
Selama bertahun tahun lama nya Bagas selalu menyiksa batin istrinya, hanya Santilah yang senantiasa menemani adik iparnya juga keponakannya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dan menggemaskan.
"Ana, jangan nakal ya Ibu mau kerja!" pesan Naila
"Ok Bu..." jawab Ana dan mencium pipi Bundanya.
"Mbak nitip Ana ya?" ucap Naila merasa tak enak hati karena setiap hari harus menitipkan anaknya pada sang Kakak yang juga sudah menjanda karena suaminya meninggal, namun mereka tak memiliki anak karena memang Santi yang mandul...
"Gak papa, Mbak malah seneng kalo Ana di tinggal sama Mbak, jadi Mbak ada temen di rumah." jawab Santi tersenyum.
"Makasih Mbak!" ucap Naila, ia memeluk Kakak iparnya kemudian berangkat ke tempat kerja.
Bagas sendiri selalu pulang malam, ia tak pernah menghiraukan anak juga istrinya. Bahkan sekarang Naila tengah hamil muda namun tetap harus bekerja demi menghidupi anak juga calon bayinya.
"Gas..." panggil Santi saat melihat Adiknya baru pulang dengan keadaan kacau.
"Mbak!" Bagas mengernyitkan dahinya melihat Santi yang berada di rumahnya, namun ia baru ingat jika Mbaknya itu memang selalu datang setiap hari untuk menjaga anaknya.
"Ayah..." panggil Ana tersenyum cerah, ia hendak mendekati Ayahnya dan memeluk namun dengan cepat Bagas mendorong Ana hingga terjatuh ke lantai.
"Bagas..." bentak Santi marah atas prilaku Bagas pada keponakannya. Santi bergegas menggendong Ana yang sudah menangis sesenggukkan.
"Ada yang sakit Nak?" tanya Santi lembut membelai rambut panjang dan ikal Ana yang terlihat sangat cantik dengan wajah chubby juga mata belok nya.
Ana hanya menggelengkan kepqlanya, ia menyembunyikan wajahnya di pundak Santi yang kembali menatap Bagas tajam, namun yang di tatap justru biasa saja dan masuk ke dalam kamarnya.
jedorrr.....
"Astagfirullah, Bagas....Bagas...." Santi menatap kesal ke arah pintu kamar Adiknya.
"Mau jalan jalan sama Tante gak?" ajak Santi dan Ana kembali bahagia matanya menatap Santi dengan bebinar.
"Ummm...." jawab Ana mengangguk antusias. Santi tersenyum, ia selalu merasa bahagia dan tenang saat melihat wajah keponakannya ini.
"Yok, ganti baju habis itu kita jalan.." Ana lagi lagi mengangguk dan segera mengikuti Santi ke kanarnya untuk berganti pakaian.
Di tokoh, Naila tengah sibuk melayani pelanggan yang berkunjung ke tokoh tempat ia bekerja. Tak ada yang tahu jika ia sedang hamil karena memang kali ini ia sama sekali tak mengalami ngidqm seperti kehamilan pertamanya, seolah mengerti akan kondisi mereka saat ini.
"Anak Ibu emqng pintar!" gumam Naila mengelus perutnya yang masih rata saat jam makan siang.
"Nai..." panggil salah satu pegawai tokoh teman dekat Naila.
"Um, ya Kak kenapa?" tanya Naila, ia segera berdiri namun di tahan oleh wanita yang di panggil Kakak oleh Naila.
"Duduk aja, nanti kamu capek lagi!" ucapnya tersenyum hangat, Naila ikut tersenyum dan kembali duduk di kursi.
__ADS_1
"kapan mau cek kandungan lagi?" tanya nya serius.
"Mungkin sekitar dua mingguan lagi Kak.." jawan Naila masih tersenyum ramah pada seniornya.
"Hmmm..." deheman teman Naila setelah mendengar jawaban Naila.
"Kak Sumi mau ikut periksa juga?" Naila kembali bertanya, nmun pertanyaannya justru di lemparkan tawa kecil oleh Sumi.
"Gaklah, ngapain Kakak mana hamil!" jawab Sumi di sertai tawa kecil dan Nailapun ikut tersenyum kikuk.
