PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 103


__ADS_3

Seperti biasa, Sofia selalu mencium Aarav sebelum pergi ke kantor. Sofia pun mulai berangkat dan melambaikan tangan kepada Aarav. Sofia dengan santainya menyetir mobil. Sesampainya di kantor, Sofia memarkirkan mobilnya dengan caranya sendiri.


Sofia pun turun dari mobil dengan gaya yang cool. Siapa yang tidak terpana dengan kecantikan Sofia. Semua karyawan Sofia menyapa Sofia dengan senyum. Sofia membalas senyuman mereka.


Kecuali karyawan yang tidak menyukai Sofia. Mereka enggan sekali menyapa Sofia. Mereka menganggap bahwa Sofia bukanlah orang penting di perusahaan. Mereka menganggap Sofia hanyalah meneruskan perusahaan suaminya saja. Dan tidak punya hak apa-apa terhadap perusahaan suaminya.


Mereka hanya menganggap bahwa bos mereka tetaplah Arsya bukan Sofia. Namun, meskipun begitu Sofia tidak menghiraukan itu semua. Sofia tetap berbuat baik kepada mereka. Dan tetap tidak mengubah aturan perusahaan.


Sofia berusaha untuk tetap tenang dan bersikap tidak peduli dengan rumor yang beredar. Di tengah-tengah terpaan hujatan orang-orang sekitar, Sofia semakin berprestasi dan semakin disukai banyak pebisnis asing.


Sofia tetap fokus kepada pekerjaannya. Tiba-tiba seorang sekertaris mengetuk pintu di ruang kerja Sofia. Sofia mempersilahkan sekertaris tersebut untuk masuk.


"Maaf Bu, ada yang ingin bertemu Ibu Sofia." Kata sekertaris tersebut.


"Kamu suruh tunggu saja di ruang tunggu. Sebentar lagi Aku akan segera ke sana." Kata Sofia sambil memandangi laptopnya.


"Baik bu." Kemudian sekertaris itu keluar dari ruangan Sofia. Dan menemui orang tersebut.


Tidak beberapa lama kemudian, Sofia segera menutup laptopnya dan segera menemui seseorang di ruang tunggu. Sofia mengernyitkan dahi karena seorang wanita berhijab yang menghadap membelakangi dirinya ingin bertemu dengan Sofia. Sofia penasaran dengan wanita tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Sapa Sofia kepada wanita itu. Dan wanita itu seketika menoleh ke arah Sofia. Jelas saja Sofia kaget melihat wanita tersebut.


"Sela?" Sofia heran dengan apa yang ada di depannya. Sofia kaget melihat perubahan Sela. Seketika Sela mengulas senyum kepada Sofia.

__ADS_1


"Sofia, apa kabar?" Sofia masih tertegun dengan Sela.


"Aku baik, kamu sendiri?"


"Aku baik juga." Sela masih tersenyum kepada Sofia.


"Ada perlu apa kamu kesini?" Tanya Sofia penasaran.


"Sofia, Aku boleh enggak ngelamar pekerjaannya disini?" Lagi-lagi Sofia dibuat heran dengan Sela.


"Melamar pekerjaan? Bukannya papa kamu memiliki perusahaan yang besar ya? Kenapa kamu melamar pekerjaan disini?" Tanya Sela penasaran.


"Papaku memang memiliki perusahaan sendiri. Bahkan cabangnya pun juga ada dimana-mana. Tapi, Aku ingin mencari pengalaman baru. Aku ingin mandiri dan memulainya dari nol." Kata-kata Sela membuat Sofia takjub.


"Aku mohon Sofia, Aku sangat butuh pekerjaan. Terserah kamu saja mau ditempatkan di bagian apa saja. Sekalipun itu di bagian Office girl atau apapun itu." Kata Sela.


"Siap bos." Kata Sela memberikan hormat kepada Sofia. Sofia pun tersenyum kepada Sela.


"Nanti ada bagian yang akan mengajari kamu." Sofia pun memanggil seseorang untuk mengajari Sela. Dan memberitahu Sela tentang tugasnya.


