PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 122


__ADS_3

"Sayang, ini Aku suami kamu. Aku ingat semuanya. Aku ingat tentang kamu, Aku ingat tentang Aarav." Tidak terasa air mata Sofia menetes. Dan tidak menyangka bahwa keajaiban benar-benar datang.


"Apa Aku tidak sedang bermimpi Mas?" Sofia sambil menepuk pipinya dan menatap Arsya.


"Tidak sayang.." Langsung memeluk Sofia. Sofia merasa sangat terharu dan bersyukur. Rafa yang melihat itu, juga merasa terharu.


"Sepertinya kebahagiaan Sofia memang Arsya. Aku ikut bahagia jika melihatnya bahagia." Gumam Rafa. Karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka, Rafa pun membalikkan badan dan langsung pergi.


Sofia yang melihat Rafa, langsung berlari memanggil Rafa. Arsya pun menoleh ke arah Rafa.


"Rafa, tunggu!" Rafa pun berhenti dan langsung membalikkan badan lagi. Lalu tersenyum kepada Sofia.


"Kamu mau kemana?" Sofia tidak ingin Rafa pergi.


"Aku tidak ingin mengganggu kalian." Rafa sambil mengulas senyum.


"Siapa bilang kamu mengganggu kita?" Sofia pun menarik tangan Rafa ke arah Arsya.


"Mas, selama ini Rafa yang selalu ada disaat Aku sedang frustasi karena kamu. Rafa yang juga membantu Aku untuk membantu kamu sembuh dari amnesia kamu. Rafa juga membantu menjaga Aarav dan mengajak dia bermain. Aku mohon jangan pernah merasa cemburu dengannya. Karena Aku pun tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Rafa." Sofia memohon agar Arsya tidak salah paham. Arsya pun tersenyum dan memegang pundak Sofia.


"Sayang, Aku ga pernah berfikir untuk cemburu. Kamu tenang saja. Aku tidak akan marah. Karena sebelum Aku pergi ke Jerman, Aku sudah menitipkan kamu dan Aarav ke Rafa." Arsya langsung saja menoleh ke arah Rafa dan tersenyum kepadanya.


"Rafa, terimakasih karena kamu telah menjaga istri dan anakku selama ini." Arsya langsung mengulurkan tangannya. Iya ingin berjabat tangan tanda persahabatan mereka.


Rafa pun menerima ukuran tangan Arsya. Kemudian Arsya pun langsung memeluk Rafa.


Sofia yang menyaksikan itu ikut terharu. Ternyata di setiap kejadian ada hikmahnya. Sofia sangat bersyukur karena persahabatan suaminya dan Rafa telah kembali seperti yang Sofia harapkan.


Dan mereka pun kembali ke apartemen. Kali ini Arsya memutuskan untuk tidak tinggal di rumah Tifani. Dan Arsya pun ingin tinggal dengan istrinya.


Arsya terlebih dahulu ke rumah Tifani sambil membawa istrinya. Arsya mengulas senyum kepada Tifani. Arsya menyatakan keinginannya untuk tinggal bersama istrinya di apartemen.


Tifani sangat senang mendengarnya. Karena Arsya telah kembali ingatannya. Tifani memuji Sofia yang dengan sabar menunggu suaminya. Tifani pun juga menoleh ke arah Rafa. Lagi-lagi hati Tifani merasa tersentuh saat melihat Rafa.


Tifani pun meminta Rafa yang menginap di rumahnya. Entah mengapa Tifani merasa ingin dekat dengannya. Rafa hanya diam saja. Tiba-tiba saja Tifani memeluknya. Seperti ada kerinduan yang mendalam. Rafa pun menuruti kemauan Tifani.


Arsya dan Sofia pun kembali ke apartemen. Sofia sangat bahagia kali ini karena suaminya telah kembali. Sofia sangat bersyukur dan rasanya Sofia ingin menangis karena terharu.


