
"Halo Den....Den... hiks hiks...." tangis seseorang yang baru saja menelpon Arka...
"Bi, kenapa?" tanya Arka pada orang yang ia panggil Bibi.
"Den, Non Wulan....hiks hiks...." perkataan Bibi kembali terhenti karena tangisannya membuat Arka yang baru saja membuka mata menjadi panik dan khawatir karena sejak menelpon tadi Bibi menyebut nama adiknya.
"Wulan kenapa Bi?" tanya Arka dengan nada terdengar cemas.
"Non Wulan masuk rumah sakit Den, sekarang lagi di tanganin sama Dokternya..." Arka terdiam sesaat, ia masih belum bisa mencerna ucapan Bibi barusan.
"Tapi semalam!" ucap Arka pelan, namun dengan keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar, Arka berlari keluar kamar dengan menyambar jaket juga kunci motornya. Arka menuruni tangga dengan tergesa dan itu tak lepas dari pandangan Papah Rangga yang juga baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Arkaaa..." teriak Rangga saat melihat anaknya yang sudah menuruni tangga dengan wajah cemas dan sangat tergesa gesa.
"Arkaaaa..." teriak Rangga lagi kini ia berdiri tepat di sisi pembatas lantai dua rumahnya. Arka tak menghiraukan seruan Papahnya, ia tetap berlari hingga tak lagi terlihat di mata Rangga.
"Apa yang terjadi!" gumam Arka, fikirannya benar benar tak karuan sekarang. Arka mengendari motornya dengan kecepatan tinggi, untunglah jalanan masih sepi di pagi hari.
"Bi...." teriak Arka saat ia sudah berada di rumah sakit dan Bibi yang memang menunggunya tak jauh dari ICU di mana Wulan masih di tangani saat ini.
"Den..." tangis Bibi kembali pecah saat ia melihat Tuan Mudanya.
"Wulan!" Arka mengedarkan pandangannya ke segala ruangan dengan tatapan paniknya.
"Di sana Den, masih di tangani sama Dokter, udah hampir satu jam tapi Dokternya belum keluar juga..." jawab Bibi masih terisak sambil menunjuk ruang ICU.
"Ayah!" tanya Arka lagi, karena tak melihat Ayahnya.
"Tuan Besar masih di jalan Den, soalnya tadi sudah berangkat ke kantor..." jawab Bibi.
Arka tak lagi bertanya, ia segera menuju ke ruang ICU dan menunggu Dokter yang menangani Wulan adiknya. Hatinya sangat takut, khawatir juga cemas semua menjadi satu. Arka tak bisa diam, ia bahkan terus mondar mandir di depan ruang ICU.
Tak lama Dokter keluar dengan wajah suram, dan melihat Arka juga Bibi secara bergantian.
"Keluarga pasien atas nama Wulan?" tanya Dokter dan Arka segera maju mengahadap Dokter yang langsung menatapnya meminta penjelasan.
"Saya Kakaknya Dok, bagaimana kondisi adik saya sekarang?" tanya Arka dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
__ADS_1
Dokter terdiam sejenak, pandangannya turun kebawah dengan gelengan kepala pelan. Dokter mengehembuskan nafasnya pelan dan kembali menatap Arka yang semakin khawatir dan cemas.
"Adik anda mengidap kanker yang menyerang jantungnya, dan itu sudah masuk stadium akhir.." jelas Dokter. Arka melebarkan matanya terkejut akan penyakit yang di derita adiknya, pantas saja selama beberapa hari belakangan ini Wulan nampak kusut bahkan wajahnya terlihat selalu pucat.
Arka terduduk di atas kursi panjang di depan ruang ICU, matanya menatap kosong ke arah depan, tangannya bergetar dan wajahnya berkeringat dingin. Tak pernah terbayangkan jika adiknya akan menderita penyakit semengerikan itu.
"Kanker jantung stadium akhir...." lirihnya di sela keterkejutannya, rasanya dunia berhenti setelah mendengar tentang kondisi buruk sang adik yang sudah sangat ia sayangi.
