
Sudah dua hari ini Syakira izin pada Rani tidak ke Cafe dengan alasan kurang enak badan, ya walaupun memang sedikit benar karena sejak hari di mana ia bertemu dengan mantan suaminya, Syakira drop namun alasan utamanya adalah karena ia takut jika nanti Regar mantan suaminya itu kembali datang menemui dirinya.
"Bunda gak kerja lagi?" tanya Arka saat melihat Bunda nya masih memakai baju santay.
"gak dulu, kenapa?" jawaban sekaligus pertanyaan Syakira lontarkan pada putranya Arka yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Bunda masih sakit?" Arka justru balik bertanya karena tak biasanya sang Bunda tak kerja.
"Sedikit..." jawab Syakira tersenyum hangat ke arah putranya.
"Istirahat Bun, jangan kemana mana..." ucap Arka mendekat ke arah Syakira dan menuntunnya ke sofa ruang tamu.
"Eh, Bunda gak sakit sakit amat kok Nak." ucap Syakira kaget dengan perlakuan sang putra yang sudah seperti suami yang siaga saja, namun tak di hiraukan Arka ia tetap menuntun sang Bunda hingga duduk di sofa.
"Arka berangkat, Bunda jangan kemana mana kalo ada apa apa mintak tolong sama tante saja." ujar Arka kemudian mencium tangan juga pipi Syakira. Syakira hanya diam dengan apa yang di lakukan anaknya, namun senyumannya terlihat jelas di bibirnya yang indah.
"Makasih sayang, kamu hati hati jangan ngebut ngebut ya." ucap Syakira saat Arka hendak pergi
"Ya, Arka berangkat. Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..."
Arka berangkat menggunakan motor gedenya, tepat jam tujuh pagi ia sudah tiba di sekolah karena memang jarak rumah dengan sekolah nya tak begitu jauh hanya butuh waktu setengah jam saja jika menggunakan kendaraan.
Arka segera memarkirkan motornya kemudian berjalan dengan santay ke ruang kelas dengan tangan di maksukkan ke dalam saku celananya membuat ketampanan serta ke coolan nya bertambah.
"Arka....." teriak seorang wanita dari arah belakang Arka yang segera menoleh dan kembali berjalan setelah melihat siapa yang memanggilnya.
"Arkaa...." panggil wanita itu lagi berlari kecil ke arah Arka yang sama sekali tak memperdulikannya.
"Tunggu dong.." lanjutnya saat ia sudah mengejar langkah Arka dan mensejajarkan langkahnya.
"Jangan ganggu aku Wulan..." ucap Arka tanpa menoleh, membuat Wulan kesal setengah mati.
("Susah banget sih nyentuh kamu Arka") batin Wukan wajahnya sudah merengut
"Pulang sekolah aku ikut kamu yah!" ucap nya terus berusaha mendekati Arka pria yang terkenal dingin dan cuek saat bersama dengan wanita.
"Gak boleh." jawab Arka mempercepat langkahnya hingga gadis di sampingnya kini tertinggal jauh di belakang. Wulan tak mengejar, ia justru berjalan berlawanan ke arah kantin.
"Weyyy..." teriak teman Wulan yang melihat temannya itu hanya melamun tanpa menyentuh makanan yang ada di hadapannya.
"Apaan sih Tari.." ujar Wulan makin kesal
"Lo kenapa pagi pagi dah ngelamun aja, kesambet loh ntar!" ucapnya duduk di sebelah Wulan dan mengambil makanan milik temannya itu.
"Gue makan ya?" tanya nya dan langsung menyantapnya sebelum di jawab pemiliknya.
"Gue lagi kesel, loe malah bikin gue tambah kesel..." ungkapnya melirik Tari yang sedang memakan makanannya
"Sorry, dari pada mubazir.." jawab Tari setelah menghabiskan makanan Wulan yang belum tersentuh.
"Emangnya kenapa loe kesel?" tanyanya
"Pasti karena Arka kan?" lanjut Tari menebak jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Menurut loe, siapa lagi kalo bukan si es batu itu..." jawabnya makin kesal saat mengingat sikap Arka yang begitu dingin terhadap dirinya.
"Sabar, kan loe sendiri yang mau ngejer dia padahal gue sama yang laen udah kasih tahu loe kalo tuh orang kayak es batu, dingin dan gak tersentuh.." ucap Tari mencoba menenagkan Wulan, namun bukannya tenang Wulan semakin kesal.
"Ya gue tahu, tapi ini udah hampir tiga bulan gue coba buat deketin dia, tapi tetap aja gak bisa."
__ADS_1
"Gue tuh beneran suka tahu sama dia, walaupun awalnya cuma taruhan tapi entah kenapa gue malah jatuh hati beneran sama es batu itu. akhh sial..." ucapnya meluapkan segala kekesalan dan unek unek di hatinya pada Tari yang hanya diam mendengarkan curhatan teman sekelasnya itu.
