
#Jerman#
Di sebuah keramaian kota yang terletak di kota berlin, mobil dan angkutan umum serta orang-orang pada berlalu lalang. Keindahan kota berlin sangat memukau. Banyak wisatawan asing yang berdatangan.
Di sebuah rumah sakit jerman, seorang perawat sedang mengontrol seorang pasien yang selamat dari kecelakaan pesawat. Pasien tersebut mengalami koma selama beberapa bulan.
Dia perlahan membuka matanya dengan pandangan yang samar, semakin lama semakin jelas. Seorang perawat mengetahuinya dan secara memanggil dokter.
"Doctor.. Patient is conscious." Panggil seorang perawat kepada dokter.
"It's ok, I will check in soon.." Dokter tersebut segera memeriksanya dan mengamatinya.
"Please, tell the family immedia tely.." Perintah dokter tersebut kepada perawat. Perawat segera menghubungi seseorang yang mengaku keluarganya. Dan memberitahu bahwa pasien tersebut sudah sadar.
Keluarga pasien tersebut segera datang dan segera menemui seorang dokter yang memeriksanya.
"Doctor, how ia the condition?" Tanya seorang laki-laki yang mengaku keluarga pasien. Dokter itu menundukkan kepala. Seperti berat ingin mengatakan sesuatu.
"Patient is experience brain injury. And most likely, he will experience will be lost." Jelas dokter tersebut. Laki-laki itu pun akhirnya duduk dengan lemas. Iya memegang kepalanya dengan menunduk.
Pria itu pun menjenguk laki-laki itu ke dalam. Iya menghampiri laki-laki tersebut dan tersenyum. Laki-laki itu juga tersenyum kepadanya. Sepertinya Iya masih mengingat laki-laki tersebut.
"Om Tifani?" Laki-laki itu kaget dan bersyukur ternyata Dia masih mengingatnya.
"Kamu masih mengingat Om, Arsya?" Tifani masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arsya.
__ADS_1
"Ya, iya lah om.. Arsya masih ingat." Tifani pun mengucapkan rasa syukur karena masih bisa mengingatnya. Arsya pun kebingungan kenapa dirinya berada di tempat seperti itu.
Tifani pun menjelaskan bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit yang ada di kota berlin. Karena mengalami kecelakaan pesawat. Hanya dirinya yang selamat waktu kecelakaan itu. Arsya pun kaget, ternyata dia sekarang ada di Jerman.
"Om, jadi Aku sedang ada di jerman?" Tifani hanya mengangguk. Kemudian, Arsya langsung turun dari tempat tidur. Tifani segera memeganginya dan melarangnya turun dari tempat tidur.
"Arsya, kamu mau kemana?" Tanya Tifani kepada Arsya.
..."Aku harus menemui salsa om, Salsa ada di kota ini." Tifani hanya menggelengkan kepala. Ternyata Arsya hanya mengingat masa lalunya....
"Arsya, Salsa sudah menikah dengan orang lain." Arsya pun duduk dengan lemas. Dan menggelengkan kepala seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Omnya itu.
Omnya juga masih menyimpan foto pernikahan Salsa. Dan Arsya pun juga merasakan sesak di dadanya. Tifani sangat panik dan segera memanggil dokter. Dokter segera datang dan langsung memeriksa keadaan Arsya.
Dokter menyuruh Tifani untuk menunggu di luar. Karena dokter akan segera memeriksanya. Tifani pun menunggunya di luar. Dan Dokter pun segera memeriksanya. Setelah dokter memeriksa, dokter pun keluar. Dan Tifani pun segera menghampiri Dokter tersebut.
"Please, don't let the patient a lot of things in mind.." Dokter tersebut kemudian pergi dan dan menepuk pundak Tifani.
Tifani pun menjadi tidak tega dengan Arsya. walaupun bukan anak sendiri, Tifani sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Tifani pun kembali menjenguk Arsya ke dalam. Dan memandangi Arsya yang sedang tidak sadarkan diri.
