Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Dokter Karina


__ADS_3

Dua hari setelah Rangga memberitahukan tentang Dokter Karina, Regar segera membawa Wulan menuju pulau yang di maksud oleh Rangga menggunakan Helikopter pribadi, bersama dengan Arka, Habibi juga beberapa Dokter kepercayaan Regar yang bekerja di rumah sakitnya. Habibi sendiri memaksa ingin ikut dan menemani Wulan kemanapun gadis itu pergi, walau sudah di larang oleh Regar dan Arka akan tetapi ia tetap memaksa bahkan ia sempat bertengkar dengan Mamahnya dan berakhir dengan sang Mamah yang memberikan izinnya dengan terpaksa.


"Maksih Om, Habibi boleh ikut!" ucap Habibi duduk di dekat kaki Wulan yang berbaring.


"Hmm, tapi Om harap kamu sudah izin sama Mamahmu Bi!" jawab Regar. Habibi hanya mengangguk dan tersenyum.


Arka menggelengkan kepalanya karena melihat betapa keras kepalanya Habibi ini, bahkan ia nekat berdiri di depan Helikopter mereka sampai Ayahnya harus mengizinkan nya untuk ikut mereka.


"Kamu sangat keras kepala Bi." ucap Arka tersenyum tipis, Habibi pun hanya tersenyum dan tak berniat menanggapi ucapan Arka sahabatnya.


Perjalan cukup jauh dan membutuhkan waktu sekitar 5 jam di dalam Helikopter menuju pulau yang di maksud oleh Rangga, hingga mereka tiba dan langsung di sambut oleh beberapa anak buah Rangga yang memang sudah menunggu kedatangan mereka di sana.


"Kalian!" Regar menatap 4 orang pria berjas serba hitam. Keempat orang itu segera memberi hormat pada Arka saat pemuda itu turun dari Helikopter.


"Tuan Muda..." sapa keempatnya menundukkan wajah mereka pada Arka yang hanya bengong tak mengerti.


"Kami adalah anak buah Tuan Rangga, dan kami di perintahkan untuk mengawal perjalanan Tuan Muda dan Tuan Regar menuju ke kediaman Dokter Karina." jelas salah satu pria membuat Arka terkejut karena ternyata Papah Rangga sudah menyiapkan segala nya. Regar pun tak kalah terkejut, ia semakin merasa berhutang budi pada pria itu karena lagi lagi sudah memudahkan jalannya untuk pengobatan putrinya.


"Baik, kemana kita sekarang?" tanya Regar.


"Mari Tuan ikuti kami.." jawab pria tadi dan berjalan menuju ke arah mobil.


Regar, Arka dan Habibi berada satu mobil berwarna hitam sedangkan Wulan berada dalam mobil khusus yang sudah Rangga siapkan pula karena perjalan menuju ke kediaman Dokter Karina masih cukup jauh dan butuh waktu yang lama.


"Papah loe baik banget Ka, sampe mau nyiapin semuanya di sini padahal Wulan bukan siapa siapanya kan!" ucap Habibi yang sangat kagum pada Rangga.


"Aku juga gak nyangka, Papah akan lakuin semua ini.." jawab Arka tak kalah bangganya terhadap sang Papah sambung. Senyuman Arka merekah, ia sangat beruntung bisa mendapatkan Papah seperti Rangga yang begitu menyayanginya juga Bundanya meskipun sekarang Papah Rangga sudah punya anak sendiri bersama Bunda akan tetapi kasih sayang Papah padanya masih tetap sama bahkan bertambah.


'Aku semakin merasa tak ada apa apa nya di bandingkan Rangga, dia selalu bisa membuat putraku merasa bahagia.' batin Regar melihat kebahagiaan putranya yang tak pernah ia lihat dan rasakan saat mereka bersama karena Arka hanya akan tersenyum ramah saja padanya.


Tiga jam lagi terlewati, akhirnya mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dengan aksen kuno namun tetap terlihat indah. Arka, Habibi dan Regar segera turun setelah pintu mobil mereka di bukakan oleh anak buah Rangga yang akan mengawal mereka selama berada di sana.


"Apa ini tempatnya?" tanya Regar pada pria yang sejak tadi menjeaskan segalanya pada mereka bertiga.


"Benar Tuan, dan Dokter Karina sudah menunggu di dalam.." jawab pria itu. Regar menatap pria di hadapannya karena tadi ia mendengar jika Dokter Karina sudah menunggu kedatangan mereka.


"Menunggu!" ulang Regar dengan tatapan meminta penjelasan.


"Benar Tuan. Tuan Rangga sudah mengatakan pada Dokter Karina agar mau menerima dan merawat Nona Wulan dan mengosongkan jadwal pengobatannya pada pasien lain." jawab pria itu sopan, dan lagi ketiga orang itu hanya diam dengan rasa kagum masing masing.


'Lagi lagi, Rangga sudah membantuku..' batin Regar.


Merekapun segera masuk dengan Wulan yang di letakan di atas brangkar dan menuju ke dalam rumah itu.


