PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 83


__ADS_3

"Hai ganteng, selamat datang ke dunia ya nak.. Ibu berharap kamu itu sehat selalu, Jadi anak yang pintar, buat papa bahagia." Arsya mencium kening istri dan anaknya. Arsya juga berkata buat papa dan mama bahagia. Arsya pun memeluk mereka dengan penuh kebahagiaan.


Keadaan Sofia semakin hari semakin membaik. Dokter memeriksa Sofia dan mengatakan bahwa ini adalah keajaiban yang luar biasa. Arsya sangat bahagia mendengarnya.


"Terimakasih ya sayang, kamu sudah bertahan demi Aku." Arsya mengecup kening istrinya dan Sofia juga memeluk suaminya dengan tangan sebelah.


"Iya sayang, ini semua karena kehendak yang kuasa sayang.." Sofia mengingatkan suaminya. Bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Sofia juga bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk hidup. Dan diberikan kesempatan untuk bisa merawat anaknya.


Tiba-tiba HP Arsya berbunyi, ternyata dari kantor polisi. Arsya diminta untuk segera ke kantor polisi sekarang juga. Polisi tersebut ingin memberitahukan berita soal Marsha. Arsya pun segera menutup telfonnya, lalu pamit ke istrinya untuk ke kantor polisi sebentar.


Sesampainya di kantor polisi, polisi tersebut memberitahukan bahwa Marsha telah dinyatakan meninggal dunia akibat terbawa arus sungai yang cukup deras. Polisi juga baru saja menemukan baju, potongan tubuh, dan rambut yang nyangkut. Diperkirakan bahwa bukti tersebut adalah milik Marsha.


Arsya pun percaya apa yang sudah dikatakan polisi. Arsya menyerahkan semua urusan kepada mereka. Arsya pamit untuk kembali ke rumah sakit.


"Terimakasih atas bantuannya selama ini pak." Arsya sambil menjabat tangan polisi tersebut. Polisi pun juga mengucapkan Terimakasih kepada Arsya atas kerjasama yang telah iya lakukan.


Arsya segera kembali ke rumah sakit dan segera memberitahu hal penting kepada Sofia. Bahwa Marsha telah dikatakan meninggal dunia. Polisi juga menemukan barang bukti yang meyakinkan.


"Ya ampun, kasian sekali mas.. Aku ga nyangka kalau Marsha akan meninggal secara tragis seperti ini." Sofia mengusap dadanya. Arsya mengelus rambut istrinya.


"Sayang, itu akibat dari perbuatan jahat sayang.. Siapa yang menanam dia yang akan menuai." Sofia tersenyum dan mengangguk dengan kata-kata suaminya. Arsya mengelus kepala bayinya yang sedang berada di pangkuan Sofia.

__ADS_1


Bayi Arsya sedang tertidur pulas. Arsya tidak hentinya mencium kepala anaknya. Setelah itu mencium kening istrinya. Papanya Zoya, dan Zoya menjenguk Sofia di rumah sakit.


"Maaf Pak, saya baru saja menjenguk Ibu Sofia. Kalau boleh tahu bagaimana keadaannya sekarang?" Sofia menyambut mereka dengan senyum.


"Tidak apa-apa Pak, terimakasih atas kunjungannya. Alhamdulillah keadaan saya baik." Zoya yang melihat kemesraan Arsya dan Sofia menjadi sewot. Karena Zoya tidak suka jika mereka terlalu mesra.


Zoya merasa jealous dengan kemesraan Sofia dan Arsya. Sebenarnya Zoya mengharapkan Arsya menjadi suaminya. Zoya seperti merasa tidak rela jika Arsya terlalu perhatian dengan istrinya.


Karena jealous, Zoya akhirnya keluar dari ruangan. Dan menunggu di luar saja, sementara papanya Zoya, tetap berada di dalam sambil berbincang-bincang. Dari kejauhan terlihat Alber dan Rafa sedang berjalan mendekat ke ruangan Sofia.


Zoya melihat mereka berdua samar-samar. Ternyata dugaan Zoya benar. Zoya wajahnya berubah menjadi cerah seketika melihat Albert datang. Zoya langsung saja memanggil Albert dengan melambaikan tangan.


"Albert," Albert melihat ke arah Zoya.


