
"We don't know, does he have children or
wife," Rani pun mengangguk dan mengerti maksud Tifani.
"Why just not delivered to his family, uncle?"
"Rani, I don't know where his family. And he have amnesia." Tifani pun menjelaskan lagi.
"Oh my god, poor him.." Kata Rani merasa Iba mendengar ceritanya. Rani mengerti dan
paham. Karena merasa bosan, Rani pun ijin untuk kembali ke hotel.
"Why do you must stay at the hotel? My house is so big and there are many rooms.." Tanya Tifani kepada Rani.
"Oh, I am sorry uncle.. I can not stay at your house." Kata Rani.
"Why?" Tifani penasaran.
"I can not look at that boy at your house. I am afraid fall in love to that boy. Please uncle, do not force me for stay your house." Permohonan Rani kepada Tifani. Tifani pun mengerti perasaan keponakannya itu. Tifani mengijinkan Rani untuk tinggal di hotel. Tetapi untuk besok, Tifani menyarankan Rani agar tinggal di apartemen milik Tifani.
"It's Ok Rani. But, you have to be careful. Ok?" Rani pun mengangguk dan seperti memberi hormat kepada Tifani.
"Yes Bos.." Rani pun tersenyum kepada Tifani. Tifani juga membalas senyum Rani.
"And one more. You have to live in an my apartment, tomorrow." Kata Tifani.
"Yes Bos. And, thank you my uncle.." Rani pun memeluk pamannya itu.
Dan Rani pun pergi dari kantor Tifani. Tifani pun melanjutkan pekerjaannya. Tifani mulai menuju ke ruangan Arsya dan mengajaknya untuk makan siang.
"Perempuan tadi itu siapa om?" Tanya Arsya penasaran.
__ADS_1
"Dia adalah Rani, keponakan Om." Arsya pun mengangguk.
"Arsya, untuk show minggu depan di Jepang, lebih baik kamu yang menghadiri show di Jepang nanti." Arsya pun seketika tersedak makan. Kemudian dengan cepat mengambil minum. Arsya sangat kaget mengapa harus dirinya yang pergi ke sana.
"Kenapa harus saya om?" Kata Arsya
"Saya tahu kamu bisaa. Om yakin, kalau kamu yang datang, Mr. Akio pasti senang." Arsya hanya menunduk karena bingung harus jawab apa. Arsya mengangguk saja.
"Maafin Om, Arsya. Om sengaja melakukan ini. Supaya kamu ingat tentang jati diri kamu." Kata Tifani dalam hati. Tifani belum bisa jujur tentang siapa sebenarnya Arsya.
Hal ini adalah cara Tifani supaya Arsya cepat sembuh dari amnesia nya. Berdasarkan pengalaman yang Tifani rasakan, iya tidak ingin jika Arsya mengalami hal yang sama seperti dirinya dulu.
Mereka pun selesai makan siang. Tifani dan Arsya kembali ke kantornya. Mereka melanjutkan pekerjaannya. Tifani dan Arsya sangat serius membahas tentang pembangunan sebuah hotel.
Dan akhirnya jam pulang kantor pun sudah tiba. Tifani dan Arsya pun pulang bareng. Sesampainya di rumah, Arsya hanya rebahan saja. Entah mengapa kepala Arsya tiba-tiba pusing. Kepala Arsya semakin lama, semakin terasa sakit. Arsya pun berteriak hingga Tifani mendengarnya.
Tifani sangat panik melihat Arsya kesakitan. Lalu Tifani segera membawa Arsya ke dokter. Dan dokter menyatakan kalau kemungkinan Arsya untuk sembuh dari amnesia nya akan selangkah lebih maju.
"Om, Aku melihat bayangan perempuan di benakku om.." Cerita Arsya kepada Tifani.
"Apa yang kamu lihat Arsya?" Tifani pun penasaran.
"Entahlah Om, bayangan itu masih belum jelas." Tifani hanya tersenyum kepada Arsya dan memegang pundak Arsya.
