Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Berdebat


__ADS_3

"Sudah aku bilang jangan sentuh Wulan Bi..." marah Arka saat ia melihat tangan adiknya yang di genggam Habibi.


"Ya elah Ka, loe kayak gak tahu anak muda aja deh!" ucap Habibi kesal, ia segera melepas genggamanannya dari Wulan dan menyingkir dari sana berpindah ke sofa.


"Kalo mau ya harus di halalin dulu, tapi aku gak setuju kalo Wulan nikah sekarang apa lagi sama. kamu Bi..." ujar Arka yang kini sudah duduk di tempat Habibi.


Habibi hny mencebikkan bibirnya menatap Arka dengan kesal, jika saja mereka sedang di luar sudah pasti ia akan meladeni sahabatnya itu, namun sekarang mereka sedang berada di ruangan Wulan jadi dirinya memilih mengalah saja.


"Dasar posesif banget!" gumam Habibi melirik Arka lewat ekor matanya kemudian mengalihkan fokusnya pada handponenya.


Regar yang baru masuk tersenyum tipis saat ia melihat Arka yang sedang duduk di kursi samping adiknya dan Habibi nampak tenang sambil memainkan handponenya membuat Regar merasa. lega.


'Syukurlah mereka bisa akur...' batin Regar yang tak tahu jika tadi merekapun tetap berselisih hanya karena Habibi yang tetap nekat menggemggam tangan Wulan.


"Gimana Wulan Nak?" tanya Regar yang sudah berdiri di dekat Arka yang sama sekali tak menyadari kehadirannya.


"Eh! Yah..." kaget Arka segera berdiri, Regar tersenyum.


"Masih sama Yah, belum mau bangun juga.." jawab Arka menoleh pada Wulan yang masih koma.


"Gak papa, Ayah yakin sebentar lagi Wulan pasti bangun.." ucap Ayah tersenyum menepuk pundak Arka sekali. Arka pun ikut tersenyum


Regar melirik Habibi yang masih fokus dengan handpone nya dan tak menghiraukan kehadirannya di sana.


"Bi..." panggil Regar mendekati Habibi yang segera menghentikan kegiatannya bermain game dan duduk dengan benar setelah Regar duduk di sampingnya.


"Ya Om.." jawab Habibi


"Makasih sudah mau jaga Wulan, tapi sebaiknya Habibi kembali ke kota Nak.." ucap Regar menepuk lengan Habibi pelan dengan senyum tipis.


"Enggak Ok, Habibi mohon jangan suruh Bibi pulang dulu, karena Habibi masih mau di sini nemenin Wulan.." mohon Habibi, matanya seketika berkaca kaca, entah mengapa pemuda itu akan sangat melow jika bersangkutan dengan Wulan.


Regar menggeleng pelan menatap Habibi yang menurutnya sangat keras kepala dan tak mau mendengarkan sarannya.

__ADS_1


"Ya sudah, tapi kalo Wulan masih belum sadar sebulan ini kalian berdua harus kembali ke kota ya!" ucap Regar memberikan waktu pada kedua pemuda itu. Arka dan Habibi segera saj mengangguk menyetujui ucapan Regar.


'setidaknya masih ada waktu satu bulan lagi, dan aku harap kamu segera sadar dek..' batin Arka menatap Wulan yang tak kunjung mau bangun.


'Lan, gue harap. loe segera bangun sebelum gue balik ke kota...' batin Habibi pun menatap Wulan dari tempatnya. Regar hanya bisa tersenyum melihat keduanya yang begitu menyayangi Wulan putrinya. Satu Kakaknya dan satu lagi orang yang begitu mencintai Wulan, bersyukur Wulan di kelilingi oleh orang irang baik dan menyayanginya.


"Sebaiknya kalian istirahat, biar Ayah yang jaga Wulan sekarang.." ucap Regar, Arka dan Habibi kembali mengangguk setuju keduanya sama sama keluar setelah pamit pada Regar juga Wulan.


"Gue tetep pengen di sini Ka, setidaknya sampe Wulan bangun..." gumam Habibi lemas setelah mereka sampai di kamar dan Habibi segera merebahkan tubuh nya di atas kasur sedangkan Arka duduk di sisi ranjang.


"Aku juga Bi, tapi apa yang di bilang Ayah ada benernya, kita juga gak bisa kalo harus izin lebih lama lagi kan!" ucap Arka melirik Habibi yang mengangguk lemah menyetujui ucapan Arka.


"Ya udah lah, yang penting kita masih ada waktu satu bulan lagi di sini, ya semoga aja Wulan bisa sadar sebelum kita pulang.." lanjut Arka dan Habibi kembali mengangguk.