"Mari Tuan silahkan..." pria yang mengawal merekapun mempersilahkan Arka, Habibi dan Regar untuk masuk lebih dulu sedangkan dirinya juga yang lain akan membantu para Dokter membawa Wulan msuk ke dalam ruangan yang sudah di sipakan oleh Dokte Karina.

__ADS_1


"Selamat datang Tuan..." sapa seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan.


"Tuan Regar!" ucap wanita itu menatap Regar yang segera mengangguk.


"Mari, ikut saya ke ruangan Dokter Karina karena Beliau sudah menunggu kedatangan kalian.." ucapnya lagi. Regar kembali mengangguk dan mengikuti langkah wanita paruh baya yang ia tebak adalah pelayan Dokter Karina, sampai langkah wanita itu terhenti di sebuah ruangan cukup besar.


"Sialhkan Tuan, Dokter Karina ada di dalam.." ucap wanita itu mempersilahkan Regar untuk masuk. Tanpa banyak bicara, Regar segera masuk den melebarkan pandangannya ke seluruh ruangan saat ia benar benar telah masuk dan menutup pintu ruangan itu.


"Duduklah Tuan Regar!" suara seorang wanita yang terdengar tegas dan berwibawa membuat Regar mengalihkan pandangannya ke arah samping dan melihat sosok wanita paruh baya yang sedikit lebih tua dari wanita yang mengantarnya tadi.


Regar segera duduk dan tetap setia dalam diamnya, menatap wanita yang ia ketahui pasti Dokter Karina setelah melihat nama di jas berwarna putih yang ia pakai.


"Anda Tuan Regar?" tanya Dokter Karina


"Ya, saya Regar.." jawab Regar tenang.


"Mmmm, saya sudah di beritahu oleh Tuan Rangga tentang anda dan saya akan lihat separah apa penyakit anak anda.." ucap Dokter Karina tegas tanpa senyum sedikitpun membuat Regar merasa canggung.


"Anda mengenal Rangga?" entah mengapa pertanyaan itu justru keluar dari bibir Regar membuat Dokter Karina tersenyum tipis.


"Ya, tentu saja Tuan, karena dia adalah keponakanku jadi tentu saja aku mengenalnya.." jawab Dokter Karina dengan senyuman tipis. Regar tersentak kaget mendengar pengakuan dari Dokter Karina, mau percaya tapi rasanya tak mungkin, namun tak percayapun rasanya tak ada kebohongan dari Dokter Karina.


"keponakan!" hanya itu yang bisa Regar keluarkan dari bibirnya.


"Ya, kami memang terpisah karena suamiku harus pindah ke pualu terpencil ini begitupun diriku jadi sudah sangat lama kami tidak bertemu tapi tentu saja aku mengenal keponakanku Tuan, karena dia adalah keponakan kesayangan suamiku.." jawab Dokter Karina tanpa ragu membuat Regar percaya saja.


"Pelayanku tadi akan mengantarkan kalian ke kamar kalian masing masing." Dokter Karina memanggil pelayannya yang tadi mengantar Regar.


"Dia Suni, dan dia yang akan melayani kalian selama berada di kediaman ku ini.." jelasnya pada Regar saat melihat Bu Suni yang sudah masuk ke dalam ruangan Dokter Karina.


"Sun, kau antarkan mereka ke kamar yang sudah di siapkan dan juga layani mereka sebaik mungkin karena mereka adalah teman keponakanku dan ya, utamakan cucuku Arka.." jelasnya pada Bu Suni yang hanya mengangguk dan terus menundukkan pandangannya.


"Ikutilah Bu Suni, dia akan mengantar kalian ke kamar." ucap Dokter Karina sopan namun tetap tegas.


"Terimakasih.." ujar Regar tulus, ia pun sedikit menundukkan wajahnya untuk memberi hormat pada Dokter Karina yang malah tersenyum melihatnya.


Regar segera keluar dari ruang Dokter Karina dengan segala perasaan di hatinya juga berbagai macam fikiran di benaknya, apalagi setelah ia tahu jika Dokter Karina ternyata adalah Bibi dari Rangga bertambah lah rasa hutang budi di hatinya.


"Yah!" Arka dan Habibi menunggu Regar di ruang tamu di temani oleh dua pengawal dari Rangga untuk Arka.


"Mari Tuan Arka, saya akan antarkan kalian ke kamar lebih dulu dan Nyonya Besar akan memeriksa kondisi Nona Wulan.." ucap wanita paruh baya itu sopan.


"Ayo Nak, kita ikuti Bu Suni dulu.." ajak Regar, Arka dan Habibi hanya mengangguk setuju hingga mereka bertiga di antar ke kamar masing masing, namun karena Arka dan Habibi ingin satu kamar akhirnya Habibi pun pindah ke kamar Arka yang ternyata lebih luas dari kamarnya.


"Ka, aku merasa jika kau sangat di spesialkan!" ucap Habibi asal, Arka menyenggol lengannya dan menatap tajam agar Habibi tak sembarangan bicara. Namun perkataan Habibi barusan terdengar oleh Dokter Karina yang tak sengaja melewati mereka.

