Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Hamil!


__ADS_3

"Huek, huek.." pagi pagi buta Syakira muntah muntah, membuat Rangga menajdi khawatir.


"Kita ke Dokter aja ya sayang!" ajak Rangga, sungguh ia tak tega melihat istrinya yang hampir satu minggu ini terus muntah nuntah setiap pagi.


"Gak usah sayang, aku gak papa kok palingan cuma masuk angin." tolak Syakira dan berusaha tersenyum agar suaminya percaya, namun Rangga tetap nekat membawa istriny ke rumah sakit.


"Mana ada masuk angin sampe kayak gini sayang! kita ke Dokter, dan kamu gak usah ke Cafe dulu hari ini." ucap Rangga tegas, ia juga segera menggendong istrinya dan membaringkannya di atas kasur karena Syakira yang sudah tak sanggup lagi berjalan.


"Hah.." Syakira membuang nafas kasar, ia tahu jika suaminya sudah berkata setegas itu maka tak bisa lagi di tolak atau di bantah..


"Pah.." panggil Arka saat melihat Papahnya yang baru keluar dari kamar dan menuju meja makan. Rangga hanya tersenyum dan duduk di kursi makan tempat biasa.


"Bunda masih sakit?" tanya Arka,Rangga hnya mengangguk.


"Hari ini Papah sama Bunda mau ke rumah sakit." ujar Rangga, ia hendak menuju kamar lagi untuk mengantar sarapan Syakira dan juga dirinya yang akan makan di kamar bersama istrinya.


"Arka sarapan sendiri ya Nak, Papah mau nemenin Bunda saraoan di kamar." ujar Rangga sebelum ia meninggalkan putranya di meja makan. Arka tersenyum dan mengangguk, ia sangat bahagia melihat Papahnya yang sangat perhatian terhadap Bunda juga dirinya tentu saja.


Arka makan sendiri, tanpa mengeluh lagipun ia sudah besar dan mengerti kondisi.


"Udah mau berangkat Ka?" tanya Syakira saat ia dan Rangga juga akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.


"Um! Bunda cepet sehat ya." ucap Arka memeluk Bundanya, Syakura tersenyum lembut.


"Ya, pasti Nak.." jawab Syakira.


"Arka duluan. Assalamualaikum..." salam Arka yang sudah naik ke atas motor.


"Waalaikumsalam, hati hati Ka!" jawab Syakira.


"Waalaikumsalam.." jawab Rangga pelan. Arka kembali tersenyum dan melajukan motornya menuju rumah Papah Regar untuk menjemput Adiknya seperti biasa.


"Ayok.." ajak Rangga ia juga sudah membukakan pintu mobil untuk istrinya tercinta. Syakira tersenyum menatap suaminya sungguh ia merasa sangat beruntung dan bersyukur memiliki suami seperti Rangga.


"Makasih Mas..." ucap Syakira dan segera masuk, setelahnya Ranggapun masuk dan mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Selama perjalanan, Syakira terlihat lemas dan tak bertenaga. Rangga semakin khawatir dan tak tega melihat istrinya saat ini.


"Sabar ya sayang! sebentar lagi sampe.." ucap Rangga mengelus pipi Syakira yang sudah pucat.


"Umm.." jawab Syakira masih berusaha memberikan senyuman terbaiknya.


Rangga segera menggendong istrinya masuk ke dalam rumah sakit setelah mereka sampai, meskipun Syakira sempat menolak dan akan berjalan sendiri, namun Rangga tetap menggendong dirinya.


Syakira dan Rangga harus menunggu giliran, karena mereka mendapat no urut 3.


"Masih lama kayaknya! aku beli minum dulu ya sayang!" ucap Rangga, dan Syakira hanya mengangguk juga tersenyum.


"Tunggu sebentar!" ujar Rangga sebelum ia pergi dan meninggalkan Syakira di kursi panjang tempat menunggu antrian.


"Ya Allah, aku mau muntah lagi... Huee..." Syakira membekap mulutnya dengan kedua tangan, ia segera mencari toilet dan kembali mengeluarkan isi perutnya yang baru saja di isi tadi pagi bersama Rangga.


"Huek, huek, huek..."


"Hah, huekkk...." Sudah semuanya Syakira keluarkan, hingga ia kembali lemas dan hampir saja jatuh jika tak segera di tahan seseorang di sampingnya.


"Duh, mbak gak papa?" tanya seorang wanita yang menopang tubuh Syakira yang hampir ambruk.


"Iya, makasih mbak." jawab Syakira, ia mencoba berdiri tegap sambil berpegangan di dinding.


"Mbak lagi sakit ya?" tanya Wanita itu memperhatikan wajah pucat Syakira.

__ADS_1


"Iya, masuk angin Mbak biasalah.." jawab Syakira dan tersenyum ramah meski tenaganya sudah terkuras habis.