Tifani pun memegang tangan Arsya dan berbicara dengan Arsya yang sedang tidak sadar. Alat oksigen pun dipasang kembali. Tifani selalu menjaga Arsya selama di rumah sakit.
Dan Arsya pun tersadar. Tifani pun senang melihat Arsya sadar. Sudah tiga hari Arsya Arsya sadar dari koma. Dan kini kondisi Arsya pun makin hari makin membaik. Dokter pun akhirnya mengizinkan Arsya untuk pulang.
Sebelum Arsya dibawa pulang, Tifani bertanya kepada dokter tentang ingatan Arsya. Sampai kapan Arsya harus menderita amnesia seperti ini.
__ADS_1
"Doctor, how long Arsya's memories will get wel again?" Tanya Tifani.
"Don't worry Mr. Tifani, this is only tempur. Arsya's memories will get wel again." Kata Dokter itu. Kemudian Tifani pun segera pamit. Dan membawa pulang Arsya ke rumahnya.
Tifani merawat Arsya di rumahnya. Arsya pun masih tidak menyangka, mengapa Salsa begitu tega meninggalkan dirinya. Arsya masih tidak habis pikir.
Arsya masih saja memikirkan Salsa. Tifani hanya memandangi Arsya tidak tega. Padahal Salsa sudah lama menikah dan mereka pun sudah lama putus. Bahkan Arsya juga menghadiri pernikahan Salsa waktu itu.
Tifani berharap agar Arsya kembali lagi ingatannya seperti dulu. Agar Arsya tidak terus-menerus mengingat Salsa, Tifani pun melibatkan Arsya dalam urusan bisnisnya. Entah kenapa Arsya sangat suka dengan bisnis.
Arsya sangat antusias belajar tentang bisnis yang dimiliki oleh Tifani. Tifani sangat kagum dengan Arsya. Dengan mudah Arsya dapat memahami bisnis tersebut. Tifani mengerti kalau Arsya mempunyai jiwa pebisnis.
Meskipun Arsya sedang mengalami amnesia, tetapi hati kecilnya tetap mengetahui siapa dirinya. Tifani sangat bangga terhadap keponakannya itu. Hanya saja Tifani belum memperbolehkan Arsya untuk masuk kantor.
Karena kondisi Arsya masih belum sehat. Arsya pun masih banyak-banyak istirahat. Arsya ingin sekali menghirup udara segar. Arsya pun pergi ke taman belakang. Arsya menikmati pemandangan taman yang ada di belakang rumahnya Tifani.
Tifani duduk santai sambil setengah rebahan. Dengan iseng, Arsya pun sambil membuka HP miliknya dan membuka akun sosial medianya. Arsya juga tidak sengaja melihat berita seorang wanita muda yang terkenal dengan bisnisnya.
Arsya merasa kagum dengan wanita tersebut. Entah mengapa Arsya merasa adem hatinya ketika melihat foto wanita tersebut. Dan di berita itu juga dikabarkan bahwa Iya dekat dengan seorang laki-laki yang juga merupakan pebisnis terkenal.
Wanita tersebut yang dimaksud adalah Sofia. Arsya juga merasa senang ketika nama itu disebut. Entah mengapa setelah dikabarkan Iya dekat dengan laki-laki yang juga seorang pebisnis, hatinya merasa terenyuh seperti ada kecemburuan dalam hatinya.
"Beruntung sekali laki-laki ini bisa mendapatkan wanita sehebat Dia. Andai saja Aku yang menjadi pendampingnya." Kata hati Arsya juga membayangkan Sofia. Tiba-tiba Arsya tersadar dari lamunannya. Dia menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Ih, mikir apaan sih Aku ini. Aku kan ga kenal dia." Kata Arsya. Lalu Arsya pun menutup kembali HPnya. seakan-akan tidak ingin melihat berita itu lagi. Arsya pun kembali menikmati pemandangan. sambil tiduran seperti di pantai.
__ADS_1
Arsya sangat menikmati udara segar yang ada di situ. Untuk menghilangkan kejenuhannya, Arsya pun masuk kembali ke dalam rumah. Arsya pun duduk di ruang tengah sambil menonton sebuah film.