Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Penantian Mara


__ADS_3

Seperti yang sudah di sepakati oleh seluruh keluarga juga Mara sebagai calon istri Regar. Mairapun sudah lebih baik hingga ia bisa ikut pulang ke rumah bersama Syakira dan Rangga, karena Regar akan di rawat di rumahnya


Regar di bawa dengan ambulance bersama Mara dan Dokter Erick, sedangkan yang lain membawa mobil masing masing


"Kak kita masuk duluan, Arka juga udah nunggu di dalam." ucap Syakira menuntun Maira berjalan memasuki rumah dan langsung menuju kamar Regar


Dokter Erick dan suster sedang menyiapkan semua alat yang akan di gunakan Regar sebagai penyambung nyawanya. Mara, Rangga, dan seorang suster membawa Regar memasuki rumah menuju kamar yang akan di gunakan dan Maira, Syakira, juga Arka sudah menunggu di sana, sementara Paman dan Bibi akan menyusul dari rumah mereka.


"Kak, Regar..." ucap Syakira yang lebih dulu melihat Regar yang sedang di dorong menggunakan kursi roda, dan setelah memasuki kamar Rangga di bantu dengan Arka mengangkat Regar naik ke atas kasur yang besar.


"Re..." panggil Maira lemah melihat kondisi adiknya, meskipun sebagian perban sudah di lepas tapi di bagian wajah, lengan dan kakinya masih belum di lepas. Mungkin saat perban di wajahnya sudah terlepas tak akan ada yang bisa mengenalinya karena memang sebagian wajah Regar mengalami luka yang berat hingga di haruskan menjalani oprasi plastik setelah ia sadar dan pulih.


"Permisi, saya akan memasangkan alat alat ini pada pasien, jadi yang lain bisa tolong keluar.." ujar Dokter Erick yang baru tiba dengan bermacam alat di sampingnya yang di bawa oleh suster.


"Ayok Kak, Mar.." ajak Syakira menuntun Maira dan Mara yang enggan meninggalkan Regar.


Saat di rumah sakit, Mara tak pernah kembali kerumahnya untuk sekedar istirahat, dia selalu berada di sisi Regar tak perduli akan kesehatannya sendiri. Hingga wajah pucat karena kurang tidur selalu melekat di wajahnya yang cantik dan anggun.


"Mar, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, di kamar Kak Maira saja nanti klo Dokter Erick sudah selesai Tante akan bangunin kamu." bujuk Syakira, namun dengan cepat Mara menggelengkan kepalanya, matanya terus ia alihkan ke pintu kamar Regar.


Syakira membuang nafasnya kasar, tak bisa membujuk Mara padahal ia sangat kasihan dengan gadis itu karena sudah terlihat sangat lelah bahkan wajahnya sangat pucat.


"Ran, sebaiknya kamu bujuk Mara supaya dia mau istirahat.." ucap Syakira saat Rani duduk di sampingnya di ruang tamu.


"Sudah ku coba Sya, tapi kamu pasti tahu apa jawabannya kan.." jawab Rani tak kalah sedih


Mairapun tak kalah sedih melihat Mara calon adik iparnya, ia tahu betapa sakit dan hancurnya perasaan gadis itu saat mendengar kecelakaan yang menimpa calon suaminya.


Dokter Erick sudah keluar dari kamar Regar bersama dengan kedua suster yang segera keluar rumah untuk kembali ke rumah sakit setelah memastikan semua alat yang di pasangkan pada Regar sudah berfungsi dengan baik.


"Kalian bisa langsung kembali ke Rumah Sakit.." perintah Dokter Erick pada kedua susternya


"Baik Dok.." jawab mereka serempak dan segera meninggalkan kediaman. Maira dan Regar


"Sudah selesai Dok!" tanya Mara cepat setelah ia mendekati Dokter Erick yang segera mengangguk.


"Jadi saya bisa lihat Kak Regar kan?" tanyanya lagi penuh harap..

__ADS_1


"Silahkan.." jawab Dokter Erick memberikan jalan pada Mara yang segera masuk ke dalam kamar Regar. Dokter Erick hanya menggelengkan kepalanya melihat gadis yang baru saja melewati dirinya.


"Saya juga akan kembali ke Rumah Sakit, tapi setiap hari saya akan datang ke sini untuk memeriksa kondisi pasien, juga akan ada suster yang akan datang untuk mengecek semua alat yang sudah di pasabgkan pada pasien." jelas Dokter Erick saat ia sudah berada di hadapan semua orang yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Baik Dok..." jawab Maira.


"Baiklah kalau begitu saya permisi.." ujar Dokter Erick berpamitan. Rangga mengantar Dokter Erick hingga ke mobil yang di bawak oleh supir pribadinya.


"Terimakasih Rick." ucap Rangga tulus


"Santai, ini sudah tugasku.." jawab Dokter Erick tersenyum sambil menepuk pundak Rangga beberapa kali.