"Biar saya antar Mbak! kebetulan saya juga udah selesai." wanita itu menawarkan diri untuk membantu Syakira, dan tentu saja Syakira tak bisa menolak. karena ia juga butuh bantuan orang itu.


"Ah! terima kasih ya maaf merepotkan!" ucap Syakira merasa tak berdaya.


"Gak papa mbak.." jawab wanita yang sudah membantu Syakira dan mereka berjalan berdampingan menuju ruang tunggu.


"Di sana aja Mbak! saya masih nunggu giliran." ujar Syakira menunjuk kursi panjang barisan depan dan paling ujung tempatnya tadi.


"Makasih ya!" ujar Syakira lagi dan wanita yang menolongnya tersenyum dan ikut duduk di sampingnya.


"Sama sama..." jawabnya.


Syakira memperhatikan wajah wanita yang kini sudah duduk di sampingnya dan merasa mengenalinya namun ia lupa di mana.


"Kita pernah bertemu ya sebelumnya! kok rasa rasanya gak asing?" tanya Syakira kembali menatap wanita di samoungnya yang juga segera menoleh padanya. Wanita itu nampak berfikir, ia mengalihkan pandangannya ke bawah untuk mengingat wajah Syakira.


"Eh! iya saya ingat!" ucap wanuta di samping Syakira dan tersenyum lebar kembali menatap Syakira yang mengerutkan dahinya.


"Kak Syakira kan?" tanya Wanita itu dan Syakira mengangguk.


"Saya Naila Kak, yang di tokoh maianan!" ujar wanuta itu bernama Naila.


"Oh, ya! Naila.." Ucap Syakira setelah ia juga mengingat gadis muda yang melayaninya beberapa waktu lalu saat membeli kado untuk Wulan.


"Makasih ya, kamu bantuin Kakak yang kedua kalinya!" ucap Syakira tulus kembali tersenyum hangat pada Naila yang juga tersenyum padanya.


"Sama sama Kak, gak nyangka bisa ketemu lagi di sini." jawab Naila, Syakira. mengangguk membenarkan ucapan Naila.


Cukup lama mereka saling bercengkrama di sana hingga Rangga kembali dengan membawa dua botol air untuknya dan istrinya.


"Gak papa Mas." jawab Syakira menerima air mineral yang sudah di bukakan Rangga dan segera ia minum karena tenggorokannya memang agak terasa pahit.


"Oya Mas, kenalin ini Naila tadi dka yang bantu aku pas di toilet." ucap Syakira memeperkenalkan Naila pada suaminya.


"kamu muntah lagi sayang?" tanya Rangga kembali khawatir, sebelumnya ia melemparkan senyum tipis pada Naila yang jhga tersenyum ke arahnya namun Rangga tak begitu memperdulikan karena terlaku khawatir dengan kondisi istrinya.


"Umm, tapi gak papa kok untung ada Naila tadi." jawab Syakira melirik ke arah Naila yang kembali tersenyum pada Syakira.


"Makasih sudah nolongin istri saya!" ucap Rangga tulus dan Naila hanya mengangguk.


"Bu Syakira..." panggil suster memanggil nama Syakira.


"Udah tuh, kita masuk sayang!" ucap Rangga membantu Syakira berdiri.


"Kakak duluan ya!" ujar Syakira pada Naila dan gadis itu hanya tersenyum juga mengangguk sedikit.


Syakira dan Rangga sudah masuk ke dalam ruang dokter yang akan memeriksa kondisinya.


"Andai suamiku seperti suami Kak Syakira! sungguh beruntungnya aku yang bisa di temani.." lirih Naila, ia. mengelus perutnya yang masih rata.


"Sayang! sabar ya mungkin Papahmu belum bisa. menerima. kamu dengan baik, tapi Mamah pasti akan selalu menjaga kamu dengan baik.." gumamnya tersenyum getir sambil terus mengelus perutnya dan kembali menatap ruang dokter di mana Syakira dan Rangga berada sekarang.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Rangga, dia yang paling cemas.


"Ini wajar Pak, di usinya yang masih sangat muda jadi istri Bapak. akan mengalami hal seperti ini!" ucap Dokter sambil tangannya menuliskan resep obat yabg harus di minum istrinya.


"Maksudnya Dok?" tanya Rangga yang belum mengerti dengan ucapan Dokter di hadapannya.


Syakira yang baru duduk di samping Rangga setelah ia di periksa juga sangat penasaran.

__ADS_1


"Istri Anda sedang hamil, tapi saya sarankan agar Bu Syakira bisa menjaga kondisi Anda dengan baik, terlebih usia Anda yang sudah lebih dari 35 tahun." terang Dokter, Syakira dan Rangga sangat terkejut, mereka sungguh tak menyangka akan di karuniai anak di usia mereka saat ini.


"Mas..." lirih Syakira, ia cukup khawatir dengan keadaannya saat ini apalagi usianya yang sudah tak muda lagi.


