
Wulan tiba di rumahnya dengan hati yang dongkol, kesal, marah, bercampur jadi satu. Pertama ia dongkol pada gurunya Bu Memes yabg sudah dengan tega menghukum dirinya membersihkan wc, kedua ia kesal karena selalu di abaikan oleh Arka sang pujaan hati dan yang ketiga, ia marah setelah melihat kedekatan Arka dan juga senyuman yang ia berikan untuk wanita lain yang bahkan jauh lebih tua dari mereka, sedangkan padanya jangan kan tersenyum panyapa 'Hai'saja tak pernah.
"Papah...." rengek Wulan saat melihat Papah dan Mamahnya yang sedang berada di ruang tamu
"Kenapa sayang!" tanya sang Papah memeluk putri kecil kesayangannya, sedangkan Mamahnya sibuk dengan pekerjaannya sendiri tanpa memperdulikan orang di hadapannya saat ini. Sejenak Wulan memeprhatikan Mamahnya yang sama sekali tak merespon dirinya.
"Pah, Wulan mau Palah pecat Bu Memes sekarang!" pinta Wulan sambil terus bergelayut di lengan sang Papah yang menautkan sebelah alisnya
"Kenapa?" tanya Papah
"Wulan gak suka sama Bu Memes, masa tafi aku di hukum bersihin wc." terangnya, bibirnya sudah maju beberapa senti hingga sang Papah tersenyum mencubit lembut pipi anaknya yang meski sudah terlihat besar bamun sikapnya masih seperti anak kecil, ya, itu mungkin juga salahnya karena terlalu memanjakan Wulan sejak kecil.
"Hahahaha,, makanya jadi orang jangan pemalas." ucap seseorang dari lantai atas menertawainya. Wulan dan Papah menoleh ke arah sumber suara dan melihat gadis yang tak kalah cantik sedang tertawa sambil berjalan menuruni tangga.
"Papah, Kak Risa jahat." rengeknya berpura-pura sedih.
"Wulan, ganti baju terus makan." ucap Mamahnya yang sedari tadi sibuk dan terus mendengarkan ocehan putri bungsunya. Wulan beranjak dari tempatnya menuju kamar tanpa menoleh ke arah sang Mamah.
"Kakak jelek...wleee.." ucapnya sambil menjulurkan lidah mengejek sang Kakak bernama Risa. Risa sama sekali tak memperdulikan sikap adiknya, ia hanya menggelengkan kepalanya dan duduk di sebelah sang Mamah.
Risa memang tak begitu dekat dengan Papahnya karena telah mengetahui masa lalu Papah dan Mamahnya juga kebenaran atas dirinya yang selama bertahun-tahun telah di rahasian darinya juga dari sang Papah yang baru mengetahui kebenaran jika ia bukanlah anak akandung dari sang Papah yang sangat menyayangi dirinya selama ini, bahkan meskipun Papah sudah mengetahuinya, namun rasa sayang sng Papah tak pernah berkurang untuk nya, namun ia yang justru mulai menjauh dari Papahnya. sedangkan Wulan tak dekat dengan Mamah karena sikap Mamahnya yang seolah tak mempedulikan dia.
"Mah, Pah, Risa mau minta izin!" ungkapnya saat sudah berada di hadapan Papah dan juga Mamah.
"Izin, kemana sayang?" tanya Mamah menoleh ke arah anak kesayangannya.
"Risa izin, mau tinggal di apartemen saja." ucap nya membuat Mamah terkejut
"Tidak boleh. Untuk apa kamu tinggal sendirian di apartemen sedang kan Mamah dan Papah kamu di sini sayang." ucap Mamah yang langsung menolak keinginan putri sulungnya.
__ADS_1
"Kenapa harus pindah?" tanya Papah sebelum Risa menjawab pertanyaan sang Mamah.
"Papah tahu jawabannya." ucap Risa memandang Papahnya yang langsung mengerti maksud dari Risa yang masih ia anggap seperti anak kandungnya.
"Mamah gak setuju." jawab Mamah tegas.
"Mah, plies, Risa gak mau di bayang-bayangi dengan masa lalu kalian di rumah ini, dan juga Risa sadar akan batasan Risa yang bukan anak kandung Papah." ungkapnya mencoba menjelaskan isi hatinya yang selama ini selalu ia pendam sendiri.
"Kamu akan selalu jadi anak Papah, meskipun darah Papah tak mengalir dalam dirimu tapi kamu akan tetap menjadi anak Papah." ujar Papah merasa sedih dengan ucapan anaknya.
