
Sofia masih merahasiakan hal ini dari suaminya. Sofia berharap ada jawaban dari semua ini. Sekarang tugas Sofia adalah mencari pamannya.
Sofia ingin kembali ke rumahnya. Sofia mengajak Ibunya untuk tinggal bersamanya. Karena sekarang Ibunya tinggal sendirian. Apalagi, Ibunya sudah tua. Dan pasti rentan sakit-sakitan. Namun, Ibunya menolak karena Ibunya tidak ingin merepotkan Sofia.
Sofia dan Arsya tetap mewanti-wanti agar Ibunya tinggal bersamanya. Ibunya tetap saja menolak karena Ibunya tidak bisa meninggalkan rumahnya. Dimana rumah itu adalah kenangan bersama ayahnya.
Sofia menjadi paham, bahwa tidak mudah bagi Ibu untuk bisa move on dari kenangan Ayah. Sofia dan Arsya tidak bisa apa-apa. Tetapi Sofia tidak membiarkan Ibunya tinggal sendiri. Sofia menyewa memerintahkan pembantu rumahnya untuk menemani Ibunya.
Sofia juga akan sering-sering main ke rumah Ibunya. Ibunya mengangguk dan memeluk putrinya itu. Sofia dan Arsya pun balik ke rumahnya. Di perjalanan pulang, Sofia tidak bergeming sedikitpun. Sofia memikirkan pesan dari Ayahnya.
Dan Sofia merasa ada yang janggal dengan gelang tersebut. Sofia tidak tahu kemana harus mencari pamannya. Arsya yang sedari tadi menyetir, sesekali melirik Sofia. Arsya merasa bahwa ada sesuatu yang membebani pikirannya.
Arsya kemudian memegang tangan istrinya. Sofia menjadi kaget dan langsung menoleh ke suaminya. Sofia mengulas senyum kepada suaminya.
"Kamu kenapa sayang? Dari tadi diam saja." Tanya Arsya.
"Ga apa-apa Mas," Jawab Sofia kemudian tersenyum. Arsya tidak memaksa istrinya untuk bercerita. Arsya paham keadaan istrinya yang lagi galau.
Arsya tidak banyak bertanya, hanya saja Arsya memegang tangan suaminya dan mengelus tangannya. Maksudnya untuk memberikan kekuatan kepada istrinya. Arsya tetap fokus dalam mengemudi mobil.
Sesampainya di rumah, Sofia ingin langsung istirahat. Arsya pun tidak mengganggunya. Masalah baby Arsya yang menemaninya. Arsya menggendong Aarav dan mengajaknya berbicara. Arsya sangat gemas terhadap anaknya.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan pembantu segera membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Rafa. Pembantunya Arsya segera memberitahu Arsya bahwa ada Rafa yang menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Arsya membuang nafas berat, rasanya sangat malas jika mendengar Rafa datang ke rumahnya. Arsya sudah menduga pasti Rafa lagi mencari istrinya. Gak mungkin kalau si Rafa mencari dirinya. Terpaksa Arsya harus menemui Dia.
"Ngapain kamu kesini? Kalau kamu kesini mau mencari istri Aku, Dia sedang istirahat." Rafa tidak langsung menjawab perkataan Arsya. Dia mengangguk kemudian berkata.
"Aku kesini, cuma mau ngucapin bela sungkawa Aku atas meninggalnya ayah Sofia. Maaf saya baru ngucapin sekarang. Karena Aku baru tahu." Arsya mengangguk tanda mengerti. Arsya sudah berprasangka buruk tentang Rafa. Rafa pun menyapa baby A. Rafa juga minta ijin untuk menggendong baby A.
Arsya mengijinkan Rafa untuk menggendong Baby A. Kalau masalah baby A yang digendong oleh Rafa, Arsya tidak keberatan. Arsya juga percaya kalau Rafa tidak mungkin menyakiti anaknya.
Rafa pun mengajak main baby ke taman belakang. Rafa sangat senang bermain dengan Aarav, apalagi Aarav sangat menggemaskan. Apalagi Aarav sangat anteng jika bersama Rafa. Sepertinya Aarav sangat senang jika bersama Rafa.
Sofia masih memikirkan tentang pesan Ayahnya. Sofia bingung harus mencari pamannya kemana. Apa iya Sofia harus menanyakan hal ini ke tante Mirna, apa mungkin Mirna akan menjawab dengan jujur.
