Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Kecelakaan


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah, secerah hati Arka yang akan di ajarkan oleh Pamannya naik motor. Pagi-pagi sekali Arka sudah datang ke kamar pamannya yang masih molor selepas Sholat subuh.


"Pamaaannn." teriak Arka di samping telinga Regar yang langsung menutup kupung nya dengan bantal.


"Oh, ya ampun Arka. Bisa gak jangan teriak-teriak, kupingku sakit ini loh.." ucap Regar kesal menatap Arka tajam, tapi yang ditatap justru malah cengengesan tanpa rasa takut.


"Makanya, udah pagi juga masih molor aja" jawab Arka


"Ayok, katanya mau ngajarin Arka naik. motor gimana sih paman..." lanjut Arka menarik tangan Regar.


"Woy-woy, bentar paman aja belum mandi." ucap Regar menarik tangannya dari genggaman Arka.


"Gak usah mandi lah." jawab Arka sekenannya, membuat mata Regar melotot sempurna. Ia meneloyor kepala keponakannya itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Arka beresin kamar paman kalo mau di ajarin naik motor." teriak Regar dari dalam kamar mandi.


"Dasar, paman pemalas." rutuk Arka, namun ia tetap melakukan apa yang di perintahkan Regar.


"Buruan Paman, udah siang ini!" ucap Arka mulai kesal dan bosan menunggu pamannya.


"Sabar, baru juga jam 8, masih pagi." jawab Regar sambil membenarkan rambutnya. Arka hanya memutar bola matanya malas dan kesal, kemudian berjalan keluar mendahului Regar.


Hampir seharian sudah Regar mengajari Arka tanpa henti, dan akhirnya Arka bisa memahami dan sedang mencobanya sendiri. Regar yang sudah kesalpun duduk di pinggiran jalan sambil terus memperhatikan keponakannya yang sedang asik mengendarai motor miliknya, untungnya Arka dan Regar memiliki tinggi badan yang hampir sama sehingga Arka tidak begitu sulit menggunakn motor pamannya. Jalanan tempat mereka saat ini sedang sangat sepi, mungkin karena hari minggu jadi tak banyak kendaraan yang keluar dari pekarangan rumah masing-masing. Arka yang sedang bahagia-bahagianya bisa naik motor sendiripun terus memutari jalanan hingga beberapa kali, dan saat akan berbalik menuju pamannya duduk, tiba-tiba sebuah mobil melaju cukup kencang dan menyenggol dirinya hingga terpelanting beberapa meter membuat ia tak sadarkan diri. Regar yang melihat itupun segera berlari dengan cemas dan khawatir menuju keponakannya yang tidak bergerak.


"Arkaaaaa..." teriaknya.


"Astaga, pak kita nabrak orang!" ujar seorang pria tampan dari dalam mobil yang sudah berhenti tak jauh dari tempat kecelakaan.


"I..iya Pak maaf!" ucap supirnya takit.


"Ya sudah kita keluar sekarang, dan lihat kondiai orang itu." perintah pria itu keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Regar yang sedang mengangkat keponakannya.


"Pake mobil saya saja." ucapnya menyuruh supirnya membukakan pintu mobil. Tanpa pikir panjang, Regar segera memasukkan Arka ke dalam mobil dan ia pun masuk. Mereka segera menuju ke rumah sakit terdekat.


"Cepatlah." teriak Regar panik saat melihat darah yang terus keluar dari kepala keponakannya. Pria di hadapannya tak menjawab tapi ia mengikuti perintah Arka dan mengendarai mobilnya lebih cepat. Butuh waktu setengah jam bagi mereka hingga sampai di rumah sakit.


Arka segera di bawak ke ruang icu dan di lakukan operasi. butuh waktu hingga dua jam barulah dokter yang menanganinya keluar. Sebelumnya Regar sudah menghubungi Syakira dan Maira, namun mereka belum sampai.


"Keluarga pasien?" tanya dokter saat keluar dari rungan ICU


"Saya pamannya dok, bagaimana kondisi keponakan saya dok?" tanya Regar cemas, karena ini terjadi pun karena kelalaiannya


"Operasinya berjalan lancar, hanya saja.." ucapan dokter terhenti


"Kenapa Dok?" tanya Regar panik.


"Pasien membutuhkan darah, tapi sayang golongan darah yang sama seprti nya sedang koaong di rumah sakit ini." jelas dokter membuat Regar makin panik dan khawatir.