"Makasih Pah, tapi tetap aja kenyataannya aku bukan anak kandung Papah dan itu sangat menyakitkan buat Risa."
"Jadi Risa mohon pengertian kalian dan tolong biarkan Risa tinggal di apartemen." ucapnya lagi. Tanpa mereka sadari, Wulan berdiri tak jauh dari mereka dan mendengarkan semua percakapan mereka.
"Jadi Kak Risa bukan anak Papah?" tanyanya saat keluar dari tempat persembunyiannya saat mendengar semua tentang Kakaknya Risa.
"Wulan..." ucap mereka bertiga kaget melihat Wulan yang sudah berdiri tepat di hadapan mereka bertiga dengan air mata membasahi pipi mulus nan cantiknya.
"Apa Wulan juga bukan anak Papah?" lanjutnya menunjuk diri sendiri.
"Enggak Nak, kamu anak Papah." jawab Papah mencoba mendekat ke arah Wulan yang sudah menangis sampai sesenggukan, namun langkah nya terhenti saat Wulan justru mundur dan menghindari Paahnya.
"Lalu, kenapa Kakak bilang dia bukan anak Papah?" tanya Wulan masih belum mengerti dengan semua yang ia dengar.
"Kakak memang bukan anak Papah, tapi kamu anak kandung Papah dek." jelas Risa juga ikut mendekati Wulan, kemudian memeluknya sayang.
"Tapi kita tetap Kakak dan adik, karena kita lahir dari rahim yang sama yaitu Mamah." lanjut Risa mencoba menenangkan adiknya. Meskipun mereka sering bertengkar, namun Risa sangat menyayangi sang adik, bahkan ia rela melakukan papun demi kebahagiaan adiknya.
"Benarkah?" tanyanya saat sudah dalam pelukan Risa.
__ADS_1
"Ya, tentu saja." jawab Risa tersenyum.
"Kalo gitu, Kakak gak boleh pergi dari rumah ini!" pintanya, Risa segera melepaskan pelukannya pada Wulan, dan sedikit menundukuan kepalanya agar bisa menatap wajah adiknya yang sudah basah karena air mata.
"Dengar, Kakak pergi dari sini itu karena Kakak ingin hidup mandiri, dan kalo Wulan mau main ke apartemen atau menginap di sana denfan senang hati Kakak pasti akan menerima kamu dek." ucap Risa mencoba memberikan penjelasan pada adiknya.
"Janji.." ucap Wulan memberikan jari kelingkingnya.
"Janji.." jawab Risa tersenyum menyambut kelingking sang adik yang juga tersenyum sambil mengusap air matanya.
Papah dan Mamahpun hanya ikut tersenyum, mereka terlihat seperti orang asing. Karena sejak Papah mengetahui rahasia yang di simpan istrinya selama bertahun-tahun yang lalu, ia menjadi dingin terhadap istrinya, meski begitu mereka tetap memutuskan bersama walau mungkin sudah tak ada lagi rasa cinta di antara mereka berdua.
"Kak..." ucap Wulan saat masih di dalam pelukan Risa
"Hmm." jawab Risa belum melepaskan pelukannya
"Wulan laper.." ucapnya mendongak menatap Risa yang langsung tersenyum, ia menjentikkan tangan nya ke arah Wulan pelan.
"Kamu ini ya, gak bisa lihat situasi yang lagi haru." ucap Risa kemudian mengajak adiknya makan bersama.
"Mamah sama Papah gak makan!" ucap Wulan menatap kedua orang tuanya yang masih berdiri di tempat mereka menatap kedua anaknya yang akur.
"Mamah harus balik ke kantor lain kali ya!" ucap Mamah mencium pipi Wulan san Risa kemudian pergi mengendarai mobil nya sendiri. Wulan dan Risa hanya memandangi sang Mamah yang sudah hilang dari balik pintu utama.
"Papah?" tanya Wulan dengan raut wajah sedih nya. Papah tersenyum kemudian duduk di tempatnya dan ikut makan bersama, membuat Wulan dan Risa tersenyum. Merekapun hanya makan bertiga saja, biasanay Mamah akan pulang sangat larut dan tak akan sempat bercengkrama dengan Wulan ataupun Kalisa sedangkan dengan suaminya, mereka bahkan sangat jarang berbicara.
Lanjut up....
Makasih orang baik....
__ADS_1
🙏🙏🙏