"Ayah..." lirih Arka saat ia melihat Regar yang berdiri tak jauh dari mereka dan sudah mendengarkan Dokter menjelaskan penyakit Anaknya. Regarpun sama terkejutnya bahkan ia sampai tak bisa bergerak karena terlalu terkejut.
"Putriku..." lirih Regar, seketika tubuhnya ambruk ke lantai, sungguh tak pernah terbayangkan jika anaknya akan mengalami penyakit mengerikan itu.
"Saya permisi, untuk lebih jelasnya lagi silahkan ke ruangan saya..." ucap Dokter kembali saat ia hanya bisa melihat kesedihan dari keluarga pasiennya. Bibi hanya mengangguk menatap kasihan pada kedua majikannya.
"Wulan..." lirih Regar lagi, ia mencoba berdiri dan mulai berjalan gontai menuju pintu rung ICU di mana anaknya masih di rawat.
"Wulanku, anak Papah putri kecil Papah..." Regar mulai terisak, ia bisa melihat wajah pucat anaknya. Penyesalan mulai menghampiri perasaannya, bagaimana ia bisa tak menyadari tentang kondisi anaknya sendiri bahkan sudah separah ini.
"Maafkan Papah Nak!" lirih Regar, ia masih berdiri di depan pintu dan hanya bisa melihat putrinya dari kaca bulat di pintu itu.
Arka masih terduduk di kursi, ia juga merasa gagal sebagai Kakak untuk Wulan sebab, iapun tak pernah tahu akan penyakit yang di derita adiknya itu.
Satu jam berikutnya, Arka, Regar juga Bibi masih menunggu Wulan di ruang ICU dan baru di pindahkan ke ruang rawat beberapa saat yang lalu. Arka dan Regar masih sama sama terdiam, mereka masih sama syoknya akan Wulan yang harus mengalami semua ini.
"Yah.." panggil Arka saat mereka masih menunggu agar di izinkan masuk dan menjenguk Wulan. Bibi sendiri sudah kembali ke rumah atas perintah Regar agar bisa membawakan keperluan Wulan juga dirinya karena ia pasti akan lama di rumah sakit untuk menemani anaknya.
"Ya..." jawab Regar, wajahnya terlihat lelah dengan bekas air mata yang masih basah di pipinya.
"Arka akan menemani Wulan, dan Arka akan tinggal bersama kalian sampai Wulan sembuh.." ucap Arka mengungkapkan keinginannya yang akan tinggal bersama mereka di kediaman Regar.
"Terima kasih Nak, maaf merepitkan mu..." ujar Regar menatap Arka yang juga menatapnya..
"Apa Wulan bisa sembuh Yah?" tanya Arka dengan nada suara bergetar karena takut jika harus kehilangan adiknya. Regar terdiam sejenak, ia juga merasa ragu jika putrinya bisa selamat dari penyakit yang mematikan itu, apalagi tadi setelah mendengar penjelasan Dokter yang menangani anaknya.
"Ayah gak tahu, tapi Ayah yakin Wulan anak yang kuat dan pasti bisa sehat.." jawab Regar, ia juga ragu akan hal itu.
Arka hanya mengangguk pasrah, ia juga tahu jika penyakit itu bukanlah penyakit biasa. Sekarang ia hanya ingin membuat adiknya selalu bahagia dengan terus berada di sisi gadis itu.
__ADS_1
'Kenapa Wulan ya Tuhan!' batin Arka, ia ingin menjerit tapi tak mungkin jadilah Arka hanya bisa duduk diam dengan air mata yang terus membasahi pipinya meski tanpa ada suara sedikitpun yang keluar dari bibirnya.
"Tuan anda bisa melihat pasien, tapi tolong gantian ya dan jangan sampai berisik karena pasien harus istirahat." ucap Suster yang baru saja keluar dari runag rawat Wulan setelah memastikan jika semua alat medisnya terpasang dengan baik dan berfungsi.
