
Ujian kelulusan hampir usai, seluruh siswa yang bersekolah sudah berusaha melaksanakan tugas mereka sebagai siswa dengan sebaik mungkin sekarang tinggal menunggu hasilnya saja.
Wulan dan kawan kawan juga sudah menyelesaikan soal soal ujian mereka dengan susah payah meski sudah belajar tapi tetap saja ada juga yang tak bisa mereka mengerti dan akhirnya hanya bisa pasrah dengan jawaban asal.
"Gimana tadi?" tanya Kana sedang Fatimah tengah sibuk memakan cimol yang ada di tangannya.
Yah lumayanlah, tapi aman..." jawab Wulan, tentu saja ka sudah bekerja kerasa beberapa hari ini agar nilai ujiannya bjsa. kembali naik seerti sebelumnya. Wulan itu sebenarnya anak yang pintar, hanya saja ia tak ingin menunjukkannya dan terus bersikap bodoh jika di hadapan teman temannya.
"Yalah, kamu kan sebenarnya emang pinter cuma malas aja.." sahut Fatimah yang sufah lebih dulu berteman bauk dengan Wulan hingga ia jelas tahu ssperti apa temannya satu itu. Wulan tersenyum tipis mendengar penuturan Fatimah.
Mereka bertigapun segera menuju kantin karena setelah ujian terakhir tadi perut mereka benar benar kosong dan butuh tenaga lagi.
"Mah pesen apa?" kali ini Fatimah yang bertanya, ia baru saja menghabiskan satu bungkus cimol.
"Biasa ajalah.." jawab Wulan di ikuti dengan anggukkan kepala dari Kana dan menatap Fatimah yang hanya mengangguk mengerti kemudian berlalu dari sana untuk memesankan pesanan kedua temannya.
Tidak begitu lama, pesanan merekapun datang dan ketiganya mulai menyantap makanan masing masing dengan tenang tanpa ada obrolan karena ketiganya begutu lemas setelah ujian dan butuh tenaga lagi.
"Lulus sekolah mau lanjut kuliah di mana Lan?" tanya Fatimah, ia yang terakhir selesai karena tadi semat menambah satu porsi bakso lagi.
"Hmm, belum tahu sih tapi Arka ngajak gue buat kuliah di tempat yang sama cuma gue belum kasih kejelasan aja sama dia..' jawab Wulan agak berfikir dan mengingat ajakan Arka untuk kuliah di universitas yang sama dengannya.
Kana dan Fatimah mengangguk anggukkan kepala mereka.
"Terima ajalah Lan, lagian loe sama Arka jugakan Kakak Adek dan loe juga kayaknha dah gak ada perasaan lagikan sama Arka!" saran Fatimah menatap Wulan seksama.
"Umm, iya sih tapi males aja gitu kalo satu tempat sama Arka soalnya kalian pasti tahu lah Arka kek mana ke gue sejak dia tahu kalo gue Adeknya!" jawab Wulan kembali memikirkan sikap Kakaknya yang agak posesif terhadapnya.
"Iya sih..." jawab kedua sahabat Wulan sambil mengangguk.
Cukup lama perbincangan ketiganya hingga hari makin siang dan merekapun memutuskan untuk pulang. Kana dan Fatimah pulang bersama sedang Wulan sudah di jemput oleh supirnya karena Arka juga sedang ujian jadi tak bisa antar jemput dirinya lebih dulu.
Sepanjang perjalanan Wulan kembali mengingat ajakan Kakaknya untuk kuliah di tempat yang sama dengan alasan agar ia bisa melindungi juga menjaga dirinya dari dekat. Wulan menggelengkan kepalanya. pelan dan tersenyum saat mengingat sikap Arka yang terlihat jelas jika pria itu sangat posesif terhadapnya bahkan pada Habibipun ia tak sepenuhnya percaya melepaskan dirinya pada sahabat satu satunya.
Semenit berikutnya, senyumannya hilang tat kala jantungnya kembali berdetak tak karuan bahkan terdengar sampai ke telinganya, Wulan kembali merasakan kecemasan yang memang sudah beberapa hari belakangan ini selalu ia rasakan.
"Ada apa ini? kenapa perasaan ini semakin tak nyaman dan jantung gua ini semakin berdetak tak karuan saja!" lirihnya sambil memegang dadanya.
Supir yang sudah bekerja dengan Regar cukup lamapun menatap Nona Mudanya dari balik kaca kecil di atasnya, ia bisa melihat kecemasan di wajah Nonanya.