"Iya Aku menemani papa Aku, untuk mengunjungi rekan kerjanya yang baru saja melahirkan. Kamu ngapain kesini?" Tanya Zoya penasaran sambil melihat sebuah bunga yang ada di tangannya.


"Aku kesini mau jenguk sahabat Aku. Aku masuk dulu ya.." Albert langsung masuk ke ruangan Sofia. Zoya hanya memandangi Albert dan melihat dari balik pintu. Zoya semakin iri dengan Sofia. Karena banyak laki-laki yang sangat perhatian kepadanya.


"Apa sih hebatnya perempuan itu? Sampai-sampai banyak laki-laki yang mau berteman dengan Dia." Gumam Zoya merasa kesal. Karena tidak tahan, Zoya akhirnya mengajak papanya untuk pulang. Tidak sengaja, Zoya menatap Rafa dan mengingat waktu bulan lalu yang pernah membuatnya kesal.


"Bukannya ini cowok yang ngeselin kemarin itu? Ngapain dia ada disini?" Gumam Zoya, Zoya juga sambil melirik Rafa yang menatap Sofia. Zoya merasa aneh dengan tatapan Rafa ke Sofia. Tetapi Zoya tidak mau tahu dengan itu.

__ADS_1


Karena Zoya mendesak untuk mengajak pulang, Akhirnya papanya Zoya menuruti permintaan anaknya. Dan mereka pun pulang. Rafa yang juga melihat kehadiran Zoya, dari tadi tidak merasa nyaman dengan perempuan itu.


"Rafa, dari tadi kamu kenapa diam saja?" Sofia bertanya kepada Rafa.


"Tidak apa-apa. Cuma males saja ada perempuan tadi." Sofia mengernyitkan dahinya.


"Hus, jangan bilang gitu. Nanti kamu malah suka lo sama dia." Rafa melotot mendengar ucapan Sofia dan menggelengkan kepala sembari mengusap dada.


"Amit-amit deh, jangan sampai suka sama dia." Kata Rafa dan membuat satu ruangan jadi tertawa.


Dalam hati, Rafa sangat bersyukur melihat Sofia menjadi ceria. Dan mengetahui kondisinya perlahan membaik. Dan Rafa juga memandangi anak Sofia yang sedang berada dipangkuan Sofia. Rafa meminta ijin untuk menggendong bayi Sofia. Sofia menatap suaminya, memberikan sebuah kode. Arsya pun mengangguk, artinya Rafa boleh menggendong bayinya.


Sofia mengizinkan Rafa untuk menggendong anaknya. Rafa pun dengan senang hati bisa menggendong bayi Sofia. Rafa kelihatan sangat gemas dengan bayi mereka. Dan Rafa pun mengajak bicara bayi tersebut dengan menggunakan bahasa bayi.


Albert juga tidak mau kalah, Iya juga ingin menggendong bayi Sofia. Albert juga meminta ijin untuk menggendong bayinya. Sofia dan Arsya juga mengijinkan Albert untuk menggendongnya. Albert juga gemas dengan bayi mereka.


"Oh iya, sudah diberi nama belum?" Tanya Rafa kepada mereka. Sofia dan Arsya saling pandang dan menggelengkan kepala. Mereka belum ada Ide untuk memberi nama kepada bayi mereka.


"Kalau boleh, Aku punya ide untuk nama bayi kalian." Sofia hanya pasrah kepada suaminya saja. Arsya pun mengangguk dan membolehkan kalau anaknya yang memberi nama adalah Rafa. Rafa juga sangat berterimakasih atas kepercayaan mereka.


"Bagaimana kalau namanya Aarav, yang artinya bijaksana." Sofia dan Arsya saling pandang dan tersenyum mendengar ide nama yang diberikan oleh Rafa. Mereka pun mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


"Nama yang sangat bagus, Aku setuju." Kata Sofia dan Arsya juga mengikuti persetujuan. Rafa tersenyum dan sangat berterimakasih terhadap mereka. Rafa dan Albert mengajak bayi mungil itu untuk bercanda. Dan memanggilnya dengan sebutan Aarav.


Sofia dan Albert hanya memandangi mereka dengan penuh senyum dan menggelengkan kepala. Ternyata tingkah Albert dan Rafa sama seperti tingkah anak kecil. Mereka juga kelihatan lucu saat bermain dengan bayi.


__ADS_2