
Sofia panik karena baby A hilang. Kemudian Sofia menelfon suaminya bahwa baby A hilang. Sontak saja Arsya kaget mendengar berita hilangnya baby A. Arsya segera pulang dari kantor. Setalah sampai di rumah, Sofia langsung memeluk suaminya itu dan menangis di pundaknya.
"Maafin Aku mas, Aku tidak bisa menjaga baby A dengan baik." Sofia sambil menangis dipundak suaminya. Arsya hanya bisa terdiam tanpa kata-kata. Arsya hanya tercengang dan Arsya pun tiba-tiba melepaskan pelukannya Sofia begitu saja.
Arsya pergi langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Sofia. Sofia menyusul Arsya, Sofia tidak henti-hentinya menangis dan meminta maaf. Sofia bertekuk lutut dihadapan Suaminya. Arsya menjadi tidak tega dan membantu Sofia untuk berdiri.
Arsya kemudian pergi begitu saja. Entah apa yang dirasakan oleh Arsya. Arsya hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Sofia tidak tinggal diam, Iya pergi ke kantor polisi sendiri. Sofia melaporkan atas hilangnya baby A. Polisi akan segera mengusut tuntas kasus ini.
Sofia berharap segera ada titik terang untuk keberadaan anaknya. Sofia pun kembali ke rumah dengan penuh harapan. Sudah larut malam, Sofia tidak bisa tidur memikirkan anaknya. Ditambah lagi Arsya juga belum pulang dari tadi. Sofia panik memikirkan keduanya.
Sofia mencoba menghubungi nomor Arsya berkali-kali, tetapi tidak di angkat. Sofia tidak putus asa untuk menghubungi suaminya lagi namun, tidak juga di angkat. Bahkan untuk yang terakhir kalinya nomor Arsya malah tidak aktif.
"Kamu kemana sih mas?" Sofia menyandarkan badannya di tembok. Sesekali Sofia melirik jam dinding, sudah pukul 2 lewat Arsya belum juga pulang. Tiba-tiba ada suara mobil yang datang dan klakson mobil. Sofia segera beranjak keluar. Sofia lega melihat suaminya datang.
Sofia kaget melihat Arsya pulang dalam keadaan mabok, Dan Sofia merapat suaminya lalu membawanya ke kamar. Sofia dengan tulus membuka sepatunya Arsya dan menggantikan pakaiannya. Sofia mengelus rambut suaminya.
"Mas, kenapa kamu pulang dalam keadaan mabok? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Sofia menangis. Sofia pun menemani suaminya tidur dan memeluknya erat.
Hari sudah mulai pagi, sarapan pun telah selesai disiapkan. Sofia melihat Arsya sudah terbangun dalam keadaan segar. Namun, Arsya melewati meja makan begitu saja.
"Mas, ga mau sarapan dulu?" Sofia mengajak suaminya untuk sarapan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kamu sarapan sendiri saja. Aku belum lapar." Arsya langsung berangkat ke kantor begitu saja. Sofia hanya pasrah dan duduk dengan makan sendirian. Kali ini Sofia merasa telah berbeda keadaannya. Sofia menghela nafas agar masalah ini cepat berlalu.
Hari sudah mulai siang, Sofia juga memikirkan suaminya karena belum sarapan dari tadi pagi. Sofia membawakan makanan untuk suaminya. Sofia pergi ke kantor menyusul suaminya hanya untuk membawakan makanan. Sesampainya di kantor, Sofia memasuki ruangan suaminya.
Sofia tersenyum kepada Arsya, tapi tidak dengan Arsya Iya hanya melirik Sofia sebentar. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mas, ini Aku bawain kamu makanan. Kamu makan ya?" Sofia hendak ingin menyuapi suaminya. Tetapi Arsya menolak untuk makan.
"Aku belum lapar, kamu pulang saja." Kata Arsya menolak, tapi Sofia tetap kekeh untuk menyuruh suaminya makan dan memaksa untuk menyuapinya. Karena kesal, akhirnya Arsya berdiri. dan membentak Sofia.
"Sudah Aku bilang! Aku tidak mau makan. Kamu ngerti gak?" Bentak Arsya, Sofia pun kaget mendengar suaminya berbicara dengan nada tinggi. Bahkan Arsya juga tidak segan-segan membuang makanan yang dibawakan Sofia. Arsya membuangnya ke lantai.