***
Seolah-olah ada luka yang mendalam di hatinya. Mirna merangkul foto terbaru dan menciumnya. Seperti ada kerinduan yang mendalam.
"Seandainya kalian masih ada, mungkin Aku tidak akan berada disini sekarang. Aku rindu kalian. Mas, kenapa kamu ninggalin Aku mas.. Bintang, kamu dimana nak? Sebesar apa kamu sekarang?" Kata Mirna berbicara dengan foto itu. Mirna terus saja menangis mengingat masa lalunya.
**Flashback Mirna
"Hahaha.. Bawa Dia**!" Perintah seorang penjahat. Mirna mewanti-wanti sambil menggendong anaknya agar suaminya tidak dibawa.
"Jangan bawa suaminya saya! Lepaskan Dia!" Penjahat itu mendorong Mirna yang sedang menggendong anak kecil, hingga Mirna jatuh ke lantai. Sontak saja suami Mirna ingin menolong istrinya.
__ADS_1
"Mirna.." Teriak suaminya. Tetapi penjahat itu malah mengikatnya dan terus membawanya. Penjahat itu membawa suami Mirna ke dalam mobil dan melaju dengan cepat. Mirna tidak putus asa mengejar mobil itu, Mirna dengan menggendong anaknya tetap mengejar mobil tersebut.
Mirna akhirnya terjatuh dan mobil yang membawa suaminya itu semakin jauh. Mirna terus saja memanggil suaminya. Mirna menangis bersimpuh dan dengan erat memeluk anaknya.
Sudah satu minggu suaminya tidak kembali. Sebenarnya kemana penjahat itu membawa suaminya. Mirna menatap anaknya yang masih dengan tatapan sedih.
Tiba-tiba ada tetangga Mirna yang sedang tergesa-gesa berlari sambil memanggil Mirna. Dengan berjalan ngos-ngosan.
"Mirna.. Mirna.. Mirna. Hush. hush." Sambil ngos-ngosan. Mirna heran dan penasaran.
"Ada apa bu? Kenapa tergesa-gesa seperti itu?" Tanya Mirna serius. Sambil mengatur nafasnya, tetangganya berusaha menjelaskan.
"Suamimu Mir, Tifani.. Dia ditemukan membusuk di hutan," Sontak saja Mirna langsung kaget. Dan tidak sadarkan diri, Mirna pingsan. Tetangganya kebingungan dan berteriak minta tolong. Para tetangga yang lain berdatangan membantu mengangkat Mirna. Lalu membawa Mirna ke dalam rumahnya. Para tetangga mengipasi Mirna dan membantu menyadarkannya.
Setelah sadar, Mirna menanyakan suaminya. Mirna ingin melihat suaminya. Para tetangga mengantar Mirna ke hutan. Mirna sangat syok melihat jasad suaminya yang sudah hancur. Mirna tiba-tiba duduk bersimpuh. Menangisi jasad suaminya.
Wajahnya sudah tidak bisa dikenali lagi. Mirna menangis histeris dan seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Semua orang yang menyaksikan hal itu, menjadi tidak tega dan ikut menangis juga.
Bagi Mirna itu semua tidak mungkin, jasad suami Mirna pun langsung dikebumikan. Mirna terus saja menangis. Para tetangga ikut bersimpati dan mencoba menenangkan Mirna.
Sudah dia hari kematian suaminya. Mirna masih berduka, Mirna kini tinggal berdua dengan anaknya. Mirna harus tetap semangat menjalani hidup meskipun terasa pahit. Untuk menghilangkan kegalauannya, Mirna pergi jalan-jalan keliling kampung, sambil menggendong sang anak.
Tidak terasa Mirna melewati jalanan yang sepi. Mirna merasa ada yang mengikuti dari belakang. Perasaan Mirna menjadi tidak enak. Mirna mempercepat langkahnya. Dan orang itu terus mengejar Mirna. Semakin Mirna berlari, semakin orang itu mengejarnya.
__ADS_1
Alhasil, dua orang laki-laki menghadang jalan Mirna. Kedua orang tersebut merebut anak Mirna. Mirna bertahan untuk memegangi anaknya. Akhirnya salah satu dari dua orang itu memukul Mirna dari belakang. Mirna pun tidak sadarkan diri.