PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 70


__ADS_3

Sementara Rafa sangat khawatir dengan keadaan Sofia. Rafa tidak rela jika harus kehilangan Sofia. Rafa ingin mencegah Sofia, namun Sofia tetap bersi keras. Rafa pun tidak bisa berkata apa-apa.


Dan Dokter pun menyanggupi permintaan Sofia. Dokter kemudian menyuruh perawat untuk segera memberikan sebuah surat pernyataan. Lalu Sofia menandatangani surat tersebut. Dan Dokter menyuruh perawat untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk ke ruang operasi. Karena operasi akan segera dilakukan.


"Rafa, Aku berharap kamu segera mencari pengganti manager yang lebih baik dari Aku. Karena setelah Aku ga ada nanti, ada yang membantu kamu." Rafa hanya terdiam,


"Kamu bicara apa Sofia, Aku yakin kalau kamu akan baik-baik saja." Kata Rafa, Sofia hanya tersenyum lalu Sofia menggelengkan kepala. Kemudian Sofia dipanggil oleh suster untuk segera memasuki ruang operasi. Sofia pun meninggalkan Rafa ke ruang Operasi.


Operasi pun segera dimulai, dan dokter mulai melakukan transfer ginjal Sofia kepada Arsya. Satu jam telah dilewati. Dan dokter berhasil melakukan operasi tersebut. Dokter pun keluar dari ruangan operasi.


Rafa segera menanyakan keadaan keduanya. Dan dokter mengatakan kalau Arsya sebentar lagi akan sadar. Dan Arsya pun telah melewati masa kritisnya. Kemudian, Rafa menanyakan tentang kondisi Sofia. Namun, dokter kembali menunduk.


"Sebenarnya saya saya berat mengatakan hal ini. Saat ini, kondisi Sofia sedang tidak memungkinkan. Semenjak transfer ginjal tadi, kondisi Sofia sangat kritis. Sofia mengalami koma." Mendengar pernyataan Dokter, Rafa sangat lemas. Rafa tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dan Dokter bilang, kemungkinan Sofia untuk bertahan hidup sangatlah kecil, meskipun Iya sadar nanti, Iya akan bertahan hidup hanya sampai melahirkan. Sekarang kandungan Sofia sudah menginjak 7 bulan.


Kemudian, Rafa segera menghubungi Albert. Rafa menceritakan hal yang sebenarnya. Mendengar hal ini, Albert kemudian segera bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Dan Albert juga membawa semua barang bukti bahwa Sofia selama ini tidak bersalah.


Albert pun segera ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Albert segera menemui Rafa. Dan Albert pun ingin melihat kondisi Sofia. Sofia dibawa ke ruang ICU, karena kondisinya sangat kritis. Rafa juga mengatakan bahwa kemungkinan Sofia untuk hidup sangatlah kecil.


Melihat dan mendengar kondisi Sofia, Albert pun mengeluarkan air mata. Iya tidak menyangka kalau sahabatnya akan mengalami hal seperti ini. Kemudian Albert dan Rafa masuk ke dalam ruangan Arsya dan menunggu Arsya sadar dari obat bius.


Albert menyarankan sebaiknya jangan sekarang untuk berbicara kepada Arsya. Karena Seseorang belum saatnya untuk menceritakan semuanya. Tapi Rafa tetap bersi keras. Iya ingin menemui Arsya segera.

__ADS_1


"Rafa, sebaiknya besok saja kita kesini lagi." Kata Albert, dan Rafa pun mendengarkan penjelasan Albert. Mendengar penjelasannya, Rafa pun menurut apa yang dikatakan oleh Albert.


Selang beberapa jam, Arsya pun tersadar dari pingsannya. Pembantunya sangat senang melihat tuanya sudah siuman.


"Aku dimana Bibi?" Tanya Arsya kepada pembantunya.


"Tuan sedang ada di rumah sakit, dan tuan habis operasi ginjal. Beruntung ada orang baik yang mau mendonorkan ginjalnya buat tuan." Kata pembantunya menjelaskan.


"Benarkah? Siapa orang itu Bibi, boleh bertemu dengannya?" Tanya Arsya penasaran dan ingin berterimakasih karena sudah menyelamatkan nyawanya.


