
Pembantu Sofia merasa senang dengan kehadiran Rafa dan Albert. Karena mereka sangatlah ramah. Dan mereka juga orang yang sangat baik dan peduli. Bahkan ada salah satu pembantu Sofia yang kesemsem dengan Albert dan Rafa.
"Duh, Mas Rafa sama mas Albert ganteng tenan toh.. Suami idaman.. Hihi.." Pembantu yang satu dengan yang lain cekikikan melihat ketampanan Rafa dan Albert. Hingga Sofia mendengar mereka berisik. Sofia pun berjalan menghampiri mereka. Tanpa mereka sadari, Sofia berada tepat di depan mereka.
Mereka gelagapan dan malu melihat Sofia. Mereka pun saling senggol. Sofia hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka.
"Kalau membicarakan seseorang, jangan keras-keras. Entar orangnya dengar loh." Kata Sofia, mereka saling melirik satu sama lain. Karena ketahuan jika mereka sedang membicarakan Albert dan Rafa.
"Maaf Bu, kami tidak berbicara yang jelek-jelek. Kami hanya kagum saja melihat Pak Albert dan Rafa ganteng. Apalagi mereka sangat baik bu," Sofia tersenyum sendiri dengan pengakuan mereka.
"Menurut saya, Ibu Sofia sangat beruntung. Dikelilingi orang-orang baik seperti mereka. Jarang loh bu, ada teman yang seperti mereka." Sofia membelalakkan mata dan Sofia tersenyum.
"Kalian juga orang-orang baik kok, bilang aja kalau kalian kesemsem dengan mereka? Berharap, mengkhayal si boleh. Memandang langit juga boleh, tapi jangan lupa dengan bumi." Sofia mengingatkan sambil tersenyum.
"Ah Ibu, kita juga sadar kok bu.. Siapa kita. Ga mungkin lah bu, kita berharap sama mas ganteng. Lagian kita sadar umur bu.." Sofia tertawa geli mendengar jawaban mereka.
Hari sudah mulai sore, saatnya Albert dan Rafa untuk pulang. Rafa dan Albert pamit pulang kepada Sofia. Tidak lupa juga untuk pamit sama baby A.
"Om pulang dulu yah?"
"Besok kita main lagi ya ganteng?" Kata Rafa sambil mencium pipi Aarav. Sofia juga mengucapkan banyak terimakasih kepada mereka berdua karena sudah menemani baby A.
Rafa dan Albert melarang Sofia untuk mengucapkan terimakasih lagi. Karena mereka sudah menganggap baby A sebagai keponakannya sendiri. Sofia sangat senang terhadap mereka. Tidak ada kata lain selain terimakasih.
__ADS_1
Arsya pulang dari kantor. Sofia menyambut Arsya dengan senyuman. Arsya juga mencium kening istrinya. Sofia juga menyiapkan air panas untuk Arsya mandi. Sofia pun menunggu suaminya selesai mandi.
Kali ini, Sofia mengenakan lingerie. Sofia menggunakan lingerie hanya untuk menarik perhatian suaminya. Arsya tertegun hingga tidak berkedip dengan penampilan Sofia. Sofia berjalan mendekat ke arah suaminya.
Reflek saja Arsya langsung menarik tubuhnya hingga tubuhnya dan tubuh Rafa saling merapat. Arsya langsung memegang wajah Sofia. Arsya pun langsung menempelkan bibirnya ke bibir Sofia.
Lalu Arsya mendorong Sofia hingga jatuh terlentang ke kasur. Arsya mulai melakukan aksinya.
...***********...
#Duka#
Sofia sedang asyik bermain dengan baby A. Tiba-tiba Sofia mendapatkan kabar bahwa Ayahnya sedang sakit keras. Sofia segera menelfon suaminya namun tidak segera diangkat. Terpaksa Sofia menitipkan pesan kepada pembantunya.
Sofia segera pergi ke rumah ayah dan Ibunya. Sesampainya di sana, Sofia mendapatkan Ayahnya terbaring dan sudah kritis. Sofia duduk di samping Ayahnya. Dan memegang tangan Ayahnya.
"Sofia," Panggil Ayahnya dengan lemas.
"Ayah, kita ke rumah sakit sekarang ya Ayah.." Ayah Sofia menolak saat diajak ke rumah sakit. Ayahnya merasa sudah tidak punya banyak waktu lagi. Sofia hanya menangis.