"Aku balik dulu, kalo ada apa apa langsung hubungi aku aja.." ucap Dokter Erick


"Pasti.." jawab Rangga tersenyum. Dokter Erickpun meninggalkan halaman rumah pasiennya.


"Agus kemana Ran?" tanya Syakira, mereka masih duduk di ruang tamu, sedangkan Maira sudah di antar ke kamarnya untuk istirahat dan Arka harus kembali ke sekolah.


"Ada kerjaan mendadak Sya, jadi mas Agus gak bisa ikut anter Regar tadi, tapi sore nanti katanya dia mau ke sini." jawab Rani mencoba tersenyum


"Ya.." Syakira turut tersenyum


"Sayang, Mas fikir sebaiknya Mara tetap di sini menemani Regar." ujar Rangga setelah ia duduk di samping Syakira.


"Menurut kamu gimana Ran?" tanya Syakira pada yang berhak menentukan, yaitu Rani Mamahnya Mara


"Aku setuju aja, soalnya Mara juga gak mau di ajak pulang kan!" jawab Rani, Syakira tersenyum.


"Aku akan siapin tempat buat Mara istirahat di kamar Regar." ucap Rangga segera beranjak dari tempatnya menuju kamar Regar.


"Mar.." pnggil Rangga saat ia baru membuka pintu. Mara menoleh ke arah sumber suara, menatap Rangga yang mulai berjalan mendekatinya.


"Mara mau kan nginap di sini nemenin Regar?" tanya Rangga, Mara dengan cepat mengangguk dengan matanya yang terus menatap Regar.


"Kalo gitu Om akan buatkan tempat buat kamu di sini!" ujar Rangga menunjuk sisi kosong di samping ranjang Regar, namun dengan cepat pula Mara menggelengkan kepalanya pertanda jika ia tak setuju.


"Kenapa?" tanya Rangg heran

__ADS_1


"Mara akan tidur di kamar lain aja Om, Mara akan datang ke sini dan kembali ke kamar Mara kalo mau istirahat." jawab Mara.


"Baiklah..." ucap Rangga tersenyum, kemudian ia kembali keluar untuk mengatakan keinginan Mara pada yang lain. Untunglah di rumah itu ada empat kamar.


"Ya sudah Mas, Mara bisa tidur di kamar Arka. karena bersebelahan dengan kamar Regar." ujar Syakira setelah mendengar perkataan suaminya. Rani dan Rangga hanya tersenyum dan mengangguk.


"Mas berangkat ke kantor dulu, karena siang ini Mas ada rapat.." ucap Rangga setelah ia rasa semua urusan sudah selesai jadi ia akan kembali ke kantor


"Ya, makasih Mas.." jawab Syakira mencium tangan suaminya dan Rangga mencium kening Syakira.


"Sudah jadi kewajiban Mas.." ucap Rangga tersenyum.


"Hati hati Mas..." pesan Syakira, entah mengapa ia jadi sedikit trauma setelah kecelakaan yang menimpa Regar.


Rangga sudah berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri, Syakirapun kembali masuk ke rumahnya dan duduk di samping Rani yang sedang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi


"Aku gak nyangka nasib anakku akan seperti ini Sya!" terang Rani saat ia merasa Syakira sudah duduk di sampingnya


"Aku juga Ran, gak nyangka akan terjadi hal seperti ini bahkan di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Mara dan Adikku.." jawab Syakira menoleh sekilas pada Rani dan mengehempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dengan mata terpejam.


"Aku harap agar Regar segera sadar, aku gak tega liat anakku Sya.." lanjut Rani, ujung matanya sudah mengeluarkan air mata.


"Semoga Ran, aku juga berharap yang sama.." jawab Syakira.


Dikamar Regar, Mara terus menatap calon suaminya bahkan tangannya tak pernah lepas dari tangan Regar, ia selalu menggenggam erat tangan Regar.


"Aku yakin Kakak kuat, aku juga yakin Kakak pasti akan segera bangun kan?" ujar Mara mengajak Regar berbicara, tak lupa ia mencoba tersenyum meskipun matanya justru mengeluarkan air mata.


"Berjuanglah Kak, aku akan menunggu kamu di sini." lanjut Mara, kini kepalanya ia letakkan di lengan Regar sebagai bantalnya meskipun hanya sedikit.


"Mara akan selalu nungguin Kakak.." ujar Mara ia memejamkan matanya dan entah sejak kapan ia tertidur dengan tangannya yang menggemggam tangan Regar.


Seperti sebelumnya, tanpa Mara ketahui jika sudut mata Regarpun mengeluarkan air mata. Regar seolah bisa mendengar semua perkataan Mara namun ia tak bisa meresponnya hingga air mata yang keluarlah sebagai pertanda jika ia bisa merasakan kehadiran calon istrinya yang selama sebulan lebih selalu mendampinginya.


up lagi..


Makasih yng dqh mampir baca, jangan lupa like sama dukungannya ya....

__ADS_1


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏


__ADS_2