
Dan Aku juga minta untuk turun sebentar kepada Pak Arsya. Diam-diam Aku mendekati Marsha dan mendengar pembicaraan mereka. Mataku terbelalak mendengar rencana licik Marsha. Ternyata Iya telah mengkhianati Albert dan ingin menghancurkan Albert dari dalam.
"Marsha! Licik kamu. Bisa-bisanya kamu mempunyai rencana jahat terhadap tunangan mu sendiri." Aku marah kepada Marsha karena Aku tidak rela jika Albert harus disakiti.
"Lebih baik kamu ga usah ikut campur. Ini bukan urusanmu!" Marsha menyuruhku untuk tidak ikut campur.
"Jelas ini menjadi urusanku. Karena Albert adalah sahabat Aku dari kecil. Aku tahu kamu kan, yang telah mengubah nama Albert menjadi Febri?" Aku tambah emosi mendengar ucapan Marsha. Aku tidak merasa kalau ada orang lain di belakang ku.
Kemudian Orang itu menyumbat mulutku dengan tangannya. Aku sedang merasa terancam. Dan Orang itu malah menodongkan senjata kepadaku, menyuruh Aku diam.
Kemudian Pak Arsya berlari ingin menolong ku. Orang yang mencengkram ku berjalan mundur secara perlahan sesekali mengancam. Aku tidak memikirkan apa-apa sekarang, Aku hanya memikirkan Keselamatan Aku sendiri dan juga Pak Arsya.
Mataku jadi terbelalak ketika ada orang lain di belakang Pak Arsya. Orang itu ingin mencelakai Pak Arsya. Aku berfikir keras ingin membantu Pak Arsya. Kemudian Aku berhasil melepaskan cengkraman orang ini. Dan berlari menyelamatkan Pak Arsya.
__ADS_1
Aku pun segera memeluk Pak Arsya dan membalikkan arah membelakangi Pak Arsya. Mulutku ternganga dan terkejut. Karena sebuah pisau menancap di tubuhku bagian belakang.
Lalu Orang yang mencengkram Aku barusan juga ingin menusuk Pak Arsya dari belakang. Kemudian dengan sekuat tenaga Aku juga menggantikan arah posisi badan Aku. Sehingga Aku juga yang tertusuk lagi.
Aku pun tertegun dan Aku menyentuh tubuhku bagian belakang yang penuh dengan darah. Pak Arsya yang memelukku juga tertegun. Aku merasa nafasku sangat sesak dan sambil menahan rasa sakit yang amat dahsyat.
***
"Bapak tidak apa-apa kan?" Sofia masih menanyakan keadaan Arsya sambil menahan rasa sakit.
"Syukurlah!" Terakhir perkataan Sofia, dan Sofia kemudian sesak nafas dan akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Arsya pun merasa sangat panik karena dua tusukan yang mendarat di tubuh Sofia. Kemudian dengan segera Sofia dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Arsya merasa panik dengan keadaan Sofia. Dan sambil mondar-mandir menunggu dokter.
Setelah Dokter selesai menangani Sofia, Arsya menanyakan kondisi Sofia. Kini Sofia mengalami koma dan harus di bawa ke ruang ICU. Kondisi Sofia saat ini masih kritis.
Arsya menjadi sangat lemas mendengar pernyataan Dokter. Arsya menyandarkan dirinya ke tembok dan menjatuhkan dirinya. Arsya merasa bersalah karena perempuan yang dicintainya itu celaka.
Tapi Arsya tidak tinggal diam Iya segera melapor kepada Polisi dan meminta Polisi agar segera mengusut kasus ini dengan tuntas.
Arsya hanya bisa menatap Sofia yang tidak sadarkan diri, yang di bawa oleh beberapa perawat untuk dipindahkan ke ruang ICU.
Arsya tidak sengaja membuka tasnya Sofia dan di dalamnya terdapat buku diary milik Sofia. Arsya tidak sengaja membaca buku Sofia Sampai akhir.
Pak Arsya terbelalak matanya ketika mengetahui bahwa Sofia ternyata diam-diam telah menaruh perasaan terhadap Bosnya itu. Tapi Sofia sadar bahwa dia hanyalah seorang bawahan. Dan berbeda jauh derajatnya dengannya. Dan itu semua tidak mungkin bagi Sofia.
__ADS_1
Dan tentang perasaannya terhadap Albert sudah Sofia kubur dalam-dalam. Dan Sofia hanya menganggap Albert sebatas sahabat. Namun perasaan sayang terhadap sahabatnya itu sangatlah besar. Iya sudah ikhlas melepaskan Albert untuk orang lain.