"Gak papa, kita jafmga sama sama ya sayang!" ucap Rangga tersenyum lembut membuat hati Syakira merasa tenang dan lega.


"Umm." jawab Syakura juga tersenyum dan mengangguk singkat.


"Baik, ini resep obat yang harus Bu Syakira konsumsi ya! di situ juga ada fitaminnya." ucap Dokter memberikan resepnya yang segera di terima oleh Rangga. Sepasang suami istri itupun akhirnya keluar, dan kembali berpapasan dengan Naila yang juga akan masuk ke dalam sana sstelah Syakira dan Rangga keluar.


"Udah Kak?" tanya Naila.


"Udah, Kakak hamil!" jawab Syakira tersenyum canggung karena ia sedikit malu hamil di usianya sekarang.


"Alhamdulillah, selama Kak. Rezeki..." ujar Naila menepuk pundak Syakira sekali.


"Ya, makasih dek.." jawab Syakira tersenyum.


"Aku masuk dulu ya Kak!" ujar Naila dan Syakira mengangguk. Naila segera masuk karena namanya sudah di panggil, sedang Syakira dan Rangga segera menebus obat yang sudah di resepkan kemudian mereka kembali ke rumah agar Syakira yang bisa istirahat sesuai dengan arahan Dokter.


"Mas.." panggil Syakira


"Hmm.." jawab Rangga, ia membantu Syakira berjalan dan masuk ke dalam kamar mereka.


"Kenapa?" tanya Rangga karena Syakira hanya diam setelah memangilnya.


"Aku takut Mas!" ucap Syakira, wajahnya terlihat sangat ragu dan bimbang atas kehamilannya.


"Sayang.." Rangga memeluk sitrinya, ia juga memberikan kecupan hangat di pucuk kepala Syakira yang sudah tak menggunakan hijabnya.


"Jangan ragu ya, kita akan menjaga anak anak kita dengan baik. Mas juga pasti akan menyayangi Arka juga bayi ini tanpa ada bandingan di antara mereka." ucap Rangga lembut, ia tahu apa yang ada di fikiran dan hati Syakira.


"Makasih Mas. Maaf!" ujar Syakira merasa salah karena telah meragukan kasih sayang Rangga pada Anaknya Arka.


"Sekarang kamu istirahat, Mas akan buat makanan untuk kamu karena tadi kamu habis muntah lagi kan!" ujar Rangga melepaskan pelukannya dan menuntun Syakura agar berbaring dengan nyaman di atas kasurnya, ia juga menyelimuti Syakira hingg batas dada kemudian mencium kening istrinya dengan sayang.


"Sayang, jangan nakal ya! kasihan Bunda!" ujar Rangga di perut rata Syakira, ia juga memberikan belaian di sana hingga membuay Syakira geli sekaligus nyaman.


"Istirahat!" ujar Rangga. Syakira mengangguk dan mulai memejamkan matanya, entah setelah perutnya di berikan belaian oleh Rangga Syakira merasa nyaman dan tak merasa mual seperti tadi hingga ia bisa tidur dengan nyenyak.


Rangga sudah keluar dari kamar, ia segera membuat bubur untuk istrinya karena Syakira juga harus minum obat.


Setelah perjuangannya, akhirnya Rangga bisa. menyelesaikan buburnya dengan baik, tak lupa ia mencicioi rasanya sebelum ia berikan pada Syakira yang masih tidur dengan lelap.


"Sayang, makan dulu!" ujar Rangga saat ia membuka pintu kamar mereka tanpa melihat sang istri yang masih terlelap.


"Eh! masih tidur!" lirih Rangga kaget, namun senyumannya segera terpaut di bibirnya setelah menatap istrinya yang bksa tidur dengan nyaman sekarang. Rangga meletakkan nampan yang berisi semangkok bubur dan air di atas meja di samping tempat tidur, ia duduk di sisi ranjang di mana Syakira masih tidur.


"Makasih sayang, kamu tidak menolak kehadirannya." ucap Rangga, ia mengelus pipi Syakira dan menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat meski tak separah tadi pagi.


"Aku janji, aku akan menjaga kalian dengan baik juga mencintai kedua anak kita dengan adil." lanjutnya, sungguh Rangga tak ingin kedua anaknya merasakan ketidak adilan dalam kasih sayangnya kelak.


"Kita berjuang bersama untuk menjaga dan merawat mereka sayang!" Rangga mengecup kening Syakira agak lama, dan kembali menatap istrinya sekilas kemudian memperbaiki selimutnya.


"Sdlamat istirahat istriku sayang.." ujar Rangga pelan dan tersenyum. Ia segera turun lagi ke bawah membawa nampan bubur ke dapur agar nanti bisa di hangatkan saat istrinya terbangun.


Lanjut up


Makasih orang baik...


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2