"Maaf Kak.." ucap Naila tak enak, ia tahu jika seniornya ini memang sudah menikah hampir lima tahun tapi memang belum di beri keturunan.
"Santai, Kakak mah selow orangnya..." ucap Sumi masih santai, tangannya sibuk menghitung uang yang mereka dapat dari tadi pagi sampai siang inj karena sebentar lagi mereka pulang dan di gantikan oleh yang lain.
"Dah selesai nih, pulang yok bareng Kakak aja.." ajak Sumi Naila mengangguk setuju, ia memang sangat sering ikut dengan Sumi yang mau mengantar nya pulang.
"Makasih ya Kak, maaf ngerepotin Kak Sumi terus!" ucap Naila tak enak selalu membuat repot Sumi yang tiap hari mengantarnya pulang padahal arah mereka berlawanan.
Setiap hari berlalu begitu, Naila yang tiap harinya harus bekerja dan menitipkan Ana putrinya pada Santi Kakak iparnya sedangkan suaminya sangat jarang memberikan nafkah pada dirinya walaupun suaminya selalu pulang ke rumah setiap malam atau pagi lalu tidur.
Suatu ketika, Bagas sedang bekerja menjadi tukang parkir. Bagas sedang fokus pada pekerjaannya, duduk santai di kursi plastik yang ada di sana menatap jalanan yang tidak begitu ramai.
Matanya terfokus pada seorang wanita muda yang sedang hamil besar, ia hendak menyebrang jalan yang saat itu sedang sepi karena kendaraan berada jauh di sisi kanan dan kiri. Wanita itu berjalan lambat karena perutnya yang besar, hingga tiba tiba saja mobil menabraknya hingga wanita itu terpental dan berguling guling hingga menabrak pembatas jalan.
"Na-Naila, Ana!" lirihnya, ia merasa seolah yang tertabrak adalah istri juga anaknya.
Wanita tadi sudah di larikan ke rumah sakit setelah para pejalan kaki juga beberapa pengendara yang turun demi membantu wanita itu yang sudah tak sadarkan diri dengan darah di mana mana. Bagas sendiri segera pulang meskipun akhirnya ia harus di pecat karena tak menyelesaikan pekerjaannya. Sungguh Bagas hanya ingin menemui keluarganya yang selama bertahun tahun belakangan ini selalu ia abaikan bahakna ia selalu memperlakukan istri juga anaknya secara kasar.
Menyesal, sungguh ia menyesal dan berharap semuanya belum terlambat untuk dirinya bisa memperbaiki segalanya.
"Naila, Naila..." teriak Bagas memanggil nama istrinya saat ia sudah sampai di rumah dan mencari cari sang istri.
Naila yang saat itu baru selesai mencuci dan sedang menjemurnya di belakang segera berlari kecil untuk menemui sang suami yang semakin kuat teriakannya.
"Mas, maaf aku lagi jemur baju di belakang. Maaf Mas!" lirih Naila takut jika nanti suaminya akan marah dan. memukulnya seperti biasa.
Bagas terdiam sesaat ketika sang istri muncul dari arah belakangnya, ia kembali menjatuhkan cairan bening memeluk istrinya.
Naila sangat terkejut saat tiba tiba Bagas memeluknya erat, sesuatu yang sudah sangat lama ia rindukan dari sang suami.
"Maaf..." ucap Bagas lirih, ia sudah menangis sejadi jadinya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Naila yang juga ikut menangis.
"Mas..." lirih Naila, ia terisak sungguh akhirnya apa yang selama ini ia harapkan bisa terwujud, suaminya mau memeluknya dengan penuh cinta dan kasih sayang ssoerti dulu.
"Maafin Mas..." mohon Bagas, Baila mengangguk ia masih terisak sedangkan Bagas sudah berhenti menangis namun sesekali air matanya masih jatuh dan mengenai tangan Naila yang ada di genggamannya.
__ADS_1
"Ayah..." teriak Ana dari arah belakangnya, Bagas menoleh dan melihat jika putri kecilnya sudah berlari ke arahnya juga Naila.
