
"Maksud kamu?" Tanya Sofia masih tidak paham dengan perkataan Albert.
"Ibu Sofia selalu mengatakan kepada Marsha kalau saya ini adalah Albert. maaf Bu, saya ini Febri bukan Albert. Itu yang membuat Marsha sedih dan menyakiti hatinya." Sofia tersenyum sinis mendengar perkataan Albert. Dan Sofia menggelengkan kepala karena aneh.
"Jadi karena itu, kamu memutuskan kerjasama dengan perusahaan ku? Aku pikir kamu cukup dewasa dalam masalah bisnis, ternyata Aku salah. Kamu terlalu mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan bisnis." Kata Sofia memaki Albert.
"Syukurlah kalau kamu memutuskan kontrak kerjasama kita. Jadi saya ga perlu capek-capek datang ke kantor kamu. Kalau kerjasama ini tidak diputuskan, yang ada bisa rugi perusahaan ku." Kata Sofia menjelaskan kepada Albert. Dan membuat Albert merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Sofia.
"Ibu Sofia, anda pasti akan menyesal." Mendengar hal itu, Sofia malah tersenyum dan tidak khawatir dengan perkataan Albert.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menyesal." Jawab Sofia dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Albert pun segera pergi meninggalkan ruangan. Sofia hanya bisa menggelengkan kepala. Sofia masih tidak mengerti sebenarnya apa yang telah dikatakan Marsha kepadanya. Apakah Albert tidak tahu kalau dirinya hampir mati karena membela Albert.
"Suatu saat nanti kamu pasti tahu siapa sebenarnya Marsha itu Al," Kata Sofia dalam hatinya.
Sebagai seorang sahabat, Sofia merasa peduli dengan sahabatnya itu. Sofia tidak ingin sahabatnya hancur gara-gara perempuan sialan itu. Sofia hanya menghela nafas panjang. Kemudian kembali ke ruangannya.
Di sana Sofia masih mendapati Arsya yang sedang duduk menunggunya. Sofia duduk dengan malas, dan wajah lesu. Arsya melihat Sofia menjadi heran. Arsya sudah mengetahui apa yang menjadi penyebab Sofia lesu seperti itu.
Kemudian Arsya menarik tangan Sofia, dan membawanya menuju mobil. Lalu Arsya melajukan mobilnya dan membuat Sofia bertanya-tanya.
"Kita mau kemana pak?" Arsya hanya diam saja tidak menghiraukan pertanyaan Sofia.
__ADS_1
Hingga sampailah disebuah tempat, dimana tempat itu sangat indah dan terbilang romantis. Kemudian Arsya memanggil seorang pelayan untuk mengantarkan pesanannya.
Sofia semakin heran sebenarnya apa yang telah di rencanakan oleh Bosnya itu. Arsya hanya tersenyum, sambil mengambil kotak yang di pelayan tersebut.
Kotak itu berisi sebuah cincin yang membuat Sofia terbelalak. Sofia menjadi ternganga, dan menutup mulutnya sendiri. Sofia tidak bisa berkata apa-apa.
"Sofia, mungkin waktunya kurang tepat untukmu. Tapi Aku tidak sabar ingin menyampaikan ini. Apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?" Perkataan Arsya sangat serius. Sofia tidak tahu harus jawab apa sekarang. Karena semuanya terasa begitu cepat.
Tapi perasaan memang tidak bisa dibohongi, Sofia tersenyum dan mengangguk. Pertanda menerima lamaran Arsya. Arsya merasa sangat bahagia hari ini. Kemudian Arsya pun memasangkan cincin itu di jari manis Sofia.
Arsya pun memeluk Sofia, dan Sofia membalas pelukan itu. Dan Arsya juga menempelkan bibirnya ke bibir Sofia. Mereka baru saja mengungkapkan sebuah perasaan. Sofia merasa sangat bahagia waktu itu.
__ADS_1
Dan Mereka pun kembali ke kantor, meskipun sudah saling mengungkapkan, Arsya dan Sofia tetap menjaga sikap, mereka tidak menunjukkan kemesraan di depan karyawannya.