
"Arka.."
"Arka.."
"Arka.."
Teriakan para siswa yang dominan para wanita, mereka sangat mengagumi pria tampan itu, apa lagi saat bermain basket, ah ketampanannya semakin bertambah.
Wulan hanya mendengus kesal mendengar teriakan para wanita di atas sana membuat ia merasa jengah tapi juga cemburu. Ia melirik ada Arka yang terlihat biasa saja dan tak merasa terganggu akan teriakan penggemarnya.
Arka dan teman temannya mulai memasuki lapangan begitupun tim lawan.
"Ka, loe harus waspada, gue yakin loe bakalan di incer sama mereka nanti karena kehebatan loe." bisik Habibi memeprhatikan lawan mereka.
"Jangan soudzon.." balas Arka tetap dengan tampang dinginnya.
"Ya waspada aja.." ucap Habibi menjauhkan wajahnya dari telinga Arka.
Arka sebagai ketua tim maju kedepan begitupun ketua tim lawan dan mereka bersalaman untuk menunjukkan jika ini hanya pertandingan persahabatan atas perintah dari wasit, baru setelahnya pertandingan di mulai.
Babak pertama yang baru saja di mulai, Arka dan teman temannya sudah mulai membuat tim lawan kewalahan dengan cara bermain mereka.
"Ternyata permainan mereka memang sangat baik." gumam ketua tim dari lawan terus memperhatikan permainan lawannya.
"Arka..." panggil Habibi kemudian mengoper bola pada Arka yang segera menerimanya dan memainkannya dengan lihai lalu melemparkan ke tempat dari jarak yang cukup jauh. Dan tentu saja masuk, lemparan Arka tidak pernah meleset selama ia bermain.
"Yes..." Arka tersenyum tipis dan berbalik ke arah timnya.
"Good job Arka.." ujar temannya, Arka hanya tersenyum sekilas dan mulai fokus kembali.
Permainan kembali berjalan, Arka dan teman temannya berhasil mengalahkan tim lawan, ya setidaknya mereka seimbang karena tim wanita dari sekolah Wulan adiknya memangkan pertandingan dan tim laki laki di menangkan oleh Arkajuga teman temannya. Balas dendam yang cukup seimbang...
"Bisa bicara?" tanya Wulan dengan wajah datarnya menatap Arka yang masih tenang.
Habibi dan teman mereka yang lain tampak diam saja, terutama Bibi yang terlihat jelas jika remaja itu sangat terkejut karena Wulan sahabatnya ingin berbicara pada sahabatnya Arka. Satu pertanyaan dalam benak Hbibi, Apa yang ingin mereka bicarakan?.
"Kenapa?" Arka justru balik bertanya
"Bisa atau gak?" Wulan menekan ucapannya ia juga tak menjawab pertanyaan Arka. Wulan semakin menatap Arka dengan serius
Arka tampak menghela nafasnya kasar, ia tak bisa menolak permintaan Wulan tapi juga enggan menerimanya.
"Ikut aku.." ujar Arka pada akhirnya menyetujui permintaan Wulan dan berjalan lebih dulu melewati dirinya.
"Bi aku bicara sebentar sama temen loe.." ujar Wulan Habibi hanya mengangguk dengan segala pemikirannya sendiri...
__ADS_1
Arka dan Wulan sudah berada di halaman belakang sekolah yang sepi, hanya ada mereka berdua saja.
"Ada apa?" tanya Arka karena sejak mereka di sana Wulan masih diam saja dengan matanya terus mengarah pada Arka.
"Kenapa kamu pindah?" tanya Wulan masih pada tatapan kecewanya pada Arka.
"Hnya ingin pindah." jawab Arka tanpa menoleh ke arah Wulan.
"Gak mungkin, itu pasti karena aku kan?" Wulan tersenyum pilu, ia tahu jika Arka pergi karena ingin menghindari dirinya yang selalu mengejar Arka.
"Tidak..." jawab Arka masih tenang dan tanpa menoleh pada Wulan membuat gadis itu meradang dan geram dengan sikap, Adka yang kembali dingin padanya.
"Apa seburuk itu aku di matamu Ka?" tanya Wulan, kini matanya menatap Arka dengan penuh kekecewaan serta kebencian namun masih ada cinta di dalamnya.
Arka terkejut dengan pertanyaan satu itu yang keluar dari bibir Wulan, namjn ia tetap menunjukkan sikap tenangnya dan menoleh pada Wulan menatap lekat manik mata berwarna coklat pekat milik Wulan.
"Dengar Wulan, aku tahu kau menyukaiku tapi kau juga tahu jika aku tak pernah menyukai apapun yang ada padamu, dan lagi kita tak akan mungkin bisa bersama. Kau paham!" ujar Arka tampangnya sangat serius membuat Wulan justru tersenyum getir.
"Aku tahu, tapi kenapa? kenapa kau tak bisa menerimaku apa yang kurang dariku?" tanya Wulan wajahnya berubah marah bahkan nada suaranya naik satu oktaf.
"Tidak ada alasan." jawab Arka kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Pasti ada?" Wulan terus memojokkan Arka, namun Arka sangat pandai menyembunyikan perasaannya sendiri dengan terus bersikap tenang.
"Apa kau sunghuh ingin tahu?? kali ini Arka bertanya dengan sebelah alis yang ia naikkan menatap Wulan sekali lagi.