__ADS_1


"Tentu saja!" sahut Dokter Karina dengan senyum hangat pada Arka dan Habibi berbeda saat berhadapan dengan Regar. Arka juga Habibi pun terkejut karena kedatangan Dokter Karina yang tiba tiba saja muncul di hadapan mereka kecuali Bu Suni yang malah tersenyum.


"Nyonya.." sapa Bu Suni menundukkan sedikit kepalanya juga badannya.


"Pergilah aku yang akan mengantar cucuku." ucap Dokter Karina. Bu Suni hanya mengangguk dan kembali memberikan hormat pada Nyonya Besar nya dan berlalu pergi meninggalkan ketiganya.


'Cucu!' batin Arka menatap ke arah Dokter Karina yang tentu saja mengerti akan tatapan anak muda di hadapannya ini.


"Kau masuk lah anak muda, dan Arka ikut Oma sekarang!" ucap Dokter Karina dan berlalu begitu saja. Habibi dan Arka saling pandang, dan tetap diam di tempat sampai Dokter Karina berbalik dan menatap keduanya. Habibi yang merasa terintimidasi akan tatapan Dokter Karina pun memutuskan masuk ke dalam kamar mereka sedangkan Arka terpaksa harus ikut dengan Dokter Karina yang kembali berjalan di depannya.


"Gue duluan, rasanya tatapan tuh Dokter serem banget.." bisik Habibi dan langsung saja masuk tanpa menunggu jawaban Arka.


"Dasar temen gak setia, main tinggal aja.." gumam Arka yang akhirnya terpaksa mengikuti langkah Dokter Karina menuju ke sebuah taman mini di belakang rumah besar milik Dokter Karina.


"Duduk Nak!" ucap Dokter Karina lembut sambil menepuk sisi kanannya agar Arka duduk di sana.


Arka segera berjalan mendekati Dokter Karina dan duduk seperti yang di perintahkan wanita itu tanpa suara yang keluar dari mulutnya.


"Aku senang akhirnya Rangga mau mempertemukan aku dengan cucuku, walaupun aku harus sedikit memaksanya.." ucap Dokter Karina memandang hamparan bunga berwarna warni di hadapan mereka. Arka sontak kaget mendengar ucapan Dokter Karina, cucu! siapa yang di maksud!


"Cucu!" ulang Arka menatap Dokter Karina yang segera menoleh ke arahnya.


"Ya, kau cucuku anak Rangga.." jawab Dokter Karina tersenyum hangat.


"Tapi aku-" Arka menghentikan ucapannya saat melihat anggukkan kepala dari wanita di sampingnya.


"Oma tahu! kalian bukan Ayah dan Anak kandung tapi aku juga tahu betapa besarnya Rangga menyayangimu bahkan melebihi sayangnya pada anaknya sendiri Daneen.." ucap Dokter Karina masih setia dengan senyuman hangatnya. Arka kembali tersentak kaget mendapati jawaban Dokter Karina.


"Anda-" Arka kembali menghentikan ucapannya saat lagi lagi melihat anggukkan kepala Dokter Karina.


"Ya, aku adalah Bibi Papahmu dan itu artinya aku adalah Oma mu, dan aku paham mengapa Rangga begitu menyayangimu juga Bundamu Nak.." ucap Dokter Karina yang paham mengapa keponakannya itu begitu menyayangi anak dari istrinya.


"Baiklah! sebaiknya kau juga istirahat dan mulai sekarang panggil aku Oma seperti kau memanggil Oma pada Mamah Papahmu. Paham!" ucap Dokter Karina, meski ragu dan masih bingung namun Arka tetap mengangguk setuju, biarlah nanti ia akan bertanya pada Papahnya. Akan tetapi ada satu kebenaran yang terungkap jika ternyata Papah Rangga begitu menyayanginya bahkan lebih dari pada adiknya Daneen anak kandung Papahnya juga Bunda.


Arka sudah kembali ke kamarnya dan melihat Habibi yang sudah tidur dengan lelap karena kelelahan setelah menempuh perjalanan yang panjang dan waktu yang lama.


"Ah! mengapa aku merasa seperti Tuan Muda saja saat berada di sini.." gumamnya, senyumanya tak pernah luntur setelah tadi berbincang bincang dengan Oma Karina.


"Ternyata Papah sangat menyayangiku bahkan lebih dari pada Daneen, aku benar benar tak menyangka.." lanjutnya semakin melebarkan senyumannya.


"Makasih Pah, setelah aku kembali nanti, Arka akan langsung meluk Papah dan mengatakan jika Arka juga sangat menyayangi Papah." ucap Arka, ia segera merebahkan tubuhnya di samping Habibi dan ikut menyusul sahabatnya itu ke alam mimpi karena besok mereka akan menemui Wulan yang akan memulai perawatan bersama Dokter Karina yang ia tahu adalah Omanya.


Lanjut lagi nih...


Makasih orang baik...

__ADS_1


😊🙏🙏


__ADS_2