Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Menemukan Sesuatu


__ADS_3

Keesokkan pagi nya, seperti yang sudah di rencanakan ketiga sahabat itu menuju ke tempat yang telah mereka ketahui adalah kediaman Mamah Kalisa.


"Loe yakin ini tempat nya?" tanya Kana ragu


Mereka sudah berdiri tepat didepan gerbang yang besar di mana di hadapa nya mereka terdapat rumah yang sangat newah dan besar pulan, namun terlihat begitu sunyi dan sepi.


"Ya, dan kita harus masuk bagaimana pun cara nya.." jawab Wulan masih fokus memandanfi kediaman Mamah Kalisa.


"Gimana cara nya kita masuk Lan?" tanya Fatimah bingung karena tak melihat satu pun orang yang ada di sana.


Wulan nampak berfikir dan sesaat kemudian seseorang keluar dari dalam rumah besar itu.


Wulan tersenyym tipis. "Kita akan masuk..." ucap nya sambil menunjuk seorang pria paruh baya yang baru saja keluar dan berjalan ke arah mereka dengan tatapan penuh tanya.


"Permisi..." teriak Wulan sambil melambaikan tangan nya


Pria itu hanya diam dan terus berjalan ke arah mereka hingga ia sampai di hadapan Wulan barulah ia bertanya dengan nada dingin.


"Siapa kalian?" tanya nya penuh selidik menatap Wulan juga kedua sahabat nya secara bergantian


"Saya Wulan, ini Kana dan ini Fatimah..." jawab Wulan dengan senyum ramah, namun tidak dengan pria paruh baya itu yang nampak tak suka.


"Ada perlu apa kalian ke sini?" tanya lagi tanpa perduli ucapan Wulan.


Wulan sejenak menarik nafas. "Kami ingin melihat rumah ini, bukankah pemilik nya akan menjual nya?" Wulan tak menjawab justru ia memberian pertanyaan.


Lagi lagi pria itu menatap Wula juga kedua sahabat nya secara seksama seolah tak percaya dan sangat meragukan akan ucapan gadis belia di hadapan nya kini.


"Pergilah, sebelum saya panggil satpam.." ucap pria itu dan hendak berbalik meninggalkan ketiga nya.


Wulan merasa kesal begitupun Kan akan tetapi tidak dengan Fatimah yang justru tersenyum. "Hei, apa Anda meragukan kami tak punya uang?" pertanyaan Fatimah sontak membuat pria yang hendak pergi kembali membalikkan tubuh nya menghadap mereka lagi.


"Kami punya uang, dan Anda tak perlu meragukan itu jadi buka saja gerbang nya dan biarkan kami masuk. Atau!" Fatimah menggantung ucapan nya dengan senyum miring.


Pria paruh baya itu menautkan kedua alisnya menatap Fatimah yang cukup berani di hadapan nya.


"Kami akan langsung menghubungi Nyonya besar mu!" lanjut Fatimah tak lagi menatap pria di hadapan nya dan asik memainkan kuku ny yang panjang.


Pria paruh baya itu diam sesaat, dan beberapa detik berikutnya ia membuka gerbang dan mempersilahkan mereka masuk masih dengan wajah juga tatapan yang sama.


Wulan, Kana juga Fatimah saling menatap lalu tersenyum. Ketiga nya masuk bersamaan dan berjalan tepat di belakang pria paruh baya itu.


"Paman, siapa nama Anda?" tanya Wulan


"Hendrik.." jawab Hendrik


"Paman, berapa lama rumah ini kosong?" lanjut Wulan lagi setelah ia memperhatikan sekitarnya yang nampak bersih dan rapi.


"Sudah hampir 1 tahun yang lalu.." jawab Hendrik tanpa berbalik bahkan nada bicara nya masih sama.


