Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Melamar Kedua Kalinya


__ADS_3

Kebahagiaan Mara telah kembali setelah sadarnya Regar, bukan hanya Mara tapi seluruh keluarga yang tahu akan jalan yang penuh rintangan bagi kedua insan itu.


Mara sedang mengajak Regar berjalan jalan di taman, ia dengan semangat mendorong kursi roda di mana Regar duduk karena kemungkinan kedua kaki pria itu masih belum bisa di gunakan untyk berjalan.


"Mar..." panggilnRegar ia sedikit menolwh kebelakang dan mendongak agar bisa. melihat calon istrinya


"Ya Kak.." jawab Mara sedikit menunduk dan menatap Regar yang malah diam dan tersenyum ke arahnya.


"Berapa lam aku koma?" tanya Regar, sebenarnya bukan itu yang ingin ia tanyakan hanya saja ia lupa dengan apa yang ingin di tanyakan karena melohat wajah Mara yang terlihat cantik dengan senyuman indah dari bibirnya.


"Hmm, mungkin sekitar dua bulan Kak.." jawab Mara, ia juga lupa berapa lama Regar koma karena yang ia lakukan hanya duduk di samping Regar, bercerita dan menangis.


"Maaf, karena sudah membuat kamu menunggu." ujar Regar kbali menoleh ke belakang dan menatap Mara yang malah tersenyum


"Tidak..." jawab Mara


"Hmm." Regar mengerutkan keningnya


"Tidak perlu minta maaf Kak, lagipula dulu Kakak bisa nunggu kepastian dari Mara bahkan selama bertahun tahun, sedangkan Mara hanya dua bulan. Sama sekali gak sebanding.." lanjut Mara kembali tersenyum menatap Regar yang juga tersenyum


"Itu beda sayang..." ujar Regar, wajah mara memerah saat Regar memanggilnya sayang.


"Jadi apa kmu masih mau menikah dengan ku yang tak bisa melakukan apa apa lagi sekarang?" tanya Regar lagi saat mereka sudah sampai di taman dan Mara yang duduk di kursi panjang di bawah pohon rindang.


"Tergantung!" jawab Mara seolah sedang berfikir.


"Tergantung!" ulang Regar tak mengerti


"Ya, tergantung Kak Regar kapan mau menikahi Mara.." lanjut Mara tersenyum malu


"Secepatnay sayang.." jawab Regar sungguh sungguh


"Mara akan tunggu Kakak.." ujar Mara tak kalah sungguh sungguh. Mata mereka saling bertemu seolah tatapan itu mengatakan jika tak ingin lagi berpisah.


"Kakak seneng bisa berada di sisi kamu lagi.." ucap Regar masih menetap Mara


"Mara lebih bahagia Kak, karena Kak Regar sudah berjuang sampe sekarang buat bisa bangun dan bertemu Mara lagi.." jawab Mara, air matanya jatuh namun tatapan bahagia ia tunjukkan pada Regar yang segera menghapus air mata Mara dengan jari besarnya.


"Jangan menangis, Kakak gak suka lihat kamu menangis.." ujar Regar


"Ini tangisan bahagia tahu Kak.." jawab Mara bibirnya tersenyum


"Benarkah!" tanya Regar


"Hmm, Mara bahagia Kakak bisa kembali duduk bersama sama dengan Mara.." jawab Mara. Regar hanya tersenyum, ingin sekali rasanya ia memeluk Mara namun ia juga sadar jika gadis itu masih belum resmi menjadi istrinya


"Ahhh, rasanya Kakak ingin cepat cepat menikahimu. " ujar Regar menatap langit biru yang terlihat sangat cerah seperti perasaan dua insan yang tengah duduk di bawah pohon rindang.


"Kalao gitu nikahi Mara secepatnya Kak.." ujar Mara masih menatap Regar


"Pasti sayang.." jawab Regar kembali menatap Mara yang sudah tersipu malu dengan wajahnya yang memerah.


