
"Zoya, ini adalah Tuan Arsya pemegang salah satu perusahaan yang terbesar." Kata papanya.
"Zoya." Zoya sambil mengulurkan tangannya. Dan Arsya juga membalas uluran tangan Zoya.
"Gila, cool banget ni cowok.." Isi pikiran Zoya. Papanya Zoya menjelaskan tentang proyek yang rencananya akan dibangun. Papanya Zoya menjelaskan secara detail. Dan semua yang hadir di acara meeting tersebut memperhatikan secara seksama.
Kecuali Zoya, Zoya menjadi tidak fokus karena melihat ketampanan Arsya. Zoya hanya fokus terhadap Arsya. Kali ini Zoya dibuat takjub dengan Arsya. Setelah rapat selesai, Zoya mengambil keputusan kesempatan agar bisa ngobrol dengan Arsya.
Zoya bertanya basa-basi, dan mata Zoya tidak lelah memandangi Arsya. Zoya pun kemudian mencari perhatian Arsya. Zoya pura-pura kesandung dan pura-pura jatuh agar Arsya menangkapnya. Hasilnya membuat Zoya kecewa. Arsya sama sekali tidak menangkap Zoya. Yang ada Zoya terjatuh beneran.
Kemudian Arsya mendapat telfon dari istrinya. Dan Arsya pun mengangkat telfon istrinya itu. Zoya kesal, bukannya nangkap dia malah mengangkat telfon dari orang lain. Tanpa mempedulikan Zoya, Arsya malah pergi begitu saja.
Zoya memukuli lantai karena kesal terhadap Arsya. Zoya memiliki keinginan untuk mendekati Arsya. Zoya mengambil kesempatan dalam pembangunan proyek itu. Kemudian Zoya pun pergi ke ruangan papanya.
"Hai pa.." Sapa Zoya dengan manja.
"Hai, ada sayang?" Zoya kemudian menjelaskan maksudnya, bahwa iya saja yang akan menangani pembangunan proyek itu dengan Arsya. Papanya pun menjadi takjub dengan kesungguhan anaknya. Inilah yang papanya Zoya inginkan, kesungguhan anaknya dalam berbisnis.
Papanya Zoya pun setuju kalau proyek tersebut diserahkan kepada anaknya. Papanya Zoya tidak tahu kalau alasan Zoya menangani proyek tersebut adalah untuk mendekati Arsya. Zoya sangat senang karena papanya mengizinkannya.
...**********...
Arsya sudah sampai di rumah dan Sofia pun menyambut suaminya itu dengan penuh cinta. Kandungan Sofia sudah menginjak usia 8 bulan. Dan membuat Sofia semakin sulit untuk berdiri, duduk dan berjalan.
Sofia membukakan jas suaminya dengan lembut. Arsya menjadi tidak tega karena istrinya seperti sulit untuk berjalan. Arsya pun menaruh sendiri jasnya. Dan membantu istrinya untuk duduk.
"Makasih ya sayang.." Ujar Sofia kepada suaminya. Arsya pun dengan nakal meminta imbalan karena telah membantunya. Sofia mengerti maksud suaminya. Kemudian Sofia memberikan kiss di pipi Arsya.
__ADS_1
"Kok cuma pipi?" Arsya sedikit kecewa karena cuma pipi yang cium. Sofia pura-pura tidak mengerti maksud suaminya. Tanpa sabar menunggu suaminya, Arsya pun melakukan mendaratkan bibirnya ke bibir Sofia. Sofia pun membulatkan matanya.
Arsya juga mengelus perut Sofia yang sebentar lagi akan lahir. Arsya berbicara dengan calon buah hatinya. Sofia kembali bersedih ketika Arsya mengelus perutnya. Sofia teringat kembali akan nasibnya nanti. Mengingat usia kehamilannya, Sofia berfikir bahwa Sofia tidak akan lama lagi untuk menikmati kebersamaan bersama suaminya.
Sofia menyembunyikan kesedihannya di depan suaminya. Untuk menghilangkan kesedihannya, Sofia meminta untuk tidur di atas dada bidang suaminya. Arsya menuruti permintaan istrinya itu dengan senang hati.
Kemudian Arsya mengecup kening istrinya. Sofia merasa sedikit lebih bahagia. Tiada tempat yang nyaman bagi Sofia selain Dada bidang suaminya. Meskipun Sofia tidak cerita tentang kesedihannya, Arsya bisa mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya.