"Apa holongan darah anak itu?" tanya pria yang sejak tadi mendengar percakapan Regar dan Dokter


"A pak." jawab dokter


"Kalau begitu ambil darah saya, kebetulan golongan darah saya sma dengan anak itu." ujar pria yang menabrak Arka, Regar menatap wajah pria di hadapannya. ("Aku merasa wajahnya sangat mirip dengan Arka. Ah tidak-tidak.") batin Regar menggelengkan kepalanya.


"Baik jika begitu."


"Sus, tolong kamu ambil darah bapak ini dan bawak ke ruangan pasien." perintah dokter pada suster yang bersamanya.


"Mari pak!" Pria itu hanya mengikuti langkah suster menuju ruangan lain.


Satu jam kemudian Syakira dan Maira tiba di rumah sakit, mereka begitu tergesa-gesa menuju ruangan Arka di rawat.

__ADS_1


"Regar.." panggil Syakira dengan air mata yang sudah berjatuhan.Regar menoleh ke arah belakangnya dan melihat Syakira juga Maira yang baru tiba.


"Bagaimana keadaan Arka?" tanya Syakira khawatir dan cemas


"Arka sudah di bawak ke ruang rawat Kak." jawab Regar tak mampu menatap mata Kakaknya sebagai ibu dari Arka.


"Lalu keadaannya gimana?" tanya Maira menatap Regar yang terus menunduk


"Tadi Arka kehilangan banyak darah, tapi syukur ada yang memiliki golongan darah yang sama dengannya."


"Sekarang Arka sedang dalam masa pemulihan." jawab Regar


"Dimana ruangannya?" tanya Syakira


"Sebelah sana Kak, ruang VVIP." jawab Regar menunjuk ruangan di sampingnya. Syakira dan Maira segera masuk ke ruang rawat Arka di ikuti Regar di belakangnya.


"Arka, Nak, bangun sayang ini Bunda.." tangis Syakira di pelukan Maira, melihat kondisi putranya yang sangat tidak baik.


"Arka Nak...." panggil Syakira lagi mencium kening putranya yang terbalut perban hingga menutup sebagian kepanya.


"Re, bagaimana ini bisa terjadi, di mana kamu sampai keponakan kamu seperti ini?" Maira memarahi Regar yang hanya bisa. menunduk meratapi kesalahannya.


"Maaf Kak.." ucap Regar tak mampu menatap kedua Kakaknya.


"Kak.." ucap Syakira menepuk pundak Maira yang terlihat sangat marah. Syakira sangt sedih dengan kondisi putranya saat ini, namun iapun tahu jika Regar tak mungkin sengaja membuat Arka sampai seperti saat ini.


"Regar.." panggil Syakira yang sudah berdiri di hadapannya. Regar mengangkat kepalanya dan melihat Syakira di hadapannya.


"Maaf Kak..." lirihnya kembali menunduk, Syakira masih bisa mendengar perkataan adik sepupunya itu, iapun memegang kedua lengan sang adik dengan lembut.


"Bisa ceritakan sama Kakak, apa yang sudah terjadi sama Arka?" tanya Syakira. Regar pun menceritakan awal terjadinya kecelakaan hingga seseorang yang mendonorkan darahnya untuk Arka.


"Itu artinya pria itu yang sudah menabrak Arka, namun dia juga yang sudah menyelamatkan nyawa Arka!" ucap Syakira seperti berfikir.


"Ya sudah, kamu gak perlu merasa bersalah, lagian sekarang Arka sudah selamat dan baik-baik aja." ucap Syakira mengelus lengan Regar yang menatap wajahnya sendu.


"Makasih Kak, maaf Regar gak bisa jaga Arka dengan baik." ucapnya tulus.Syakira hanya tersenyum.


"Bu...da..." panggil Arka setelah sadar dari pingsannya.


"Arka..." panggil ketiga orang di sana


"Ha..us Bund.." ucap Arka terbata. Syakira segera mengambilkan minum dan memberikannya ke mulut Arka di bantu sengan Regar yang menopang kepala keponakannya dengan pelan.


"Sudah!" tanya Syakira melihat putranya. Arka mengangguk


"Shhh.. sakit Bun.." ucap Arka merasa sakit di bagian kepalanya.


"Sebentar Bunda panghilin dokter dulu."


"Biar Regar aja Kak." ucap Regar dan langsung di setujui Syakira, ia kembali mendekat ke arah Arka.


"Sabar ya sayang." Beberapa menit dokter tiba di ruangan Arka dan memeriksanya.


"Syukur, keadaannya susah stabil. Jika dik Arka semakin baik kemungkinan 3-4 hari sudah bisa pulang dan rawat jalan." jelas dokter tersenyum setelah memeriksa kondisi Arka yang sudah membaik.


