
Kali ini Sofia bertindak lebih tegas kepada mereka. Selama ini Sofia diam bukan karena takut menghadapi mereka. Karena Sofia tidak ingin ribut saja.
Sofia pun pergi dan ingin kembali ke rumah sakit. Sebelumnya Sofia sudah serahkan kepada Sekertaris nya. Sofia istirahat sejenak di dalam mobil. Sofia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Sofia merenung sejenak.
Begitu banyak beban hidup yang dia alami. Begitu sulit hidup yang Iya jalani. Tidak mudah baginya untuk menjadi sorang janda. Sofia sebenarnya tidak ingin dikatakan sebagai janda. Karena Iya yakin suaminya masih hidup. Dan suaminya pasti kembali kepadanya.
Sofia pun kembali teringat kepada suaminya. Biasanya disaat Iya sedih seperti ini Arsya selalu menghiburnya. Sofia selalu bersandar ke bahunya. Kini tidak ada lagi yang menghibur dirinya. Kini Sofia menghibur dirinya sendiri. Dan menjadikan pundaknya sebagai saudaranya sendiri.
Sofia pun membuang nafas dengan kasar. Dan Sofia pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. Sofia menuju rumah sakit lagi. Karena Sofia kasihan kepada pengasuh anaknya yang sendirian.
Sofia pun membelikan makanan untuk baby siter nya. Karena Sofia tahu kalau baby siter belum sarapan. Sofia segera menuju ke rumah sakit. Dan sesampainya di rumah sakit, Sofia memberikan makanan kepada pengasuhnya.
"Ini mbak, saya bawain makanan buat mbaknya sarapan." Kata Sofia menyodorkan makanan. Baby siter itu kemudian mengambil makanan tersebut dan memakannya.
Sofia kemudian pergi ke ruangan dokter dan menanyakan kondisi anaknya. Dokter menyatakan bahwa kondisi Aarav semakin membaik. Dan mulai besok Aarav sudah diperbolehkan pulang.
Rafa juga datang lagi untuk menjenguk Aarav. Dan Rafa pun menanyakan keadaan Aarav. Sofia pun menyampaikan pernyataan dokter. Rafa sangat senang akhirnya Aarav besok sudah boleh pulang.
Rafa pun menjenguk Aarav di dalam. Dengan wajah polosnya, Aarav memandangi Rafa. Aarav kelihatan suka sekali dengan Rafa. Rafa pun bermain dengan Aarav. Dan Aarav tertawa riang bermain dengan Rafa.
"Aarav sayang, ga boleh sakit lagi ya?" Kata Rafa kepada Aarav. Rafa dengan lucunya menghibur Aarav. Sofia hanya memandangi mereka dengan wajah tersenyum.
"Seandainya kamu disini mas, pasti Aarav akan bermain denganmu. Bercanda, tertawa denganmu." Kata Sofia dalam hatinya. Sofia teringat kembali kepada Arsya. Sofia benar-benar sangat merindukan Arsya.
Sudah 7 bulan Arsya meninggalkan Sofia. Tetapi, Sofia masih setia menunggunya. Sofia tidak bisa berpaling dari Arsya. Sofia merasa sangat sedih, tetapi Sofia menutupi kesedihannya itu di depan Rafa. Sofia pun menghampiri mereka. Dan mereka tertawa bersama.
Baby siter yang melihat mereka sangat terharu. Dan ikut senang Akhirnya Sofia bisa tersenyum ceria seperti itu.
__ADS_1
"Seperti keluarga yang lengkap. Ibu Sofia dan mas Rafa sangat cocok dan serasi." Kata baby siter itu sambil memegang kedua tangannya. Dan memandangi mereka.
Rafa pun keluar dari ruangan Aarav. Karena Rafa merasa lapar. Dan Rafa pun pergi ke kantin. Baby siter itu kemudian memanggil Rafa. Rafa pun menoleh kearah baby siter itu.
"Ada apa mbak?" Tanya Rafa. Rafa mengira ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh baby siter. Baby siter itu kemudian senyum-senyum sendiri. Rafa pun merasa aneh.
"Mas Rafa, saya lihat mas Rafa sangat cocok bersama Ibu Sofia. Kenapa tidak nikah saja mas Rafa?" Rafa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Baby siter itu.
