Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Pria Asing


__ADS_3

Pagi pagi Arka datang ke kediaman Regar karena mengambil barangnya yang tertinggal saat ia menginap di sana, namun saat akan memasuki kamar yang memang di sediakan Regar untuknya, Arka melihat sosok gadis yang begitu ia kenal dan rindukan.


Arka berhenti tepat di depan kamar gadis yang tak sengaja ia lihat sebab pintu kamar yang sepertinya memang sengaja di buka lebar. "Dek..." guama Arka dengan mata yang terbuka lebar menatap sang adik yang tersenyum ke arahnya sambil duduk di sisi ranjangnya.


Arka masih terpaku, dia hanya diam di tempat menatap tak percaya jika adiknya sudah kembali, lalu kenapa ia tak di beri tahu?


"Gak mau meluk atau ngucapin sesuatu gitu ke gue!" ujar Wulan yang sudah berdiri di hadapan Arka tanpa pemuda itu sadari karena terlalu sibuk dengan fikirannya sendiri.


Sontak Arka langsung memeluk adiknya dengan erat, ia bisa mencium aroma vanila dari tubuh adiknya. "Kakak kangen dek, Kakak gak bisa tenang selama kamu di sana..." ucap Arka masih memeluk adiknya.


Wulan yang sempat terkejut segera membalas pelukan Kakaknya dan menepuk nepuk punggung Arka pelan, ia tersenyum mendengar ucapan Kakaknya yang terkesan sangat perhatian juga khawatir padanya. "Makasih Ka, loe selalu ada buat gue.." jawab Wulan membalas pelukan Arka dan menenggelamkan kepalanya di dada sang Kakak yang atletis. Jika saja mereka bukan Kakak dan Adik, sungguh Wulan ingin sekali teriak kegirangan karena bisa memeluk pria idamannya dulu.


"Ka, gue gak bisa nafas ini!" lirih Wulan karena sudah hampir setengah jam Arka tak juga mau melepaskan pelukannya tapi justru semakin mengeratkan pelukannya membuat Wulan sedikit merasa sesak.


Arka tersentak, ia segera melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Wulan dan memandangi wajah adiknya yang mulai berisi lagi juga tak pucat seperti biasanya.


Arka tersenyum. "Kakak seneng Wulan udah pulang, besok Kakak akan nginap di sini buat nemenin Wulan." ucap Arka lembut, Wulan salting sungguh ia tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya namun ia juga malu karena kini wajahnya sudah terasa panas dan pasti memerah.


Arka semakin melebarkan senyumannya. "Kamu kenapa dek! kok muka nya merah gitu! sakit?" tanya Arka bertubi tubi. Wulan gelagapan, ia segera menepis tangan Arka yang berada di bahunya.


"Gue baper tahu Ka, loe terlalu manis.." jujur Wulan, ya gadis itu memang blak blakan soal perasaan.


Arka semakin tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan menatap sang adik yang terlalu jujur. "Adik Kakak ini emang gak pernah berubah ya!" ujar Arka mencubit pipi dan hidung Wulan membuat gadis itu segera menjauhkan dirinya dari Arka dan memegang hidungnya yang terasa agak panas sebab Arka menariknya agak kuat memang.


"Kejam bet dah, hidung gue jadi merah ini pasti..." sungut Wulan kesal menatap jengah pada Arka yang malah tertawa renyah.


"Ishhhh..." Wulan berbalik ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan Arka mengikuti gadis itu masuk.


"Loe mau ngapain ikut masuk?" tanya Wulan saat melihat Arka yang berada di belakangnya.


"Mau lihat adek lah!" jawab Arka sekenannya membuat Wulan kian meradang dan kesal.


"Loe mau lihat gue ganti baju gitu?" tanya Wulan memicingkan kedua matanya, membuat Arka segera menggelengkan kepalanya dan keluar tanpa berkata kata lagi


Wulan tersenyum tipis. "Dasar Kakak gak peka emang, main ikut masuk aja...." gumam Wulan segera menutup pintu dan mengunci nya dari dalam.