Sofia melihat makanan yang dibuang oleh suaminya itu. Sofia dengan sabar dan tetap tersenyum kepada suaminya.
"Mas, Aku pulang dulu." Sofia akhirnya pamit pulang. Sofia segera berjalan cepat untuk sampai ke mobil. Sofia menangis dalam mobil dengan sesenggukan. Kemudian Sofia melajukan mobilnya.
Sofia berfikir bahwa suaminya telah berubah kepadanya. Mungkin karena kesalahannya yang tidak bisa menjaga Aarav. Sampai saat ini, Aarav belum juga ada titik terang.
Sofia duduk di atas kasur yang ada di kamarnya. Sambil memandangi foto bayinya. Sofia mengelus foto bayinya tersebut. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Sesekali Sofia tersenyum melihat foto anaknya kemudian menangis.
"Aarav, sayang.. Dimana kamu nak? Mama kangen sama kamu. Dimana pun kamu berada sekarang, Mama harap kamu baik-baik saja ya?" Sambil merangkul foto anaknya. Sekarang Sofia tidak tahu lagi harus bagaimana. Sofia kemudian teringat sesuatu Sofia mengambil wudhu dan melaksanakan solat untuk menghilangkan kesedihannya.
__ADS_1
Tidak ada harapan lain selain berharap kepada sang penciptanya. Sofia meminta petunjuk agar bisa dipertemukan kembali dengan anaknya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu apapun.
Baru saja Sofia selesai melaksanakan solat malam, Sofia melirik jam dan sudah jam 3 Arsya belum pulang. Ini sudah hari kedua Arsya pulang sampai jam segitu. Arsya kemudian pulang, segera Sofia membukakan pintu untuk suaminya.
Kali ini Arsya pulang dalam keadaan sadar. Sofia segera membantu suaminya untuk membukakan jasnya. Namun, Arsya menolak untuk dibantu. Sofia dengan tetap dengan sabar menghadapi suaminya.
"Mas, kamu darimana?" Sofia bertanya baik-baik kepada Arsya setelah selesai capeknya. Bukannya jawab lembut Arsya malah membentak nya.
"Kamu itu ga lihat? Aku ini baru datang dari kantor. Aku itu lembur." Kata Arsya dengan ketus.
"Mas, lembur sampai jam segini itu ga mungkin. Kamu darimana sebenarnya mas?" Sofia tetap besi keras ingin tahu.
"Emang kamu pikir Aku ini darimana? Hah?" Sofia akhirnya mengalah, Sofia rasa percuma jika berdebat dengan Suaminya. Jawabnya pasti adalah hal yang sama. Sofia kemudian menyuruh suaminya untuk segera mandi, karena Sofia telah menyiapkan air panas untuk dirinya.
Setiap hari Arsya selalu bersikap yang tidak peduli terhadap Sofia. Bahkan terbilang cuek, makin hari Sofia makin merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya. Sofia menjadi curiga dengan sikap suaminya akhir-akhir ini. Bahkan di hari libur pun Arsya keluar dan selalu bilang dengan alasan meeting.
"Kamu mau kemana mas?" Tanya Sofia. Arsya tidak menjawab pertanyaan Sofia. Karena kesal, Sofia bertanya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Aku ada urusan dengan klian. Kamu pikir Aku mau kemana?" Sofia menggelengkan kepalanya, dan Arsya seperti tidak jujur kali ini.
"Ketemu klian dihari libur? Mana ada mas, Mas Aku tahu kamu marah, kecewa sama Aku karena hilangnya baby A. Bukan cuma kamu yang merasa kehilangan Aarav, Aku juga lebih kehilangan daripada kamu. Aku juga sedih dengan hilangnya Dia." Tidak terasa air mata Sofia mengalir di pipinya. Arsya kemudian tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kalau kamu merasa kehilangan, mana hasilnya? Buktinya sampai sekarang, tidak ada titik terang dengan tentang Aarav kan? Itu karena kamu ga becus jadi Ibu." Arsya kemudian langsung pergi begitu saja. Sofia hanya terdiam, dengan geram sambil mengepalkan tangannya.