Hati Arsya juga merasa terenyuh, Arsya juga merasa takut dan sedih. Arsya tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya itu. Arsya ingin selamanya bersama istrinya. Arsya juga tidak ingin menampakkan kesedihannya di depan istrinya.
Tidak terasa Sofia tertidur pulas di atas dada suaminya. Dan Arsya tersenyum melihat istrinya yang tertidur pulas. Arsya mencium kening istrinya lagi. Juga mengelus perut istrinya. Sofia lebih nyaman jika tertidur di dada suaminya.
Kemudian HP Arsya berdering dan Arsya pun merogoh saku celananya untuk mengambil HPnya. Lalu melihat siapa yang menelfon. Arsya mengernyitkan dahinya. Karena yang menelponnya adalah nomor yang tidak di kenal.
Arsya pun memindahkan kepala istrinya ke bantal secara perlahan agar istrinya tidak terbangun. Kemudian Arsya pun keluar dari kamar untuk menjawab telfon dari orang itu.
"Siapa ini ya?" Arsya bertanya kepada orang itu.
"Ini Aku pak, Zoya. Itu loh yang tadi meeting tentang rencana pembangunan proyek." Arsya pun jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa heran saja sama ini cewek.
"Ini anak tahu darimana nomorku?" Gumam Arsya sambil menggelengkan kepala.
"Oh, ada apa ya?" Arsya langsung bertanya tanpa basa-basi lagi.
"Oh enggak kok pak, cuma besok kan libur.. Boleh enggak Aku ke rumah Bapak? Soalnya Aku mau bahas proyek ini." Arsya jadi bingung sendiri. Karena Zoya seperti orang yang tidak lazim. Membicarakan pekerjaan di hari libur. Arsya tidak ingin berfikir negatif dulu, selama itu bahas tentang pekerjaan Arsya membolehkannya.
***
__ADS_1
Zoya sangat senang, karena diperbolehkan untuk datang ke rumah Arsya. Zoya menjadi besar kepala. Zoya berfikir jarang-jarang ada seorang bos yang mau membahas pekerjaan di hari libur. Zoya berfikir bahwa Arsya juga mengagumi dirinya.
"Pokoknya besok Aku harus dandan cantik, dan berpakaian yang menarik agar pak Arsya semakin tertarik." Pikir Zoya.
Zoya bersiap-siap mencari baju yang cocok untuk dirinya. Untuk dipakai bertemu dengan Arsya. Zoya jadi mengkhayal yang tidak-tidak.
Khayalan Zoya
"Hai," Sapa Zoya kepada Arsya. Arsya melihat penampilan Zoya dari bawah ke atas dengan mulut menganga. Dan Arsya menjadi kagum dengan penampilan Zoya.
Lalu Ibunya Arsya datang dan juga tercengang melihat penampilan Zoya. Ibu Arsya juga memuji Zoya. Dan mengatakan kalau Zoya sangat cantik. Dan Ibu Arsya bertanya siapa perempuan ini?
"Arsya siapa Dia? Cantik sekali." Tanya Ibu Arsya. Arsya menoleh kepada Ibunya.
"Ini rekan kerja Aku ma," Jawab Arsya.
"Cuma rekan kerja? Ibu pengen loh, punya menantu cantik seperti ini. Kenapa kalian ga nikah saja.." Zoya malu-malu mendengar kata-kata dari Ibu Arsya yang penuh harapan.
"Arsya terserah Zoya aja ma.." Zoya pun jadi berbinar-binar mendengar pernyataan dari Zoya.
Ibu Arsya pun meminta Zoya untuk menjadi menantunya. Zoya hanya malu-malu tidak berani menjawab. Zoya dan Arsya saling pandang dan tersenyum malu.
***
Seorang pembantu membuyarkan khayalan Zoya. Dan Zoya pun menjadi kaget dan kesal karena telah mengganggu khayalannya. Pembantunya meminta Zoya untuk segera turun karena sedang di tunggu papanya di meja makan.
"Apaan sih Bibi ini, ganggu orang yang mimpi indah saja." Zoya kemudian turun dengan terpaksa dan seperti tidak semangat untuk makan malam.
__ADS_1
Papanya yang melihat wajah Zoya yang cemberut sudah tahu sifat anaknya. Jika Dia sedang cemberut pasti ada yang mengganggu kesenangannya.