Wulan bergegas mandi dan berganti pakaian. Ia memakai dress berwarna biru muda sebatas lutut dengan lengan sebatas sikut, juga rambut yang sengaja ia gerai dan di beri jepitan di sisi kanan dan kiri menambah keimutan serta kecantikan gadis remaja itu.


"Selesai..." gumamnya segera keluar dan turun dari kamarnya nenuju ruang tamu di mana keluarganya sudah menunggu.


"Pagi semua..." sapa Wulan saat ia sudah menuruni tangga terakhir dan menatap keluarganya bergantian dengan senyum cerah.

__ADS_1


Semua mata tertuju padanya dan tersenyum menatap keceriaan Wulan yang sudah kembali setelah setahun lebih mereka tak melihat hal itu membuat kebahagiaan kembali ke rumah ini.


"Sudah siap Nak?" tanya Regar dan Wulan hanya mengangguk sambil duduk di samping Arka yang sejak tadi hanya diam saja karena terpesona akan kecantikan sang adik, akan tetapi bukan berarti Arka suka ya guya...


"Mau kemana?" tanya Arka mengalihkan tatapannya pada Regar.


"Ke rumah sakit..." sahut Wulan memperbaiki poninya.


"Rumah sakit!" ulang Arka mengerutkan keningnya.


"Umm, hari ini aku sama Papah mau cek lagi.." jawab Wulan yang baru saja menyelesaikan kegiatannya memperbaiki poni.


Arka menatap Papah Regar berharap agar ada yang menjelaskan padanya. "Hari ini Wulan akan cek kesehatannya lagi, apa kanker yang menyerang Wulan sudah hilang atau masih ada..." jelas Regar yang mengerti akan tatapan anak lelakinya.


Arka mengangguk, ia cukup merasa lega dan berharap jika Wulan benar benar sudah sembuh total. "Arka yakin Wulan pasti sudah bersih dari kanker itu..." ucap Arka mengusap pucuk kepala Wulan hingga rambut gadis itu kembali berantakan.


"Arka rambut gue..." sungut Wulan kesal, ia segera menepis tangan Arka dan memperbaiki rambutnya.


Arka tersenyum. "Maaf, Kakak gak sengaja.." ujar Arka. Wulan menoleh pada Arka sekilas. "Ummm.." jawabnya.


"Kita berangkat Nak!" ajak Regar menatap putrinya yang mengangguk setuju.


Regar sudah lebih dulu menuju ke mobil dan menunggu anak gadis nya di sana, sedangkan Wulan ia kembali di tahan dengan sang Kakak. "Tunggu dek!" ucap Arka menahan lengan adiknya yang akan beranjak dari sana. Risa dan Ziyan yang juga sudah bangunpun meninggalkan Kakak dan adik di sana untuk bicara.


Arka dan Wulan menatap sekilas pada Risa yang sudah beranjak dari sana menuju kamar. "Kenapa?" tanya Wulan beralih menatap Arka


"Hmm...." Arka menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Wulan menautkan alisnya menatap Arka yang terlihat bingung sendiri, sedang ia sudah tak ada waktu untuk menunggu Arka bicara karena Kakaknya itu malah diam saja sejak tadi


"Aishhh, gue berangkat dulu loe kelamaan gak ngomong ngomong, habis loe balik dari kampus kita bicara lagi..." ucap Wulan sedikit berteriak karena ia yang sudah beranjak dari sana meninggalkan Kakaknya dalam kebisuan.


"Kenapa malah jadi gagu sih!" pikir Arka menepuk jidatnya, ia pun segera pergi dari sana menuju kampus karena ada jam kuliah pagi.


Wulan dan Regar baru saja tiba di rumah sakit, mereka masuk ke ruang Dokter yang sebelumnya merawat Wulan saat koma selama setahun. Wulan segera di periksa dan hasilnya baru bisa keluar sekitar dua jam lagi hingga Wulan memutuskan untuk kembali ke rumah saja dan nanti hasilnya akan di kirim ke kediaman Regar.