"Ada apa Non? Non Wulan sakit?" tanya supirnya dengan wajah cemas pula. Wulan yang tersadr dari lamunannyapun memberikan senyumannya dan menggeleng kecil agar supirnya bisa percaya tanpa mengatakan apapun. Supirnya tak. lagi bertanya karena itu sudah di luar batasnya, ia hanya kembali fokus pada jalanan yang agak sepi namun masih sering melirik Wulan yang kembali melamun.
Wulan menatap keluar jendela dan sedikit menuruni kacanya agar angin bisa masuk dan ia sedang menikmatinya.
"Hah..." hembusan nafas berat terdengar dari bibirnya, ia memejamkan mata dan bersandar pada sandaran kursi sekedar menikmati hembusan angin serta detak jantung yang maaih berdetak lebih cepat dari biasanya juga perasaan yang kian tak karuan saja.
Satu jam perjalanan Wulan sudah tibah di kediamannya, ia segera masuk ke dalam kamar setslah turun dan masuk ke dalam rumah besar milik Papah Regar.
"Non Wulan kenapa Mang?" tanya Bibi setelah ia melihat Nona Mudanya masuk begitu saja ke dalam kamarnya dengan wajah yang tak bersahabat.
Supir yang menjemput Wulan hanya menggekengkan kepala saja pertanda jika ia juga tidak tahu apapun. Bibi hanya mengangguk sekilas kemudian beralih menuju dapur untuk menyiapkan makan siang karena selama ujian Nonanya itu akan pulang lebih cepat jika kedapatan jam pagi saat ujian.
Di kamar Wulan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia kembali memegang dadanya di mana jantungnya kian berdetak lebih cepat lagi membuat dirinya makin tak nyaman saja.
"Ada apa ini! kenapa gua merasakan perasaan aneh ini beberapa hari ini sih! membuat tak nyaman aja..." rutuk Wulan, wajahnya sangat kesal namun juga penuh kecemasan di dalamnya hanya saja ia sendiri tak paham akan kecemasan yang sedang ia rasakan.
Wulan bergegas ke kemar mandi, ia butuh mandi agar bisa menjernihkan fikirannya yang sedang kalut karena beberapa hari ini selalu merasakan hal aneh yang tak bisa ia gambarkan atau ucapkan.
"Berrrr, segerrrrr, dinginnnn..." gumamnya sambil mendekap tubuhnya yang masih terlilit dengan handuk juga badan yang agak bergetar menahan dingin.
"Buset dah, dingin amat yak!" lanjutnya, ia segera mencari baju santai dan segera memakainya agar rasa dinginnya sedikit berkurang.
"Ah! cantik amat yak gua!" gumamnya saat ia melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya, Wulan kembali tersenyum akan kenarsisannya sendiri.
Wulan segera keluar dari kamarnya, ia juga sudah tak merasakan detak jantungnya yang mempompa dengan agresif seperti tadi dan sudah kembali normal. Wulan menuju meja makan yang kini sudah tersusun berbagai jenis masakan lezat.
"Non..." sapa Bibj menatap Nonanya yang melemparkan senyuman pada pembantu sekaligus baby sitternya dulu.
"Mau makan aoa Non biar Bibi ambilkan?" tanyanya masih setia berdiri di samping Wulan yang menatap semua jenis makanannya.
"Hmm, smuanya Bi, keknya enak!" jawab Wulan menunjuk semuanya. Bibi tersenyum ia segera mengambilkan semua yang di inginkan Nona Mudanya.
Wulan segera menyantap makan siangnya dengan tenang dan nyaman, ia sedang menikmatinya hingga tak terasa makanan di piringnya sudah habis tak tersisa sedikitpun membuat Bibi yang masih menemaninyaoun tersenyum senang karena Nonanya itu selalu menyukai masakan yang ia buat.
"Enak Bi, kayak biasa..." ucap Wulan jujur, ia juga memberikan jempolnya ke arah Bibi yang semakin tersenyum.
__ADS_1
"Makasih Non.." jawab Bibi dan segera mengangkat piring kotor milik anak majikannya lalu segera mencucinya. Wulan sendiri segera beranjak dari sana dan kembalu ke kamarnya untuk istirahat. Ya, dirinya sangat butuh istirahat karena sejak perasaan aneh yang terus muncul tanpa ia duga membuat ia agak susah tidur apalagi saat malam hari.
"Bobo ciang dlu ahhhhhhh...." gumamnya dengan nada suara yang di buat lucu, namun baru saja ia akan memejamkan mata terdengar suara pintu yang akan di buka membuat Wulan sontak saja menoleh ke sumber suaranya.
