
Wulan dan Habibi sedang menyalami para tamu undangan rekan bisnis kedua orang tua mereka yang memang kedua nya setujui, meski tak begitu banyak akan tetapi cukup lelah bagi Wulan yang memang memiliki fisik yang masih lemah.
"Capek?" tanya Habibi menatap Wulan yang berdiri di samping nya.
Wulanpun menoleh ke arah Habibi, ia tersenyum tulus dan lembut. "Sedikit, tapi gue bahagia.." jawab Wulan.
Habibi mengangguk ia pun merasakan hal yang sama. "Makasih, loe mau nerima gue jadi pasangan hidup loe Lan..." ucap Habibi sedikit memutar tubuh nya agar bisa menghadap gadisnya begitupun Wulan.
"Gue yang harus nya berterima kasih sama loe Bi, karena loe mau nunggu gue dan mau nerima gue yang pasti nanti nya bakal sedikit merepotkan loe.." ujar Wulan sedikit menundukan wajah nya.
Habibi menggelengkan kepala nya pelan, ia mengangkat dagu gadis itu hingga wajah Wulan kembali terangkat dan mata mereka kembali bertemu dan mengunci untuk beberapa saat menunjukkan perasaan cinta kedua nya melalui mata.
"I love you Lan, gue akan berusaha buat loe bahagia dan gue harap kita tetap saling percaya dan selalu bersama meski dalam masalah baik besar atau pun kecil kedepan nya.." ucap Habibi menatap Wulan dalam.
"Umm, gue janji..." jawab Wulan tersenyum semakin bahagia begitu pula dengan Habibi.
Tanpa kedua nya sadari, dari jauh ada dua pasang mata yang selalu memperhatikan mereka. Mata kedua nya sama sama tajam menatap tak suka akan kebahagiaan Wulan juga Habibi, namun tanpa mereka sadari pula, Kana pun selalu memperhatikan mereka secara bergantian dan selalu mewaspadai kedua nya dengan mata yang tak pernah lepas dari mereka.
"Gue gak akan biarin kalian berdua merusak kebahagiaan sahabat gue juga Habibi..." gumam Kana pelan masih menatap. ke arah dua orang yang sejak tadi menatap Wulan dan Habibi
"Dan, jangan harap rencana kalian bisa berjalan mulus, karena gue akan selalu berada di depan sahabat gue..." lanjutnya semakin tajam menatap dua orang itu.
("Sudah cukup nyokap dan bokap yang nyakitin keluarga Habibi dan gue gak akan biarin kalian berdua juga nyakitin dan merusak kebahagiaan Wulan juga Habibi..") batin Kana merasa jengah akan kedua nya yang selalu memandang tak suka pada Wulan dan Habibi.
"Woy, diem aja loe!" tegur Fatimah, Kana menoleh ke arah Fatimah dan tersenyum kecil melihat sahabat nya itu terus saja makan tanpa henti.
"Loe gak takut gendut apa Fat, dari tadi gue perhatiin makan mulu deh!" ucap Kana bercanda
"Kagak, lah gue udah gendut gini jadi sekalian aja lah.. he he he..." jawab Fatimah cengengesan dan kembali melahap kue brownis di hadapan nya bahkan milik Kana pun ia makan.
Kana hanya menggelengkan kepala nya pelan melihat Fatimah, namun ia juga tak akan melarang sahabat nya itu sebab ia dan Wulan menerima Fatimah apa ada nya begitupun Fatimah.
Wulan dan Habibi segera turun dari atas panggung setelah mereka bersalaman dengan tamu yang baru saja pulang, mereka berdua pun menghampiri kedua sahabat Wulan yang sedang asik mengobrol dan Fatimah yang sibuk dengan makanan nya.
"Enak gak?" tanya Wulan yang duduk di sebelah Fatimah sambil menepuk pundak gadis itu, sedang Habibi duduk di antara Wulan juga Kana.
__ADS_1
Fatimah yang di tepuk pundak nya sedikit kaget dan menoleh ke arah Wulan. "Lan, kaget gue hampir aja nih makanan gue muncrat semua.." ucap Fatimah sambil berusaha menelan sisa kue yang masih ada di dalam mulut nya.
Wulan, Kana dan Habibi tertawa kecil melihat Fatimah. "Maaf, lanjutin deh..." ucap Wulan menyodorkan kue brownis lagi ke hadapan Fatimah.
Fatimah kembali tersenyum dan melahap brownis yang di berikan Wulan pada nya, membuat ketiga orang itu tersenyum melihat tingkah nya.