Wulan kembali menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan. "Benarkah! tapi terlihat sangat rapo dan bersih bahkan aku kira masih ada orang yang tinggal di sini!" lanjut Wulan seolah bingung


"Setiap satu minggu akan ada tukang bersih yang datang dan membersihkan seluruh ruangan.." jawab Hendrik lagi dan mereka tiba di ruang tamu yang sangat besar.


Wulan dan kedua sahabat nya sangat takjub dan kagum akan keindahan juga kemewahan kediaman Mamah Kalisa, bahkan tak henti henti mereka memuji setiap ruangan yang mereka lewati.

__ADS_1


"Wowww, keren..." gumam Fatimah dengan mata melebar.


Hendrik hanya memperhatikan ketiga nya, meski masih agak ragu namun ia tetap diam.


"Paman aku ingin ke atas apa boleh?" tanya Wulan menatap Hendrik yang hanya mengangguk.


"Paman aku ingin ke melihat dapur!" sahut Fatimah


"Aku akan tetap di sini.." ujar Kana masih memperhatikan setia sudut ruangan dan mencari sesuatu.


Hendrik menuntun Wulan naik ke atas sedangkan Fatimah menuju dapur setelah di beri petunjuk oleh Hendrik.


"Ada berapa kamar di rumah ini?" tanya Wulan, mata nya terus menyusuri setiap tempat yang ia lewati.


"Ada 10 kamar, 5 di bawah dan 5 di atas..." jawab Hendrik berjalan tepat di belakang Wulan.


"hmmm, memang dulu berapa orang yang tinggal di sini! kenapa ada banyak kamar?" tanya Wulan


"Hanya dua..." jawab Hendrik


Wulan menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap tak percaya pada ucapan Hendrik. "Benarkah! hanya berdua di rumah sebesar ini?" tanya Wulan lagi, wajahnya begitu meyakinkan.


Hendrik hanya mengangguk menatap Wulan.


"Apa mereka gak punya anak!" gumam Wulan mengalihkan pandangan ny ke arah lain.


"Nyonya tinggal bersama putri nya.." ujar Hendrik spontan.


Wulan sedikit tersenyum. "Ehhh, lalu suami nya?" tanya Wulan dengan wajah penasaran.


"Mereka sudah berpisah.." jawab Hendrik tanpa ekspresi.


Wulan dan Hendrik tiba di salah satu kamar cukup besar. "Apa aku boleh masuk?" tanya Wulan menatap Hendrik yang hanya mengangguk kemudian mengambil kunci di dalam laci dekat pintu kamar.


Setiap di depan kamar ada meja kecil dan terdapat laci kecil di sana untuk menyimpan kunci cadangan.


"Terima kasih..." ucap Wulan tersenyum ke arah Hendrik dan segera masuk ke dalam sana.


'Ini bukan kamar Kak Kalisa...' batin Wulan memperhatian setiap sudut. ruangan dan mencari sesuatu namun tak ia temukan apapun karena hanya ada perlengkapan kamar saja.


"Kita lanjut Paman..." ucap Wulan segera keluar dan menuju kamar berikutnya..


Hingga tiba di kamar no 4 Wulan terus mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk.


"Ini kamar siapa Paman, kelihatan nya jauh lebih besar dari kamar sebelumnya?" tanya Wulan penasaran.


"Kamar Nyonya.." jawab Hendrik maaih berdiri di belakang Wulan.


"Ohhh..." Wulan hanya beroh saja, ia segera menelusuri setiap tempat yang bisa ia temukan apapun. Sayangnya tak satupun petunjuk yang bisa ia temukan di sana.


Wulan keluar dengan kecewa, ia kembali menuju kamar terakhir. "Wah, kamarnya bagus banget..." gumam Wulan namun masih bisa di dengar oleh Hendrik.


"Ini kamar Nona Muda..." ucap Hendrik


Wulan manggut manggut, ia segera masuk ke dalam sana dan memperhatikan dengan seksama.

