Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Di Antar Sekolah Oleh Kakak


__ADS_3

Hari terus berlanjut, begitupun dengan kehidupan setiap manusia yang masih berpijak di bumi.


Arka masih terus berusaha mendekatkan dirinya ada Wulan agar adiknya itu bisa menerima dirinya sebagai Kakak, namun Wulan masih belum bisa menerika Arka sepenuhnya karena rasa cinta yang ia miliki.


"Wulan.." panggil Arka, mereka sedang berangkat ke sekolah bersama karena tadi pagi Arka sudah datang ke rumah Papah Regar untuk menjemput adiknya itu dan akan mengantarnya sekolah terlebih dahulu.


"Hmm." Wulan hanya berdehem, ia masih merasa canggung saat bersama Arka.


"Kenapa diem?" tanya Arka, ya biasanya Wulan akan sangat cerewet jika bersamanya.


"Gak papa, lagi males ngomong aja.." jawab Wulan setengah jujur.


Arka diam, ia melirik Wulan yang ada di boncengannya dengan sedikit memutar kepalanya agar bisa melihat sang adik yang tetap diam jiga tak ingin berpegangan padanya.


"Pegangan dek!" ujar Arka


"Sudah.." Jawab Wulan, gadis itu memang sudah berpegangan tapi bukan pada Arka melainkan pada besi di belakang motor milik Arka.


"Pegangan sama Kakak, nanti kamu jatuh!" Arka masih mengingatkan adiknya, namun Wulan hanya menggelengkan kepala dan tetap berpegangan pada besi di belakangnya.


Arka menghentikan motornya secara mendadak hingga gadis itu terperanjat kaget dan tubuhnya menghantam punggung Arka.


"Kenapa?" tanya Wulan yang tak mengerti


"Pegangan yang benar, kalo gak Kakak gak akan jalanin motornya!" ucap Arka tegas, ia memutar sedikit badannya agar bisa menatap Wulan adiknya yang mengerutkan keningnya.


"Kan aku udah pegangan tadi!" jawab Wulan


"Bukan di situ, tapi sama Kakak.." ujar Arka menunjuk besi di belakanh Wulan dengan bibirnya


"Sama aja Arka, udahlah kita jalan lagi nanti aku terlambat!" pinta Wulan, namun Arka menggelengkan kepalanya dan tak ingin menuruti permintaan sang adik.


"Pegangan dulu sama Kakak, baru kita jalan lagi!" ucap Arka tegas menatap Wulan layaknya seorang Kakak yang khawatir jika adiknya itu jatuh dan terluka.


Wulan hanya bisa mendengus kesal dengan sikap Arka yang sekarang, ia jelas terlihat seperti sangat protektif padanya. Wulan pasrah dan akgurnya menuruti keinginan Kakaknya itu.


Arka tersenyum saat Wulan mau menurut dan mulai memegang pinggangnya walaupun hanya meraih jaket yang ia kenakan.


"Yang kuat!" ujar Arka yang mulai mengendarai lagi motornya dengan kecepatan sedang, Wulan diam ia sedang malas bicara dengn Kakaknya itu bahkan bibirnya sudah maju beberapa senti, namun pegangannya semakin mengerat di pinggang Arka atas permintaan Kakak yang baru ia ketahui beberapa hari yang lalu.


Arka semakin mempelebar senyumannya, ia senang karena adiknya mau mendengarkan dirinya walaupun harus sedikit dengan paksaan.

__ADS_1


Arka sudah sampai di depan gedung sekolah milik Papah Regar, ia menghentikan motornya tepat di depan gerbang hingga beberapa siswa bisa melihat dirinya juga Wulan.


"Makasih, nanti gak usah jemput!" ujar Wulan datar setelah ia turun dari motor Arka dan mengembalikan helmnya.


"Nanti siang Kakak jemput." jawab Arka tak mengiyakan ucapan adiknya.


Wulan mengerutkan keningnya. " Arka, aku bisa pulang sendiri jadi gak usah di jemput!" ucap Wulan kembali kesal karena Kakaknya ini sangat pemaksa rupanya.


"Pokoknya siang nanti Kakak jemput, dan Kakak tunggu di sini." ucp Arka dengan ketegasannya layaknya seorang Kakak.


"Hisssh, terserahlah.." ujar Wulan dan hendak meninggalkan Arka yang tersenyum tipis karen bisa. membut gadis yang keras kepala itu bisa takluk pada nya.


"Wulan.." panggil Arka menatap Wulan yang kembali berbalik dan menatapnya dengan wajah kesal.


"Apa lagi?" tanya Wulan


"Bisakah kamu panggil aku Kakak?" Arka berbalik bertanya pada adiknya dengan wajah dan tatapan seolah ia sedang meminta. Wulan terdiam sejenak dan ekspresi wajahnya pun seketika berubah.


"Maaf, Ka..." hanya itu yang bisa Wulan keluarkan dari bibirnya dengan pandangan sendu menatap Arka.


"Ya, Kakak paham.." jawab Arka tersenyum tipis dan kembali menaiki motornya.


"Kakak ke sekolah, nanti siang Kakak jemput lagi." ujar Arka dan segera melajukan motornya sebelum Wulan kembali menolak dan membantah ucapannya.