"Sabar sabar, jangan emosi ntar cantiknya berkurang loh.." ujar Tari membuat Wulan melotot kearahnya.
"Gue yakin pasti lama lama Arka bakalan luluh sama usaha loe buat deketin dia, sabar aja.." lanjut Tari setelah melihat tatapan dari Wulan.
"Gak ada yang gak mungkin kan!" Tari kembali memberikan kata kata yang mampu mengembalikan mood Wulan.
"Mungkin, semoga!" ucapnya...
Dari tempat lain, Arka mendengarkan semua perbincangan kedua gadis di hadapannya yang sedang membicarakan dirinya.
"Sampai kapanpun kita gak akan bisa bersama.."
"Itu karena kamu adalah adik aku Wulan..." Arka menatap Wulan dengan tatapan yang sulit di artikan, ada kebencian dalam tatapan itu.
Arka sudah tahu jika Wulan adalah adiknya. Ketika tanpa sengaja ia melihat Wulan di antar oleh Regar Ayah kandungnya ke sekolah, bahkan ia bisa melihat kedekatan antara anak dan Ayah yang selalu ia impikan selama ini namun tak pernah di dapat.
Sejak saat itulah Arka semakin dingin terhadap Wulan, jangankan bicara lembut bahkan menatap saja ia enggan. Arka semakin tak tersentuh oleh Wulan yang belum mengetahui jika ia dan Arka adalah saudara.
"Mungkin kamu gak salah, karena kita sama sama korban hanya saja aku merasa terbuang dan mungkin itu sejak kehadiran dirimu juga saudaramu." lirih Arka sangat pelan hingga tak ada yang mendengar perkataannya. Arka kembali ke dalam kelas, ia tak jadi ke kantin setelah melihat dan mendengar percakapan Wulan juga Tari.
Bel pun berbunyi, tanda jika pelajaran akan segera di mulai. Semua siswa sudah masuk dan duduk di tempat mereka masing masing, sedangkan guru sudah mulai menerangkan pelajaran hari ini hingga selesai.
"Tugas kalian minggu depan bernegosiasi, bebas tentang apa saja.." jelas guru di hadapan mereka
"Bu, berarti berkelompok ya?" tanya Wulan setelah mengangkat tangannya
"Ya, kalian bisa memilih sendiri."
"Bu, gue eh, saya mau satu kelompok sama Arka!" lanjut Wulan semangat, namun Arka dengan cepat memgangkat tangannya dan mengatakan jika ia sudah punya pilihan kelompok sendiri dan mengajak teman satu bangkunya untuk berdiri.
"Saya sudah satu kelompok dengan Ihsan.." lanjut Arka kemudian kembali duduk. Ihsan tak mengerti dengan yang di makaud Arka, karena sejak tadi ia tertidur di kelas padahal pelajaran sedang di mulai. Wulan menatap kesal ke arah Arka yang terlihat biasa saja. ("Awas aja kamu Arka!") batin Wulan tak lagi bicara. Hingga jam terakhir Wulan hanya diam seribu bahasa, bahkan ia tak pergi ke kantin saat jam istirahat dan memilih pergi ke taman untuk menenangkan fikirannya.
"Mah, Wulan ingin ketemu Mamah dan melihat wajah cantik Mamah." lirih Wulan saat sudah berada di taman. Arka yang kebetulan ada di sanapun mendengar semua yang di katakan Wulan, jarak mereka tak. jauh hanya terhalang pohon yang sangat besar.
"Mah, andai Mamah masih di sini dan bisa menemani Wulan, pasti Wulan gak akan sesakit ini." lanjutnya semakin terisak.
"Mamah Maya juga sudah bisa menerima Wulan, tapi sekarang Mamah Maya dan Papah sudah tidak tinggal bersama lagi. Wulan sedih Mah..." Wulan semakin terisak, dadanya begitu nyeri mengetahui segalanya. Arka yang mendengar ucapan Wulan ikut terkejut dan matanya sudah melotot sempurna tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
("Jadi Wulan bukan anak wanita itu, lalu siapa ibunya?") batin Arka tetap diam di tempatnya dan terus mengawasi Wulan yang semakin menangis.
"Mah, Wulan ingin ketemu Mamah rasanya sangat lelah dan sakit..." lanjut Wulan memegang dadanya yang semakin nyeri, hingga beberapa detik berikutnya ia jatuh dan tak sadarkan diri. Melihat Wulan yang tiba tiba pingsan di hadapannya membuat Arka panik dan segera berlari ke arah adiknya itu.
"Wulan..." panggil Arka saat Wulan sudah berada di pangkuannya.
"A..rka.." ucapnya lirih kemudian menutup matanya.
"Wulan, bangun..." teriak Arka namun sudah tak bisa di dengar lagi oleh Wulan. Arka segera menggendong Wulan dan membawanya ke ruang UKS, ia sangat panik melihat kondisi Wulan yang smakin lemah dan pucat.