Mata Wulan terbuka lebar, yang tadinya mengantuk tiba tiba hilang seketika saat melihat sosok yang tadi ia bicarakan di sekolah bersama kedua sahabatnya
"A-Arka, loe-" Wulan tak bisa melanjutkan ucapannya, ia segera duduk di atas ranjangnya dengan wajah terkejutnya menatap Arka yang mulai memasuki kamarnya.
Arka duduk di sisi ranjang Wulan, ia juga menatap Adiknya yang masih terkejut akan kehadirannya yang tiba tiba.
"Hei! kenapa lihatnya gitu kayak lihat hantu aja!" ujar Arka membuyarkan keterkejutan Wulan yang segera merubah mimik wajahnya dengan ekspresi datar dan tak suka.
"Loe ngapain sih, suka banget masuk kamar irang gak permisi dulu! kalo gue lagi mandi atau kalo gue lagi ganti baju gimana coba! hah..." cercar Wulan kesal dengan Kakaknya itu. Arka tersenyum, ia tak mungkin memakan Adiknya sendiri pikirnya lagipun ia juga tahu waktu waktunya jadi ia bisa menghindarinya.
"Kakak gak akan makan kamu dek..." jawab Arka sekenannya membuat Wulan ingin sekali menampol mulut Kakaknya itu. Wulan memutar matanya malas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain ia juga segera memperbaiki duduknya dan bersandar di sandaran tempat tidur.
"Udah makan belum?" tanya Arka setelah beberapa saat hening. Wulan hanya mengangguk tanpa menoleh ada Kakknya yang terus menatap Adiknya yang terlihat aneh di matanya.
"Kenapa? ada masalah? kalo ada masalah cerita sama Kakak siapa tahu bisa bantu!" tanya Arka dengan berbagai macam pertanyaan, akan tetapi Wulan hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa menoleh ke arah Arka dengan wajah datarnya.
Arak menghembuskan nafasnya pelan, ia tahu betul dengan sifat aduknya yang keras kepala juga tak bisa di tekan untuk bicara sebab nanti malah akan merajuk dan tak akan mau bicara.
"Ya udah kalo gak mau cerita." lanjut Arka tersenyum tipis.
"Mau jalan jalan gak! kebetulan kan udah selesai ujian juga..." ajak Arka.
Wulan diam sesaat, dan detik berikutnya ia mengangguk teyap dengan ekspresinya yang datar saja.
"Ya udah siap siap, Kakak tunggu di bawah!" ucap Arka segera bangkit dari duduknya dan menuju pintu.
Wulan tak lagi menoleh ia segera beranjak dari tempatnya menuju lemari untuk memilih pakaian yang akan ia pakai.
"Lan..." panggil Arka yang masih berdiri di ambang pintu kamar Wulan, ternyata pria itu belum keluar rupanya dan Wulan tidak menyadarinya sama sekali membuat gadis itu terperanjat kaget sengan mata melotot sempurna.
"Loe ngapain masih di situ sih! untung gue belum bukak baju..." teriak Wulan kaget sekaligus kesal. Arka malah nyengir.
"Pake baju yang tertutup, jangan yang kurang bahan..." ujar Arka tak menyambut pertanyaan adiknya yang semakin kesal, ia segera keluar dan menutup pintu kamar Wulan dengan senyum tipis di bibirnya.
Wulan cepat cepat mengambil bajunya dan berlari kecil ke arah pintu lalu menguncinya agar Arka tak lagi bisa masuk sembarangan.
"Arka ini selalu saja masuk tanpa permisi keluarpun tanpa permisi! ya walaupun dia Kakak gue tapi tetep aja kan gue ini dah dewasa dan dia juga dah dewasa." gumamnya dengan kekesalannya pada sang Kakak.
"Dah ayok!" ajak Wulan yang sudah turun dan menghampiri Arka yang menunggunya di ruang tamu.
"Umm, Bi kami pergi dulu ya.." ucap Arka pamit pada Bibi karena Papah Regar masih di kantor dan mungkin akan pulang sedikit malam.
"Iya Den, hati hati..." jawab Bibi sopan, Arka dan Wulan tersenyum kemudian berlalu dari sana
"Mau ke mana sih Ka?" tanya Wulan yang mulai penasaran sebab sejak setengah jam mereka di motor yang di kendarai Arka belum ada tanda tanda akan berhenti.
"Sabar bentar lagi sampe..." jawab Arka tetap fokus pada jalanan. Wulan kembali diam, ia hanya bisa ikut aaja kemana Kakaknya itu akan membawanya.