"Maaf, aku belum bisa lagipula kan kita seumuran toh hanya beda beberapa bulan saja!" lirih Wulan tetap menatap kepergian Arka yang sudah tak terlihat di pandangannya.


"Cieeee, jadian nih yeee!" salah satu sahabat Wulan yang juga melihat jelas jika sahabatnya itu baru saja di antar oleh Arka pria yang Wulan suka sejak lama. Gadis itu hanya bekum tahu saja hubungan seperti apa yang di miliki Wulan dengan Arka saat ini.


"Boro boro mau jadian, buat suka aja gak akan mungkin lagi!" lirih Wulan setelah ia menoleh sekilas pada salah satu sahabat gesreknya.


"Eh! kok bisa! kenapa?" tanya sahabat Wulan dengan kedua alis yang ia tautkan satu sama lain.


"Hah..." Wulan menghela nafas berat kembali menoleh pada sahabatnya yang sedang menunggu jawaban darinya


"Dia...." ucapan Wulan terhenti saat satu lagi sahabat gilanya dtang dan menghampiri mereka.


"Woy, sekolahnya di sono bukan di sini!" ujarnya menunjuk gedung sekolah yang megah dengan bibirnya yang di monyongkan.


"Ah loe mah ganggu aja orang lagi ngobrol juga!" ucap sahabat Wulan yang sejak tadi menunggu jawabannya. Wulan hanya tersenyum tipis memperjatikan kedua sahabat gilanya yang selama ini selalu bisa membuat ia tersenyum.


"Ngapain loe senyum senyum! gila loe ya?" tanya sahabat Wulan yang baru datang membuat Wulan justru semakin melebarkan senyumannya.

__ADS_1


"Ya, kan sahabat gue juga pad gila semua.." jawabnya.


"Ha ha ha......" tawa mereka bertiga di depan gerbang. Mereka bertigapun masuk ke sekolah dan menuju kelas sambil saling merangkul pundak dan berjalan bersamaan.


"Lan, loe hutang penjelasan ya sama gue!" ucap Sahabat Wulan.


"Hmm." Wulan hanya berdehem.


"Penjelasan apaan sih?" tnya Sahabat Wulan yang mengganggu mereka tadi


"Kepo loe, mendingan loe belajar yang giat biar naik kelas." jawab sahat Wulan dengan senyuman yang meledek.


"Fatimah, gue tuh pinter jadi gak perlu belajar.." jawabnya pada Fatimah gadis berambut pirang alami yang tadi hamlir saja Wulan memberitahukan hubungannya dengan Arka.


"Ya ya, Kana yang paling pinter juara 32 dari 35 siswa.." jawab Fatimah seolah mengejek Kana yang mulai cemberut. Wulan hanya tersenyum melihat pertengkaran yang memang sering terjadi antara kedua sahabatnya itu.


"Udah udah, kalian ini kerjaannya bertengkar mulu." Wulan melerai pergengkaran antar kedua sahabatnya itu, bahkan ia tersenyum tipis menatap kedua sahabatnya.


"Wulan, loe gak lagi sakit kan?" tanya Kana memegang dahi sahabatnya dengan wajah seolah khawatir.


Wulan mengerutkan keningnya mendengar perkataan Kana. " Apaan sih gue gak sakit tahu!" jawab Wulan menepis tangan Kana dari dahinya.


"Habisnya. loe beda banget hari ini! kayak bukan loe yang gue kenal! serius deh.." ucap Kana menjelaskan maksudnya.


"Biasalah, baru habis di anter sama sang pujaan hati jadinya ya hini deh!" Fatimah melirik Wulan yang juga melirik padanya, namun Kana yang masih belum mengerti dengan perkataan salah satu sahabatnya menautkan kedua alisnya menatap kedua sahabatnya secara bergantian.


"Siapa?" tanya Kana yang lupa dengan sosok pria yang selama ini Wulan sukai.


"Loe lupa Kan?" tanya Fatimah menatap Kana yang malah mengangguk setelah ia berfikir kerasa namun tak mendapatkan oencerahan. Fatimah dan Wulan menggelengkan kepala, mereka sudah tahu jika sahabat mereka satu ini memang suka lupa padahal usianya masih muda


"Dasar pikun." ujar Fatimah


"Arka.." lanjutnya namun tak lagi menatap Kana yang terkejut atas jawaban dari Fatimah, sedangkan Wulan hnya diam dengan senyum tipisnya.


"Se-serius, A-rka nganter loe?" tanya Kana terbata menatap Wulan gak tak percaya. Namun melihat Wulan yang mengangguk membuat ia percaya.


"Kalian udah jadian?" tanya Kana lagi ia semakin penasaran karena tadi ia tidak melihat Wulan yang di antar oleh Arka. Wulan kembli menggelengkan kepalanya cepat, raut wajahnyapun berubah. Fatimah dan Kana sama sama mengerutkan kening mereka.


"Nanti gue ceritain deh, sekarang gak sempet noh Pak Braham dah masuk!" ucap Wulan setelah melihat tatapan kedua Sahabatnya yang sangat penasaran bertepatan dengan guru mereka yang memasuki kelas. Keduanya mengangguk setuju dan duduk di kursi masing masing dengan benar, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari Pak Braham yang sedang mengajar.


Lanjut up lagi...

__ADS_1


Makasih orang baik..


😊🙏🙏


__ADS_2