Regar terus saja menatap Mara selama mereka duduk di taman, tentu saja itu membuat gadis yang sedang di tatap menjadi malu dan salah tingkah sendiri.


"Kak, jangan natap Mara kayak gitu..." ujar Mara berusaha menyembunyikan rasa gugupnya dan juga pipi merahnya


"Kenapa?" tanya Regar masih menatap Mara


"Mara malu tahu Kak.." jelas Mara membuat Regar tersenyum puas


"Jika kita sudah menikah, Kakak akan natap kamu terus pokoknya kamu gak boleh keluar kamar.." ujar Regar


"Ehh, Kak Regar kejam banget.." ucap Mara tak terima dengan rencana Regar


"Biarin, kan nanti kamu cuma milik Kakak dan Kakak gak mau ada laki laki lain yang suka sama kamu.." jawab Regar, namun dari nadanya ia seperti merasa takut kehilangan gadisnya


"Kakak takut kehilangan Mara?" tanya Mara


"Tentu saja, di luar sana banyak laki laki yang pasti lebih tampan dari Kakak dan yang jelas mereka sehat dan kamu sendirikan tahu bagaimana kondisi Kakak sekarang.." jawab Regar menatap kedua kakinya yang tak bisa ia gerakan.

__ADS_1


Mara berdiri kemudian ia berjongkok di di hadapan Regar yang duduk di kursi rodanya, membuat pria itu menatap Mara begitupun Mara yang menatap Regar.


"Apapun itu, Mara akan selalu bersama Kakak, karena Mara hanya mencintai Kak Regar bukan orang lain.." ujar Mara, matanya menatap Regar menunjukkan keseriusan ucapannya membuat Regar tersentuh dan tersenyum bahagia mendengar perkataan gadisnya


"Kakak tahu itu.." ucap Regar menggenggam erat tangan Mara yang tak menolak sama sekali.


"Makasih sayang.." ujar Regar, dan lagi membuat Mara tersipu malu akan panggilan baru dari Regar.


Hari makin siang dan matahari kian meninggi, Mara dan Regarpun sudah kembali ke rumah karena siang ini Regar akan. kbali di periksa oleh Dokter Erick


"Re..." panggil Maira saat melihat Mara dan Regar yang baru masuk ke dalam rumah.


"Ya Ka.." jawab Regar, Mara segera mendorong kursi roda Regar ke arah Maira yang juga mendekati mereka.


"Sebentar lagi Dokter Erick datang dan mau periksa kondisi kamu." ujar Maira


"Ya Kak.." jawab Regar tersenyum


"Mar, sebaiknya kamu istirahat ya, biar Kakak yang jaga Regar." ucap Maira, ia kasihan melihat Mara yang terlihat tak pernah istirahat dan selalu saja berada di sisi adiknya


"Kak Mai bener sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu." ujar Regar membenaryucapan Kakaknya. Mara terdiam sejenak, ia tak ingin jauh dari Regar tapi ia memang merasa sedikit lelah pada akhirnya Mara memutuskan mengikuti saran Kak Maira dan calon suaminya.


"Mara istirahat dulu, nanti kalo Dokter Erick dateng buat periksa Kak Regar tolong panggilin Mara ya!" ucap Mara


"Ya.." jawab Maira dan tersenyum lega


"Kak Mara istirahat dulu.." Marapun kembali ke kamar yang selama ini ia yempati saat merawat Regar.


Maira membawa Regar kembali ke kamarnya.


"Sejak kapan panggilan kalian berubah sayang?" tanya Maira tersenyum


"Ehehe, Kak itu tadi Regar gak sengaja manggil Mara sayang tapi yang di panggil gak marah jadi keterusan deh.." jawab Regar malu


"Kalo panggilannya udah sayang, berarti kamu harus cepet halalin Mara, kasihan tahu anak gadis orang kalo di php in terus." ujar Maira, ia kembali teringat akan perjuangan dan usaha Mara saat Regar koma, gadis itu bahkan sangat jarang tidur dan terus berada di sisi Regar meskipun kondisinya sendiri sedang tidak baik.