Arka berhenti di sebuah tokoh kecil namun terlihat cukup ramai, ada banyak mainan di depannya juga boneka tanah liat yang juga ia dapatkan dari Arka saat ulang tahunnya.
"Ka ini!" Wulan menatap Arka sekilas kemudian matanya kembaki beralih pada tokoh di hadapannya. Wulan tersenyum manis sebab keinginannya di penuhi oleh sang Kakak.
"Hmm, makasih Arka..." Tanpa babibu, Wulan langsung saja memeluk Arka yang agak limbung karena di pekuk secara mendadak untung saja ia cukup kuat hingga bisa menahan bobot tubuhnya juga sang adik yang masih memeluknya agar tak sampai kejengkang ke belakang.
"Wulan, udah Kakak gak bisa nafas ini!" ujar Arka, bukan karena tak bisa nafas hanya saja ia agak. malu sebab semua mata sedang tertuju pada mereka dengan segala. pemikiran mereka membuat Arka sedikit tak nyaman. Wulan segera melepas pelukannya.
"Gue gak sekuat itu kali Ka meluk loe!" ucap Wulan dengan wajah ngambeknya. Arka tersenyum adiknya ini cepat sekali berubah mood, namun ia malah semakin terlihat menggemaskan di mata Arka.
"Dah ayok masuk!" ajak Arka ia menggandeng tangan adiknya, Wulan hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Arka yang membawanya masuk ke dalam tokoh itu.
"Assalamualaikum..." sapa Arka ramah pada orang yang ia kenal sebab sebumnya Syakira sudah pernah mengajaknya ke tempat itu.
"Waalaikumsalam..." jawab wanita yang di sapa Arka dan segera berbalik melihat pengunjung yang menyapanya
"Eh, dek Arka toh! sama siapa ini! pacarnya ya?" pertanyaan yang di lontarkan wanita itu membuat Wulan melebarkan matanya karena di sangka pacar Kakaknya sendiri sedangkan Arka malah tersenyum dan tetap santai santai saja.
"Bukan, ini Adik saya Tante.." jawab Arka kembaki menyunggingkan senyum ramah.
"Oh, Adeknya toh! maaf Lah kalo gitu.." ucap wanita itu.
"Tante Naila udah siapin yang Arka minta waktu itu gak?" tanya Arka serius dan Naila yang mengerti maksud anak remaja di hadapannya inipun segera mengangguk dan tersenyum, ia berlalu dari sana dan mulai menyiakan tempat juga bahan ssrta alat yang di butuhkan Arka juga Adiknya.
__ADS_1
"Nah, ini sudah Tante siapin ya, jadi kalian bisa berkarya sesuka kalian.." ucap Naila menunjukkan tempat yang sudah ia siapkan. Arka tersenyuk sedang Wulan masih bengung dan diam saja memperhatika interaksi antar dua orang di hadapannya.
Arka kembali menrik tangan Adiknya dan mendudukkannya dinsalah satu kursi di mana kini di hadapan mereka sudah ada tanah liat juga ssgala macam bahan lainnya untuk membuat boneka atau apapun yang mereka inginkan.
"Apa ini Ka?"tanya Wulan menatap semua yang ada di hadapannya dengan bingung
"Ini tanah liat!" jawab Arka apa adanya membuat Wulan mendengus kesal..
"Gue juga tahu, tapi maksud gue maksudnya apa ini!" ucap Wulan kesal melirik Arka yang malah tersenyum.
"Kamu bisa. membuat apapun yang kamu suka dari ini.." jelas Arka menunjuk semua bahan yang ada di hadapan Wulan.
"Apapun!" ulang Wulan dengan mata yang berbinar binar. Arka hanya mengangguk dan kembali tersenyum cerah melihat binaran mata adiknya.
Wulan segera mengalihkan pandngannya pada bahan yang ada di hadapannya, iapun segera membuat sesuatu yang kini sudah muncul di kepalanya.
Arak dan Wulan masih hanyut dengan kegiatan masing masing, hingga satu jam. lamanya mereka duduk di sana dan fokus dengan apa yang sedang mereka kerjakan.
"Selesai..." ujar Arka tersenyum puas dengan hasilnya, ya walaupun tidak begitu bagus taoi lumayanlah ya...
Wulan masih belum bergeming, ia masih fokus dengan miliknya yang juga hampir selesai. Arka menoleh pada Wulan yang maaih diam, ia menatap karya adiknya yang terlihat sangat bagus dan indah bahkan miliknyapun tak ada bandingannya dengan hasil karya Wulan.
