
Sofia menjelaskan secara detail. mulai dari para pekerja yang skill serta alat-alat yang dapat membantu pekerjaan menjadi cepat selesai. Rafa langsung paham maksud Sofia. Dan Rafa pun semakin dibuat takjub dengan kecerdasan Sofia. Tidak sia-sia Rafa meminta solusi dari Sofia.
Selesai membahas pekerjaan, Rafa meminta ijin untuk membawa main Aarav. Dengan senang hati Sofia mengijinkannya. Rafa pun mulai menggendong baby A. Dan membawanya bermain di taman dekat rumah Sofia.
Rafa menggendong Aarav diletakkan di depan dada. Rafa dan Aarav menikmati pemandangan yang ada di taman. Tidak sengaja ada ibu-ibu yang lewat dan memandangi Rafa dan baby A. Ibu-ibu itu merasa gemas dengan mereka. Kemudian Ibu-ibu itu menyapa Rafa.
"Lucu banget anaknya mas," Kata ibu-ibu itu sambil mencubit pipi baby A. Rafa hanya tersenyum ramah kepada mereka.
"Iya mirip banget sama Masnya... Wajarlah kalau anaknya ganteng dan lucu.. Karena Masnya juga ganteng." Kata Ibu-ibu yang lain. Rafa membelalakkan matanya. Dan tidak percaya kalau dirinya dikatakan mirip.
"Ini bukan anak saya loh bu, ini keponakan saya.." Kata Rafa berbicara jujur.
"Meskipun keponakan kan, tetep saja masih ada hubungan keluarga." Kata Ibu-ibu yang lain. Rafa garuk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ibu-ibu itu kemudian pamit pergi sambil menciumi pipi baby A dengan gemas.
Setelah Ibu-ibu itu pergi, Rafa tertawa sendiri. Dan baby A memandangi Rafa dengan imutnya. Rafa kemudian bertanya kepada balita imut itu.
"Hei Baby, memangnya benar ya Om mirip sama kamu? Kalau benar, berati om ganteng dong.." Kata Rafa lucu. Baby A hanya memandangi Rafa. Mungkin anak balita tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang dewasa.
Hari sudah mulai sore, Rafa membawa Aarav pulang. Sebenarnya Rafa masih ingin berlama-lama main bersama Aarav, karena mengingat Aarav masih terlalu balita, jadi tidak boleh terlalu lama berada di luar.
Sesampainya di rumah, Rafa menyerahkan Aarav kepada Sofia. Dan Rafa pun pamit pulang. Aarav menangis ketika Rafa balik pulang. Sontak saja Rafa putar balik mendengar tangisan Rafa. Ketika Rafa putar balik, Aarav langsung terdiam.
Sepertinya Aarav tidak ingin jika ditinggal oleh Rafa. Rafa tersenyum geli dengan tingkah Aarav. Sofia juga tidak menyangka kalau Aarav akan sebucin ini ke Rafa.
"Hei, Om pulang dulu.. Besok kita main lagi ya?" Kata Rafa sambil menundukkan badannya dan memegang tangan Aarav.
"Sayang, kok kamu jadi bucin sama om Rafa sih?" Kata Sofia merasa gemas dengan anaknya. Dan mereka tertawa bareng karena merasa lucu.
Tiba-tiba saja Arsya pulang dari kantor dan melihat mereka tertawa bareng. Arsya merasa sedikit jealous kepada Rafa. Karena Arsya tidak ingin ribut, Arsya pun langsung masuk kamar pura-pura tidak melihat.
Sofia yang melihat suaminya pulang, merasa tidak enak dengan suaminya. Rafa juga melihat Arsya pulang. Rafa juga merasa tidak enak dengan Arsya. Rafa pun pamit pulang dan melakukan tos dengan Aarav, lalu melambaikan tangan kepada Aarav. Dan juga menambah flying kiss kepada Aarav.
