
Arsya ingin segera melihat kondisi istrinya.
Arsya pun dibantu dengan kursi roda, Albert yang mendorong kursi roda Arsya, sementara Rafa dan pembantunya berjalan mengikuti mereka.
Arsya melihat beberapa dokter sedang menangani Sofia dibalik kaca. Air mata Arsya berkaca-kaca melihat kondisi istrinya. Bibir Arsya gemetar dan terasa sesak di dadanya. Dokter sedang berusaha yang terbaik, alat jantung pun dipasang.
"Ya Tuhan, izinkan Aku untuk memperbaiki kesalahan ku. Izinkan Aku untuk membahagiakan Dia, Beri Aku kesempatan untuk meminta maaf kepadanya." Kata hati Arsya sedang menangis.
Jantung Sofia kembali berdetak, dan Dokter sangat heran. Dokter mengatakan kalau ini keajaiban yang sangat luar biasa. Arsya sangat bahagia. Dan Dokter segera keluar untuk menemui keluarganya.
"Sofia, melewati masa kritisnya. Tapi, melihat kondisinya yang sekarang, Sofia hanya bisa bertahan sampai dua bulan." Kata Dokter itu. Arsya pun menangis mendengar pernyataan Dokter.
Kemudian Arsya segera masuk melihat istrinya. Arsya seperti sesak melihat keadaan istrinya. Arsya sangat menyesal atas perbuatannya. Arsya memegang tangan istrinya itu. Dan mencium keningnya.
Sofia pun sadar, Sofia membuka matanya secara perlahan-lahan, Dan Sofia melihat ada suaminya di sampingnya.
"Mas.." Kata Sofia lemas.
"Sayang, maafin Aku.. Maafin Aku.. Hiks.. hiks.." Kata Arsya menyesal sambil mengecup kening istrinya.
"Mas, jangan nangis.. Aku ingin kamu tetap tersenyum. Mas, gimana keadaan kamu?" Sofia masih sempat bertanya keadaan Suaminya.
"Sayang, Aku baik. Kamu jangan banyak bicara dulu ya.." Kata Arsya, Sofia hanya memandang suaminya itu dengan tatapan sayu.
"Aku sayang kamu.. Aku sangat sayang kamu.." Kata Sofia dengan tulus. Arsya memegang tangan istrinya dan memeluknya.
"Mas, jika nanti Aku sudah tidak ada Aku harap kamu bisa menyayangi anak kita. Ini anak kamu.." Kata Sofia meyakinkan Arsya.
"Kamu bicara apa? Aku yakin kamu pasti kuat dan baik-baik saja. Jangan pernah bicara itu lagi ya.." Kata Arsya tidak bisa membendung air mata.
__ADS_1
Sofia hanya menatap Arsya suaminya itu. Arsya pun menyuruh Sofia untuk istirahat dan tidak membolehkannya banyak bicara. Dan Arsya akan melakukan apapun demi kesembuhan Istrinya. Sofia tersenyum mendengar suaminya.
"Kamu sudah tidak marah lagi ke Aku mas?" Tanya Sofia.
"Aku minta maaf sayang.. Karena Aku terlalu egois. Aku sudah menyakiti kamu." Kata Arsya. Sofia pun tersenyum.
Arsya kembali memeluk Sofia. Sementara Albert dan Rafa berpelukan, mereka iri melihat kemesraan Arsya dan Sofia. Albert segera menyadari kalau dirinya sedang memeluk Rafa. Begitu juga si Rafa, kemudian mereka melepaskan pelukan mereka.
Sofia hanya bisa tersenyum, Sofia sangat bersyukur karena suaminya telah kembali ke pelukannya lagi. Dan Sofia pun juga mengucapkan terimakasih kepada Rafa dan Albert.
"Rafa, Albert.. Terimakasih kalian sudah membantuku. Terutama untuk kamu Rafa, terimakasih karena selama ini kamu sudah menolong Aku, Aku tidak tahu gimana jadinya jika tidak ada kamu.." Kata Sofia, Mendengar ini Rafa tersenyum. Dan membuat Arsya merasa sedikit jealous. Rafa pun menyadari raut wajah Arsya. Karena gemas, Rafa pun sengaja membuat Arsya sedikit panas.
"Sofia, kalau Arsya menyakiti kamu lagi.. Bilang ke Aku, Aku siap kok gantiin Arsya.." Arsya semakin merasa jealous dengar kata-kata Rafa. Sofia hanya tersenyum sendiri.
"Aku juga mau gantiin posisi Arsya Sofia, tenang saja.. Kalau Arsya berani campakkan kamu lagi, masih banyak yang ngantri.." Kata Albert melanjutkan. Sofia semakin tersenyum lebar.
"Kalian apaan sih. Sana, sana keluar! Ganggu orang pacaran saja." Usir Arsya kepada mereka. Dan sebelum mereka keluar, Mereka berdua memberikan flying kiss kepada Sofia. Hal ini membuat Arsya merasa semakin cemburu.