"Ayah, Ayah tidak boleh berbicara seperti itu.. Ayah harus yakin kalau Ayah pasti sembuh." Kata Sofia ingin menangis. Ayahnya berbisik di telinga Sofia seperti ada sesuatu yang dia sampaikan.
"Sofia, tolong kamu cari orang yang bernama Tifani. Dia adalah adik laki-laki Ayah," Ayahnya memberikan sebuah foto kepada Sofia. Foto seorang laki-laki. Lalu Ayahnya menyampaikan sesuatu yang penting. Perlahan Sofia memahami perkataan Ayahnya.
__ADS_1
Secara tiba-tiba, Ayahnya langsung kejang. Sofia menjadi panik. Ayahnya sudah tidak bergerak lagi Sofia mengguncang-guncang tubuh Ayahnya. Dan ketika seseorang memeriksa denyut nadi sang Ayah, Sofia sangat syok dan berteriak.
Sofia menangis histeris dan tidak percaya bahwa Ayahnya telah tiada. Ibu Sofia juga ikut menangis. Suasana duka menyelimuti keluarga Sofia.
Sementara di rumah Arsya, Arsya mencari-cari istrinya yang sedang tidak ada di rumah. Lalu pembantunya memberitahu bahwa Sofia sedang pergi ke rumah orang tuanya. Pembantunya memberitahu bahwa Ayahnya sedang sakit keras.
Langsung saja Arsya segera menyusul ke rumah orang tua Sofia. Setibanya di sana, Arsya melihat ada banyak orang di rumah orang tua Sofia. Arsya heran dan penasaran. Lalu Arsya bertanya kepada orang yang sedang lewat. Setelah tahu, Arsya langsung syok mendengarnya.
Segera Arsya masuk, Arsya mendapati Ayah mertuanya sudah tertutup kain. Arsya melihat istrinya sedang memeluk Ayahnya. Sofia tetap menangis sambil memanggil sang Ayah. Arsya duduk di samping istrinya, dan berusaha untuk menenangkannya.
Arsya merangkul tubuh istrinya, dan mencoba untuk menyuruhnya tetap sabar. Sofia tidak menghiraukan perkataan suaminya. Sofia dan Arsya ikut ke pemakaman sang Ayah. Ketika Ayahnya ingin dikebumikan, Sofia tiba-tiba hilang kendali.
"Tolong, jangan kubur Ayah saya.. Nanti Ayah ga bisa nafas, Ayah saya cuma tertidur saja.." Kata Sofia sambil menghalangi para tukang gali kubur. Semua orang yang menyaksikan itu, menjadi tidak tega dengan Sofia.
Arsya lalu berusaha menjauhkan Sofia dari tempat itu. Sofia memberontak namun tetap Arsya tetap memegangi Sofia dengan kuat. Pada Akhirnya tenaga Sofia kalah, Arsya berhasil membawa Sofia menjauh.
Arsya mencoba untuk menenangkan istrinya. Arsya mengerti perasaan istrinya saat itu. Arsya memeluk Sofia dengan erat. Hanya pelukan yang bisa membuat hati Sofia tenang. Tidak terasa air mata Arsya juga menetes.
Malam ini, Sofia dan Arsya juga baby A bermalam di rumah orang tuanya. Sofia tampak bengong tidak berkedip. Arsya melihat istrinya seperti itu menjadi tidak tega. Arsya menguatkan istrinya dan selalu memeluknya.
Tiba-tiba saja Sofia teringat pesan Ayahnya. Sofia masuk ke kamar sang Ayah dan ingin mengemasi barang-barang Ayahnya. Secara tidak sengaja, ada sesuatu yang jatuh. Sofia mengambil sesuatu yang jatuh tersebut.
Sebuah gelang yang unik, Sofia memperhatikan gelang tersebut dengan seksama. Sofia seperti teringat sesuatu. Gelang itu seperti mirip dengan gelang milik tante Mirna. Di gelang tersebut tertulis kan huruf M.
__ADS_1
"Ini kan, gelang langka. Tidak semua orang punya gelang ini. Kenapa gelang ini mirip sekali dengan punya tante Mirna? Apa tante Mirna ada hubungannya dengan ini semua?" Gumam Sofia. Aku harus menanyakan langsung tentang hal ini ke tante Mirna.
Sofia masih merahasiakan hal ini dari suaminya. Sofia berharap ada jawaban dari semua ini. Sekarang tugas Sofia adalah mencari pamannya.