
Tidak lama kemudian, papanya Zoya datang. Dan Zoya pun langsung merengek minta dibebasin segera. Papanya Zoya melihat Sofia di situ. Dan Zoya pun mengadukan yang tidak-tidak tentang Sofia. Sofia hanya diam saja. Dan Sofia merasa tenang karena ada Polisi yang akan menjelaskan.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi pak? Mengapa bapak menangkap anak saya?" Polisi pun menjelaskan yang sebenarnya. Sontak saja papanya Zoya kaget mendengarnya. Dan tiba-tiba,
"Plak!" Zoya langsung memegang pipinya dan langsung protes ke papanya.
"Kenapa papa tampar Aku?" Papanya Zoya langsung memarahi Zoya.
"Apa kamu tidak sadar, kalau kamu mempermalukan papa?" Papanya Zoya langsung marah. Dan Zoya hanya diam saja. Sebentar melirik Sofia. Sofia pun langsung menertawakannya.
"Kamu sudah bikin malu papa berkali-kali. Apa kamu tidak punya rasa malu, hah?" Zoya hanya diam saja tidak berani menjawab perkataan papanya.
Papanya pun langsung menyerahkan Zoya kepada polisi begitu saja. Dan Zoya pun panik. Sofia yang melihat itu langsung ingin tertawa.
"Papanya kenapa jahat begini ke Aku? Anak papa itu Aku, bukan Dia. Kenapa papa malah membela Dia?" Protes Zoya sekali lagi ke papanya.
"Zoya, kali ini papa tidak bisa bantu kamu. Kamu harus menanggung sendiri akibatnya." Papanya Zoya langsung pergi meninggalkan Zoya. Zoya langsung berteriak memanggil papanya.
Sofia langsung mendekati Zoya dan menertawakannya. Zoya pun bertambah kesal dan masih mengancam Sofia. Sofia malah memberikan selamat kepada Zoya.
"Apa Aku bilang, jangan macam-macam sama saya, Kalau kamu mau main game dengan Saya, Ayo saya ladeni. Sekarang kamu yang kalah. Dan congratulations baby.. hahaha.." Sofia langsung mentertawakan Zoya. Dan langsung pergi meninggalkannya.
"Awas kamu Sofia, Aku pasti balas kamu." Zoya menghentakkan kakinya karena kesal. Zoya pun merasa kesal. Dan polisi pun langsung membawanya ke sel.
Zoya berteriak-teriak dalam sel minta untuk dikeluarkan. Sehingga orang lain yang juga berasa dalam sel tersebut merasa terganggu. Mereka meneriaki Zoya.
__ADS_1
"Woi, berisik lo.." Zoya menjadi kaget karena setelah melirik mereka, Zoya menjadi ngeri. Orang yang berada di dalam sel tersebut berjalan mendekati Zoya dan menambah rambut Zoya.
"Ah, sakit." Zoya mengadu kesakitan sambil memegangi rambutnya sendiri yang dijambak oleh seorang tahanan.
Beruntung saja polisi datang dan meneriaki mereka. Mereka pun berhenti menyakiti Zoya. Zoya menangis karena tidak betah berada di dalam sel. Karena di dalam sel tersebut seperti berada dalam neraka.
Keesokan harinya, Papanya Zoya menjenguk Zoya di kantor polisi. Zoya langsung saja memeluk papanya. Zoya menangis dan mulai mengadukan perbuatan para napi terhadap dirinya.
"Papa, tolongin Aku untuk keluar dari sini pa.. Aku udah ga betah disini. hiks, hiks, hiks.." Zoya merengek meminta untuk dibantu papanya. Papanya Zoya menjadi tidak tega terhadapnya. Bagaimanapun juga Zoya adalah putri satu-satunya. Dan cuma Zoya yang papanya miliki.
Papanya Zoya pun berusaha untuk membantu Zoya keluar dari penjara. Papanya Zoya pun mendatangi kantornya Sofia dan ingin bertemu dengan Sofia
...****************...
Sofia sedang melakukan meeting dengan para kliennya. Tiba-tiba saja papanya Zoya datang dan mengganggu acara tersebut. Papanya Zoya sampai bertekuk lutut dihadapan Sofia.
Semua yang berada dalam ruang meeting, tertegun melihat kejadian itu. Sofia pun merasa malu terhadap semua yang ada di ruangan tersebut.
