
Sofia menikmati pelukan suaminya. Dan bersandar di bahu suaminya. Seharian penuh mereka di dalam kamar. Karena hal tersebut memang keinginan Sofia. Dan Arsya tidak pernah bosan untuk terus mengelus perut istrinya. Kadang Arsya merasa gemas dengan calon buah hatinya.
...************...
Marsha merasa ketar-ketir saat ini, Marsha sangat takut jika dirinya benar-benar dilaporkan. Marsha kemudian menghubungi Radit, ingin memberitahu Radit.
"Halo ada apa Marsha?" Jawab Radit di telfon.
"Radit, kamu dimana sekarang?" Tanya Marsha panik, Radit pun heran dengan nada bicara Marsha.
"Di rumah lah.. Kenapa memangnya?" Jawab Radit.
"Ok Aku segera ke rumahmu." Marsha pun menutup telfonnya segera. Lalu bergegas pergi ke rumah Radit. Marsha menancap gas mobil untuk segera pergi ke rumah Radit.
Setelah sampai di sana, Marsha mendapati Radit sedang asyik Berjoget-joget dengan musik remix. Marsha yang melihat Radit sedang enak-enakan merasa geram. Dan langsung mematikan musiknya. Lalu Marsha menimpuk kepala Radit dengan bantal Sofa.
"Aw.." Radit kaget dan mengerang karena sakit.
"Enak banget lo ya, joget-joget.." Ucap Marsha seperti panik, Radit menjadi heran dengan sikap Marsha.
"Apaan si lo Marsha? Gangguin gue aja.."
"Radit, gue heran sama lo.. kita ini sedang terancam. Nanti kalau polisi nangkap kita bagaimana?" Kata Marsha dengan panik.
"Maksud kamu?" Radit masih heran tidak bisa mencerna maksud dari Marsha.
"Kamu tahu? sekarang Arsya dengan Sofia sudah baikan. Dan kamu tahu? Tadi Albert mengancam Aku akan melaporkan kita ke polisi." Penjelasan Marsha membuat Radit merasa geli. Radit pun mentertawakan Marsha.
"Hahahaha.." Marsha heran dan bingung. Disaat suasana genting seperti ini masih bisa-bisanya Radit tertawa lepas.
__ADS_1
"Radit, Aku serius." Kata Marsha merasa geram terhadap Radit.
"Tenang Marsha, santai saja. Kalau memang Arsya sudah tahu semuanya, sudah pasti dia akan menjebloskan kamu ke penjara. Buktinya sekarang kita masih aman-aman saja kan?" Radit berkata tenang seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa. Marsha merasa semakin heran dengan Radit.
"Terserah lo dah. Males gue ngomong sama lo." Marsha pun meninggalkan Radit. Sementara Radit melanjutkan kesenangannya. Dia tidak peduli dengan kekhawatiran Marsha.
Marsha sambil ngomel-ngomel sendiri ga jelas. Marsha merasa geram banget dengan sikap Radit. Marsha semakin bingung dan panik. Jika besok Iya masuk kantor, sudah pasti Arsya akan membawa Dia ke polisi.
"Pak, saya mau dibawa kemana pak?" Polisi sedang memborgol kedua tangannya Marsha.
"Mbak Marsha ikut kami ke kantor polisi, nanti jelasin saja di kantor."
"Arsya tolong Arsya.. Lepasin!" Polisi dengan kuat memegang Marsha. Dan Marsha pun tidak bisa melawan polisi tersebut.
Marsha mulai sadar dari khayalan nya. Marsha mulai menjadi sangat panik karena khayalan nya yang di tangkap polisi.
"Gak.. Aku ga mau di penjara. Ini ga bisa dibiarkan, Aku harus kabur. Iyah, Aku harus meninggalkan kota ini sejauh mungkin. Sampai situasi benar-benar aman."
Setelah sampai di rumahnya, Marsha dengan segera membereskan semua barang-barangnya untuk meninggalkan rumahnya. Marsha membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru.
Setelah itu, Marsha langsung menancap gas mobil dengan kecepatan yang tinggi. Marsha sangat jago dalam menyetir mobil. Marsha segera pergi meninggalkan rumahnya sebelum polisi datang.
"Aku harus cepat pergi dari sini.." Pikir Marsha.
