Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Dapat Restu


__ADS_3

Malam hari, keluarga Papah Regar berkumpul di ruang tamu atas permintaan Wulan. Kebetulan Arka dan Risa pun ada di sana sehingga mereka seperti sedang kumpul keluarga saja.


"Ada apa Nak? kok tumben kamu nyuruh kumpul!" tanya Papah Regar penasaran sekaligus heran.


Wulan tersenyum. "Wulan mau bicara sesuatu hal yang penting sama kalian semua.." jawab Wulan, ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nya perlahan.


"Pah Wulan mau nikah sama Habibi!" ucap Wulan lantang dan penuh keyakinan.


Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar perkataan Wulan yang ingin menikah, mata mereka melebar bahkan Risa sampai menganga tak mampu menahan rasa keterkejutannya.


"Menikah!" ulang Papah Regar menatap tak percaya anak gadisnya.


Wulan mengangguk semakin membuat semua orang seperti kehabisan nafas. "Wulan serius, tapi nikahnya bukan sekarang Pah.." jawab Wulan dan seketika semua orang menghembuskan nafas mereka bersamaan dengan wajah lega.


"Kau nih dek bikin Kakak jantungan aja sih!" ujar Risa memegang dadanya, sedang sang Suami hanya tersenyum melihat istrinya.


Wulan menaikan sebelah alisnya menatap semua orang. "tapi Wulan sama Habibi serius Pah, kami mau menikah..." tutur Wulan kembali menatap Papah nya serius.


Arka mengerutkan keningnya. "Kok tiba tiba sih dek?" tanya Arka yang sejak tadi hanya diam saja karena berfikir jika Wulan hanya sedang bercanda.


"Gak dadakan sih Kak, kan Kak Arka juga tahu kalo Habibi suka sama Wulan dan sebenernya Wulan juga suka sama Bibi, jadi kami mutusin buat nikah setelah lulus kuliah tapi nanti rencana nya mau tunangan dulu Kak, Pah.." jawab Risa menjelaskan maksud dan keinginannya.


Papah mengangguk anggukkan kepalanya. "Kalo Papah sih terserah kamu saja Nak, yang penting kalian sudah yakin dengan keputusan kalian ini." ujar Papah tak ingin mengekang anak anaknya.


"Makasih Pah..." Wulan segera bangkit dari tempat nya kemudian memeluk Papahnya.


"Kalian udah yakin emang dek?" tanya Risa menatap adik kecilnya yang kini sudah dewasa ternyata.


Wulan mengangguk yakin. "Yakin banget Kak.." jawab Wulan tersenyum manis.


"Kalo loe Kak, gimana?" tanya Wulan menatap Arka yang hanya diam saja.


"Kakak cuma bisa dukung keputusan kamu dek, lagian Kakak juga yakin kok Bibi orang baik." jawab Arka tersenyum tipis.


Wulan semakin tersenyum lebar, ia menatap seluruh keluarganya dan kembali memeluk Papah Regar dari samping.


"Makasih semua.." ucap Wulan.


Setelah Wulan mengatakan rencananya bersama Habibi untuk bertunangan dan di setujui oleh seluruh keluarga, gadis itu segera memberi tahukan pada Habibi.

__ADS_1


'Bi, gue udah bicara sama Bokap dan Kak Arka, mereka setuju dan loe bisa ajak Nyokap loe buat ke rumah gue..' pesan Wulan yang ia kirimkan malam itu juga pada Habibi.


'Ok, gue juga baru ngomong sama Nyokap dan syukur Nyokap setuju aja..' balas Habibi.


Wulan tersenyum. 'Syukur deh, kalo gitu kapan loe mau ke rumah gue biar nanti gue bisa ngomong sama Bokap?'


'Nanti gue kabarin lagi, lagian kita juga satu kampus, satu kelas pula..' balas Habibi memberikan emot senyum manis dan love.


Wulan semakin tersenyum. 'Ok..." balas Wulan juga memberikan emot love.


Malam itu, Wulan dan Habibi bisa tidur dengan sangat nyenyak karena cinta mereka bisa berjalan mulus dan mendapat restu dari orang tua dan keluarga.


Pagi hari, Wulan dan Arka sudah siap untuk berangkat ke kampus bersama. Setelah sarapan keduannya langsung berangkat karena sama sama ada jam kuliah pagi jadi mereka harus berangkat pagi pagi.


"Kak..." panggil Wulan sedikit berteriak di telinga Arka karena mereka sedang naik motor.


"Gak usah teriak dek, Kakak denger ini!" jawab Arka, sedikit menoleh.


Wulan tersenyum. "Maaf, gue fikir loe gak denger..." ucap Wulan.


"Kenapa?" tanya Arka tetap fokus dengan jalanan.


"Gak!" jawab Arka.


Wulan mengerutkan keningnya. "Lah kok gak sih Kak?" tanya Wulan heran.