"Uh, bagusnya..." puji Arka saat ia melihat karya adiknya yang indah, jujur Arka tak menyangka jika jiwa seni adiknya sangat besar.
"selesai..." ucap Wulan bangga akan hasil akgirnya yang cukup membuat ia senang dan bahagia.
"Wah, bagus sekali dek!" puji Naila saat ia melihat hasil akhir Wulan.
"Makasih Tante..." jawab Wulan dwngan senyum mengembang.
"Tante, ini bisa Wulan bawak pulang kan?" tanya Wulan dengan wajah harapnya. Naila mengangguk dan seketika Wulan melompat girang tak lupa ia memeluk Naila yang langsung kaget namun tak juga menolak, ia malah tersenyum melihat tungkah lucu dan menggemaskan remaja putri di hadapannya ini.
"Kamu sangat lucu sayang!" ucap Naila saat Wulan sudah melepaskan pelukan mereka.
"Eheh, makasih Tante.." ucap Wulan malu.
Arka hanya tersenyum saja, ia sangat bahagia saat melihat tawa bahagia adiknya, sungguh ia tak menyangka jika Wulan akan sebahagia itu setelah ia bawak ke tempat ini.
"Kami pulang dulu Tan, makasih atas bantuannya.." ucap Arka sebelum mereka keluar dati tokoh.
"Sama sama..." jawab Naila dan tersenyum.
Arka dan Wulanpun kembali kerumah Papah Regar karena hari juga sudah semakin sore. Seoanjang jalan Wulan tersenyum cerah, sungguh ia sangat sangat merasa bahagia bahkan tanpa sadar ia memeluk Kakaknya yang selama ini tak pernah ia peluk seperti tadi ataupun saat ini di mana Wulan melingkarkan tangannya di pinggang Arka hingga sampai ke perutnya. Arka menyunggingkan senyumannya saat merasakan tangan Adiknya yang sudah melingkari perutnya.
"Makasih Ka, besok besok ajak ghe ke sana lagi yak!" ucap Wulan sumringah
"Lain kali gak geratis tapi ya!" jawab Arka, sontak saja Wulan memukul lengan Arka dengan wajah cemberut.
"Pelit amat sih ama adek sendiri!" sindir Wulan, melipat kedua tangannya di dedapan dada, Arka tersenyum melihat tingkah adiknya.
"Iya, iya, lain kali Kakak ajak lagi deh..." Arka mengalah, dan Wulan kembali menyunggingkan senyumannya.
"Gak mampir dulu Ka?" tanya Wulan saat Arka menghidupkan mesin motornya lagi.
"Lain kali lah, dah sore Kakak harus pulang juga.." jawab Arka dengan senyum hangatnya. Wulan hanya mengangguk mengerti.
Arka segera berlalu dari sana, hingga tak lagi terlihat di pandangan mata Wulan yang juga segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya dengan bahagia sambil bersenandung ria.
"Syukurlah, Non Wulan terlihat bahagia lagi setelah jalan sama Den Arka, untung aja tadi Bibi sempet kabari Den Arka..." gumam Bibi ikut bahagia atas kebahagiaan Nona Mudanya yang sudah sangat ia sayangi pula.
Wulan sendiri segeta meletakkan hasil karyanya juga Arka yang di berikan padanya di atas meja kecil dk sis lain kamarnya, meja yang memang di khususkan untuk meletakkan mainan kecil seperti itu.
"Cantiknya..." ucap Wulan semakin berbinar, hatinya sangat senang.
Wulan segera beranjak dari sana setelah puas menatap boneka tanah liat yang kini sudah ada tiga, satu hadiah dari Arka, satunya hasil karyanya sendiri dan satu lagi milik Arka yang juga di berikan padanya.
"Makasih ya Den, Non Wulan sangat bahagia..." pesan singkat Bibi yang di kirim untuk Arka.
Arka yang baru selesai membersihkan tubuhnya mendengar dering handponenya segera melihat, dan ia mengukir senyuman manis tat kala melihat pesan singkat dari Pembantu di rumah Ayahnya.
"Sama sama Bi, kalo ada apa apa sama Wulan langsung kabarin Arka aja ya!" balas Arka.
"Baik Den..." jawab Bibi. Arka kembali tersenyum dan tak lagi membalas pesan Bibi, ia segera berganti pakaian santai dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, hingga tanpa sadar ia tertidur karena lelah dan kantuk yang mendera.
Up lagi....
__ADS_1
Makasih orang baik....
😊🙏🙏