Sesampainya di apartemen, Arsya dan Sofia langsung masuk ke kamar mereka. Arsya memandangi Aarav yang tertidur. Arsya mencium putranya itu. Arsya juga sangat merindukannya.


Arsya juga menatap Sofia dengan penuh kerinduan. Sofia tersenyum kepada suaminya itu. Mereka saling bertatapan dengan penuh kemesraan. Arsya memandangi istrinya ada yang berbeda darinya.


"Sayang, kenapa kamu terlihat kurus?" Arsya memegang wajah Sofia.


"Aku rindu sama kamu mas, Aku selalu berharap kamu kembali ke keluarga kita. Kamu kembali ke Aku, Aarav." Air mata Sofia mengalir. Arsya mengusap air mata yang mengalir di pipinya itu dengan lembut.


"Sayang, jangan pernah menangis lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Maafkan Aku sayang.. Aku telah membuat kamu sedih." Arsya memeluk istrinya. Dan memegang wajahnya lagi. Mereka saling bertatapan mesra. Arsya pun menempelkan bibirnya ke bibir Sofia.


Sekian lama mereka tidak bertemu. Mereka saling melepas kerinduannya. Arsya memeluk Sofia dengan erat. Dan Arsya pun menggendong Sofia ke kasur. Arsya mengelus wajah Sofia dengan mesra.


"Sayang, yuk!" Arsya memberikan kode kepada Sofia. Dan Sofia tidak mengerti.


"Maksudnya?" Sofia mengernyitkan dahi.


"Ya, ampun sayang.. masak kamu gak ngerti sih? Gini nih kalau lama ditinggal." Arsya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Ya, Aku kan ga ngerti mas.. Kalau ngomong yang jelas dong.." Arsya menghela nafas dan menggelengkan kepala lalu berdecak.


"Kita melakukan seperti malam pertama dulu. masih ingat gak waktu malam pertama kita melakukan apa?" Arsya langsung spontan menjawab.


"......." Sofia melongo. Sofia pun tersenyum malu-malu dan mengangguk. Langsung saja Arsya mematikan lampu kamar.


Hari sudah mulai pagi. Sofia melihat suaminya yang masih pulas. Sofia pun menatap wajah suaminya lebih dekat dan mengelus-ngelus wajahnya. Arsya pun membuka matanya dan melihat istrinya yang mengelus wajahnya.


Langsung saja Arsya menarik Sofia hingga jatuh di dadanya. Hidung Sofia pun menyentuh hidung Arsya. Langsung saja Arsya mendaratkan kecupan mesra ke bibir Sofia. Mereka masih melepas kerinduan.


Sofia menyuruh Arsya untuk segera mandi. Arsya pun menggelengkan kepala. Dan mengajaknya mandi bareng. Sofia mencubit hidung Arsya dengan gemas.

__ADS_1


Mereka pun langsung bersiap-siap untuk menikmati pemandangan kota berlin. Kali Arsya yang menggendong Baby A. Mereka keliling kota berlin dengan menaiki bus wonderful.


Sofia dan Arsya sangat menikmati perjalanan sambil melihat indahnya kota berlin. Mereka


juga pergi ke Brandenburg gate. Mereka mengabadikan momen mereka di sana.


Sofia dan Arsya juga menikmati kuliner di kota berlin. Sofia pun juga menikmati ice cream khas kota berlin. Satu hari penuh mereka berkeliling kota berlin.


"Suka enggak jalan-jalannya?" Sambil tersenyum mengelus rambut istrinya.


"Mengangguk" Arsya pun juga tersenyum. Dan mereka pun kembali lagi ke apartemen.


Arsya tidak henti-hentinya memandangi wajah istrinya.


Ternyata wajah Sofia tidak pernah berubah dari dulu masih tetap cantik. Sofia sudah terlelap tidur karena kecapean. Arsya memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


...****************...