Bagas menerima pelukan Ana dengan sayang, tak ssperti biasanya yang akan segera mendorong anaknya hingga terjatuh.
"Ana, anakku putri Ayah..." lirihnya, penyesalan kembali menghantui dirinya karena selama bertahun thun tak pernah peduli pada anak hingga sekarang anak itu tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dan menggemaskan.
"Ayah, Ana sayang Ayah jangan marah marah lagi ya!" lirih Ana, ia menangis hingga sesenggukkan di dalam pekukan Bagas yang mengelus dan menciuni pucuk kepala putri nya.
"Tidak akan pernah Nak, Ayh minta maaf ya!" ucap Bagas, Ana mengangguk dan semakin menengfelamkan tubuh mungilnya dalam dekapan sang Ayah yang begitu ia inginkan sejak dulu.
Santi dan Naila tersenyum bahagia meski air mata mereka sama sama jatuh karena tak menyangka jika akhirnya Bagas bisa berubah.
"Mbak maafin Bagas ya!" ujar Bagas tulus, ia menunduk tak mamou menatap Mbaknya.
"Syukur Alhamdulillah, kamu akhirnya bisa kembali menjadi Bagas yang Mbak kenal Dek!" ucap Santi memeluk Adiknya dengan sayang.
"Makasih Mbak, selama ini Mbak udah jaga keluarga Bagas yang seharusnya Bagaslah yang menjaga.." ujar Bagas penuh penyesalan.
"Melihat kamu sekarang semua itu gak ada apap apa nya Dek, tapi Mbak bersyukur bisa karena Mbak jadi bisa dekat sama anak dan iatri kamu." jawab Santi semakin melebarkan senyumannya menatap Ana juga Naila yang duduk di samping Bagas dan saling berpelukan.
"Hore, Ayah sudah gak marah marah lagi." teriak Ana senang, gadis kecil itu terlihat sangat bahagia atas perubahan sikap Ayahnya.
"Ana bahagia Nak?" tanya Bagas dan Ana mengangguk cepat, ia kembali memeluk sang Ayah yang segera mengangkat anaknya dan di dudukkan di atas pangkuannya.
"Mulai hari ini, Mas akan bekerja keras buat kalian dan akan menjaga dan merawat kalian walaupun dosa dan kesalahan Mas yang lalu tak akan mungkin termaafkan, tapi Mas janji akan selalu menjaga kalian." ucap Bagas tegas dan serius, Naila dan Santi yang mengerti hanya mengangguk dan tersenyum cerah, sedang Ana yang belum paham hanya ikut tersenyum.
"Ayah sayabg Ana kan?" tanya Gadis kecil itu tiba tiba menatap manik mata sang Ayah yang tersenyum.
"Um, Ayah sangat sangat menyayangi anak Ayah yang cantik dan imut ini..." jawab Bagas di sertai cubitan manja di pipi kanan dan kiri Ana yang kembali tersenyum bahagia.
Hari yang bahagia bagi keluarga itu, walauoun Bagas harus di sadarkan dengan kejadian naas yang menimpa keluarga wanita hamil yang tertabrak di hadapan Bagas saat itu, bahkan dirinyapun tak berani mendekat dan malah berlari demi menemuii keluarganya untuk meminta maaf.
Bagas akhurnya bertemu dengan Rangga yang saat utu sedang mencari Sekertaris baru dan laki laki, kebetulan lah Bagas melamar pekerjaan di sana dan satu lift dengan Rangga yang pada saat itu ia kira adalah irang yang ingin melamar ssperti nya.
Setelah bincang bincang di lift, akhirnya Rangga mengetahui sedikit banyak tentang pria itu dan menerimanya sebagai sekertaris penggan Sekertarisnya yang harus ia pindahkan.
Berkah bagi Bagas atas doa doa istri juga anaknya serta Mbaknya yang sangat menyayangi dirinya.
Lanut up...
kisahnya Mas Bagas sama Mbak Naila serta keluarga.. Ini sebagai pemanis aja ya Kak...
Makasih, jangan lupakan like sama votenya juga dukungan kalian...
😊🙏🙏
__ADS_1