
"Argh.. mikir apa Aku ini, ingat Febri.. kamu sudah punya tunangan. Jangan sampai kamu melukai perasaan seseorang. Kamu sudah berjanji untuk fokus sama Marsha." Aku berbicara sendiri dalam hatiku. Dan tidak terasa ternyata sudah sampai di lokasi. Aku dan Sofia pun turun dari mobil.
Aku dan Sofia bersama-sama menuju lokasi proyek. Dengan tidak sengaja sepatu high hill yang Sofia kenakan patah. Hampir saja Sofia terjatuh, namun dengan sigap Aku menangkap nya. Aku memegangi tubuh Sofia agar tidak jatuh.
Aku dan Sofia pun saling menatap, lama kami bertatap-tapan. Sial, Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Semoga Sofia tidak mendengar bunyi detak jantungku yang sangat kencang.
Kemudian dengan sigap Sofia langsung melepaskan tanganku. Sepertinya Ibu Sofia merasa gugup dan jadi salah tingkah, Aku pun juga demikian.
"Maaf, saya tidak bermaksud..." Aku tidak melanjutkan kata-kataku, karena langsung di potong oleh Sofia.
"Tidak apa-apa pak, saya malah berterimakasih karena Bapak telah menolong saya." Ujarnya, kemudian Sofia merasakan sakit di bagian kakinya. Aku pun membantu Sofia, lalu mendudukkannya. Sepertinya kaki Sofia terkilir. Aku pun membantu Sofia untuk jalan. Karena merasa kasihan, Aku memberikan sepatu Aku agar dipakai oleh Sofia.
__ADS_1
"Ibu pakai sepatu saya aja ya?" Aku menawarkan untuk Sofia. Namun Sofia menolak karena merasa tidak enak.
"Tidak usah pak, terimakasih. Saya bisa kok," Aku semakin kagum dengan Sofia, karena Sofia bukanlah yang manja seperti pada umumnya. Sofia kuat berjalan tanpa alasan kaki. Karena Aku tidak tega, akhirnya Aku gendong Sofia tanpa seijinnya. Aku membawa Sofia ke dalam mobil.
"Sebaiknya Ibu tunggu disini saja, biar Aku yang ngecek ke sana." Sofia hanya menurut saja apa yang Aku katakan.
Hari ini sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Aku kembali lagi ke lokasi melihat sebuah pembangunan yang sudah mulai berjalan. Entah kenapa di otakku sekarang lagi memikirkan Sofia.
Sekarang sudah saatnya untuk makan siang, lebih baik Aku ajak Sofia untuk makan siang dulu. Aku pun langsung menuju mobil dan membawa Sofia ke sebuah restoran.
"Loh. Kita mau kemana pak? kan belum selesai." Sofia bertanya heran.
__ADS_1
"Kita makan siang dulu buk, Ibu pasti juga belum makan siang kan?" Jawabku dan Sofia pun mengangguk. Dan Aku pun langsung menancap gas mobil, dan langsung menuju ke sebuah restoran. tidak tahu kenapa tiba-tiba Sofia minta berhenti di sebuah warteg kecil.
"Berhenti pak," Kata Sofia menyuruhku berhenti.
"Mau ngapain kita berhenti disini bu?" Aku bertanya heran kepada Sofia. Dan Aku juga tidak menyangka ternyata seorang Ibu Sofia mau makan di tempat kecil seperti ini. Mana mungkin Aku menolak permintaannya.
Warteg ini sangat nyaman, entah kenapa rasanya Aku pernah kesini. Sepertinya tempat ini tidak asing bagi Aku. Sofia pun tersenyum kepadaku. Aku dan Sofia langsung duduk di tempat duduk yang telah disediakan oleh pihak Warteg.
"Ibu Sofia suka makan di sini?" Aku bertanya kepada Sofia.
"Iya Pak, saya suka makan di sini karena disini makanannya lebih murah." Jawabannya sederhana.
__ADS_1
"Padahal Ibu Sofia ini orang terpandang loh, memangnya Ibu ga malu jika harus makan disini?" Aku memancing dengan sebuah pertanyaan, karena ingin tahu jawaban Sofia yang lain selain murah.