"Kana, Fat, kalian nginep di rumah gue ya!" ajak Wulan dan tanpa berfikir kedua sahabat nya menganggyk setuju dan tersenyum.
"Ahhh, thank's guys..." Wulan merangkul pundak Fatimah sedang tangannya yang lain merqih tangan Kana yang juga segera mengulurkan tangan nya
"Kalian sahabat terbauk gue..." lanjut Wulan bahagia.
"Lebay deh mulai..." ucap Kana memutar bola mata nya malas, namun bibir nya tersenyum tipis
Habibi hanya ikut tersenyum melihat keakraban antara Wulan juga kedua sahabat nya, ia ikut bahagia dengan kebahagiaan calon istri nya yang begitu ia cintai.
Malam semakin larut, Wulan, Kana juga Fatimah sudah berada di dalam mobil bersama Papah Regar dan Arka. Habibi juga sudah pulang lebih dulu bersama dengan Mamah nya.
"Malam ini akan jadi malam terindah buat gue... " ucap Wulan merangkul kedua sahabat nya yang duduk di sisi kana dan kiri.
"Ya, gue juga bahagia lihat loe sama Habibi bisa bersama..." ujar Kana
Ketiga nya saling melempar tatapan, dan beberapa detik berikutnya mereka tertawa bersama.
Papah Regar juga Arka hanya ikut tersenyum mendengar percakapan ketiga orang di belakang mereka.
"Selamat malam Pah, Kak..." ucap Wulan mencium pipi Papah Regar dan memeluk Arka sekilas barulah ia naik ke atas menuju kamar nya bersama Kana juga Fatimah.
"Tumben..." gumam Arka dan Papah Regar mengangguk, kedua nya menatap Wulan yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Arka mau cium Ayah juga?" tanya Papah Regar menatap putra nya.
Arka menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak deh Yah, makasih..." jawab Arka tersenyum geli.
"Malam Yah.." lanjut Arka dan segera masuk ke dalam kamar nya
__ADS_1
"Kenapa anak laki laki dan perempuan terlihat sangat berbeda?" gumam Regar bertanya pada diri nya sendiri.
Regar pun segera masuk ke dalam kamar nya untuk beriatirahat karena tak mendapat jawaban dari pertanyaan nya sendiri.
Di tempat lain, Habibi dan Mamah Maurin pun baru saja tiba di kediaman mereka.
"Makasih Mah, Habibi bahagia..." ucap Habibi memeluk Mamah nya
"Apapun akan Mamah lakukan untuk kebahagiaan kamu Nak.." jawab Mamah nya membalas pelukan singkat dari Habibi.
"Ya, Bibi tahu..." ujar Habibi
"Malam Mah..." lanjut Habibi tersenyum
"Malam Nak..." jawab Mamah. Habibi pun naik ke atas menuju kamar nya dengan senyum bahagia.
"Mamah akan lakukan apapun itu asalkan kamu bahagia sayang..." gumam Mamah Maurin menatap anaknya dari bawah.
"Mamah akan selalu melindungi kalian berdua dari orang orang yang tak bahagia akan kebahagiaan kalian..." lanjutnya. Mamah Maurin pun segera masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat sebab besok ia akan ada rapat penting.
Jauh dari kediaman Wulan juga Habibi yang sama sama sedang bahagia. Ada dua orang yang sama sama sedang marah dan kecewa akan pertunangan Wulan dan Habibi yang baru saja di laksanakan.
"Gue akan menghancurkan kebahagiaan kalian, dan gue yang akan menjadj pendamping Habibi..." teriak gadis muda di dalam kamar nya tak terima jika lelaki pujaan nya telah bertunangan dengan wanita lain.
Di kamar lain seorang pria melakukan hal yang sama. "Gue pastikan loe akan hancur, dan gue yang akan menikah dengan Wulan..." ucap nya penuh penekanan di setiap kata dengan tatapan tajam mengarah ke dinding di mana ada foto Wulan juga Habibi saat bertunangan beberapa waktu lalu.
"Gue pastikan, gue yang akan bersanding dengan Wulan dan bukan loe..." lanjut pria itu semakin menggebu bahkan beberapa kali ia memukul foto Habibi di samping Wulan hingga tangan nya terluka.
Lanjut nih.
Maaf ya baru up, soal nya Author lagi kehabisan ide jadi butuh refresing yang agak lama emangππ
In syaa Allah akan berusaha buat up terus tpi gak bisa janji....
Pokok nya mah, jangan lelah menunggu ya sobat pembaca semua dan semoga selalu suka deh...
__ADS_1
Makasih orang baik....
πππ