas Arsya, ya harus tahu dong.. tenang keluarga ini." Zoya besar kepalanya semakin menjadi, dan terbangnya semakin tinggi. Zoya berfikir kalau mimpinya akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Sofia hanya tersenyum ingin muntah.


Tak lama kemudian Arsya datang, karena memang di suruh Sofia. Arsya tetap memilih duduk di samping Sofia. Karena secara kan, Sofia adalah istrinya. Zoya merasa sedikit jealous, mengapa Arsya tidak memilih duduk di sampingnya.


Karena tidak mau kalah, Zoya meminta foto bersama Arsya. Zoya dengan seenaknya menyuruh Sofia untuk memfoto kan dirinya dengan Arsya. Jelas saja hal ini membuat Sofia kesal, namun tetap iya tahan. Karena Sofia juga tidak rela kalau Arsya dekat-dekat dengan perempuan macam dia, Sofia pun duduk di tengah.


"Ini anak ganggu saja." Kata hati Zoya. Namun, Zoya tetap tahan demi impiannya.


Kemudian Sofia menepati janjinya. Yaitu ingin memperkenalkan suaminya kepada Zoya. Dan Zoya pun sedikit senang dan penasaran juga. Seperti apa suaminya adiknya Arsya itu.


"Zoya, kamu ingin tahu suami Aku bukan?" Kata Sofia karena sudah tidak bisa lagi menahan kesalnya.


"Iya dong, Aku ingin tahu suamimu mana?" Tanya Zoya penasaran.

__ADS_1


"Ini, yang duduk di samping Aku sekarang." Sofia menunjuk Arsya. Dan Zoya masih tidak mengerti apa maksud Sofia.


"Maksud kamu?" Tanya Zoya tidak mengerti.


"Kamu ga lihat, siapa yang ada di samping Aku sekarang?" Zoya pun tidak percaya dengan perkataan Sofia. Dan Zoya tertawa geli, Zoya kira ini hanya bercanda.


"Ga mungkin, kenapa Mas Arsya ga cerita dari tadi kalau kamu istrinya. Dan ketika kamu bilang adiknya, mas Arsya hanya diam saja. Kamu pasti bercanda." Zoya tidak percaya.


"Iya, dari tadi mas Arsya memang diam saja. Itu karena Aku yang nyuruh mas Arsya untuk diam. Karena Aku pengen tahu tujuan kamu datang kesini itu apa. Kamu itu pede banget ya, bilang mas Arsya calon pacar kamu. Padahal mas Arsya ga bilang apa-apa loh ke kamu." Kemudian Zoya menunjukkan foto nikahnya dengan Arsya. Ditambah juga dengan menunjukkan buku nikahnya dengan Arsya.


Zoya kemudian tertunduk malu, dan dalam hatinya sedikit kecewa. Dia pikir mimpinya akan menjadi kenyataan, ini bukan mimpi indah bagi Zoya melainkan mimpi buruk. Karena kesalnya, Zoya kemudian berdiri dan langsung menuntut Arsya.


"Arsya, kamu kok diam saja sih. Aku dikatain gini. Aku ini partner kerja kamu loh, kamu ga takut Aku membatalkan kontrak kerjasama kita?" Kata Zoya tidak mau kalah dan mengancam Arsya. Mendengar hal ini Sofia dan Arsya tertawa geli.


"Kalau kamu mau membatalkan kontrak kerjasama ini ya silahkan saja. Tapi apakah papa kamu setuju? Secara perusahaan itu milik papa kamu. Dan semua keputusan itu papa kamu yang tentukan. Perusahaan Aku tidak akan rugi jika membatalkan kerjasama dengan perusahaan papa kamu. Kamu perlu tahu, kalau bukan karena istri Aku, ga mungkin Aku kerjasama dengan perusahaan papa kamu. Istri Aku kedudukannya tinggi di perusahaan. Dia lebih cantik, cerdas, baik, perhatian sopan. Ga ada bandingannya dengan kamu." Arsya mengeluarkan kata-kata kasarnya. Dan Zoya tertunduk malu juga menahan kesal. Kemudian Zoya pergi begitu saja dengan menghentakkan kakinya.


Zoya pergi dengan cara tidak sopan. Zoya langsung masuk ke mobil dan seperti orang yang ngos-ngosan. Zoya kemudian menangis, dan langsung nyetir mobil dengan perasaan kesal. Setelah sampai di rumahnya, Papanya duduk di ruang tamu dan melihat Zoya. Tetapi Zoya tidak menoleh sama sekali ke arah papanya. Zoya terus saja berjalan menuju kamarnya. Papanya bertanya-tanya ada apa dengan anaknya.


Papanya Zoya menyusul Zoya ke kamarnya dan melihat Zoya sedang tengkurap di kasurnya. Sambil menangis sesenggukan. Papanya kemudian menghampiri Zoya, dan bertanya-tanya siapa yang telah membuat anaknya menangis.


Papanya duduk di samping Zoya, dan memegang pundak Zoya ingin menghibur anaknya. Sontak Zoya langsung memeluk papanya. Setelah Zoya tenang, Papanya bertanya tentang hal yang membuat Dia menangis. Zoya pun bercerita tentang hal yang membuat Dia menangis. Namun yang diceritakan oleh Zoya adalah hal yang palsu

__ADS_1


Zoya menjelek-jelekkan Sofia dan Arsya. Zoya mengatakan kalau Arsya dan Sofia telah menghina Zoya. Papanya Zoya percaya dengan omongan Zoya. Sambil mengepalkan tangannya karena emosi. Lalu Papanya Zoya menghubungi Arsya.


__ADS_2