
Syakira sedang melamun di meja kerjanya, hari ini ia benar benar tak fokus entah apa yang sedang di fikirkan hingga tumpukan berkas di hadapannyapun tak ia sentuh sama sekali, bahkan ia tak menyadari jika Rani yang sejak tadi terus memperkatikan sudah duduk tepat di hadapannya.
"Ngelamun! tumben banget seorang Syakira bisa melamun panjang kayak gini!" ledek Rani sambil tersenyum memperhatikan Syakira yang sudah kaget dan memegangi dada karena jantungnya yang berdetak cepat.
"Astaghfirullah, Rani..." kesal Syakira menatap ke arah sahabatnya yang sudah cengar cengir.
"Kamu mau buat aku jantungan!" ujar Syakira
"Gak, cuma aku heran aja ternyata seorang Syakira bisa ngelamun juga ya!" Rani masih terus ngeledek Syakira yang tak terlalu kesal lagi dengannya
"Aku juga manusia kali Ran..." ucap Syakira mengalihkan pandangannya ke berkas di hadapannya yang baru ia sadari jika tak ada yang berkurang dari berkas berkas itu karena sejak ia datang hingga hampir jam sepuluh ini hanya melamun saja.
"Ngelamunin apa sih, keknya berat banget?" tanya Rani mulai serius, ia begitu penasaran dengan sahabatnya satu ini karena tak biasanya ia melamun sepanjangan. Syakira menatap Rani sekilas, ia menarik nafas agar lebih tenang.
"Gak ada kok!" jawaban Syakira tak membuat Rani senang, ia cemberut dan menunjukan wajah tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu..
"Selama ini aku selalu mengatakan apapun masalah yang aku hadapin ke kamu, dan sekarang saat kamu ada masalah tak bisakah kamu berbagi sama aku Sya?" tanya Rani sedikit kecewa, pasalnya selama ini ia selalu menceritakan semua masalahnya pada Syakira dan selalu mendapat solusi atau nasehat yang bisa membuat hatinya lebih tenang dari sebelumnya. Sekarang saat Syakira memiliki masalah, ia hanya memendamnya sendiri tanpa mau bercerita pada siapapun.
"Bukan gitu, hanya saja aku juga bingung harus memgawalnya dari mana!" jawab Syakira memegang tangan Rani yang ia letakan di atas meja kerja di hadapan Syakira.
"Aku juga bingung Ran..." lanjutnya, menatap mata Rani menunjukan jika ia sendiripun bingung dengan keadaannya saat ini.
"Cerita aja, mulai dari yang kamu fikirkan sekarang samapi kamu melamun kayak tadi!" ucap Rani mencoba memberi saran.
"hm, aku di lamar seseorang!" jawab Syakira, namun tak terdapat kebahagiaan dari wajahnya sedang Rani yang mendengar jika sahabatnya sudah di lamar oleh seseorang yang entah siapa itu sangat bahagia.
"Lalu, kenapa dengan wajah ini?" tanya Rani memutar telunjuknya di hapan wajah Syakira yang terlihat murung.
"Aku bingung Ran, aku gak tahu sama perasaan aku sendiri. Rangga sangat mencintaiku dan bisa menunggu aku sampai belasan tahun, tapi aku masih belum bisa merasakan apapun sama dia."
"Aku bingung apa aku harus terima atau menolak.." jelas Syakira semakin sedih dan murung, mengingat waktu yang di berikan Rangga padanya tinggal satu minggu sedangkan ia masih belum bisa. memastikan perasaannya sendiri.
"Jadi namanya Rangga?"Rani mengulang nama yang di sebut Syakira
"Hm, namanya Rangga. Dia sangat baik dan perhatian. Aku bahkan tak menyangka jika cintanya untuk aku bisa sedalam itu.." ucap Syakira tersenyum mengingat wajah tampan Rangga juga kebaikannya.
"Sya, ku rasa kau sudah memiliki rasa itu untuk Rangga.." Rani memecah lamunan Syakira yang sedang tersenyum sambil mengingat Rangga.
"Apa? bagaimana kau bisa tahu! kan yang ounya perasaan aku?" tanya Syakira bertubi tubi dengan wajah tak percaya atas perkataan sahabatnya.
"Ya tentu saja aku tahu, ketika kamu ingat laki laki bernama Rangga itu, kamu selalu tersenyum dan terlihat bahagia, nah itu artinya kamu udah punyara rasa buat dia.." penjelasan Rani membuat Syakira berfikir keras, benarkah ia sudah memiliki rasa itu! memang benar saat ia di dekat Rangga hatinya selalu bahagia, bahkan ia selalu merasa malu saat Rangga mulai mengatakan hal manis di hadapannya, sama seperti saat ia masih berpacaran dengan Regar. Mungkinkah benar Syakira kembali jatuh cinta?