__ADS_1


'Gue harus mencari sesuatu yang bisa aku jadikan petunjuk di sini..' batin Wulan


'Tapi gue gak bisa leluasa kalo Paman ini terus ngikitin gue...' lanjutnya melirik Hendrik yang setia berdiri di ambang pintu.


Cukup lama Wulan di sana, hingga Kana menghampiri mereka.


"Paman, aku ingin melihat kamar kamar di bawah tapi gak bisa di buka!" ucap Kana


Hendrik nampak berfikir, sejenak ia menatap Wulan yang masih berkeliling seolah mengagumi kamar Nona Muda nya kemudian menatap Kana.


"Baiklah.." ucap Hendrik kemudian mereka pun turun ke lantai bawah setelah memberi tahu Wulan.


'Kesempatan, thank's kan...' batin Wulan, ia segera mencari apapun yang bisa ia temukan.


Setiap tempat dan sudut ruangan di dalam kamar itu tak luput menjadi perhatian Wulan. Sudah cukup lama akan tetapi ia belum menemukan apapun.


"Sama sekali gak ada apapun yang bisa gue temui di sini! seperti nya semua barang Kak Kalisa udah di simpan di tempat lain atau mungkin udah di buang, tapi itu gak mungkin." gumam Wulan merasa putus asa karena tak menemukan apapun di sana.


Wulan yang putus asa hendak pergi meninggalkan kamar Kalisa yang sudah kosong dari barang barang pemiliknya, namun ia tak sengaja menyenggol sesuatu hingga hampir terjatuh jika saja reflek nya tak cepat untuk menangkap barang tersebut.


"Uhhh, hampir aja..." ucap Wulan, ia segera memperbaiki barang itu. Saat akan kembali meletakkan barang yang hampor jatuh Wulan tak sengaja menemukan kotak kecil, benar benar kecil ia segera mengambil nya dan menyimpan nya ke dalam tas karena tak lama terdengan suara langkah kaki dari luar.


"Apa Nona sudah selesai?" tanya Hendrik yang baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar.


"Ya...." jawab Wulan tersenyum, meski jantung nya masih berdetak tak karuan.


Kedua kembali turun ke bawah dan ternyata Kana juga Fatimah pun sudah berada di ruang tamu.


"Kalian udah selesai?" tanya Wulan, kedua sahabat nya mengangguk bersamaan.


"Baiklah Paman kami akan pergi, tapi jika nanti kami jadi membeli siapa yang harus kami hubungi?" tanya Wulan


Hendrik diam dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana nya. "Ini, kalian bisa hubungi ku.." Hendrik memberikan kartu nama nya pada Wulan.


"Baiklah Paman, jika begitu kami permisi dulu..." ucap Wulan, mereka sedikit menundukan kepala kemudian berjalan berdampingan menuju ke arah pintu utama.


"Kalian menemukan sesuatu gak?" tanya Wulan saat mereka sudah berada di dalam mobil


Kana dan Fatimah menggelengkan kepala secara bersamaan, raut wajah kecewa juga sedih terpancar dari mereka.


"Hahhh, ya udahlah mungkin mereka sengaja menyimpan semua barang yang bersangkutan dengan Kak Kalisa.." ucap Wulan juga sedih, namun saat ia mengingat sesuatu, wajah gadis itu sedikit berubah.


"Oh iya, gue nemu sesuatu tadi.." gumam Wulan segera mengambil kotak kecil yang ia temukan.


"Apa itu Lan?" tanya Kana ikut penasaran.


Wulan menggelengkan kepala nya.


"Buka aja..." sahut Fatimah dan kedua sahabat nya mengangguk setelah saling pandang.


Wulan perlahan membuka kota kecil yang ia temukan, dan mata melebar saat nelihat isi dati kotak tersebut.


"Ini!" gumam Wulan, Kana juga Fatimah pun ikut membulatkan mata mereka.


Lanjut up....

__ADS_1


Makasih...


😊🙏🙏


__ADS_2