Arka dan Regar hanya mengangguk bersamaan. Suster itu pun berlalu meninggalkan anak dan Ayah yang kemudian saling pandang.
"Sebaiknya Ayah lebih dulu, karena Wulan pasti sangat membutuhkan Ayah sekarang.." ucap Arka mengalah, sebab ia juga tahu jika saat ini Ayah nyala yang lebih berhak.
Regar mengangguk. "Ayah masuk dulu Nak.." Regar pun segera masuk ke ruang rawat Wulan. Langkahnya terhenti saat melihat putrinya sedang terbaring tak berdaya dengan segala macam alat medis di tubuhnya. Wajah yang pucat jelas terlihat di mata Regar.
"Wulan sayang..." lirih Regar, ia menatap wajah anaknya yang biasanya ceria dengan segala canda tawa yang selalu di tunjukkan padanya, tapi sekarang hanya ada wajah pucat tak berdaya sang anaklah yang bisa ia lihat.
Regar duduk di kursi samping ranjang yang di tiduri Wulan, Regar menggenggam erat tangan anaknya dan memberikan elusan lembut di sana berharap jika putrinya bisa merasakan kasih sayangnya.
"Maaf Nak, Papah gak pernah tahu akan penyakit kamu! Papah gagal jadi Papah yang baik buat Wulan selama ini..." lirih Regar, air matanya tak bisa lagi di bendung ia menangis bahkan sampai terisak sebab rasanya sangat sakit saat melihat putri kecil yang selalu kita jaga justru sekarang harus mengalami rasa sakit yang entah seperti apa rasanya.
"Papah, selalu mengecewakan Wulan, Papah minta maaf Nak..." lanjutnya di sela tangisan dan isakannya. Regar segera keluar setelah waktunya habis, dan kemudian di gantikan dengan Arka.
"Wulan, dek...." ucap Arka bergetar menahan tangisnya agar tak sampai tumpah.
"Maafin Kakak dek, belum bisa jadi Kakak yang baik buat kamu.." Arka menggengam tangan Wulan yang terasa dingin, membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Mulai sekarang, Kakak akan jaga kamu dan akan selalu berada di sisi kamu dek. Kakak janji..." Arka. mencium punggung tangan Wulan, rasa sayangnya pada adik perempuannya itu sungguh sangatlah besar. Air mata Arka pun jatuh seketika seiring dengan bibirnya yang mulai menyentuh punggung tangan Wulan.
Seperti Regar, Arkapun segera keluar dari sana setelah waktunya habis. Keduanya kembali duduk di kursi yang ada di sana. Hening tak ada pembicaraan dari keduanya karena sibuk akan fikiran masing masing dan tentunya hanya ada satu orang yaitu Wulan.
'Maafin Papah Nak...' batin Regar masih merasa bersalah akan kondisi anaknya saat ini.
'Maafin Kakak dek...' kali ini batin Arka yang berbicara, ia juga merasa bersalah karena tak bisa merasakan jika adiknya sedang sakit sebab ia tak pernah melihat Wulan yang mengeluh meskipun memang ia sering melihat wajah pucat Wulan beberapa bulan belakangan ini, namun Wulan selalu mengatakan jika dia baik baik saja.
Arka dan Wulan kuliah di tempat yang sama atas permintaan Arka sebagai Kakak yang ingin terus menjaga adiknya, dan Wulan sama sekali tak keberatan ia justru senang senang saja sebab selain Arka ada Habibi yang juga akan satu fakultas yang sama dengan mereka.
Arka dan Regar sedang hanyut dalam fikiran masing masing, di mana keduanya sedang membayangkan wajah ceria Wulan yang kemudian tergantikan dengan wajah pucat tak berdaya gadis itu membuat senyum di kedua bibir pria tampan itu menghilang dan tergantikan dengan wajah sedih penuh penyesalan.
Lanjut lagi....
Makasih....
__ADS_1
😊🙏🙏