"Terima kasih dok.." ucap Syakira juga tersenyum


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."


"Iya." ucap Syakira dan Maira bersamaan. Regar mengantar dokter keluar ruangan Arka.

__ADS_1


Keesokkannya, Habibi dan teman satu tim nya datang mengunjungi Arka di rumah sakit setelah mendapat kabar dari Regar saat Bibi berkunjung ke rumah mereka.


"Ka, lo baik-baik aja kan?" tanya Bibi memperhatikan tubuh Arka.


"Apaan sih Bi, aku baik-baik aja." jawab Arka mendorong Habibi agar menjauh darinya. Syakira, Maira dan yang lainnyapun tertawa melihat kelakuan Habibi yang berlebihan.


"Ya elah, kan gue khawatir sama lo." ucapnya menjauh dari Arka dan berdiri di antara teman-temannya yang lain.


"Lebay..." ucap salah satu teman mereka, dan keriuhanpun kembali terjadi. Ya begitulah anak-anak akan selalu ada keramaian dan kelucuan yang mereka buat.


"hustt, jangan berisik kasian pasien sebelah denger suara kalian yang cempreng." ucap Regar saat baru masuk ke ruangan sambil membawa makanan dan minuman untuk semua orang di sana.


"Nih, bagi-bagi.." lanjutnya membagikan makanan ke teman-teman Arka yang tersenyum bahagia.


"Makasih om." ucap Bibi, membuat Regar kesal di panggil om


"Om, sejak kapan aku nikah sama tantemu?" ucap Regar


"Lah, kan om, oomnya Arka ya jadi kami manggilnya om lah!" jawab Habibi sekedarnya, dan di angguki oleh yang lainnya.


"Gak om juga lah." ucap Regar tak mau kalah


"Terus apa?" tanya teman Arka yang lain.


"Hmm, ungcel aja biar kayak bule." jawab Regar setelah berfikir keras.


"Gak ada bule-bulenya deh perasaan." ucap Habibi yang lain hanya tertawa. Regar hanya menatap tajam ke arah Bibi yang langsung bersembunyi di balik tubuh temannya yang lain.


"Sudah-sudah, kalian ini. Kamu juga Regar kayak anak kecil aja." ucap Syakira setelah puas menertawai adik dan juga teman Arka yang terus berdebat hanya karena hal sepele saja.


"Udah sore, sebaiknya kalian pulang." ucap Syakira setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Eh iya, balik yuk." ajak teman mereka yang lebih tinggi dan kurus


"Ayok.." jawab yang lain


"Kalian duluan deh gue masih mau di sini." jawab Habibi.


"Ya udah kita-kita duluan. Tante Om, eh Ungcel kami pamit pulang dulu." ucap anak yang kurus menyalami Syakira, Maira dan Regar bergantian.


"Cepet sembuh ya Ka.."


"Makasih." jawab Arka tersenyum


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.."


"Habibi gak pulang Nak, nanti di cari Mamah dan Papahnya!" tanya Syakira menatap Habibi, yang wajahnya berubah seketika.


"Papah udah bahagia sama istri barunya tan, dan Mamah sekarang pasti lagi sibuk sama perusahaan, jadi mending Bibi di sini nemenin Arka." jawab Habibi menunduk kemudian menatap Arka yang tersenyum ke arahnya sambil memegang tangannya.


Syakira sedikit terkejut, ternyata nasib Habibi sama persis seperti ia dan Arka.


"Ya sudah,anggap aja tante dan Arka keluarga kamu ya Nak.." ucap Syakira setelah mendekat ke arah Habibi dan memeluk layaknya seorang ibu. Habibi yang terharupun tak mampu membendung air mata yang sudah ia tahan sejak tadi.


"Kami juga mau kok di anggap keluarga!" ucap Regar mengacak rambit Habibi.


"Ungcel...." teriak Habibi merapikan rambutnya yang sudah berantakan karena ulah Regar. Merekapun tertawa. Habibi sangat bahagia, bisa mendapat teman sekaligus keluarga baru di keluarga Arka yang selama ini selalu ia harapkan. Sejak saat itu, ia jarang berada di rumah dan lebih sering berada di tempat Arka. Arkapun senang karena ia ada yang menemani selama proses pemulihan, karena Syakira tak mengizinkannya keluar rumah dengan alasan harus istirahat, padahal sudah hampir 2 minggu ia hanya istirahat di kamar meskipun keadaannya sudah sangat baik. Untunglah 2 hari lagi mereka akan segera masuk sekolah.


Makasih orang Baik dah mau mampir baca karyaku.

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2