"Aku akan jawab tapi bukan sekarang.." ucap Arka santai
"Lalu kapan?" tanya Wulan dengan wajah masam
"Akan ada waktunya, taoi bukan sekarang." jawab Arka, ia berdiri dan kembali menoleh ada Wulan yang mendongak menatapnya.
"Dengar, apapun alasanku bukan karena kau buruk, tapi itu karena aku yang memang tak bisa dan tak akan pernah bisa untuk kita bersama." ujar Arka sebelum akhirnya ia meninggalkan Wulan di sana sendirian dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.
"Apa alasannya! dia bilang gak buruk tapi tetap saja tak bisa menerima gue! Dasar aneh.." gumam Wulan, ia juga segera beranjak dari sana seyelah kepergian Arka.
Arka sendiri sudah tiba di hadapan Habibi dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celannya berjalan santai ke arah sahabatnya itu. Habibi mengerutkan keningnya karena tak melihat Wulan bersama Arka.
"Wulan?" tanya Habibi menatap Arka yang malah menikan kedua bahunya. Hbibi semakin mengerutkan keningnya mendapat jawaban Arka.
Tak lama Arka tiba, Wulanpun juga sudah terlihat di pandangan Habibi, remaja itu tersenyum. menyambutnya.
"Bi, gue balik dulu." ujar Wulan tersenyum manis pada Habibi yang juga tersenyum padanya.
"Makasih, loe dah nemenin gue.." lanjut Wulan memeluk Habjbi sekilas, sebenarnya ia ingin membuat Arka cemburu atau apapun itu, tapi nyatanya remaja dingin satu itu justru memasang wajah dingin dan tak perduli sama sekali bahkan Arka tak menoleh pada kedua orang di sampingnya.
__ADS_1
habibi sendiri sangat terkejut dengan yang Wulan lakukan padanya, walaupun hanya sekilas tapi itu cukup mampu membuat jntungnya berdegup kencang.
"W-wulan..." ucap Habibi terbata. Wulan kembali tersenyum
"Dah, makasih Bi..." ujar Wulan lagi dan meninggalkan Hbibi juga Arka di sana hingga tak lagi terlihat.
"Biasa aja Bi.." ucap Arka yang melihat ekspresi Habibi.
"Gak bisa bro, jantung gue aja rasanya mau copot.." ujar Habibi memegangi dadanya yang masih berdegup kencang meskioun tak sekencang tadi.
"Lebay..." ujar Arka beranjak dari sana meninggalkan Habibi yang segera mengejarnya dan mengimbangi langkah sahabatnya itu.
"Aelahhh, yang si paling gak lebay mah beda.." ucap Habibi tersenyum lebar merangkul pundak Arka yang tertarik agak ke bawah karena Habibi sedikit pendek darinya.
Arka dan Habibi saling nelempar senyum dan berjalan memasuki kelas mereka untuk mengambil tas dan pulang tentunya.
"Ka.." panggil Habibi saat mereka tinggal berdua saja di dalam kelas.
"Hmm.." jawab Arka masih sibuk memasukkan baju nya ke dalam tas ranselnya.
"Loe kenal sama Wulan? kok bisa?" dua oertanyaan dati Habibi membuat Arka menghentikan kegiatannya sejenak kemudian melanjutkannya lagi.
"Dulu pernah satu sekolah, kamu lupa ya kan aku dari sekolah mereka juga." jawab Arka masih tenang dan menutup tasnya.
"Kalian punya hubungan?" lagi pertanyaan Habibi membuat Arka terpaku sejenak, kemudian ia berbalik menatap Habibi
"Kau menyukai Wulan kan?" Arka tak menjawab pertanyaan Habibi namun ia berbalik bertanya.
"Eh, loe belum jawab oertanyaan gue!" ujar Habibi kesal.
"Aku jawab toi jawab dulu pertanyaanku tadi!" ujar Arka tersenyum tipis mendapati wajah Habibi yang gugup dan malu
"Y-ya." jawab Habibi terbata karena malu. Arka tersenyum.
"Baguslah, kau bisa berusaha lebih keras untuk bisa mendapatkannya tapi satu pintaku jangan sakiti dia, karena aku akan jadi orang oertama yang akan menghajarmu.." ujar Arka, tentu saja Habibi terkejut dan semakin penasaran akan hubungan Wulan dengan sahabatnya ini. Bagaimana mungkin Arka bisa sekhawatir itu pada gadis yang tak memiliki hubungan dekat dengannya.
"Kau sangat khawatir padanya! itu artinya hubungan kalian tak sesederhana itu kan?" Habibi menatap Arka dengan tatapan selidik, Arka kembali tersenyum ia sudah tahu jika Habibi pasti akan mengatakan itu padanya.
"Tidak juga, hanya satu hubungun yang tak bisa aku katakan padamu sekarang. Jika sudah waktunya kau juga akan tahu." jawab Arka, ia segera meninggalkan Habibi yang masih termenung mencerna ucapan Arka namun makin di fikirin malah makin membuat ia pusing sendiri. Arka sengaja meninggalkan sahabatnya itu karena tak ingin Habibi makin bertanya banyak hal padanya.
"Ka, loe selalu buat gue pusing.." gumam Habibi segera menyusul Arka yang selalu saja meninggalkannya jika sedang terpojok.
Lanjut nih Kak...
Makasih ya orang baik...
__ADS_1
😊🙏🙏🙏