"Hati hati.." ucap Maira saat ia membantu Regar untuk naik ke atas kasurnya dan duduk di sana sedangkan Maira juga ikut duduk di sisi ranjang


"Benarkah.." lanjut Maira menatap Regar yang mengangguk


"Jadi kapan akan di resmikan?" tanya Maira lagi


"Secepatnya, hanya saja kaki dan wajah Regar sedikit membuat Regar merasa gak pantas buat Mara Kak.." jawab Regar, meraba wajahnya dan menatap kakinya yang lumpuh, meskipun masih belum bisa di pastikan apakah kelumpuhan yang di alami Regar permanen atau sementara.


"Re, Mara sangat mencintai kamu dan Kakak yakin dia bisa menerima kamu apa adanya." ujatmr Maira memberi semangat pada adiknya


"Kakak bener, Mara juga sudah mengatakannya tadi, hanya saja Regar..." Regar tak melanjutkan ucapannya


"Mara akan terima apapun kondisi Kakak, jadi tolong jangan berusaha buat menjauh ataupun ninggalin Mara Kak!" Mara sudah masuk ke dalam kamar Regar, ia tak jadi istirahat dan hanya membersihkan tubuhnya saja kemudian ia berniat untuk kembali menemani Regar. Mara mendengar semua yang di bicarakan antara Maira dan Regar.


Maira dan Regar sontak menoleh ke arah Mara yang sudah berjalan mendekati mereka kemudian duduk di sisi lain ranjang Regar menatap lekat mata calon suaminya.


"Tolong jangan pernah meninggalkan Mara Kak!" ulang Mara, jujur ia sangat takut jika Regar berfikir untuk meninggalkannya, sedangkan Regar berfikir kebalikannya ia juga takut jika Mara menjnggalkannya.


"Tidak akan pernah.." jawab Regar membuat senyuman Mara terhias di bibirnya


"Mara hanya akan menikah sama Kak Regar.." ujar Mara


"Kakak juga.." ucap Regar mereka saling melempar senyuman


"Kakak rasa, Kakak sama sekali gak si anggap di sini ya!" ujar Maira membuyarkan tatapan anatara Mara dan Regar yang sama sama tersipu malu.


"Dasar anak anak.." ucap Maira kemudian ia berjalan hendak keluar kamar, namun bersamaan dengan ia membuka pintu Dokter Erick pun sudah muncul di hadapannya sehingga mereka berdua berhadapan dan jarak mereka yang sangat dekat, mata mereka saling bertemu dan mengunci.


"Khemmmmm.." dehemen Regar menyadarkan kedua orang yang berdiri di deoan pintu.


"Ma..maaf Dok, silahkan.." ujar Maira yang lebih dulu tersadar kemudian memberikan jalan pada Dokter Erick yang tersenyum kikuk dan masuk ke dalam kamar. Mara dan Regar hanya tersenyum


"Bagaimana kondisi Anda sekarang?" tabya Dokter Erick sambil memeriksa

__ADS_1


"Baik Dok, sangat baik.." jawab Regar namun matanya justru menatap Mara


"Ya tentu saja, karena ada calon istri yang setia menemani bukan!" ledek Dokter Erick saat ia melihat tatapan Regar pada Mara. Mara dan Regar hanya tersenyum malu.


"Apa saya akan tidak akan bisa berjalan lagi Dok?" tanya Regar takut jika benar ia tak akan pernah bisa berjalan lagi


"Hmm, seperti ini hanya kelumpuhan sementara, dengan terpi yang rutin in syaa Allah Anda pasti bisa berjalan lagi.." jawab Dokter Erick setelah ia melihat dan memeriksa lagi kaki Regar. Regar dan Mara merasa lega mendengar jawaban Dokter Erick.