Sofia kemudian menyusul suaminya ke kamar. Dan Sofia tersenyum kepada suaminya. Arsya tidak peduli dengan senyum istrinya.
"Mas, kamu cemburu ya?" Kata Sofia. Arsya mengernyitkan dahinya dan mengelak.
__ADS_1
"Enggak, siapa juga yang cemburu.." Kata Arsya sambil manyun. Sofia tersenyum sendiri dan merasa gemas dengan suaminya.
"Mas, jangan salah paham dulu ya.. tadi itu, Rafa kesini untuk bahas kerjaan. Setelah itu, Rafa membawa main baby A.. Terus Rafa ingin pamit pulang tetapi baby menangis. Karena tidak ingin ditinggal oleh Rafa. Akhirnya Rafa balik lagi deh.. Dan kita merasa gemas dengan Aarav." Sofia berusaha menjelaskan agar Arsya tidak salah faham.
Arsya pun mengerti dan paham. Lalu Arsya menjahili Sofia. Arsya bermanja-manja dengan Sofia. Arsya meminta Sofia untuk memintanya.
"Hem.. Mulai deh manjanya.." Sofia sambil mencibir.
"Biarin saja, Aku kan manja sama istri sendiri." Kata Arsya tidak mau kalah. Sofia pun memijit punggung suaminya. Dan Arsya sangat menikmati pijitan itu.
Arsya memangku Aarav dengan gemas. Arsya kemudian mengajak anaknya berbicara. Sofia hanya senyum-senyum saja melihat anak dan suaminya. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati Sofia, Sofia juga merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bisa melihat keceriaan suami dan anaknya.
Sofia berhenti memijit, lalu Sofia memilih untuk memeluk suaminya dari belakang dengan manjanya. Arsya pun tersenyum senang jika istrinya seperti itu.
...****************...
Arsya siap-siap untuk berangkat ke kantor. Arsya pamit ke istrinya, dan mencium kening sang istri. Sofia melihat stok makanan di kulkas sudah habis. Sofia ingin pergi belanja di supermarket. Sofia selalu berbelanja sendiri untuk kebutuhan dapur.
Sofia tidak ingin merepotkan pembantunya. Sofia pun berbelanja di supermarket terdekat. Sofia mulai memilih bahan makanan yang disukai keluarga. Ketika Sofia selesai berbelanja, Sofia hendak membayar belanjaannya di kasir.
"Marsha?" Kata Sofia sambil menunjuk ke arahnya. Penjaga kasir itu mengernyitkan keningnya. Dan penuh pertanyaan.
"Marsha? Saya bukan Marsha mbak.. Saya dewi." Kata wanita tersebut. Sofia tidak mau berbicara panjang lebar. Mungkin hanya kebetulan saja perempuan penjaga kasir itu mirip dengan Marsha. Lagian tidak mungkin juga si Marsha ada di sini.
Sofia pun kembali ke rumahnya. Sofia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sofia pun berfikir, Dia memang mirip banget dengan Marsha.
"Masak sih, ada yang segitu mirip di dunia ini. Yang kembar saja ada perbedaan, sementara Dia satu ujung jari pun tidak ada bedanya." Gumam Sofia.
Hari sudah mulai malam, hari ini Arsya pulang agak telat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sofia dengan sabar menunggu suaminya pulang. Lalu Arsya pun pulang dari kantor. Sofia menyambut suaminya dengan kasih sayang.
Arsya juga senang dan sangat bersyukur karena memiliki istri yang sangat perhatian. Ada yang memberatkan pikiran Arsya. Sofia melihat suaminya seperti ada yang sedang Iya pikirkan.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Sofia. Arsya menatap istrinya dengan tatapan serius.
"Sayang, besok lusa Aku harus berangkat ke Jerman selama satu bulan. Karena ada pekerjaan yang harus Aku selesaikan di kantor cabang yang ada di jerman." Sofia pun menunduk dan tersenyum.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas, kalau kamu harus ke Jerman untuk ngurusin kerjaan kamu yang ada di sana." Kata Sofia dengan senyum. Arsya menatap istrinya dalam-dalam.