Keesokan harinya, Sofia dan Arsya sudah bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Begitu juga dengan Rafa, Iya juga pulang hari ini ke Indonesia. Rafa sudah menjemput Arsya dan Sofia untuk sama-sama ke bandara. Tifani pun juga ikut mereka ke Indonesia. Tifani ingin menemui kakaknya yang sudah lama tidak bertemu.


Arsya dan Sofia duduk berdampingan. Sementara Rafa duduk berdampingan dengan Tifani. Selama perjalanan sampai tiba di bandara, Sofia tertidur pulas. Mungkin Sofia merasa lelah.


Setibanya di bandara, Arsya membangunkan Sofia dengan lembut. Sofia pun terbangun. Dan mereka pun turun dari pesawat. Sofia merasa bahagia karena Iya pulang dengan suaminya.


Setibanya di rumah, Sofia langsung membuka pintu rumahnya. Arsya melihat sekeliling rumahnya ternyata masih sama. Sofia pun memanggil pembantunya.Dan para Para pembantu yang ada di rumah Sofia merasa sangat kaget. Ketika melihat Arsya berdiri di hadapan mereka.


Pembantu juga babysitter mengira Sofia membawa hantu ke rumahnya. Karena mereka menganggap Arsya sudah meninggal.


"Ih, bibi apaan sih. Ini tuan Arsya majikan kalian." Sofia menegur mereka.


"J-jadi, tuan Arsya masih hidup?" Tidak percaya apa yang ada di hadapannya. Sofia pun tersenyum dan mengangguk. Meraka pun tersenyum senang. Karena tuannya yang sangat baik masih hidup juga sehat.


"Bagaimana ceritanya?" Babysitter penasaran.


"Ceritanya panjang." Sofia malas untuk bercerita.


Sofia dan Aarav pun langsung masuk kamar. Sementara Arsya masih duduk di ruang tamu. Dan meminta pembantu untuk membuat minuman kesukaannya.


Sofia merasa sangat pusing dan lemas. Sofia kali ini tidak punya tenaga. Jalannya pun sempoyongan sambil memegang kepalanya. Dengan pandangan berputar, Sofia pun langsung tidak sadarkan diri.


Arsya yang baru keluar dari kamar mandi langsung kaget melihat istrinya tergeletak di lantai. Arsya pun panik dan membawa Sofia ke rumah sakit.


Arsya mondar-mandir sambil menunggu dokter yang menangani istrinya. Dokter pun selesai menangani Sofia dan keluar dari ruangan. Dokter meminta Arsya untuk menuju ke ruangan dokter.


"Ada apa dengan istri saya dok?" Arsya panik. Dokter itu memasang wajah yang mengkhawatirkan.


"Ini sudah biasa dialami oleh Ibu hamil pak," Dokter itu tersenyum.


"Maksudnya?" Arsya tidak mengerti.


"Selamat pak, Ibu Sofia sedang mengandung. Dan usia kandungannya berusia 5 minggu." Seperti sebuah kejutan bagi Arsya.


"Dokter tidak bercanda kan?" Arsya memastikan.


"Dokter mengangguk" Arsya langsung mengucapkan syukur. Karena mereka diberikan kepercayaan lagi untuk menjaga sang buah hati.


Arsya langsung menghampiri istrinya. Dan menciumnya. Arsya mengatakan kalau dia sedang mengandung. Sofia tersenyum bahagia.


"Sayang, mulai sekarang kamu tidak boleh capek ya?" Sofia tersenyum dan mengangguk. Sofia ingin mengunjungi rumah Ibunya dan ingin memberitahu berita bahagia ini kepadanya. Arsya pun menuruti permintaan istrinya.


Arsya dan Sofia pun langsung ke rumah Ibunya. Sofia yang masih pusing itu, dipapah jalannya oleh Arsya.


