
Hari pernikahan Regar dan Mara tiba, semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing. Untunglah mereka menikah di gedung serta makanan catering yang sudah tertata rapi di tempatnya juga dekorasi yang indah sesuai dengan harapan Regar dan Mara bukan keinginan Syakira juga Rani.
Tamu undanganpun sudah hampir memenuhi gedung pernikahan mereka, meski tak banyak seeryi yqng tertulis di buku catatan Rani dan Syakira karena yang di undang hanya orang orang terdekat dan yang mereka kenal saja.
"Sudah siap?" tanya Rangga melihat Regar yang terlihat gugup di kmarnya.
"Hufff, aku gugup sekali.." ujar Regar menatap Rangga yang tersenyum menatapnya.
"Tenangkan hatimu Re, yakin semua akan berjalan lancar.." Rangga menepuk nepuk punggung Regar.
"Ayok, semua sudah siap dan tinggal menunggu kamu.." ajak Rangga yang berjalan duluan lalu diikuti Regar di belakangnya.
"Maa syaa Allah tampan sekali Adek Kakak Sya." ujar Syakira sangat jujur, bahkan ia melupakan suaminya yang sudah memasang wajah cemburu.
"Ya ya, hanya Adikmu yang tampan!" Rangga hendak melewati Istrinya yang langsung tersenyum namun tak mencoba merayu atau membujuk suaminya yang sedang merajuk.
"Benar, di mata Tante Mai dan Bunda hanya Paman yang terlihat tampan.." Arka ikut menimbali bahkan ia terlihat kompak dengan Rangga dan sama sama merajuk, mereka berdua lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Kalian ini..." Syakira geleng geleng kemudian ikut masuk ke dalam mobil.
"Kakak ikut sama Kak Sya aj ya." ujar Regar menatap Maira yang segera mengangguk.
"Loh Dek, kamu mau bawak mobil sendiri?" tanya Syakira yang sudah berada di dalam mobil bersama keluarganya.
"Ya Kak, kan sayang mobilnya udah di hias bagus bagus kalo gak di bawak." jawab Regar tersenyum..
"Ya juga sih, ya udah deh hati hati ya.." ujar Maira segera masuk ke dalam mobil duduk bersama Syakira.
"Ya Kak.." jawab Regar juga masuk ke dalam mobil kemudian mengendarai mobilnya sendiri yang sudah sangat indah dengan segala macam pernak pernik.
"Mas kita ikuti Regar dari belakang ya.." ucap Syakira
"Iya sayang.." jawab Rangga
Mobil mereka sedang berada di jalan raya yang mulai ramai karena sekarang sudah masuk jam delapan pagi.
"Sya di mana?" pesan singkat yang masuk di hpnya
"Siapa Dek?" tanya Maira
"Rani Kak, nanya kita udah di mana.." jawab Syakira kemudian ia membalas pesan singkat dari Rani.
"Bentar lagi sampe.." jawab Syakira ia kembali fokus menatap mobil di depannya yang tak lain mobil Regar adiknya.
Tiba tiba mobil yang di kendarai Regar berhenti di tengah jalan tepat di perempatan, membuat Rangga sedikit panik karena ia melihat mobil truk yang melaju cukup kencang ke arah mobil Regar.
__ADS_1
"Regarrrrr...." teriak Rangga yang semakin mempercepat laju kendaraannya membuat semua yang ada di dalam sana menatap ke arah mobil Regar yang masih berhenti di tengah jalan.
"Ah, sial make macet lagi.." ujar Regar hendak keluar mobilnya namun seketika tubuhnya berputar putar bersamaan mobil yang ia kendarai sendirian hingga beberapa kali dan berhenti menabrak pembatas jalan.
Syakira dan Maira hanya bisa terdiam tanpa bisa bergerak melihat kejadian yang baru saja terjadi di hadapan mereka namun air mata sudah membasahi wajah mereka masing masing.
"Regar..." lirih Maira
Rangga dan Arka sudah berlari mendekati mobil Regar yang hampir setengahnya hancur Rangga mencoba mengeluarkan Regar dari dalam sana, sedangkan Arka tak di izinkan Rangga untuk mendekati mobil itu karena tak ingin anaknya terkena ledakan dan untunglah ada beberapa orang yang juga membantu dirinya hingga Regar bisa di keluarkan sebelum mobil itu meledak dan hangus terbakar api.
Syakira dan Maira tersadar dari keterkejutannya setelah mendengar ledakan yang cukup kuat, lalu mereka berlari menghampiri Rangga dan Regar yang sudah berada cukup jauh dari mobilnya.
"Re..gar..." lirih Maira memeluk adiknya, air mata sudah tumpah ruah tak lagi bisa berhenti begitupun Syakira yang masih syok.
"Mas, kita bawak Regar ke rumah sakit sekarang Mas.." ujar Syakira panik dan khawatir melihat kondisi adiknya yang sudah penuh luka juga darah di mana mana.
"Hmm." Rangga kembali mengangkat tubuh Regar di bantu dengan orang orang yang tadi membantu dirinya untuk mengangkat Regar dan membawanya ke mobil.
Rangga mengemudikan mobil dengan cepat menuju rumah sakit, sedang Syakira dan Maira terus memanggil nama Regar agar adik mereka bangun.