"Wajah saya Dok?" Regar kembali bertanya, bagaimana mungkin ia bisa berdampingan dengan Mara dengan wajah buruk seperti ini.


"Anda bisa melakukan operasi, dan saya sarankan agar di lakukan jika kondisi Anda sudah benar benar stabil." jawab Dokter Erick yang sedang memeriksa wajah Regar.


"Kapan perban ini akan di buka Dok?" kali ini Mara yang bertanya


"Sebaiknya saat akan melakukan operasi saja." jawab Dokter Erick hendak mengganti perban di wajah Regar.


"Mar tutup mata kamu, aku gak mau kamu lihat wajah aku yang buruk." ujar Regar menutup mata Mara dengan tangannya, namun dengan cepat tangan Regar ia singkirkan hingga Mara bisa melihat dengan jelas jika sebagian wajah Regar telah rusak parah.


"Aku ingin lihat wajah Kakak.." jawab Mara menatao lekat wajah Regar, namun matanya justru bertemu dengan mata Regar


Dokter Erick sudah selesai, iapun berpamitan untuk kembali ke rumah sakit agar bisa mengurus semua hal yang akan di perlukan saat terapi Regar nanti dan kebetulan terapinya akan di lakukan di rumah.


"Terima kasih Dok, selama ini Dokter Erick sudah sangat membantu Regar bahkan saya!" ujar Maira saat ia sedang mengantar Dokter Erick


"Sudah jadi tugas saya Nona Maira.." jawab Dokter Erick menatap wajah cantik Maira meskipun usianya yang sudah tak muda lagi


"ya..." Dokter Erick sudah pergi, dan Maira segera masuk ke dalam rumahnya.


"Kak, Mara rasa Dokter Erick suka sama Kak Maira!" ujar Mara saat ia sedang menyapi Regar


"Kamu juga ngerasin hal itu Mar?" tanya Regar


"Hmm, soalnya tatapan Dokter Erick ke Kak Maira beda sama tatapan biasa..." jawab Mara kembali menyuapi Regar dan dengan senang hati Regar menerima


"Kayak Kakak yang natap kamu ya?" tanya Regar membuat Mara tersipu malu sendiri


"Kak Regar..." Mara memanyunkan bibirnya membuat Regar tersenyum.


"Kakak hanya bisa berdoa, semoga Kak Mai bisa bahagia sayang.." ujar Regar


"Aaminn sayang.." jawab Mara tak sadar jika ia membalas panggilan Regar.


"Sayang!" ujar Regar mengulang panggilan Mara padanya barusan.


"Eh, Kak itu aku!!!" Mara gugup sendiri, ia merasa malu hingga menutup wajahnya dengan sebelah tangan yang memegang sendok


"Kenapa malu, Kakak seneng tahu.." ujar Regar tersenyum menatap Mara


"Tapikan Mara malu Kak, Kakak sih ah mancing mancing terus.." jawab Mara masih menutup wajahnya


"Emang ikan pake di pancing.." Regar menarik tangan Mara dan menggenggamnya


"Makasih udah mau nerima Kakak yang seperti ini.." Regar menatap Mara yang sudah kembali biasa saja dan membalas tatapan Regar


"Mara juga makasih, karena Kak Regar sudah kembali ke sisi Mara.." jawab Mara tersenyum, hatinya sangat bahagia.


"Sekli lagi. Mara apa kamu mau menikah dengan Kakak yang mungkin akan sangat merepotkan kamu?" tanya Regar, ia kembali melamar Mara


"Ya, tentu saja aku mau Kak." jawab Mara senyumannya merekah begitupun Regar yang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Mara.


Lanjut up...


Semoga lancar luncur sampe hari H Mara dan Regar


Makasih yang masih setia baca, jangan lupakan like sama dukungannya ya...


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2