Sofia pun memberi semangat kepada Sela. Sela merasa sangat senang dan mulai bekerja dengan semangat. Sela telah berubah menjadi lebih baik sekarang. Sela tidak ingin menjadi orang jahat lagi. Sela menyesal dulu pernah menyakiti Sofia. Tetapi, Sofia melupakan itu semua.


Seorang perempuan menatap sinis Sela. Dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan Sela. Karena Sela masih anak baru di kantor Sofia. Dan penampilannya pun sangat modis.

__ADS_1


"Eh, kamu anak baru ya?" Kata perempuan itu dengan sinis. Sela pun tersenyum dan ingin berkenalan kepada perempuan itu. Namun, perempuan itu malah menepisnya.


"Ih Ga sudi banget Aku kenalan sama kamu. Kamu itu mau kerja atau mau kencan sih? Sok kecantikan banget sih." Kata perempuan itu dengan sinis. Sela malah tersenyum dan kembali bekerja. Sela tidak mempedulikan ocehannya. Karena geram, perempuan itu akhirnya mengganggu pekerjaan Sela. Iya merobek proposal yang Sela buat.


"Kamu apa-apaan sih? Ini kan pekerjaan Aku.. Kenapa kamu robek?"


"Biarin saja, biar kamu di pecat. Karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu." Kata Perempuan itu.


Sofia yang tidak sengaja melihat ada keributan, dan Sofia pun menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Sofia. Perempuan itu kaget dan panik. Dan Sela pun mengadukan semua perbuatannya.


"Arin, apa benar yang dikatakan Sela?" Perempuan itu tidak menjawab. Kemudian ada karyawan yang lain yang mengadukan perbuatan Arin kepasa Sela. Arin hanya menunduk. Lalu Arin tidak sengaja melihat Rafa yang datang ke kantor Sofia. Dan Arin pun mulai melakukan drama.


"Kenapa sih, Ibu Sofia tidak adil sama Aku? Padahal kan Aku cuma negur Dia saja Bu, Dari tadi itu dia main HP. Aku berusaha menegur dia agar bekerja lebih fokus. Tapi Ibu Sofia malah nyalahin Aku." Kata perempuan itu dengan nada agak keras. Sofia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh perempuan itu.


Rafa pun melihat ada keributan dan langsung mendekati mereka. Semakin Rafa mendekat perempuan itu semakin menjadi. Dan Iya pun pura-pura menangis.


"Aku tahu Bu, Ibu Sofia tidak suka dengan saya. Aku tahu Aku hanya pegawai biasa di kantor ini. Dan Ibu Sofia yang berkuasa di kantor ini. Tapi apa Aku salah jika menegur seseorang agar disiplin?" Sofia semakin tidak mengerti. Kemudian Perempuan itu malah mengadu ke Rafa dan memegang tangan Rafa.


Rafa pun heran, dan bertanya kepada Sofia. Sofia juga tidak mengerti. Sela yang sedari tadi menahan kesal, akhirnya membuka suara dan membela Sofia.


"Bohong, yang jahat itu Dia. Dia telah merobek proposal yang Aku buat. Dia dari tadi usil sama Aku. Akhirnya Ibu Sofia datang. Dan Ibu Sofia belum berkata apa-apa. Semenjak Anda datang kesini, Dia semakin menjadi dramanya. Iya ingin cari perhatian anda saja." Kata Sela. Dan perempuan itu merasa kesal karena Sela mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Rafa mengambil sikap bijaksana. Dan tidak mau ikut campur urusan mereka. Biarlah Sofia yang memberi keputusan. Rafa pun tunggu di luar. Dan perempuan itu kebingungan. Sofia hanya bisa menggelengkan kepala.


"Aku sudah berbaik hati sama kamu. Dan kamu, tidak menggunakan kesempatan itu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi kerja di kantor saya. Kamu, saya pecat." Kata Sofia dengan tegas. Sofia telah habis kesabaran menghadapi ulah Dia. Selama ini Sofia hanya diam saja tetapi sekarang sudah tiba untuk Sofia angkat bicara.


__ADS_2