"Pak, lebih baik kita bicarakan ini nanti ya? Sekarang saya lagi meeting dan ini penting." Kata Sofia. Dan Papanya Zoya pun akhirnya berdiri. Sofia memerintahkan sekretarisnya untuk mengantarkan Papanya Zoya agar menunggu di ruang tunggu saja.
Sofia pun melanjutkan meetingnya dan minta maaf kepada para klien atas ketidaknyamanannya. Dan para klien pun masih bisa memaklumi kejadian tersebut. Sofia pun mulai melanjutkan meeting.
Selesai meeting, Sofia segera menemui papanya Zoya. Papanya Zoya menangis lagi dan memohon kepada Sofia agar tuntutannya dicabut.
"Saya mohon sama kamu Sofia, tolong bebaskan anak saya. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain dia. Zoya adalah putri saya satu-satunya. Saya tahu, ini semua salah saya. Saya yang terlalu memanjakan Zoya. Saya janji, setelah saya akan kirim Zoya ke luar negeri agar tidak mengganggu kamu." Papanya Zoya sangat memohon kepada Sofia.
__ADS_1
Sofia yang memiliki hati yang lembut pun akhirnya luluh juga. Sofia tidak tega dengan papanya Zoya yang menangis meminta agar anaknya dibebaskan. Demi anak, seorang ayah rela menjatuhkan harga dirinya.
"Baik Pak, saya akan cabut tuntutan saya. Saya mencabut tuntutan ini, semata-mata karena saya tidak tega jika melihat ada seorang ayah yang rela menjatuhkan harga dirinya demi anaknya yang tidak tahu diri seperti Zoya." Papanya Zoya sangat senang dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sofia.
"Benarkah perkataanmu itu Sofia?" Sofia pun mengangguk. papanya Zoya pun sangat senang dan mengucapkan berkali-kali terimakasih kepada Sofia.
"Sofia, kamu yakin mau mencabut tuntutan kamu?" Tanya Sela heran.
"Iya, Aku yakin." Kata Sofia singkat.
"Sofia, Zoya itu orangnya licik. Bisa jadi Dia akan berulah lagi. Aku ga yakin dengan papanya Zoya itu. Jangan-jangan Dia hanya pura-pura bertekuk lutut dihadapan kamu saja. Aku khawatir kalau Zoya akan berulah lagi lebih dari kemarin." Kata Sela mengingatkan. Sofia pun tersenyum lebar mendengar kekhawatiran Sela.
"Sela, kamu tenang saja. Ga ada yang perlu dikhawatirkan. Hal ini sudah Aku pikirkan secara matang-matang. Aku tahu apa yang harus Aku lakukan." Kata Sofia sambil menepuk pundak Sela. Sofia pun langsung pergi menuju kantor polisi.
Sofia menepati omongannya. Sofia sudah mencabut laporannya untuk Zoya. Dan Zoya pun langsung bebas dari penjara. Zoya melihat Sofia dengan perasaan masih kesal.
"Kenapa orang ini ada disini pa?" Tanya Zoya kesal.
"Papa yang meminta Sofia untuk mencabut tuntutannya terhadap kamu." Mendengar hal itu, Zoya pun kaget.
"Jadi papa ngemis-ngemis ke dia? Dimana harga diri papa?" Tanya Zoya yang tidak rela.
"Zoya, Papa tidak bisa berbuat banyak masalah kasus kamu itu. Jalan satu-satunya agar kamu bisa bebas ya hanya Sofia yang bisa." Sofia yang sedari tadi diam sambil memainkan kukunya, langsung berdiri.
"Kamu itu tahu diri dikit bisa enggak? Papa kamu rela bertekuk lutut dihadapan saya, bahkan disaksikan oleh para klien saya. Itu semua demi kamu, agar kamu bisa bebas. Dan sekarang setelah kamu bebas, kamu mau protes?" Kata Sofia sambil berjalan mengelilingi Zoya.
__ADS_1
"Zoya, kalau kamu tidak ingin harga diri papamu jatuh, jangan pernah main-main dengan saya. Paham kamu!" Kata Sofia sekali lagi dengan kesal.
Kali ini Zoya mengaku kalah, tetapi Zoya tidak akan pernah menyerah. Zoya berjanji akan membalas perbuatan Sofia lebih dari yang kemaren.