"Bu, apa kita bawak ke dokter saja?" tanya Arka pada guru yang mencoba merawat Wulan.
"Sperti nya kita memang harus membawa Wulan ke rumah sakit.." jawab Gurunya. Akhirnya mereka membawa Wulan ke rumah sakit terdekat dan melarikannya ke ruang ICU agar bisa segera mendapatkan penanganan.
Satu jam dokter belum juga keluar membuat Arka dan guru yang mengantarnya semakin khawatir.
"Dok, gimana keadaannya?" tanya Guru yang membawa Wulan ke Rumah Sakit bersama Arka.
"Anda orang tuanya?" tanya Dokter
"Saya gurunya..."
__ADS_1
"Kalo begitu jika nanti orang tua atau keluarga nya sudah datang suruh ke ruangan saya."
"Baik Dok, tapi kami bisa menjenguk Wulan kan?"
"Boleh, tapi pasien harus istirahat karena kondisinya sangat lemah." jawab Dokter kemudian berjalan ke ruangannya.
"Bu, Arka izon ke toilet sebentar." izin Arka dan langsung di anggukan kepala oleh gurunya.
tok tok tok
"Masuk..." ucap Dokter mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk, ia fikir itu adalah orang tua pasien bernama Wulan.
"Dokter.." panggil Arka. Ya orang itu adalah Arka.
"Kamu yang tadi ikut mengantar pasien kan?" tanya Dokter saat melihat Arka.
"Saya ingin tahu kondisi pasien Dok?" ucap Arka serius.
"Maaf, saya hanya bisa menyampaikannya pada orang tua atau keluarganya saja. Memang adek siapanya?" tanya Dokter tetap ramah
"Saya, saya Kakaknya Dok." jawab Arka membuka identitasnya di hadapan Dokter yang menangani adiknya Wulan.
"Oh, kamu Kakaknya!"
"Jadi begini, adik kamu memiliki riwayat jantung lemah." terang Dokter
"Apa itu berbahaya Dok?" tanya Arka
"Tidak, namun jika dia mengalami sebuah guncangan serti misalnya terlalu sedih atau terlalu bahagia itu juga bisa sangat mempengaruhi kesehatannya." jawab Dokter
"Saya mengerti, terimakasih Dok. Saya permisi.." ucap Arka kemudian keluar dari ruangan Dokter.
Saat Arka hendak kembali ke ruangan Wulan, ia melihat jika Ayahnya juga Papahnya Wulan sudah datang, dengan cepat ia bersembunyi agar tak bertemu dengan Regar Ayahnya.
"Wulan..." ucap Regar saat membuka pintu ruangan Wulan bersama dengan Risa.
"Dek.." panghil Risa saat melihat kondisi adiknya yang memprihatinkan.
"Bu, apa yang terjadi? kenapa anak saya bisa seperti ini?" tanya Regar menatap Guru yang segera berdiri saat melihat Regar.
"Saya juga tidak tahu pak, tadi Arka yang menggendong Wulan ke UKS dan kami langsung membawanya k sini karena Wulan terlihat semakin pucat." jawab Guru yang masih berdiri di hadapan Regar. Regar kembali menatap sedih putrynya yang saat ini masih belum sadar karena pengaruh obat.
"Sayang, Nak ini Papah dan Kak Risa. Bangun sayang.." ucap Regar memegang wajah anaknya
"Dek, bangun..." Risa juga ikut menangis melihat kondisi Wulan. Walaupun mereka bukanlah Kakak dan Adik kandung namun rasa sayangnya pada Wulan tak pernah berkurang.
("Sesayang itu Ayah dengannya, sampai aku dan Bunda harus Ayah singkirkan.") batin Arka hatinya juga terasa sakit saat melihat Ayahnya yang sangat mengkhawatirkan salah satu anaknya.
"Bukankah itu Kak Risa, yang kerja di Cafe Bunda?" ucap Arka pelan saat ia baru sadar jika Risa juga ada di sana. Arka pernah bertemu dengan Risa saat ia pergi Cafe Bundanya dan sempat berkenalan dengannya.
"Jadi, Kak Risa anak Ayah! tapi kenapa kerja di tempat Bunda?" lanjutnya tak mengerti dengan situasi saat itu, karena ia tahu jika Ayahnya adalah salah satu orang terkaya di kota ini jadi mana mungkin ia membiarkan anaknya bekerja seperti yang Risa lakukan.
Arka memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke sekolah untuk mengambil tasnya yang ia tinggal karena mengantar Wulan ke rumah sakit, barulah ia pulang ke rumah dengan segala macam perasaan di hatinya...
Up lagi nih....
Makasih yang udah mau mampir baca, jangan lupa like dan komen yang mendukung ya, biar Author juga makin semangat berjuang...
Makasih orang baik.....
🙏🙏🙏
__ADS_1