Sesampainya di sana, Sofia dan Arsya langsung masuk ke dalam rumahnya dan langsung memanggil ibunya. Ibunya sangat senang ketika Sofia berkunjung ke rumahnya. Sofia langsung memeluk Ibunya. Tifani pun kaget ketika Sofia memanggil Ibu.


"Ibu?" Sofia langsung menoleh ke arah Tifani.


"Om Tifani?" Sofia terkejut melihat Tifani.

__ADS_1


"Jadi kamu? Ya, Tuhan ternyata kamu keponakan Aku." Tifani langsung memeluk Sofia. Dan Tifani langsung menangis.


Arsya yang muncul membuat Ibu Sofia kaget. Sofia pun menjelaskan hal sebenarnya. Tifani juga ikut membantu untuk menjelaskan. Sekarang Ibunya paham dan bersyukur karena menantunya diberikan keselamatan.


Sofia juga mengabarkan tentang kehamilannya kepada ibunya. Dan Ibu Sofia juga Tifani merasa sangat bahagia. Sofia pun ingin berbicara berdua dengan Tifani. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Tifani menuruti permintaan Sofia. Mereka berbicara empat mata.


Sofia menyampaikan amanah terakhir dari ayahnya. Sofia juga menceritakan pertama kali melihat dirinya. Hanya saja Sofia tidak menceritakannya. Dan Sofia juga menceritakan bahwa Iya mengetahui dimana istrinya. Mendengar cerita Sofia Tifani pun langsung memeluknya.


"Kamu anak yang baik Sofia. Om bangga sama kamu. Terimakasih nak.." Tifani meneteskan air mata.


Arsya pun menghampiri mereka. Tifani memeluk keduanya. Mereka sangat bahagia. Arsya dan Sofia kemudian pamit pulang. Sofia sekali lagi mengajak Ibunya untuk tinggal bersamanya. Namun, Ibunya tetap tidak mau. Karena Dia tidak ingin meninggalkan kenangan bersama ayahnya. Sofia tetap menghargai keputusan Ibunya.


Kini kebahagiaan keluarga Sofia sudah lengkap. Sofia tidak ada henti-hentinya untuk mengucapkan rasa syukur. Arsya juga tidak pernah bosan untuk memeluk istrinya.


7 bulan kemudian.


Perut Sofia semakin membesar. Arsya mengelus dan mencium perut istrinya. Dari luar ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Dan ternyata yang datang adalah Rafa dan Tifani.


"Rafa, om Tifani.." Sofia sangat senang melihat kedatangan mereka.


"Kalian kok bisa barengan kesini?" Tifani pun menceritakan yang sebenarnya. Bahwa Rafa terbukti adalah anaknya yang hilang. Rafa adalah anaknya dari mirna. Dan Mirna pun sudah dibebaskan dari penjara.


Rafa juga membagikan undangan pernikahannya bersama Rani. Mendengar hal ini Arsya dan Sofia sangat bahagia.


"Akhirnya laku juga lo bro.." Arsya meledek Rafa. Karena keseruan mereka, mereka pun tertawa bersama.


...****************...


Waktu hari pernikahan Rafa dengan Rani telah tiba. Arsya menunggu Sofia untuk bersiap-siap. Setelah selesai Sofia segera keluar untuk menemui suaminya. Meskipun hamil besar, Sofia tetap kelihatan sangat cantik. Arsya pun mencium kening istrinya sebelum berangkat.


Mereka telah tiba di acara pernikahan. Rani pun sangat senang karena mereka hadir. Dari kejauhan, seseorang sedang mengawasi Sofia. Seorang laki-laki yang bertopi hitam dan memakai masker sedang berusaha untuk menyusup.


Mereka tidak menyadari ada tanda bahaya yang mencintai mereka. Sofia yang tidak sengaja melihat ada sesuatu yang aneh. Laki-laki itu berdiri di belakang suaminya. Dan Sofia juga melihat ditangannya sedang memegang sebuah pistol. Dan mengarahkannya ke arah Arsya.