"Pelan-pelan saja Arsya, jangan terlalu dipaksakan." Kata Tifani. Arsya pun mengangguk dan mengerti. Kemudian mereka pun pulang.
Tifani sangat bersyukur karena Arsya perlahan akan sembuh. Di rumah Tifani, Arsya kembali membuka Sosmednya dengan iseng. Kemudian menutup lagi.
Arsya kembali memikirkan tentang bayangan perempuan yang ada di benaknya. Arsya juga bermimpi tentang suara perempuan yang memanggilnya.
"Apakah itu masa laluku yang dulu? Apa benar Aku memiliki kekasih? Bagaimana kalau Aku sudah menikah sebelumnya, atau bahkan Aku sudah mempunyai anak?" Kata Arsya berbicara sendiri. Arsya kemudian istirahat dan tidak ingin membuat kepalanya semakin sakit.
__ADS_1
"Mas Arsya.. Mas Arsya.. Mas pulang, Pulang Mas.." Arsya pun kaget dan langsung bangun. Ternyata cuma mimpi. Dan mimpi itu terasa nyata baginya.
Arsya bermimpi hal yang sama. Arsya bingung tentang suara perempuan tersebut. Arsya seperti dihantui rasa bersalah. Arsya merasakan dirinya seperti dihantui oleh rasa bersalah. Arsya pun kembali tidur lagi.
Hari sudah mulai pagi Arsya sudah siap-siap untuk pergi ke kantor. Arsya pun sarapan pagi bersama Tifani terlebih dahulu. Arsya menceritakan tentang mimpinya lagi kepada Tifani. Tifani pun tersenyum karena senang mendengar ini.
Perlahan ingatan Arsya mulai pulih. Hanya saja Iya belum terlihat jelas. Tifani selalu mengingatkan Arsya agar tidak terlalu memaksakan diri.
Sesampainya di kantor, Arsya tidak membahas masalah pribadinya. Iya tetap bekerja dengan baik. Arsya dan Tifani mulai membahas tentang pembangunan sebuah hotel. Mereka ingin membuat hotel seelegan mungkin.
...****************...
#Sofia#
Hari ini Aku merasa malas untuk pergi kemana-mana. Entah Aku merasa seperti tidak ada semangat untuk hari ini. Biasanya disaat Aku lagi gak mood seperti ini, selalu ada mas Arsya yang Mas Arsya yang membuat Aku lebih semangat.
Tiba-tiba HP ku bergetar. Aku melihat layar HP ku. Ternyata Rafa yang menelfon ku. Rafa ingin video call denganku. Dan Aku pun mengangkat video call nua.
"Kamu kenapa? Kok ga mood gitu?" Tanya Rafa kepadaku. Aku hanya memandangi Rafa di layar HP.
"Aku lagi malas saja Rafa." Kataku. Kemudian Rafa pun dengan lucunya berusaha untuk menghiburku. Rafa memang selalu bisa untuk membuat Aku tertawa. Aku pun tertawa, dan mood ku kembali nyaman.
Rafa memang selalu ada disaat Aku lagi dalam keadaan apa pun. Rafa adalah teman yang baik. Dia selalu ada disaat Aku lagi sedih, Aku lagi susah, Pokoknya Rafa itu adalah laki-laki yang pernah Aku temui.
Kali ini perasaanku kembali tidak karuan. Aku teringat Mas Arsya. Dengan berjalan menuju tempat tidur, Aku memandangi foto mas Arsya. Aku mengingat semua kenangan bersamanya.
"Dimana kamu sekarang Mas? Tolong cepat pulang. Aku sangat merindukan kamu..." Aku pun mencium foto suamiku. Tidak terasa air mataku menetes.
Aku pun membuang nafas dengan kasar. Dan Rafa pun tiba-tiba mengirim chat. Seakan-akan Dia tahu tentang diriku. Di chat nya Rafa dia mengirim sebuah komedi kepadaku. Jelas saja Aku langsung tertawa melihat komedi tersebut.
Aku akui Rafa memang selalu bisa untuk menghibur Aku. Aku sangat bersyukur bisa kenal dengan Rafa. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Rafa.
__ADS_1