Di tengah perjalanan, Marsha hampir saja menabrak seorang nenek yang sudah sangat tua ingin menyebrang jalan. Dengan segera Marsha rem secara mendadak. Nenek itu pun sangat kaget. Marsha bukannya turun untuk minta maaf malah memarahi nenek tersebut.
"Woi, kalau jalan lihat-lihat dong.. Mau mati lo ya?" Nenek itu menggelengkan kepala karena Marsha sikapnya sudah tidak sopan. Marsha dengan segera menancap gas mobil lagi.
"Heran sama itu nenek, nyebrang jalan ga liat-liat." Marsha menggerutu.
__ADS_1
Marsha ingin pergi ke tempat yang lebih aman. Namun, rencananya untuk menghancurkan Sofia tidak pernah ada jeranya.
... *********...
Rafa sekarang sudah sendirian lagi di rumahnya. Rafa merenung karena terbayang oleh Sofia. Rafa sebenarnya menyukai Sofia, namun, Rafa tidak mungkin bisa bersatu dengan Sofia karena Sofia adalah istri orang.
Tiba-tiba telfon Rafa berbunyi, dan Rafa pun melihat di layar HPnya. Dan ternyata yang telfon adalah Sofia. Rafa pun mengangkat telfon dari Sofia.
"Iya, ada apa Sofia?" Tanya Rafa
"Rafa, Aku bagaimana dengan proyek yang kemarin?" Sofia masih menanyakan tentang proyek yang sedang dibangun.
"Semuanya baik Sofia, dan ini semua berkat dari ide-ide kamu. Oh iya keadaan kamu bagaimana sekarang?" Rafa menunjukkan kepeduliannya kepada Sofia.
"Aku sudah mulai membaik." Jawab Sofia, dalam hati Rafa sedikit lega mendengar ucapan Sofia.
"Oh iya nanti suami kamu marah loh, kalau kamu menanyakan hal ini." Sofia tersenyum hingga senyumnya terdengar oleh Rafa. Rafa merasa heran dengan Sofia yang tersenyum.
"Aku sudah ijin sama suami Rafa, kamu kan sudah nolong Aku, sudah bantuin Aku, masak iya sih Aku mau ninggalin perusahaan kamu gitu saja. Kan ga etis banget kalau Aku harus pindah perusahaan lagi." Mendengar ini Rafa sebenarnya kagum, namun Rafa menjadi ga enak terhadap Arsya. Karena perusahaan Arsya sekarang sedang bermasalah.
"Bagaimana dengan perusahaan suami kamu Sofia? Sekarang kan perusahaannya lagi bermasalah." Tanya Rafa karena khawatir.
"Kamu tenang saja Rafa, Aku juga bantu suami Aku untuk menyelesaikan masalah di perusahaan. Yang Aku harapkan, kamu dan mas Arsya itu temenan bukan musuhan, bukan bersaing. Rafa tersenyum mendengar ucapan Sofia, Sungguh wanita yang sangat cerdas. Ternyata Sofia adalah wanita yang tidak suka dengan permusuhan.
"Lagian apa sih yang membuat kalian itu bermusuhan? Perusahaan kalian itu kan paling terkenal seluruh negeri bahkan sampai memiliki cabang di luar negeri. Kenapa kalian ga kerjasama saja, itu kan lebih bagus. Bahkan bisa menambah produk-produk yang sangat berkualitas. Dan bisa juga mengharumkan negeri." Rafa menjadi tertarik dengan kata-kata Sofia, namun karena Rafa orang yang mempunyai ego yang sangat tinggi Rafa pun tidak menjawab saran dari Sofia.
"Oh iya Sofia, udah dulu ya.. Aku soalnya masih ada sedikit kerjaan." Rafa mengakhiri telfonnya. Sofia pun menyetujuinya.
Sofia tidak ingin suaminya dengan Rafa terus bermusuhan. Sofia ingin mereka berdamai. Sofia walaupun dalam keadaan sakit, Iya tetap memikirkan perusahaan suaminya. Dan juga ingin membantu perusahaan Arsya tanpa ada saingan.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, Arsya kembali mulai masuk kamar dan tersenyum kepada Istrinya. Arsya langsung saja mencium kening istrinya.