
Syakira dan Rangga sedang menikmati masa masa bahagia mereka sebagai pengantin baru, begitupun Arka bahagia saat melihat sang Bunda yang ia sayangi bisa bahagia dengan pria pilihannya.
"Apa Bunda bahagia?" tanya Arka saat anak dan Bunda sedanh duduk bersama di ruang tamu.
Syakira juga Arka kini pindah ke kediaman Rangga, sedangkan Maira dan Regar menempati rumah Syakira sebelumnya.
"Tentu. Apa Arka bahagia Nak?" Syakira menanyakan hal yang sama pada putranya.
"Arka bahagia Bun." jawab Arka tersenyum menatap Bundanya yang jiga tersenyum lembut ke arahnya
"Kalau begitu tak bisakah Arka. memanggil Om Ayah atau Papah atau apapun itu?" tanya Rangga yang tiba tiba datang dari lantai dua rumahnya.
Syakira dan Arka menoleh ke arah Rangga yang masih berjalan mendekat ke arah mereka berdua dengan senyum hangat. Rangga mencium pipi Syakira dengan sayang, ia tak lagi malu ketika melakukan itu meski ada Arka di dekat mereka walaupun Syakira masih sedikit canggung jika mereka tidak sedang berdua.
"Itu..." Arka menggantung ucapannya, Rangga duduk di sebelah Arka kemudian mengelua kepala Arka dengan sayang layaknya seorang Ayah kepada anaknya sendiri membuat Arka sedikit terkejut dengan perlakuan Ayah sambungannya itu.
"Om tidak akan memaksa, Arka bebas ingin memanggil Om apa asalkan Arka tetap nyaman.." Rangga tersenyum lembut ke arah Arka yang terharu akan perkataan Rangga yang sangat menyentuh perasaannya. Arka memeluk Rangga.
"Makasih Om. Arka akan berusaha untuk terbiasa panghil Papah.." ucap Arka setelah melepaskan pelukannya.
"Papah setuju.." jawab Rangga kembali memegang kepala Arka namun kali ini ia mengacak rambut anak sambungnya yang segera menjauhkan kepalanya dari tangan Rangga dan segera merapikan rambutnya dengan tangan.
Pagi yang cerah secerah perasaan keluarga kecil yang baru terjalin beberapa hari.
Di tempat lain,di sebuah Rumah Sakit, Risa sedang menunggu di depan ruangan di mana Mamahnya sedang di periksa.
"Mah Risa mohon bertahanlah..." Risa yang sangat khawatir pada kondisi Mamahnya hanya bisa menunggu dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
"Dok, bagaimana kondisi Mamah saya?" tanya Risa saat melihat Dokter yang menangani Mamah Risa.
"Kondisinya sangat parah, dan sekarang pasien dalam masa kritis, kami masih berusaha.." jawab Dokter di hadapan Risa dengan wajah yang tak bisa di tebak.
Risa semakin menangis, ia tak bisa melakukan apapun.
"Saya bisa ketemu Mamah saya Dok?" tanya Risa lagi, kini ia hanya bisa pasrah.
"Silahkan, tapi pasien akan di pindah ke ruang rawat. Risa hanya mengangguk dan kembali terduduk lemas di kursi panjang dekat ruangan Mamahnya.
"Mamah..." lirih Risa kembali menangis dengan kedua tangan yang ia pakai untuk menutupi wajahnya yang sudah basah.
"Risa..." panggil seseorang saat melihat Risa yang sedang menangis. Mendwngar namanya di panggil, Risa mengangkat kepalanya dan segera berhambur ke dalam pelukan orang yang memanggilnya.
"Papah..." Ya, orang itu adalah Regar.
"Bagaimana kondisi Mamah?" tanya Regar tak kalah panik. Saat mendapat telfon dari Risa yang mengatakan. jika Maya mengalami kecelakaan saat akan pulang dari luar kotapun segera bergegas menuju Rumah Sakit yanh sudah di beritahukan putri nya.
