
Marsha dan Radit ingin membuat Sofia hancur dari dalam. Marsha pun mulai menjalankan rencananya. Marsha berpura-pura mendekati Sofia, dan ingin berpura-pura menjadi orang baik.
Sementara Radit, tetap pura-pura menjalankan kerjasama dengan perusahaannya. Radit pun perlahan-lahan mengambil hati Arsya. Sayangnya Arsya tidak tahu bagaimana Radit. Sebelumnya, Iya tidak mengenal Radit.
Marsha pun mendatangi rumah Sofia. Marsha mengetuk pintu rumah Sofia, dan tidak lama kemudian, Sofia membuka pintunya. Sofia tercengang melihat Marsha.
"Marsha, ngapain kamu kesini?" Sofia bertanya heran terhadap Marsha. Karena ga biasanya Marsha kesini. Dan juga memasang wajah sayu. Secara ga langsung, Marsha pun langsung bertekuk lutut di hadapan Sofia
"Maafin Aku Sofia, Aku banyak salah. Aku terlalu jahat selama ini sama kamu. Hiks.. hiks.." Marsha pura-pura minta maaf dan menangis. Karena tidak tega, akhirnya Sofia membantu Marsha untuk bangun.
"Marsha, ayo bangun. Kamu tidak perlu berlutut seperti ini." Kata Sofia sambil mengangkat tubuh Marsha. Lalu Sofia mengajak Marsha duduk.
"Sebenarnya ada apa Marsha? Kenapa kamu nangis?" Tanya Sofia serius dan siap menjadi pendengar yang baik.
"Albert, Albert.." Marsha menyebut nama Albert. Dan Membuat Sofia bertanya-tanya. Apakah Marsha menangis gara-gara Albert.
__ADS_1
"Ada dengan Albert Marsha?" Sofia bertanya untuk memastikan yang sebenarnya.
"Albert sekarang menjauhi Aku, Dia ninggalin Aku Sofia.. hiks.. hiks.." Marsha pura-pura menangis untuk mendapatkan simpati dari Sofia. Dan sepertinya rencana kali ini akan berhasil pikirnya.
"Loh, kenapa bisa?" Tanya Sofia penasaran.
"Aku sudah jahat Sofia, dan Albert tahu kejahatan Aku.. Sekarang Aku sadar, dan Aku udah capek, Aku ingin menjadi lebih baik Sofia." Marsha hanya berpura-pura. Namun, Sofia tidak semudah itu untuk percaya terhadap Marsha. Sofia berfikir mana mungkin orang yang licik seperti Marsha bisa berubah secepat itu.
Sofia adalah perempuan yang sangat cerdas. Iya Pura-pura percaya dengan Marsha. Dan Iya menjadi curiga terhadapnya. Iya mengikuti alur permainan si Marsha.
"Yes! Misi kali ini berhasil." Gumam Marsha dalam hatinya. Dan merasa bahwa misinya berjalan lancar. Dan Marsha tinggal berfikir akan menjalankan rencana selanjutnya.
***
Sementara Radit, Iya perlahan-lahan mendekati Arsya. Dan Radit pun berusaha untuk mencuci otak Arsya, agar Iya membenci Istrinya.
__ADS_1
"Oh iya Pak Arsya, ternyata Ibu Sofia itu orang yang profesional ya?" Kata Radit memulai memancing permasalahan.
"Iyalah, Istrinya Aku kan orang yang cerdas." Kata Arsya menjawab apa adanya.
"Bapak sih, ga tahu." Radit memulai mencari suatu masalah.
"Maksud kamu?" Tanya Arsya penasaran dengan omongan Radit.
"Tahu ga Pak? Kenapa perusahaan saya itu ditandatangani kontrak kerjasama oleh Istri Bapak? " Karena Dia mantan saya Pak, Dia menerima kontrak kerjasama itu supaya bisa dekat-dekat dengan saya." Radit mulai memancing emosi Arsya.
"Maksud kamu apa?" Arsya masih tidak mengerti tentang apa yang dimaksud dengan Radit. Tanpa basa-basi, Radit menunjukkan foto waktu dia masih berpacaran dengan Sofia. Sebuah foto jadul yang ditunjukkan oleh Radit.
Namun, reaksi Arsya hanya tertawa. Arsya sangat mempercayai istrinya itu. Dan bagi Arsya tidak mungkin jika istrinya punya pikiran macam-macam.
"Istri saya itu orang yang sangat professional dalam bisnis. Jadi ga mungkin istri saya mau mendekati pria lain." jawaban Arsya, membuat Radit merasa gagal menjalani misi pertamanya.
__ADS_1