Sofia langsung melotot. Dan dengan sigap, Sofia langsung memeluk suaminya dari belakang dan Arsya pun membalikkan badannya. Suara pistol yang sangat keras membuat semuanya panik. Arsya tercengang ketika seorang yang tidak dikenal sudah menyalakan pistolnya.


Sofia memandang suaminya dan langsung terjatuh. Tangan Arsya mengalir banyak darah karena luka tembakan dari pinggang Sofia. Rafa langsung memanggil penjaga untuk menangkap orang itu. Dan setelah maskernya di buka, ternyata dia adalah Radit. Dan polisi pun datang untuk membawanya.


Arsya yang memangku Sofia yang tidak berdaya pun panik. Tapi Sofia masih memberikan senyum kepadanya. Sofia meraba pipinya Arsya.


"Sayang, kamu t-tidak apa-apa kan?" Suara Sofia terbata-bata.


"Aku ga apa-apa.. Sekarang jangan banyak bicara dulu ya.. Kita ke rumah sakit." Arsya ingin menangis. Sofia pun menggelengkan kepalanya.


"Mas, tidak usah.. Aku cuma minta, jaga anak kita." Arsya menggelengkan kepala. Dan meneteskan air mata.


"Aku sudah bilang jangan banyak bicara dulu." Setelah berkata demikian, Sofia langsung tidak sadarkan diri. tangannya langsung terjatuh. Arsya mengecek denyut nadinya Sofia. Nadinya pun masih berdenyut. Arsya langsung membawa istrinya ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Arsya seperti orang yang menggigil karena khawatir kepada istrinya. Tifani dan Rafa menguatkan Arsya. Arsya tidak tahu apa yang harus iya lakukan.


Dokter pun keluar dan memberikan anak Sofia atau adik Aarav kepada Arsya. Anak kedua mereka adalah seorang perempuan yang cantik. Arsya bahagia melihat anaknya selamat.


"Lalu bagaimana dengan istri saya dok?" Arsya mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Maafkan kami pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan telah berkehendak lain. Ibu Sofia sudah di panggil oleh yang maha kuasa." Arsya pun tidak bisa berkata apa-apa. Sontak iya langsung berlari menghampiri istrinya. Arsya mengguncang tubuh istrinya.


"Sofia bangun. Sofia...." Berteriak dan langsung memeluknya. Rafa dan Tifani yang melihatnya menjadi tidak tega. Tifani dan Rafa menguatkan Arsya. Arsya terus saja menangis. Arsya tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi.


Satu tahun kemudian


Arsya yang menggendong putri kecilnya dan menuntun tangan Aarav, mengunjungi makam istrinya. Aarav yang masih berusia 2 tahun itu, langsung memeluk makam Ibunya. Juga putrinya iya menunjuk ingin duduk di atas makam ibunya.


"Mama sedang tidur ya pa? Semoga mama baik-baik aja di sana.." Mereka dengan polosnya mencium nisan mamanya. Arsya menguatkan hatinya untuk tidak menangis.


"Sayang, Aku janji akan merawat dua malaikat kecil kita dengan baik. Aku akan selalu setia kepadamu."


Tifani juga berziarah ke makam Sofia. Dan memegang pundak Arsya. Tifani menyarankan agar Arsya segara mencarikan Ibu baru untuk mereka.

__ADS_1


"Sampai kapanpun Ibu mereka adalah Sofia om, Jadi Aku tidak akan menikah dengan wanita manapun. Karena tidak ada perempuan yang lebih baik dari istriku. Jangan pernah memaksa saya untuk mencari pengganti Sofia. Karena hal itu tidak akan terjadi." Tifani hanya mengangguk dan mengerti perasaan Arsya yang begitu dalam terhadap istrinya. Dan Arsya pun pulang dengan bersama kedua malaikat kecilnya.


End


__ADS_2