"Pah, nanti mampir ke supermarket dulu ya.." pinta Wulan


"Meu beli sesuatu?" tanya Regar melirik anaknya yang mengangguk


"Umm, Wulan pengen beli sesuatu sebentar.." jawab Wulan tetap fokus menatap jalanan lewat jendela mobil di sampingnya.


Regar tak lagi bicara ia mencari supermarket terdekat dan memakirkan mobilnya di tempat yang tersedia. "Papah tunggu di sini aja, Wulan cuma sebentar kok..." ujar Wulan yang hendak membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


"Wulan yakin Nak!" tanya Regar ragu membiarkan anaknya yang baru saja sembuh untuk belanja sendiri.


Wulan tersenyum dan mengangguk. "Wulan cuma sebentar kok Pah..." jawab Wulan, ia segera keluar setelah mendapat izin dari Regar.


Wulan segera menuju ke tempat barang yang ingin ia beli, dan saat sampai tak sengaja Wulan menabrak seseorang.


"Aduh..." ringis Wulan saat ia jatuh terduduk di lantai. Wulan memegang bokongnya yang terasa sakit.


"Maaf..." ucap seorang pria yang menabrak Wulan, ia mengulurkan tangannya di hadapan wajah gadis itu.


Wulan melihat tangan orang di hadapannya kemudian ia beralih menatap siapa yang menabrak sekaligus ingin membantunya. Mata keduanya saling bertemu beberapa saat, sebelum akhirnya Wulan mengakhiri dengan mengalihkan pandangannya pada tangan pria itu dan segera menyambutnya.


"Maaf, saya gak sengaja..." ucap pria itu tulus merasa tak enak karena sudah menabrak gadis di hadapannya yang masih memegangi bokongnya yang sakit.


"Umm, gak papa tapi lain kali hati hati..." Jawab Wulan, ia segera pergi meninggalkan orang yang sebenarnya masih ingin bicara dengan nya.


"Tunggu..." teriak pria itu sambil mengejar langkah gadis yang baru saja ia tabrak dan entah mengapa ada rasa tertarik pada gadis itu.


Wulan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pria yang memanggilnya. "Apa lagi?" tanya Wulan kesal, sebab ia ingin segera pulang.


"Boleh kenalan?" tanya pria itu mengulurkan tangannya lagi.


Wulan diam sesaat. "Gue Wulan, maaf gue buru buru..." ucap Wulan menyebutkan namanya namun tak menerima uluran tangan pria itu dan langsung saja pergi tanpa mendengar nama pria tadi karena ia sangat tak tertarik.


"Gadis lucu..." gumam pria itu dan ia pun berbalik ke arah lain kemudian berlalu dari sana pula setelah Wulan tak lagi terlihat.


"Wulan..." gumamnya setelah ia pun keluar dari supermarket setelah membayar belanjaannya dan menuju mobilnya dengan senyum tipis yang tak bisa ia hilangkan setelah bertemu dengan Wulan.


Di mobil lain, Wulan berdecak kesal mengingat pria yang menjengkelkan baginya apalagi bokongnya yang masih terasa agak sakit hingga ia berjalan agak pincang.


"Nak, kamu gak papa sayang?" panik Regar melihat anaknya yang kembali dengan sedikit pincang menahan sakit di bokongnya.


"Gak papa Pah, tadi gak sengaja ketabrak terus jatuh deh.." jawab Wulan segera masuk ke dalam mobil dan memperbaiki duduknya.


"Lain kali hati hati Nak..." ujar Regar perhatian, Wulan hanya tersenyum saja.


Selama perjalanan Wulan hanya diam saja, ia masih sedikit kesal, ya gadis itu memang tak begitu memiliki kesabaran yang besar seperti kedua Kakaknya Risa dan Arka, karena itu Wulan mudah kesal dan marah namun ia juga sangat mudah memaafkan dan kembali seperti sebelumnya.


Lanjut up....


Duh, bang Habibi bakal ada saingan ini...

__ADS_1


Maksih orang baik....


😊🙏🙏


__ADS_2