Dan gemas melihat istrinya yang tertawa.
"Kamu ngapain tertawa sendiri? Jangan bilang kalau kamu senang digodain mereka." Kata Arsya curiga terhadap istrinya.
"Enggak mas, bukan gitu maksud Aku.. hahaha.." Sofia tertawa riang, dan melihat Sofia tertawa riang seperti ini, Arsya merasa senang dan bahagia. Karena Istrinya bisa sebahagia ini. Arsya pun kemudian memeluk istrinya kembali dan menciumnya lagi.
"Aku kangen mas," Kata Sofia sambil bersandar di lengan suaminya.
"Kangen ya sayang.. Maafin mas ya?" Kata Arsya tersenyum dengan manis. Mereka pun bermesraan, Arsya tidur di samping Sofia. Dan suster yang melihatnya ikut bahagia.
"So sweet banget si," Kata suster itu ikut meluk suster yang satunya. Suster yang satunya berusaha melepaskan pelukan temannya.
__ADS_1
Dan Dokter pun memeriksa keadaan Sofia, Arsya bertanya tentang keadaan istrinya. Dan dokter meminta Arsya agar membicarakan tentang kondisi Sofia.
"Pak Arsya, belum ada perkembangan tentang kondisi istri Bapak. Maaf Pak, saya harus menyampaikan ini. Bapak harus bisa memilih antara bayi yang dikandung dengan Ibunya." Arsya pun tidak mengerti apa maksud dokter.
"Maksud Dokter." Tanya Arsya tidak mengerti.
"Bapak harus memilih antara salah satu, anak atau istri bapak yang harus diselamatkan." Arsya tercengang mendengar pernyataan Dokter. Arsya tidak bisa memilih salah satu diantaranya.
"Dokter, apakah keduanya tidak bisa diselamatkan dok?" Tanya Arsya penuh harap.
"Maaf Pak, tidak ada pilihan lain." Arsya sangat bimbang dalam memilih. Arsya tidak bisa memilih salah satu diantara mereka.
Arsya pun kembali ke ruangan Sofia, dan Sofia melihat suaminya sangat lemas. Sofia pun paham mengapa suaminya jadi tidak semangat seperti itu.
"Mas, jangan terlalu dipikirin ya.. Yang harus dipikirkan sekarang adalah kesehatan kamu sayang.. Jangan pikirin Aku." Kata Sofia tulus. Arsya pun memeluk dan mencium kening Sofia lagi.
"Sayang, apa kamu sudah mengetahui apa yang dikatakan dokter?" Tanya Arsya kepada istrinya.
"Sebelum operasi, Aku sudah tahu resiko yang harus Aku hadapi. Mas, Aku sudah tahu jika umurku tidak akan bertahan lama. Mas, jika Aku nanti ga ada.. Aku harap kamu cari pengganti Aku yang lebih baik dari Aku.. kamu boleh cari yang lebih cantik, yang lebih pintar, yang penting sayang ke anak kita." Arsya tidak sanggup mendengarkan kata-kata Sofia. Lalu Arsya menutup bibir Sofia dengan telunjuknya.
"Shut.. Jangan teruskan lagi. Aku yakin, kamu dan anak kita pasti baik-baik saja sayang.. Jangan bicara seperti itu lagi.. Aku ga sanggup." Kata Arsya ingin menangis, namun Sofia melarangnya untuk menangis.
Suster memerintahkan Arsya untuk kembali ke ruangannya. Karena Dokter sebentar lagi akan memeriksanya. Sofia pun menyuruh suaminya agar menuruti semua saran Dokter. Arsya dengan berat hati kembali ke ruangannya.
Dan Dokter mulai memeriksa kondisi Arsya. Dokter mengatakan kalau kondisi Arsya semakin membaik. Bahkan 2 sampai 3 hari lagi diperbolehkan pulang. Arsya sangat senang mendengar pernyataan Dokter.
Tapi Arsya juga ikut sedih karena kondisi istrinya yang tidak baik-baik saja. Arsya meminta ijin kepada dokter untuk menemani istrinya malam ini. Arsya pun ke ruangan istrinya.
Arsya melihat Istrinya Yang sedang senyum-senyum sendiri sambil mengelus perutnya yang semakin membesar. Arsya juga ikut tersenyum melihat istrinya, meskipun dalam kondisi sakit, Sofia masih bisa tersenyum.
__ADS_1
"Hai sayang, sini deh.. Ini anak kita nendang-nendang dari tadi." Sofia mengambil tangan Arsya dan meletakkan di perutnya. Kemudian Arsya jadi tersenyum karena calon bayinya sangat aktif. Kemudian Arsya pun mencium perut istrinya.
"Sayang, baik-baik di dalam ya.. kamu dan mama harus sehat." Kata Arsya kepada calon bayinya.