("Benarkah jika aku kembali jatuh cinta?") batin Syakira kembali tersenyum mengingat Rangga.
Rani melihat Syakira yang kembali melamun hnya mendengus kesal, lagi lagi ia di acungkan.
"Dasar ABG tua..." selonyor Rani kemudian kembali ke tempatnya dan melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan lagi sahabatnya yang masih melamun.
"Sya, makan dulu udah siang.." ujar Rani yang sudah beranjak dari tempatnya hendak turun ke bawah untuk makan siang.
"Hm, duluan deh kerjaan aku masih banyak.." jawab Syakira fokus dengan berkas dan komputer di hadapannya. Karena terlalu asyik melamun Syakira harus kerepotan dengan pekerjaannya yang belum kelar sejak tadi hingga ia harus menyelesaikan lebih dulu baru makan.
"Ya udah aku duluan, nanti nyusul!" ucap Rani kemudian meninggalkan Syakira yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Hingga satu jam berikutnya Syakira baru menyelesaikan setengah dari berkas itu dan menumpuknya di sisi lain agar tak bercampur dengan yang belum ia periksa.
"Ah, lelahnya...." keluh Syakira merentangkan tangannya karena sangat lelah.
__ADS_1
"Makan dulu, nanti sakit.." Rani yang baru datang menaruh makanan yang ia bawak ke meja kerja Syakira kemudian berjalan menuju mejanya sendiri.
"Eh, ini buat aku?" tanya Syakira memperhatikan makanan yang terlihat lezat di hadapannya.
"Hm, buat siapa lagi! yang di situ kan cuma kamu.." jawab Rani tak menoleh ke arah Syakira yang sudah senyum bahagia karena perhatian Rani padanya.
"Makasih, aku makan ya. Bismillah!" ucap Syakira segera menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan lahap karena iapun memang sanhat lapar.
"Alhamdulillah, enak banget makasih..." ucap Syakira menatap Rani yang hanya berdehem.
"Sya..."
"hmm.."
"Kamu serius belum kasih kepastian sama Rangga?" tanya Rani
"ya begitulah. Kenapa?" Syakira balik bertanya
"Gak papa, takut aja nanti kalo kamu kelamaan gak kasih jawaban buat dia nanti..." Rani sengaja menggantung ucapannya dan menatap ke arah lain membuat Syakira penasaran dengan kata selanjutnya.
"nanti kenapa Ran?" tanya Syakira penasaran sekaligus takit jika jawaban Rani sama dengan yang ia fikirkan.
"Ya, nanti keburu dia lelah dan pergi dari kamu terus dia nikah sama orang lain yang mau nerima dia apa adanya." jawab Rani menatap Syakira serius. Mendengar perkataan sahabatnya itu, Syakira mengalihkan pandangannya dari Rani bahkan kini wajahnya sudah kembali berubah, ia terus memikirkannya.
"Ah, selesai..." lirih Rani kemudian berdiri hendak pulang.
"Fikirkan apa yang aku katakan tadi Sya!" ucap Rani sebelum ia pergi dari ruangan mereka hingga meninggalkan Syakira seorang diri yang kembali memikirkan ucapan sahabatnya Rani.
Syakira pulang dengan fikiran entah kemana, bahkan ia hampir menabrak seorang pengamen yang melintas di hadapannya. Untung saja ia segera menginjak rem hingga kejadian buruk tak menimpa dirinya juga pengamen yang segera berlari menjauh dari mobil Syakira.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Arka udah pulang Kak?" tanya Syakira pada Maira yang sedang sibuk memasak.
"Udah, itu di kamar sama Bibi.." jawab Maira tetap fokus dengan masakannya
"Ada Bibi?" tanya Maira duduk di kursi dekat dapur dan minum.
"Ada, katanya mau nginep di sini.." jawab Maira berjalan ke arah Syakira yang terlihat murung.
"Kenapa?" tanya Maira memegang pundak Syakira yang langsung kaget dan menoleh ke arah Kakak sepupunya.
"Gak kok, cuma capek aja.." jawab Sykira beranjak dari sana dan menuju kamarnya dengan alasan sedang lelah.
"Kak, Sya ke kamar dulu ya mau bersih bersih terus istirahat bentar." ucap Syakira tersenyum ke arah Maira yang hnya. mengangguk.
"Kamu pasti sedang memikirkan Rangga. kan dek!" ucap Maira pelan seolah mengerti dengan apa yang di fikirkan adiknya. Maira kembali menyelesaikan masakannya kemudian menatanya di atas meja.
"Sya makan malam dulu.." panggil Maira
"Iya Kak, bentar lagi Sya nyusul.." jawab Syakira dari dalam kamarnya, Maira kembali ke meja makan dan duduk di tempat biasa.