"Mamah, Mamah kritis Pah.." jawab Risa masih memeluk Regar kuat, ia begitu takut jika harus berpisah dengan Mamahnya.
"Kakak, Mamah pasti kuat.." Wulan yang sejak tadi hanya diam di samping Papahnyapun ikut bicara mencoba memberikan kekuatan pada Kakaknya yang selama ini selalu ada saat ia sedang sedih.
__ADS_1
Risa tak menjawab ia hanya mengangguk sambil menatap adiknya dengan sedih bercampir khawatir.
"Kita lihat Mamah dulu!" ajak Regar
"Tqpi kata Dokter hanya satu orang bisa masuk, jadi kita harus gantian Pah.." ucap Risa
"Kalau begitu Risa masuk duluan, Papah yakin Mamah pasti ingin bertemu anaknya.." Regar menyuruh agar Risa masuk duluan, karena dia adalah anaknya sedangkan Regar dan Wulan menunggu di depan ruang rawat
"Mah, ini Risa, Risa mohon bertahan demi Risa." ucap Risa pilu menatap wajah Mamahnya yang terluka cukup parah dan hampir tak bisa di kenali.
"Mah, Risa gak mau di tinggal Mamah.." lanjutnya semakin terisak. Hanya lima belas menit Risa bisa menemui Mamahnya, setelahnya ia keluar dan bergantia dengan Regar.
"May, ku mohon bertahan! maaf sudah mengecewakan kamu." Regar menatap wajah mantan istrinya, ia tak kalah sedih dengan Risa bahkan air matapun sudah jatuh ke pipinya.
"Aku akan menjaga Risa dan menyayanginya seperti halnya Wulan." lanjut Regar memegang tangan Maya yang terpasang infus. Sama dwngan Risa, Regar hanya punya waktu lima belas menit kemudian ia keliar dan menyuruh Wulan masuk, meski ragu tapi Wulan tetap masuk.
"Mamah..." panggil Wulan, namun ia tahu jika Maya tak akan bisa mendengarnya apa lagi menjawab panggilannya.
"Wulan pasti akan menyayangi Kak risa, seperti Kakak yang selalu sayang sama Wulan." Wulan sudah mulai menangis.
"Wulan juga sayang sama Mamah, walaupun Mamah bukan orang yang melahirkan Wulan." lanjutnya semakin terisak dalam tundukan kepalanya menatap kakinya.
"Mamah jangan khawatirkan Kakak ya." Wulan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan Maya.
Malam hari, Risa yang menunggu Mamahnya di rumah sakit karena Wulan dan Regar yang sudah kembali kerumah.
"Tapi, bukan dengan Papah melainkan orang lain." lanjutnya menatap pilu ke arah Mamahnya yang hanya diam dengan mata terpejam.
"Mah, semoga kita bisa meminta maaf sama tante Syakira dan anaknya.." ujar Risa sudah menangis, ia. mencium tangan sang Mamah yang terpasang infus.
"Selamat malam Mah, istirahat.." Risa hendak berjalan ke arah sofa dekat ranjang Mamahnya, namun baru dua langkah Risa kembali berbalik saat ia mendengar namanya di panggil.
"Ri...saa.." panggilan Mamahnya sontak membuat Risa berbalik dan berjalan cepat ke arah Maya yang sudah sadar.
"Mamah, Mamah sudah sadar!" Risa yang bajagia karena Mamahnya sadarpun hendak memanghil Dokter, namun segera di tahan oleh tangan Maya.
"Risa..." Maya memanggil nama putrinya lagi meski terbata.
"Mah, kenapa? Risa panghil Dokter dulu ya!" ucap Risa kembali ingin memanghil Dokter namun Maya dengan cepat menggelengkan kepalanya membuat Risa segera mengutungkan niatnya dan kembali duduk di kursi samping ranjang Maya.