"Terus kamu bagaimana?" Tanya Arsya serius.
"Aku ga apa-apa Mas, kalau kamu mau pergi, ga apa-apa pergi saja." Kata Sofia. Sebenarnya, dalam hati Sofia juga keberatan jika suaminya harus pergi ke luar negeri. Tapi mau bagaimana lagi, Sofia tidak mau egois. Ini masalah perusahaan yang harus diselesaikan.
Arsya memegang tangan istrinya dan menatapnya lekat-lekat. Arsya tahu Sofia sangat berat melepas suaminya berangkat ke Jerman. Apalagi Jerman bukanlah tempat yang dekat. Bukan beda negara lagi melainkan beda benua.
Tapi Arsya berjanji setelah urusannya selesai, Arsya akan segera pulang. Sofia berusaha tersenyum meskipun dalam hatinya sangat berat.
saatnya Arsya tiba untuk berangkat ke luar negeri. Sofia dan baby A mengantar suaminya sampai bandara. Dan disitu juga ditemani oleh Rafa yang ikut mengantarnya ke bandara. Arsya mencium kening istrinya dan mencium baby A.
"Mas, janji ya.. kalau kamu akan pulang kembali dengan keadaan selamat tanpa kurang satu apapun" Arsya tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Iya Aku janji sayang.. Kamu mau minta oleh-oleh apa dari sana?" Tanya Arsya. Sofia menggelengkan kepalanya.
"Aku ga minta oleh-oleh apapun mas, Aku hanya ingin kamu pulang dengan selamat itu sudah cukup." Kata Sofia membuat Arsya semakin jatuh hati dibuatnya. Dalam hati, Arsya tidak ingin meninggalkan Sofia sejauh ini. Tapi pekerjaan yang menuntutnya harus meninggalkan keluarganya.
"Baby A sayang, baik-baik di rumah ya.. Jangan nakal ya.. Jagain mama ya sayang, emmuachh.." Arsya mengecup kening Baby A.
"Aku berangkat ya?" Sebelum berangkat, Arsya ingin berbicara empat mata dengan Rafa.
"Ada apa?" Tanya Rafa.
"Aku titip istri dan anakku. Tolong jaga mereka selama Aku di luar negeri. Aku percayakan ini ke kamu." Kata Arsya kepada Rafa. Lalu arsya mengulurkan tangannya ke Rafa untuk bersalaman khas persahabatan mereka dulu. Rafa melihat tangan Rafa dan tidak menyangka bahwa Arsya masih mengingat tanda jabat tangan persahabatan mereka.
Rafa menerima jabat tangan itu. Arsya pun berangkat menuju pesawat dan mulai menaikinya. Arsya melambaikan tangan kepada Sofia dan baby A juga Rafa. Sofia membalas lambaian tangan suaminya.
Sofia melihat pesawat Arsya yang mulai terbang hingga tidak terlihat. Lalu Sofia pun pulang dan diantar oleh Rafa. Rafa ingat pesan Arsya yang menitipkan istri dan anaknya kepadanya.
Rafa tidak keberatan dengan pesan itu. Tanpa diminta pun, Rafa akan menjaga Sofia dan baby A dengan caranya sendiri. Sesampainya di rumah, Rafa seperti biasa selalu mengajak baby A bermain. Rafa memang sangat menyukai anak-anak.
Sofia merasa bersyukur karena telah memiliki teman sebaik Rafa. Sofia membiarkan mereka bermain. Disitu ada pembantu Sofia yang masih muda, sangat menyukai Rafa. Pembantu itu selalu tebar pesona sama Rafa.
"Mas Rafa, mau enggak inem temani." Rafa menelan ludahnya karena geli melihat penampilan inem.
__ADS_1