"Loh Bundanya mana Tan?" tanya Arka saat melihat Tantenya hanya datang sendiri.
__ADS_1
"Bentar lagi nyusul katanya.." jawab Maira
"Oh.." mereka berempatpun menunggu Syakira hingga datang barulah makan malam bersama. Habibi sangat lahap ia bahkan sampai menambah dua kali.
"Alhamdulillah, kenyang gue. Makasih tante.." ujar Habibi pada Maira yang hanya tersenyum mendengar ucapan tulus dari sahabat keponakannya itu.
"Sama sama..."
"Arka sama Bibi tidurnya jangan malam malam, besok harus sekolah.." perintah Syakira pada anak dan juga temannya yang langsung di anggukan kepala oleh keduanya.
"Bunda ke kamar duluan mau istirahat.." lanjut Syakira kemudian meninggalkan mereka yang masih duduk di sana. Arka memperhatikan Bundanya yang sudah memasuki kamarnya dan menutupnya.
"Bi kamu duluan aja ke kamar aku mau bicara bentar sama Bunda." Arka segera menyusul Bundanya, sedangkan Habibi langsung menuju kamar Arka.
"Kak Sya kayak lagi ada masalah!" ujar Regar menatap ke arah Arka yang masih berjalan menuju kamar Syakira.
"Kakak juga gak tahu pasti dek, tapi kayaknya Syakira lagi memikirkan jawaban yang harus ia kasih buat Rangga karena waktu yang Rangga beri tingga seminggu kan!" jawab Maira mengingat hari di mana Rangga datang ke rumah nya untuk mengatakan niat baiknya dan memberikan waktu sampai sebulan ini dan sekarang hanya tinggal seminggu lagi.
"Mungkin!" ucap Regar juga beranjak dari sana menuju kamarnya karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan untuk rapat besok, behitupun dengan Maira yang segera istirahat setelah meminum obatnya yang masih rutin ia minum.
tok tok tok...
"Bun, Arka boleh masuk!" ucap Arka saat sudah berada di depan pintu kamar Syakira. Mendengar suara anaknya Syakira segera membukakan pintu dan menyuruh Arka masuk. Mereka mengobrol di sofa yang ada dalam kamar Syakira.
"Kenapa sayang! tumben Arka mau ngobrol sama Bunda malam malam kayak gini?" tanya Syakira, biasanya jika Arka ingin memgobrol dengan Syakira di waktu malam sepsrti saat ini itu karena ada hal yang mengganjal di hatinya.
"Bunda pasti lagi mikirin Om Rangga kan?" tanya Arka tanpa basa basi. Syakira sedikit terperanjat dan matanya melebar mendengar pertanyaan Arka yang tepat sasaran.
"K..kenapa Arka bisa tanya gitu Nak?" Syakira tak serta menjawab, ia justru balik bertanya dengan terbata.
"Bun.." panggil Arka mendekatkan badannya ke arah Syakira
"Arka cuma mau Bunda bahagia, Arka gak mau lihat Bunda sedih sedih lagi kalo inget Ayah. Bunda juga berhak untuk bahagia dan Arka rasa Om Rangga orang yang baik dan Om Rangga pun sangat mencintai Bunda bahkan dia relakan nungguin Bunda sampe selama ini.." perkataan Arka sangat menyentuh hati Syakira, ia kini sudah menangis dan memeluk anaknya yang semakin dewasa.
"Bunda, jangan fikirin Araka karena Arka akan bajagia jika Bunda bisa bahagia bersama Om Rangga atau siapapun itu.." lanjut Arka membalas pelukan Syakira.
"Makasih sayang." Syakira mencium kening pucuk kepala Arka lama, barulah setelahnya ia melepaskan pelukan mereka.
"Bunda akan fikirin lagi..." ucap Syakira tersenyum memandangi wajah anaknya yang semakin tampan.
"Sekarang Arka kembali ke kamar, kasihan Bibi di tinggal sendirian." Arka hanya mengangguk, mencium pipi kiri dan kanan Syakira kemudian meninggalkan kamar Syakira dan berjalan menuju kamarnya.
"Terimakasih Nak, hati Bunda jauh lebih baik sekarang.." ucap Syakira pelan saat Arka sudah keluar dari kamarnya.
"Beruntungnya Bunda memiliki kamu.." Syakira tersenyum bahagia, pada akhirnya malam itu Syakira bisa tidur dengan lelap berkat kata kata dari putra kecilnya yang kini sudah tumbuh remaja dengan pemikiran yang sangat dewasa di tambah dengan wajah tampan dan tubuh tinggi dengan bentuk proposional menambah kegagahan yang di miliki Arka anaknya.
Kembali ke Syakira....
Sesuai permintaan ya up nya hari ini 2 insyaa Allah di usahain terus...
jangan lupa dukungannya....
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏
__ADS_1