"Maaf tuan, saya tidak bisa kasih tahu sekarang. Karena orang itu akan memberitahunya besok." Pembantunya tidak berani mengatakan. Lalu Arsya paham dan tidak melanjutkan perkataannya karena ada dua suster yang sedang mengecek kondisinya.


Kedua suster tersebut, sedang membicarakan pasien yang rela berkorban nyawa demi suami.


"Kasian ya, demi suami iya rela berkorban nyawa. Padahal dirinya sedang hamil besar loh." Kata suster yang satu.


"Laki-laki itu pasti beruntung mempunyai istri yang sebaik dia." Gumam Arsya dalam hati. Arsya tidak merasa kalau suster itu sedang membicarakan dirinya.


Dua hari kemudian


Kondisi Arsya semakin membaik. Tapi tidak dengan kondisi Sofia, Kondisi Sofia semakin memburuk. Dokter sedang memeriksa Arsya. Lalu ada suster yang masuk dengan tergesa-gesa.


"Dokter, pasien yang di ruang ICU sedang kritis dok, Dia sesak nafas." Kata Suster tersebut. Kemudian Dokter segera berlari untuk melihat kondisi Sofia.

__ADS_1


"Kasian sekali dia." Kata batin Arsya.


Tak lama kemudian, Albert dan Rafa pun datang. Rafa dan Albert sangat terkejut melihat ada banyak dokter yang berlari ke ruangan Sofia.


Iya ingin melihat Sofia namun tidak diperbolehkan. Suster mengatakan kalau kondisi Sofia sedang sangat kritis. Rafa dan Albert segera ke ruang rawat Arsya. Jelas Arsya sangat kaget dan ingin marah melihat mereka berdua.


"Ngapain kalian ke sini? Pergi kalian." Arsya mengusir mereka. Dengan tenang, mereka berdua terlebih dahulu menyapa Arsya.


"Kamu sudah sadar? Sekarang keadaanmu bagaimana?" Tanya Albert. Sementara Rafa hanya diam saja.


"Kalian tidak usah sok baik, Oh iya kalian berdua kan selingkuhan Sofia. Kemana wanita murahan itu? Bagus deh kalau dia ga kesini, nek saya lihat Dia." Kata Arsya sangat keterlaluan. Dan Rafa sangat geram dengan Arsya, kemudian Rafa menampar pipi Arsya.


"Jaga ucapan kamu. Kamu tahu siapa yang telah berkorban untuk kamu? Dia adalah Sofia, yang rela mendonorkan ginjalnya untuk kamu dalam keadaan hamil besar. Resiko dia, itu sangat besar. Sekarang Dia lagi kritis Arsya.. meskipun dia sadar nantinya, kemungkinan dia untuk bertahan hidup hanya pada sampai dia melahirkan." Rafa sangat emosi menyampaikan hal ini kepada Arsya. Dan hati Rafa sangat rapuh, iya menyampaikan dengan berlinang air mata.


"Benar Arsya, dan kamu bilang Sofia telah selingkuh dari kamu. Kamu salah, Dia sama sekali tidak pernah mengkhianati kamu. Ini Aku kasih buktinya ke kamu." Albert pun memberikan bukti yang lengkap kepada Arsya. Bahwa sebenarnya ini adalah kerjaannya Sofia dan Radit. Arsya melihat bukti tersebut dengan sangat jelas. Setelah melihat itu semua, Arsya tertegun dan bertanya kepada pembantunya.


"Apa benar itu semua Bibi? Kalau Sofia yang telah mendonorkan ginjalnya buat Aku? Kata Arsya meyakinkan.


" Benar tuan, maaf saya tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada tuan." Kata pembantunya dengan tertunduk.


"Arsya, Sofia selalu berkata. Bahwa Dia sangat mencintai kamu lebih dari dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan nyawanya demi kamu. Kamu tahu, setiap hari dia menangis memikirkan kamu. Setiap hari Dia mengharap kamu datang menjemputnya." Kata Rafa menjelaskan. Dan Rafa pun tidak bisa meneruskan Kata-katanya lagi.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Arsya segera turun dari tempat Iya berbaring. Tapi Arsya masih tidak kuat berjalan. Namun Albert segera mengambil kursi roda untuk membantu Albert.

__ADS_1


Albert ingin segera melihat kondisi istrinya.


Arsya pun dibantu dengan kursi roda, Albert yang mendorong kursi roda Arsya, sementara Rafa dan pembantunya berjalan mengikuti mereka.


__ADS_2