"Ma.mah minta maaf Nak?" Risa hanya menggeleng kini air matanya kembali tumpah
"Ma.mah suda.h mengecewakan ka.mu, Ma.mah ingin meminta maaf pa.da Sya..kira.." ungkap Maya meskipun sangat sulit untuk bicara namun ia tetap berusaha.
"Iya Mah, tapi Mamah harus sembuh dulu ya!" Risa memeluk Mamahnya.
"Ri..a Ma.mah tak punya banyak wak.tu." jawab Maya
"Nggak Mah, jangan bilang gitu.." Risa mengangkat kepalanya dan memandang Mamahnya yang sudah sangat sulit untuk bernafas..
__ADS_1
"Sam.paikan maaf Ma..mah pada Sya..kira juga Papah dan Wul..an." lanjut Maya, hingga nafas terakhirnya ia tak lagi mampu mengatakan apapun.
"Mamah, Mah..." panggil Risa saat melihat Mamahnya kembali menutup mata.
"Mamah, jangan tinggalin Risa.." teriak Risa.
"Dokter, Dokter..." Risa berteriak memanggil Dokter.
"Ada apa?" tanya Dokter saat melihat Risa yang sedang berdiri di samping Maya yang sudah tak bernyawa.
"Dok, Mamah saya kenapa?" tanya Risa saat Dokter yang baru tiba segera memeriksa pasiennya.
"Maaf, tapi Mamah Anda sudah tiada.." jawab Dokter dengan wajah sedih.
"Apa? enggak Mah bangun Mah bangun!" teriak Risa terus mengguncang tubuh Mamahnya.
Regar dan Wulan segera datang ke rumah sakit saat di beritahukan oleh Risa jika Maya sudah pergi untuk selamanya.
"Pah, Mamah pergi Pah!" ucap Risa sudah berada dalam pelukan Regar. Mereka sedang dalam perjalanan membawa jenazah Maya ke kediaman Regar dan akan di makamkan di makam keluarganya.
"Ini yang terbaik untuk Mamah sayang.." Regar mengusap rambut Risa yang masih terisak dalam pelukannya.
Esokkan paginya, Risa, Regar juga Wulan baru selesai memakamkan Maya. Dengan sangat berat Risa harus merelakan kepergian Mamahnya.
"Kita pulang sayang!" ucap Regar membantu Risa berdiri
"Risa pulang Mah, besok Risa akan datang lagi.."
("Bersama tante Syakira...") lanjutnya dalam hati
Mereka bertigapun pulang, namun saat ini mereka sedang berada di rumah milik Maya karena Risa yang ingin membawa barang barang milik Mamahnya. Risa juga berencana akan menjual Rumah peninggalan Mamahnya karena pasti ia tak akan mampu tinggal di rumah itu.
Setelah semua urusan di rumah Maya selesai, Risa dan Regar kembali ke rumah milik Regar sedangkan Wulan, dia sudah lebih dulu pulang ke rumah atas perintah Regar.
"Mah, Risa akan berusaha menyelesaikan urusan Mamah yang belum selesai."
"Risa juga akan berusaha agar tante Syakira bisa memaafkan Mamah, dan Mamah bisa tenang di sana." lirih Risa saat ia sudah berada di kamarnya saat masih di kediaman Regar dulu bahkan kamar itu masih sama saat ia menempatinya.
Risa tertidur dengan wajah nya yang masih basah karena menangis sejak ia memakamkan Mamahnya, bakhan matanyapun sudah sembab juga ada lingkaran hitam di sekitar matanya karena sejak kemarin tak tidur dan sekarang ia baru bisa tidur itupun saat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Lanjut up....
Kalian yang mau pelakornya dapet Karma, nih author kasih walaupun sebenarnya author gak tega tapi ya sudahlah ya...
Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa like dan dukungannya supaya author juga makin semangat dan gencar lagi... hehehe
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏
__ADS_1