Kemudian Rafa pun pergi begitu saja ke kantin. Karena Rafa bingung ingin menjawab apa. Baby siter itu tetap tersenyum. Di kantin, Rafa memikirkan perkataan baby siter tersebut. Seandainya Sofia membalas perasaannya sudah pasti Iya nikahi.
Tapi Rafa tidak ingin egois. Rafa menghargai perasaan Sofia. Rafa tidak pernah khawatir masalah jodoh. Karena jodoh sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika Sofia memang jodohnya, pasti Sofia akan menjadi miliknya. Tapi jika Sofia bukan jodohnya, sekalipun itu dipaksa ga akan mungkin bisa bersatu.
Rafa tidak ingin Sofia menjauhinya karena perasaannya. Jika Rafa terlalu memaksakan kehendaknya, bukan tidak mungkin Sofia akan menjauhinya. Rafa tahu hati Sofia hanya untuk Arsya. Dan sampai kapanpun akan tetap menjadi milik Arsya.
Percuma jika dirinya mendapatkan Sofia tapi hatinya bukan untuknya. Maka dari itu Rafa mencintai Sofia dari dalam hati saja. Dan Rafa berharap yang terbaik untuk Sofia.
"Kangen sama Om ya sayang?" Aarav pun tertawa riang ketika Rafa menggendongnya. Sofia ikut tertawa melihat tingkah mereka.
"Rafa, kamu ga capek?" Kata Sofia.
"Enggaklah, Aku gak pernah capek jika bersama Aarav." Jawab Rafa sambil menggendong Aarav.
Sofia juga ikut bermain dengan Aarav dan Rafa. Mereka kelihatan seperti rumah tangga yang bahagia. Orang-orang yang melihat mereka juga merasa terharu.
"Ya, ampun sempurna sekali keluarga mereka." Kata salah seorang yang berada di rumah sakit. Sambil memegang kedua tangannya.
...****************...
__ADS_1
Kini Aarav sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Rafa juga ikut menjemput Aarav pulang dari rumah sakit. Padahal Sofia bisa pulang sendiri.
"Rafa, kamu ga ke kantor?" Tanya Sofia kepada Rafa.
"Enggak, Aku sengaja gak ke kantor. Karena Aku ingin menjemput keponakan kesayangan Aku ini." Rafa langsung saja menggendong Aarav. Dan Aarav pun merasa nyaman di dekapan Rafa. Sofia hanya menggelengkan kepala.
"Rafa, Aku kan bisa pulang sendiri. Lagian sudah ada supir yang jemput kok," Kata Sofia.
"Kalau Aku yang jemput memangnya gak boleh ya?" Rafa pun cemberut.
"Ya bukannya begitu Rafa, kamu kan harus ke kantor. Ga baik loh kamu tinggalin begitu saja kerjaan kamu." Kata Sofia mengingatkan.
"Suka-suka Aku lah. Aku kan bos." Sofia hanya menggelengkan kepala sambil berdecak heran.
"Rafa, Rafa. Justru kamu seorang Bos, kamu jadi panutan untuk bawahan kamu. Pemimpin itu harus lebih disiplin, memberi contoh yang baik. Supaya bawahan kamu bisa mencontoh kamu." Sofia menceramahi Rafa. Sebagai seorang sahabat, Sofia selalu mengingatkan Rafa tentang hal yang positif.
Rafa hanya mengangguk saja. Dan Rafa pun tetap menggendong baby A. Sofia hanya bisa berdecak karena tidak tahu lagi harus ngingetinnya bagaimana.
Sesampainya di rumah, Rafa masih ingin menemani Aarav. Dan Sofia menegurnya sekali lagi. Rafa pun mengatakan kalau Iya hari ini malas untuk ke kantor. Sofia tidak bisa memaksa kehendak Rafa.
"Akhirnya kamu pulang juga dari rumah sakit sayang, Om ganteng sama kamu. Emmuachh." Sambil mengecup pipi baby A. Sofia pun heran dengan sikap Rafa yang kepedean.
"Ih kepedean banget kamu Rafa," Kata Sofia sambil mencubit pinggang Rafa. Rafa pun berteriak kesakitan.
"Biarin saja, emang Aku ganteng kok." Kata Rafa dengan pedenya. Sofia hanya menggeleng kepala.
"Ya sudah terserah kamu saja dah." Kata Sofia akhirnya. Aarav memandangi wajah mamanya dan Om Rafa nya. Aarav memandangi mereka dengan polosnya.
__ADS_1