Arka segera masuk ke dalam kamar mandi karen hari memang sudah sore dan iapun belum sholat ashar, berbeda dengan Habibi yang langsung tertidur setelah Arka menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Satu jam berlalu, Arka sudah keluar dengan baju tidurnya dan saat melihat Habibi yang malah tertidur ia pun memutuskan untuk sholat lebih dulu baru akan memberikan pelajaran pada sahabatnya itu.


Hbibi menggeliyat dan bangun dengan terkejut bahkan i hampir jatuh dari kasur nya. "Kenapa?" tanya Habibi dengan wajah bingung dan juga cemas melihat wajah panik Arka.


"Wulan Bi, Wulan..." ucap Arka sengaja menggntung ucapannya. Habibi makin panik ia langsung saja berlari keluar tanpa menunggu kelanjutan ucapan Arka.


"Bi, mau kemana?" tanya Arka berteriak memanggil Habibi gang sudah keluar yanpa. memeprdulikan panggilannya.


Setelah melihat Habibi yang keluar dengan wajah bangun todir, ia pun tertawa dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Ha ha ha,, dasar tukang ***** makan tuh aku kerjain.." ucap Arka di sela tertawanya sambil memegangi perutnya yang terasa keram.


15 menit setelah keergian Habibi, pemuda itu kembali ke kamar dengan wajah kesal. Habibi masuk ke dalam kamar dengan mendorong kuat pintu kamar hingga membuat Arka terlonjat kaget melihat siapa yang membuka pintu dengan kasar.


"Loe-" Habibi menggantung perkataannya, matanya begitu tajam menatap Arka yang justru menahan tawa melihat Habibi dengan wajah yang memerah sampak ke telinganya.


"Kenapa?" tanya Arka dengan wajah polosnya menatap Habibi yang semakin kesal padanya.

__ADS_1


"Loe ngerjain gue? Wulan gak kenapa napa!" tanya Habibi tetap berdiri di dekat pintu.


Arka menggeleng. " Aku gak bilang Wulan kenapa napa, lagian kamu yang salah kenapa gak dengerin ucapan aku dulu malah main lari aja!" balas Arka tak mau di salahkan. Habibi mendengus kesal, ia tak lagi berniat meladeni Arka dan segera masuk ke dalam kamar mandi karena dirinya butuh pendingin sekarang.


Arka kembali tertawa kecil melihat Habibi yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi dengan kesal. "Hmppffff, rasain deh, sekali kali gak apalah... ha ha ha..." tawa Arka begitu renyah.


Arka kembali rebahan sambil memainkan handponenya melihat grup wa kelas yang ia ikuti.


"Ah, gak ada yang penting. Untung Papah selalu mengirimkan mata pelajaran yang aku tinggalkan." gumam Arka tersenyum, mengingat setiap hari nya akan ada saja email masuk tentang pelajaran setiap hari yang ia lewatkan jadi ia tak begitu tertinggal jauh dari teman temannya.


Hbibi sudah selesai dengan ritual mandinya, iapun menggunakan baju di dalam kamar mandi sama seperti Arka. Habibi duduk di sofa menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memainkan hpnya


"Gak sholat Bi?" tanya Arka menatap Habibi yang sudah rapi dan segar dengan baju santai.


"Hmm.." jawab Habibi hnya berdehem saja namun tak mengikuti ucapan Arka dan tetap memainkan handpone nya.


Arka duduk di kasur, melipat kedua kakinya dan menatap Habibi. "Kalo gak mau sholat jangan harap bisa deketin adek aku ya!" ancam Arka, menaikkan satu alisnya dengan senyum sinis.


Habibi mengalihkan pandangannya pada Arka, ia kembali mendengus kesal menatap sahabatnya yang begitu mengesalkan baginya.


"Ya..." jawab Habibi segera berdiri dan kembali ke kamar mandi untuk berwudhu setelahnya ia melaksanakan sholat ashar.


Arka tersenyum, setidaknya sahabatnya itu masih mau mendengarkan dirinya walau harus di ancam lebih dulu tapi ia yakin jika Habibi sebenarnya memang anak yang baik karena selama ia berssama dengan Habibi, pemjda itu tak pernah meninggalkan sholat walaupun sedikit susah sih dan.


Waktu berjalan sangat cepat dan hari semakin malam, kini Arka juga Habibi baru saja kembali dari ruangan khusus Wulan swtelah tadi Regar menyuruh mereka untuk kembali lagi ke dalam kamar agar bisa beristirahat lagi pula akan ada suster yang akan menjaga Wulan karena mereka memang tidak di perbolehkan untuk menemani pasien yang ada di ruangan khusus.


Lanjut up...


Makasih banyak orang orang baik, yang udah setia baca dan like juga yang baru hadir jangan lupa buat kasih like kalian ya...


Makasih....


😊🙏

__ADS_1


__ADS_2