"Re, bangun sayang jngan tinggalin Kakak.. hiks hiks...." tangis Maira memeluk tubuh adiknya
"Dek, kamu akan menikah Kakak mohon bangun sayang, wanita yang kamu cintai sedang menunghu kamu.." Syakira juga tak kalah sedih, meski mengatakan itu namun tak ada satu pun dari mereka yang mengingat Rani ataupun Mara yang pasti sudah menunggu mereka di gedung pernikahan Regar dan Mara.
"Dokter tolong adik saya.." teriak Syakira juga Maira bersamaan. Arka hanya diam namun air matanya juga sudah menetes membasahi wajahnya yang tampan,, sedangkan Rangga masih terlihat tegar dan segera membawa Regar ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Dokter tolong adik saya!" ujar Maira saat melihat Dokter laki laki yang tidak terlalu tua tapi mungkin lebih tua dari nya.
"Baik, kalian bisa tunggu di sini saya akan periksa kondisi pasien.." ucap Dokter segera masuk setelah mengatakan itu.
Satu jam Dokter belum juga keluar, Syakira dan Maira sangat khawatir dan terus menangis Rangga selalu berada di sisi istrinya sedang Arka berada di sisi Maira.
Hingga tiga jam lamanya Dokter baru keluar dengan raut wajah yang tetlihat cukup mengkhawatirkan semua orang yang ada di sana.
"Dok hmgimana adek saya?" tanya Maira cepat saat melihat pintu ruang ICU terbuka dan menampakkan Dokter pria tadi.
"Kondisi pasien sangat buruk, bahkan hampir sebagian wajahnya hancur dan saat ini pasien membutuhkan donor darah tapi rumah sakit saat ini sedang kosong dengan golongan darah pasien." penjelasan Dokter membuat Maira hampir tak sadarkan diri, tubuhnya melemas dan tak mampu menahan bobot tubuhnya hingga ia terduduk di lantai untung Arka segera menangkapnya hingga tak benar benar jatuh.
"Tan..." panggil Arka memeluk Maira yang semakin menangis sejadi jadinya.
"Saya, tolong ambil darah saya Dok.." ujar Maira di sela tangisannya.
"Baik kalau begitu Anda bisa ikut suster untuk pemeriksaan." ucap Dokter. Maira segera mengikuti suster di bantu Arka untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya.
"Maaf, sepertinya Anda tak bisa mendonorkan darah karen kondiai Anda yang tak stabil." ujar Dokter setelah beberapa menit menunggu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, bagaimana ini!" lirih Maira semakin lemas.
"Golongan daragmhnya apa Dokter?" tanya Rangga
"AB."
"Darah saya AB, Anda bisa ambil darah saya." ujar Rangga. Syakira dan Maira menatap Rangga namun mereka sama sama diam.
Rangga segera masuk ke ruangan dan bersebelahan dengan Regar yang masih mendapatkan perawatan intensif, ia menatap kasihan pada adik iparnya yang harus mengalami hal in di saat saat hari bahagianya.
"Bertahan Re, aku yakin kamu kuat.." ujar Rangga.
Tiga kantung darah yang Rangga berikan pada Regar, dan itu sudah di rasa cukup. Dokter dan susyer yang menangani Regar kembali masuk ke dalam ruangan di mana Regar berada kemudian mentranfer darah Rangga pada Regar barulah kondisi Regar mulai sedikit membaik namun masih kritis dan harus terus di awasi hingga 24 jam kedepan.
"Makasih Mas.." ucap Syakira tulus, Rangga hanya tersenyum dan semakin menguatkan oelukannya.
"Makasih dek.." Maira juga sangat berterima kasih pada Rangga atas bantuannya ada kemungkinan adiknya bisa selamat. Rangga hnya mengangguk.
"Bunda, Kak Mara!" ujar aArka yang baru teringat dengan Mara calon pengantin Regar yang pasti mereka sedang menunggu di sana.
"Astagfirullah, Mas aa yang harus aku katakan pada mereka?" Syakira semakin terisak mengingat nasib Mara gadis malang yang harus batal menikah karena calon suaminya yang mengalami kecelakaan.
"Biar Mas yang bicara.." ucap Rangga mengamvil hp Syakira yang sudah berada dalam genggamannya namun tak berani untuk menghubungi.
Rangga melihat banyak pesan juga panggilan dari Rani sejak tiga jam yang lalu, ia hanya bisa menutup matanya dan menggelengkan kepala kemudian mencoba menghubungi Rani.
"Halo Syak, kalian dimna sih? kok belum sampe sampe ini penghulunya udah mau pulang.." ujar Rani tanpa henti Rangga terdiam, kemudian ia menatik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Regar kecelakaan.." jawab Rangga, ia tak tahu reaksi apa yang sudah di tunjukkan lawan bicaranya kini namun ia yakin jika Rani pasti sangat syok.
"Ka..mu ber...canda kan?" Rani mencoba meyakinkan pernyataan orang yang ia kenal adalah Rangga suami sahabatnya.
"Tidak, Regar mengalami kecelakaan dan sekarang kami sedang berada di rumah sakit terdekat." jawab Rangga lagi, kemudian sambungan telfonnya terputus dan yang jelas Ranilah yang memutusnya.
"Tidak mungkin terjadi!" lirih Rani, menatap sedih ke arah pitrinya yang terlihat gelisah menunggu calon suaminya yang tak kunjung datang..
"Mara...." air mata rani sudah berjatuhan bahkan ia tak lagi mampu menopang tubuhnya hingga terduduk di lantai masih mentap putrinya yang malang...
Akhhh, akhirnya bisa up sampe tiga episode...
Makasih yang selalu setia sama kisah mereka, terus pantengin ya....
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏
__ADS_1