"Gak mungkin Kakak gak ngerestuin dek, lagian Kakak sama Habibi udah kenal lama dan Kakak yakin Bibi bisa buat kamu bahagia.." jawab Arka tersenyum di balik helm nya.


Sontak Wulan memukul pundak Arka cukup keras hingga pria itu meringis. "Kejam nya dek!" ujar Arka sedikit menoleh.


"Salah sendiri ngerjain gue, gue fikir loe beneran gak setuju tahu. Sebel gue..." sungut Wulan kesal, ia melepaskan pegangannya dari Arka dan melipat kedua tangannya di depan dada


"Maaf, pegangan lagi ntar kamu jatuh dek..." ucap Arka lembut, ia sedikit memelankan laju kendaraannya karena takut jika nanti Wulan jatuh.


Wulan mendengus kesal namun ia menuruti ucapan sang Kakak dan kembali berpegangan di pinggang Arka. "Nah gitukan anak baik..." ledek Arka semakin mempelebar senyumannya. Wulan hanya diam dan mengalihkan pandangannya menatap ke arah samping dengan wajah yang di tekuk sepanjang jalan.


"Dek, nanti pulangnya Kakak gak bisa anter ya, soalnya Kakak masih ada jam kuliah siang.." ujar Arka saat mereka sudah sampai di kampus dan jalan bersama.


"Hmmm." jawab Wulan hanya berdehem tanpa menghiraukan Kakaknya.

__ADS_1


Arka menoleh pada Wulan yang masih cemberut dan kesal padanya. "Maaf, Kakak cuma bercanda dek jangan di ambil hati ya!" rayu Arka merangkul pundak Wulan.


"Ya..." jawab Wulan pasrah. Keduanya berjalan bersama menuju kelas, dan Arka lebih dulu mengantar adiknya ke kelas baru lah ia menuju kelasnya sendiri yang sebenarnya berlawanan.


"Enak ya, punya Kakak!" ledek Kana yang melihat Wulan di antar Arka sampai depan kelas.


"Enak apanya, malu iya gue!" ucap Wulan masih dengan wajah kesal.


"Ya elah, beruntung loe punya Kakak kayak Arka, dah ganteng, genius, sayang sama loe adeknya, baik lagi..." ucap Fatimah yang membayangi wajah tampan Arka.


Wulan memukul lengan Fatimah. "Gak usah di bayangin..." ucap Wulan menatap dingin pada Fatimah yang mengelus lengannya.


"Ish, pelit banget sih Lan!" sungut Fatimah cemberut. Kana tertawa kecil melihat Fatimah yang cemberut.


"Biarin lah, Kakak Kakak gue..." jawab Wulan.


Habibi yang baru sampai segera menghampiri Wulan dan kedua sahabatnya, ia duduk tepat di hadapan gadis itu membuat Wulan sedikit salah tingkah dan malu karena sejak masuk Habibi terus menatapnya dengan senyuman lembut.


"Khem...." Kana berdehem, mengalihkan dua orang yang saling tatap tatapan tanpa melihat situasi di mana ada dirinya juga Fatimah di sana.


"Wey, kalo mau tatap tatapan jangan di sini dong, gak kasihan apa noh ama jomblo!" ujar Kana melirik Fatimah yang semakin cemberut karena hanya dirinya saja yang memang tak pernah menjalin hubungan dengan pria sejak SMA setelah sempat patah hati saat SMP.


"Gue lagi..." gumam Fatimah membuang wajahnya ke arah luar jendela.


Wulan, Habibi dan Kana tertawa kecil melihat Fatimah yang kian kesal.


"Nanti pulang bareng ya!" ajak Habibi kembali menatap Wulan. Wulan hanya mengangguk saja dan membalas tatapan Habibi, keduanya kembali saling tatapan dalam diam dan senyum antar keduanya memperlihatkan jika mereka sedang bahagia.


"Ya elah, nyambung lagi noh Fat!" gumam Kana memutar bola matanya malas, ia pun melakukan hal yang sama seperti Fatimah yang memandang ke luar jendela.


Wulan dan Habibi tersenyum melihat kedua sahabat gadis itu yang kompak menatap ke arah luar jendela, namun ada satu gadis yang memandang tak suka ke arah Wulan sejak Habibi masuk dan mereka saling menatap.


'Gue pasti bakalan buat kalian jauh, sejauh jauhnya...' batin gadis yang duduk paling pojok sambil menatap tajam ke arah Wulan.


Kana tak sengaja melihat gadis yang menatap tajam pada Wulan, dan ia punya firasat buruk akan tatapan itu. 'Haishh, gue gak akan biarin ada yang ngerusak kebahagiaan sahabat gue..' batin Kana kembali mengalihkan tatapannya ke arah luar jendela namun difikirannya masih tertuju pada gadis yang maih menatap Wulan tajam.


Lanjut up....


makasih orang baik...

__ADS_1


😊🙏🙏


__ADS_2